IKHSANUDIN

Ayat-Ayat Tentang Ibadah

Ikhsanudin | 00:18 |
KATA PENGANTAR


Assalamuaiakum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah menjadikan AL-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dan karena Allah jualah yang telah memberikan petunjuk dan kekuatan kami (penulis) dapat menyelesaikan Makalah Tafsir Tarbawi dengan judul “Ayat-Ayat Tentang Ibadah”.
Dan tidak lupa sholawat dan salam tercurahkan kepada kedua orang tua yang telah memberikan support demi terangkainya makalah ini, kepada dosen pembimbing yang telah memberi petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini dan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian makalah ini.

Wassalamualaikum Wr. Wb
Jambi, Juni 2009

Penulis

DAFTAR PUSTAKA


KATA PENGANTAR i
DAFTAR PUSTAKA ii
BAB I IMAN SEBAGAI LANDASAN IBADAH 1
A. Sesuai Firman Allah SWT Dalam Surah Al-Hajj/22: 77 1
B. Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 77 1
BAB II IKHLAS DALAM BERIBADAH 2
A. Terjemahan Surah 2
B. Tafsir Ayat 2
C. Munasabah Ayat 3
D. Sebab Ayat Turun 5
BAB III IBADAH MEMBENTU KEPRIBADIAN 6
A. Dalam Surah Al-Ankabut/29: 45 6
B. Tafsir Ayat 45 Surah Al-Ankabut 6
BAB IV PENUTUP 9
A. Kesimpulan 9
B. Kritik dan Saran 9
DAFTAR PUSTAKA 10


AYAT-AYAT TENTANG IBADAH

BAB I
IMAN SEBAGAI LANDASAN IBADAH

A. Sesuai Firman Allah SWT Dalam Surah Al-Hajj/22: 77




Artinya:
“Wahai segenap mereka yang beriman, ruku’lah kamu, bersujudlah kamu dan sembahlah Tuhanmu, serta laksanakan segala malam kebajikan. Mudah-mudahan kamu mendapatkan kemenangan”.

B. Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 77
Wahai mereka yang beriman kepada Allah, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya dan kepada hari kiamat laksanakanlah sembahyang dengan sebaik-baiknya dan sembahlah (taatilah) Tuhanmu dengan mengikuti semua perintahnya dan menjauhi semua larangan, serta melaksanakan segala kebajikanitu kembali kepadamu maupun kembali kepada umum manusia seperti menghubungi (silaturahmi) berbakti kepada orang tua dan berbudi luhur, supaya kamu mendapatkan kemenangan dan memperoleh pahala dari Tuhanmu.

BAB II
IKHLAS DALAM BERIBADAH

A. Terjemahan Surah
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Bayyinah/98: 5 tentang keikhlasan dalam beribada.


Artinya:
“Dan mereka tiada disuruh melainkan untuk menyembah Allah meluruskan ibadah mereka kepada-Nya saja, lagi berlaku lurus (cenderung kepada pihak yang benar) yang mendirikan sembahyang, membayar zakat dan itulah agama yang sangat lurus”.

B. Tafsir Ayat
Dalam ayat ini menjelaskan dimana mereka (orang-orang kafir) bercerai berai dan saling sengketa, padahal mereka disuruh mengerjakan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi dunia mereka dan bagi akhirat mereka dan urusan-urusan yang menghasilkan kebahagiaan dalam hidup yang akan datang. Mereka di suruh ikhlas kepada Allah baik dalam keadaan tersebunyi maupun dalam keadaan yang nyata, dan membersihkan amalan-amalan merka dari syirik serta mengikuti agama Ibrahim yang membenci keberhalaan, mendirikan sembahyang serta memberikan zakat.

Wa dzalilika diinul qayyimah = Dan itulah agama yang besar

Kalimat penutup pada ayat ini menjelaskan bahwa berlaku ikhlas kepada Allah dan beribadat dan menjauhkan diri dari syirik, mendirikan sembahyang dengan sempurna dan mengeluarkan zakat, sebagaimana mestinya itulah agama yang lurus, agama kitab-kitab yang benar yang belum di ubah-ubah dan tidak pernah terjamah oleh tangan manusia.

C. Munasabah Ayat
Munasabah ayat 5 dengan ayat ke 4 pada surah Al-Bayyinah ayat ke 5 disebutkan bahwa, “Dan tiadalah mereka disuruh melainkan menyembah Allah dengan meluruskan ibadah mereka kepadanya saja, lagi berlaku lurus (cenderung kepada pihak yang benar) dan mendirikan sholat, membayar zakat. Dan itulah agama yang besar. Pada ayat ke 5 ini merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya, yaitu ayat ke 4 menjelaskan:



Artinya:
“Dan tiadalah bercerai berai orang-orang yang telah diberikan kitab itu, melainkan sudah datang pada mereka keterangan yang nyata”.

Pada ayat ini menjelaskan bahwa janganlah engkau ya Muhammad bersedih hati, karena memang demikianlah orang-orang kafir itu dari zaman ke zaman, mereka berpecah belah, bercerai berai, masing-masing mazhab memusuhi mazhab yang lain dan yang demikian itu bukanlah karena hujanmu yang tidak kuat atau keadaanmu tersembunyi. Jika mereka sekarang mengingkari keterangan-keterangan yang kamu sampaikan, maka mereka dahulu telah mengingkari keterangan Rasul-Rasul sebelummu. Jika mereka mengingkari kehadiranmu, maka berarti mereka mengingkari ayat-ayat Allah.
Dijelaskan pula pada ayat lain, yakni firman Allah SWT pada Surah Al-Lail/92: 18-20.



Artinya:
“Yaitu yang memberikan hartanya, dia mencari kebersihan diri dan tidak ada bagi seorang pun disisinya sesuatu nikmat yang diberikan kepadanya yang harus di balas, dan tidak memberikan sesuatu melainkan untuk mencari keridhaan Tuhan yang paling tinggi”.

Tafsir surah Al-Lail ayat 18-20

Alladzii yu’thii ma alahuu yatazakkaa - Yang memberikan hartanya dia bersuci dengannya

Maksud kalimat ayat diatas ialah orang yang paling bertakwa ialah orang yang membelanjakan hartanya di jalan kebajikan untuk memperoleh kesucian jiwa dan dekat kepada Allah, bukan riya’ dan bahkan sum’ah dan bukan pula untuk mencari pujian.

“Dan tidak ada bagi seseorang pun disisi-Nya sesuatu nikmat yang diberikan kepadanya yang harus dibalas”.

Defenisi kalimat ialah dia tidak bermaksud dengan membelanjakan hartanya untuk memberi pembalasan kepada seseorang atas nikmat yang telah diterima orang itu dan bukan pula sebagai pembalasan kebajikan yang pernah diberikan orang kepada-Nya.

“akan tetapi dia memberikan sesuatu untuk mencari keridhaan Tuhan-Nya yang paling tinggi”.

Yakni Dia mengeluarkan hartanya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan pahala-Nya, bukan karena mengharapkan sesuatu pembalasan dan bukan pula sebagai pembalasan.
D. Sebab Ayat Turun
Ada diriwayatkan, bahwa ayat-ayat ini turun mengenai Abu Bakar pada suatu hari Bilal Ibn Rabah yang kebetulan menjadi budak Abdullah Ibn Jud’ah, pergi kerumah berhala untuk merusakkan berhala-hala itu. Orang-orang kafir Mekkah mengadu kepada Abdullah, maka dia pun memberikan Bilal kepada mereka beserta dengan 100 ekor unta. Sesudah itu mereka menyiksa Bilal dan menelentangkannya diatas pasir yang panas, ketika Rasul melalui Bilal yang sedang diazab itu Nabi berkata: “Engkau akan dilepaskan oleh Allah SWT” kemudian Nabi mengabarkan pada Abu Bakar, maka Abu Bakar membawa suatu ritl emas lalu membeli Bilal dari orang musyrik dan memerdekakannya.

BAB III
IBADAH MEMBENTU KEPRIBADIAN

A. Dalam Surah Al-Ankabut/29: 45



Artinya:
“Bacalah Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepadamu dan dirikanlah shalat bahwasannya sembahyang itu mencegah dari pekerti-pekerti buruk dan perbuatan yang mungkar dan menyebut Allah sungguh lebih ebsar daripada segala sesuatu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

B. Tafsir Ayat 45 Surah Al-Ankabut
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur’an untuk mempelajari rahasia-rahasia dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia serta perintah untuk menyembah-Nya dengan menunaikan sembahyang dengan tulus dan ikhlas, khusyu’ dan tunduk hati di waktu siang dan sebagian malam dan memberi pengertian bahwasannya Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan hamba-hambanya dan untuk perbuatan-perbuatan itu akan diberi pembalasan setimpal dengan amalannya, demikianlah Sunnah-Nya.
Dijelaskan pula pada Surrah Al-Ma’arij ayat 18-23
Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat gelisah
Apabila bahaya menimpanya dia berkeluh kesah
Dan apabila mendapat kebaikan (kekayaan) menjadilah dia seorang yang sangat kikir
Yang tidak demikian, hanyalah orang-orang yang mengerjakan sembahnyang
Yang tetap mengerjakan sembahyang

Tafsir ayat 18 – 23 Surah Al-Ma’arij
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat gelisah, apabila bahaya menimpanya, di berkeluh kesah, apabila mendapat kebaikan (kekayaan) menjadilah dia seorang yang kikir”.

Makna kalimat diatas ialah manusia dijadikan bertabiat berkeluh kesah dan kikir serta banyak merengut, karena itu bila ditimpa kesulitan atau penyakit diapun mengeluh dan mengaduh kesana kemari dan apabila mempunyai kekayaan / kecukupan, sehat afiat tubuhnya, dia pun tidak mau mempergunakan kekayaannya untuk kepentingan umum. Seharusnya manusia lebih mendahulukan keadaan akhirat dari pada dunia, kalau menderita kesulitan hidup hendaklah bersabar dan apabila memperoleh harta dipergunakannya untuk kebahagiaan akhirat, demikianlah sifat orang-orang beriman dengan mengecualikan manusia dari tabiat-tabiat tersebut yaitu:

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan sembahyang, yang tetap mengerjakan sembahyang maksudnya manusia memang bertabiat buruk dan kikir, terkecuali manusia yang telah dipelihara oleh Allah, ditaufikkan mereka pada kebajikan serta dimudahkan jalan-jalan kebajikan baginya yaitu orang-orang mukmin yang bersungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah (orang-orang yang memelihara waktu-waktu sembahyang dan kekal mengerjakannya)”.


Firman Allah ini mengisyaratkan agar kita mengkekalkan sesuatu ibadah.
Selanjutnya dalam Surah Al-Baqarah/2: 158 dijelaskan lagi tentang ibadah membentuk kepribadian.
Firman Allah SWT:



Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Minta tolonglah (kepada Allah) melalui kesabaran dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar pada saat kesusahan”.

Tafsir:
Kata ya ayyuhalladziina ‘aamanu (wahai orang-orang yang beriman). Maksud kalimat diatas ditujukan kepada seluruh manusia yang memiliki keimanan, semakin lengkap dan semakin tinggi derajat keimanan.
Wasta’inu (minta tolonglah kepada Allah).
Merupakan kalimat perintah berisi bimbingan karena pada setiap waktu dan setiap urusan makhluk hidup perlu bantuan dari Allah SWT dan harus memohon segala sesuatu serta meminta tolong hanya kepada Allah semata.
Kata Shabr (kesabaran).
Maksudnya bersabar atas kesulitan dunia dan tabah menghadapi peristiwa getir.
Sholat merupakan sarana paling luhur untuk menghadap dan mendekatkan diri pada Allah.
Makna dari kata Allah bersama orang-orang yang sabar adalah pertolongan, bantuan, bimbingan, kesuksesan, kebaikan, perlindungan dan kesulitan, kesempurnaan niat, juga karunia-karunia-Nya yang lain dicurahkan-Nya kepada orang-orang yang sabar.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Allah menerangkan bahwa dia mengemukakan penjelasan kepada hamba-hamba-Nya tentang amalan yang baik dan amalan yang buruk.
2. Allah menerangkan hal-hal yang mendekatkan kita kepada martabat yang tinggi dan menjauhkan kita dari kegelapan dengan hanya kepada Allah sematalah yang berhak untuk disembah yakni dengan sholat dengan khsyu’ dan khudu’, membenarkan adanya hari bangkit, memberi sedekah kepada fakir, memelihara janji, menunaikan amanah pada yang berhak menerimanya, memelihara dari perbuatan zina dan menunaikan pensaksian dan takut kepada siksaan Allah.

B. Kritik dan Saran
1. Sebagaimana kita hendaknya dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta menjauhi larangannya.
2. Kritik
Dalam pembuatan makalah ini tentunya kami dari kelompok sepuluh sangat membutuhkan saran dan kritik yang bersifat membangun dan kami menyadari bahwa dalam makalah ini banyak terdapat kesalahan dan masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami senantiasa menerima saran dan kritikan yang membangun dari teman-teman dan pembaca.
Atas saran dan kritikannya, kami (penulis) mengucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA


Teungku M. Hasbi Ash. Sihiddiqi. Tafsir Al-Qur’an Nur Majid: Pustaka Rizki Putra. Semarang
Allamah Kamal Faqih Imam. Tafsir Al-Qur’an. Pustaka Rizki. Semarang. Penerbit Al-Huda
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Ayat-Ayat Tentang Ibadah ini, dengan harapan semoga artikel Ayat-Ayat Tentang Ibadah ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel " Ayat-Ayat Tentang Ibadah " terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke IKHSANUDIN pada lain kesempatan.

Artikel Terkait Makalah

Posted by: Ikhsanudin ikhsanudin.com Updated at : 00:18