Perkembangan Fisik

Perkembangan Fisik dan Psiko-SosialMasa Remaja Dan Perkembangannya
Dalam perkembangan kepribadian seseorang maka remaja mempunyai arti yang khusus, namun begitu masa remaja mempunyai tempat yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan seseorang. Secara jelas masa anak dapat dibedakan dari masa dewasa dan masa orang tua. Seseorang masih belum selesai perkembangannya, orang dewasa dapat dianggap sudah berkembang penuh, ia sudah menguasai sepenuhnya fungsi-fungsi fisik dan psikisnya; pada masa tua pada umumnya terjadi kemunduran terutama dalam fungsi fisik-fisiknya.
Anak masih harus banyak belajar untuk dapat memperoleh tempat dalam masyarakat sebagai warga Negara yang bertanggung jawab dan bahagia. Anak belajar hal-hal ini melalui enkulturasi, sosialisasi dan adaptasi aktif. Orang dewasa dengan kemempuan-kemampuannya yang sudah cukup berkembang diharapkan sudah dapat menemukak tempatnya dalam masyarakat; orang tua makin menarik diri dari masyarakat meskipun sukar ditentukan pada usia berapa betul-betul tidak lagi aktif sama sekali; hal ini banyak ditentukan oleh factor-faktor kebudayaan, factor-faktor genetika dan sejarah hidup orang itu sendiri.
Pada waktu ini hamper setiap anak di Indonesia pergi kesekolah untuk memperoleh pengertian dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan yang makin maju. Orang dewasa kebanyakan sudah sudah tidak bersekolah lagi, ada yang bias menamatkan pendidikan dasar, ada yang tinggi, tetapi banyak pula di Indonesia, terutama dari kelas sosial yang lebih rendah yang tidak dapat melanjutkan sekolah, bahkan masih ada yang menikmati pendidikan formal sama sekali. Semua orang dewasa ini harus menemukan tempatnya dalam masyarakat, mereka bekerja, mereka mendapatkan hak dan kewajibannya dalam masyarakat. Orang tua berkurang aktivitasnya dalam masyarakat bila bila ia sudah pension, namun aktivitas-aktivitas lainnya dapat berganti memegang peran. Pada umunya anak dan orang tua belum atau tidak lagi termasukgolongan penduduk yang produktif.
Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya. Ditinjau dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan kanak-kanak, mereka masih harus menemukan tempat dalam masyarak. Pada umunya mereka masih belajar disekolah Menengah atau Perguruan Tinggi. Bila mereka bekerja mereka melakukan pekerjaan sambilan dan belum mempunyai pekerjaan yang tetap. Pada waktu penulis mengerjakan buku ini di Indonesia masih banyak remaja yang sudah tidak sekolah namun juga belum mendapatkan sesuatu pekerjaan tertentu. Masalah pengangguran yang begitu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia sebagian basar terdiri dari golongan remaja. Golongan remaja yang seakan-akan masih belum menentu keadaannya ini karena mereka, berhubung salah satu sebab, tidak dapat melanjutkan sekolah tetapi juga belum dapat bekerja, terdiri dari anak laki-laki maupun wanita. Meskipun di Indonesia ada kesempatan yang persisi sama bagi laki-laki dan wanita untuk menduduki jenjang karier pekerjaan dalam masyarakat, namun bagi wanita maka perkawinan masih sering merupakan penyelesaian yang baik bila seorang wanita yang tidak lagi bersekolah tetapi juga tidak mendapatkan suatu pekerjaan tertentu.
Remaja ada dalam tempat marginal ( Lewin, 1939 ). Berhubung ada macam-macam persyaratan untuk dapat dikatakan dewasa, maka lebih mudah untuk dimasukkan kategori dewasa. Baru pada akhir abad ke 18 maka masa remaja dipandang sebagai periode tertentu lepas dari periode kanak-kanak. Meskipun begitu kedudukan dan status remaja berbeda daripada anak. Masa remaja meneunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan ( Calon, 1953 ) karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak. Dipandang dari segi sosial, remaja mempunyai suatu posisi marginal. Penelitian Roscoe dan Peterson ( 1984 ) membuktikan hal ini.
Ausubel ( 1965 ) menyebutkan status orang dewasa sebagai status primer artinya status ini diperoleh berdasarkan kemampuan dan usaha sendiri. Status anak adalah status diperoleh ( derived ), artinya tergantung daripada apa yang diberikan oleh orang tua ( dan masyarakat ). Remaja ada dalam status interim sebagai akibat daripada posisi yang sebagaian diberikan oleh orang tua dan sebagaian diperoleh melalui usaha sendiri yang selanjutnya memberikan prestise tertentu padanya. Status interim berhubungan dengan masa peralihan yang timbul sesudah pemasakan seksual ( pubertas ). Masa peralihan tersebut diperlukan untuk mempelajari remaja mampu memikul tanggung jawabnya nanti dalam masa dewasa. Makin maju masyarakatnya makin sukar tugas remaja untuk mempelajari tanggung jawab ini.
Suatu pendidikan yang emansipatoris akan berusaha untuk melepaskan remaja dari status interimnya supaya ia dapat menjadi dewasa yang bertanggung jawab.
Havighurst mencatat sejumlah besar tugas-tugas perkembangan dalam masa remaja seperti yang dilihat pada hal. 21. Tugas-tugas yang dikemukakan Havighurst adalah tugas-tugas bagi remaja Amerika. Dalam publikasinya yang kemudian Havighurst ( 1976 ) mengemukakan sejumlah tugas-tugas perkembangan, berasal dari data penelitian-penelitian lintas-budaya.
Bagi usia 12-18 tahun tugas perkembangannya adalah :
- Perkembangan aspek-aspek biologis
- Menerima peranan dewasa berdasarkan pengaruh kebiasaan masyarakat sendiri
- Mendapatkan kebebasan emosional dariorang tua dan/atau orang dewasa lain
- Mendapatkan pandangan hidup sendiri
- Merealisasi suatu identitas sendiri dan dapat mengadakan pertisipasi dalam kebudayaan pemuda sendiri.
Batas antara masa remaja dan masa dewasa makin lama juga makin kabur. Pertama kali karena sebagian para remaja yang tidak lagi melanjutkan sekolah akan bekerja dan dengan begitu memasuki dunia orang dewasa pada usia remaja. Gadis-gadis yang kawin pada usia 18-19 tahun juga akan sudah memasuki dunia orang dewasa. Kalau dalam keadaan ini dapat dikatakan sebagai masa remaja yang diperpendek, maka keadaan yang sebaliknya dapat disebut sebagai masa remaja yang diperpanjang, yaitu bila orang sesudah usia remaja masih hidup bersama orang tuanya, masih belum mempunyai nafkah sendiri dan masih ada dibawah otoritas orang tuanya. Hal semacam ini masih banyak terjadi di Indonesia. Misalnya mahasiswa usia 24 tahun yang masih dibiayai oleh orang tuanya, dengan begitu otorita masih ada pada orang tua. Secara ekonomis dan emosional masih ada ikatan dengan orang tua. Mahasiswa tersebut masih membiarkan dirinya dibimbing oleh orang tuanya, menerima petunjuk-petunjuk dari orang tua. Bila kebetulan ia hidup di kota lain masih juga ia merasa terikat dengan ornag tua. Ia minta izin orang tua untuk melakukan ini atau melakukan itu yang sedikit penting. Sikap semacam ini dari pihak remaja atau “post remaja” dipermudah dengan adanya pandangan masyarakat yang menyetujui sikap anak yang masih taat pada orang tuanya itu, terutama bagi anak wanita. Apakah akan dibicarakan dalam tinjauan lebih lanjut nanti. Yang dapat dilihat dengan jelas disisni ialah bahwa keadaan semacam itu akan menimbulkan apa yang disebut masa remaja yang diperpanjang. Masa remaja sering pula disebut adolesensi ( Lat. Adolescere = aduluts = menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa ). Masa usia 21-24 tahun sekarang juga disebut masa dewasa muda tau masa dewasa awal.
Meskipun antara masa kanak-kanak dan masa remaja tidak terdapat batas yang jelas, namun Nampak adanya suatu gejala yang tiba-tiba dalam permulaan masa remaja: yaitu gejala timbulnya seksualitas ( genital ), hingga masa remaja ini atau setidak-tidaknya permulaan masa tersebut juga disebut masa pubertas. Dalam perkembangan maka kejadian dalam fisik seseorang ini begitu penting hingga perlu kiranya untuk meninjau hal itu secara khusus serta meninjaunya dalam hubungan dengan keseluruhan proses fisik dan fisiologis, maupun pengaruhnya terhadap perkembangan psiko-sosialnya. Berhubung dengan itu maka dalam bab ini, hal tersebut akan mendapat tinjauan yanga khusus. Dalam bab yang berikutnya akan dibicarakan mengenai aspek keikutsertaan remaja dalam kejadian kultural dan kemasyarakatan.
5.2 fase-fase masa remaja: pubertas dan adolesensi
Suatu analisis yang cermat mengenai semua aspek perkembangan dalam masa remaja, yang secara global berlangsung antara umur 12 dan 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal, 15-18 tahun: masa remaja pertengahan, 18-21 tahun: masa remaja akhir, akan mengemukakan banyak factor yang masing-masing perlu mendapat tinjauan tersendiri.
Dalam buku-buku Angelsaksis ( Hill/Monks 1977 ) maka istilah “pemuda” ( youht) memperoleh arti yang baru yaitu suatu masa peralihan antara masa remaja dan masa dewasa. Dalam buku-buku tersebut akan dijumpai pemisahan antara adolesensi (12-18 tahun) dan masa pemuda (19-24 tahun). Dalam buku ini tidak dianut pembagian seperti itu.
Remaja usia 13 tahun menunjukkan perbedaan yang besar dengan remaja usia 18 tahun, lepas daripada perbedaan social-kultural dan seksual di antara para remaja sendiri. Dalam buku-buku jerman dan belanda memang secara global dibedakan antara pubertas dan adolesensi. Arti istilah adolesensi sudah diterangkan di muka, sedangkan istilah pubertas datang dari kata puber ( yaitu pubescent ). Kata lain pubescere berarti mendapatkan pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembanganseksual.istilah puber, maka yang dimaksudkan adalah remaja sekitar masa pemasakan seksual. Pada umumnya masa pubertas terjadi antara 12-16 tahun pada anak laki-laki dan 11-15 tahun pada anak wanita. Jadi pemasakan seksual mudah terjadi sebelum masa remaja, namun manifestasi daripada aspek-aspek yang lain baru jelas nampak pada usia antara 13-14 tahun.
Berhubung pemasakan seksual hanya merupakan satu aspek saja dalam perkembangan remaja, maka dalam buku ini akan dipakai istilah remaja atau adolesensi untuk seluruh masa remaja sedangkan istilah masa pubertas hanya dipakai dalam hubungan dengan perkembangan bioseksualnya.
Dalam buku-buku jerman masih ada pembagian yang lain lagi yaitu pembagian dalam pra-pubertas, pubertas dan adolesensi. Pra-pubertas adalah periode sekitar kurang lebih 2 tahun sebelum terjadinya pemasakan seksual yang sesungguhnya tetapi sudah terjadi perkembangan fisiologis yang berhubungan dengan pemasakan beberapa kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang bermuara langsung didalam saluran darah. Zat-zat yang dikeluarkan disebut hormon. Hormone-hormon tadi memberikan stimulasi pada badan anak sedemikian rupa, hingga anak merasakan rangsangan-rangsangan tertentu, suatu rangsang hormonal yang menyebabkan suatu rasa tidak tenang dalam diri anak, suatu rasa yang belum pernah dialami sebelumnya, yang tidak dimengertinya dan yang mengakhiri tahun-tahun anak yang menyenangkan.
Dalam buku ini dia nut pembagian sebagai berikut: masa pra-pubertas berlangsung sekitar kurang lebih 2 tahun dari usia 10-12 tahun, dan pada masa pubertas pada usia 12-15 tahun dengan anak wanita beberapa saat lebih dulu mulainya daripada anak laki-laki.



Disini pubertas juga dianggap sebagai masa pemasakan seksual. Pada usia 10 tahun meskipun belum nampak pemasakan seksual yang sesungguhnya, namun proses fisiologis yang mempersiapkan manifestasi pemasakan seks yang sesungguhnya sudah ada seperti yang diuraikan diatas.
Remplein (1962) masih menyisipkan apa yang disebutnya “Jugencrise” (krisis remaja) di antara masa pubertas dan adolsensi. Dengan begitu maka usia antara 11 dan 12 tahun dibaginya menjadi pra-pubertas 101/2 -13 tahun (wanita), 12-14 tahun (laki-laki), krisis remaja 13-151/2 tahun (wanita), 14-16 tahun (laki-laki), krisis remaja 151/2-161/2 tahun (wanita), 16-17 tahun (laki-laki), dan adolesensi 161/2 -20 tahun (wanita), 17-21 tahun (laki-laki). Pecahan-pecahan tahun yang dikemukakan Remplein di atas memberikan kesan keeksakan yang sukar dapat dibuktikan secara empiris. Menurut Remplein krisis remaja adalah suatu kepekaan dan labilitas yang meningkat. Krisis sekolah atau krisis pekerjaan merupakan contoh-contoh yang baik. Usia yang dikemukakan oleh Remplein tidak dapat dipastikan bagi keadaan di Indonesia, meskipun adanya suatu krisis disalah satu titik pada masa remaja kemungkinan ada. Hal ini sangat tergantung pada keadaan lingkungan remaja.
Masa pra-remaja tidak akan banyak dibicarakan kecuali dapat dikemukakan bahwa gejala-gejala yang ada pada masa itu sudah menunjukkan gejala-gejala yang khas masa puber, meskipun manifestasi tanda-tanda seksualitas belum ada (untuk mendalami selanjutnya: Berguis, 1959 dan Monks/Haynans, 1978).
Dalam bab yang berikutnya maka masa yang kedua yaitu masa adolesensi akan ganti dibicarakan. Pembagian ini memang merupakan pembagian yang buatan saja. Batasan yang jelas antara fase yang satu dengan fase yang lain memang tidak ada. Pembatasa ini hanya menunjukkan titik berat yang akan diberikan saja, misalnya dalam bagian pertama akan dititikberatkan mengenai perkembangan fisik dan seksualnya serta akibatnya terhadap gejala-gejala psikososial. Dalam bagian yang kedua lebih dibicarakan mengenai aspek-aspek moral, pandangan hidup dan hubungan kemasyarakatan.
5.3 perkembangan fisik dan seksual dalam masa puber
Bahwa perkembangan fisik dan seksual di sini dibicarakan bersama-sama menunjukkan bahwa pemasakan seksualitas genital harus dipandang dalam hubungan dengan aspek-aspek anatomis maupun aspek-aspek fisiologis. Dalam bagian ini akan dibicarakan fenomena-fenomena pokok seperti percepatan tumbuhan serta pemasakan seksual.
Bila ditinjau hubungan antara perkembangan psikososial dan perkembangan fisik, dapat Nampak bhwa perkembangan fisik memberikan impuls-implus baru pada perkembangan psikososial. Jadi hubungan ”kausalitas” ini berjalan dari aspek fisik ke aspek psikososial (Hillk/Monks, 1977). Sebaliknya reaksi individu terhadap perkembangan fisik tergantung lagi dari pengaruh lingkunganya dan dari sifat pribadinya sendiri, yaitu interpretasi yang dibiarkan terhadap lingkungan itu. Tetapi titik mula pubertas terletak pada fenomena pertumbuhan dan pemasakan fisik. Tetapi bagaimana pertumbuhan fisik tadi dapat terlaksana, hal tersebut masih merupakan rahasia yang belum dapat terungkapkan. Kita hanya dapt menetukan bahwa ada suatu keajengan dalam pertumbuhan tersebut, tetapi mengapa justru pada masa pra-remaja (pra-pubertas) kelenjar hypofisa menjadi masak dan membuat terjadinya perkembangan seksualitas serta percepatan pertumbuhan tersebut akan diterangkan dalam pasal yang berikutnya.
5.3.1 Percepatan perkembangan dan implikasi pada psikososial
Merupakan hipofisa yang menjadi masak mengeluarkan beberapa hormon yang penting diantaranya adalah hormone tumbuh ynag dikeluarkan oleh lobus frontalis, hormon gonadotrop dan hormon kortikotrop. Pada masa ini timbul percepatan pertumbuhan karena adanya koordinasi yang baik di antara kerja kelenjar-kelenjar. Hormon gonadotrop mempercepat pemasakan sel telur dan sel sperma, juga mempengaruhi produksi hormon kelenjar kelamin dan melalui hormon kortikotrop juga mempengaruhi kelenjar suprarenalis. Hormon-hormon kelamin yaitu testoteron pada anak laki-laki dan oestrogen pada anak wanita bersama-sama dengan hormon tubuh dan hormon suprarenalis mempengaruhi pertumbuhan anak sedemikian rupa, sehingga terjadi percepatan pertumbuhan. Di sini perlu diperhatikan akan apa yang disebut perpindahan pertumbuhan sirkuler, yaitu bertambah nya pertumbuhan rata-rata serta prcepatan timbulnya tanda-tanda kelamin pada suatu periode tertentu bersamaan dengan meningkatnya kesejahteraan hidup. Hal ini nampak pada gejala lebih besar nya fisik maupun lebih cepatnya menjadi seksual masak generasi muda dari pada misalnya orang tua mereka ( Van Wieringen, 1972). Karena adanya kerjasama antara hormon-hormon kelenjar kelamin dan kelenjar suprarenalis terjadilah perubahan-perubahan fisiologis misalnya perubahan dalam pernafasan yaitu dalam frekuensi dan volumenya terutama pada anak laki-laki.
Hubungan antara pertumbuhan fisik, penaruh hormon dan percepatan pertumbuhan dapat dikemukakan sebagai berikut. Kecepatan pertumbuhan di antara organ-organ tidaklah sama. Susunan syaraf tumbuh selama empat tahun pertama tetapi hampir tidak bertambah lagi sesudah tahun ketujuh. Kerangka dan susunan urat daging menunjukkan pertumbuhan yang lebih teratur dengan percepatan pada permulaan pubertas karena pengaruh faktor-faktor tersebut di muka. Pertumbuhan organ-organ kelamin pada periode itutidak banyak dan berjalan paralel dengan percepatan pertumbuhan kerangka dan susunan urat daging. Percepatan pertumbuhan badan ini yang terutama nampak sebagai pertumbuhan panjang badan berlangsung terutama dalam periode selama dua tahun. Periode ini berlangsung antara usia 11 dan 13 tahun untuk anak wanita dengan permulaannya selama kira-kira 1 tahun dan puncaknya pada usia 14 tahun. Di samping perbedaan-perbedaan kecil, pertambahan panjang badan berjalan sama pada laki-laki dan pertambahan panjang badan pada anak wanita sampai kira-kira umur 9 tahun berjalan sama. Segara sesudah iu mulailah permulaan percepatan pertumbuhan pada anak wanita, sedangkan pada anak laki-laki terjadi sedikit penurunan pertumbuhan sampai pada permulaan percepatan pertumbuhan sekitar usia 12 tahun. Bila percepatan pertumbuhan pada anak wanita berhenti, maka pada anak laki-laki hal itu baru di mulai dengan sungguh-sungguh. Percepatan pertumbuhan selesai pada usia 13 tahun (wanita) dan 15 tahun (laki-laki); pertumbuhan panjang badan pada kedua jenis seks masih berjalan terus selama kurang lebih tiga tahun sampai kira-kira usia 16 dan 18 tahun.
Di samping pertumbuhan panjang badan terjadi pertumbuhan berat badan yang kurang lebih berjalan paralel dengan tambah nyapanjang badan, karena pertambahan berat badan yang terbanyak ada pada pertumbuhan bagian kerangka yang relatif merupakan bagian badan yang terberat. Di sini ada perbedaan yang jelas di antara kedua jenis sekse. Pada anak laki-laki pertambahan berat badan terutama disebabkan oleh makin bertambah kuatnya susunan urat daging. Pada anak wanita lebih disebabkan oleh bertambahnya jaringan pengikat dibawah kulit (lemak) terutama pada paha, pantat, lengan atas dan dada. Pertambahan jaringan lemak pada bagian-bagian tersebut membuat bentuk badan anak wanita mendapatkan bentuk yang khas wanita. Anak laki-laki memperoleh bentuk badan khas laki-laki terutama karena bertambah lebarnya bagian bahu. Karena percepatan pertumbuhan pada anak wanita mulai lebih dahulu maka anak wanita pada usia 12 dan 13 tahun menjadi lebih besar dari pada anak laki-laki, tetapi selanjutnya anak laki-laki segera menyusul dan melebihi besar badan anak wanita.
Pertumbuhan badan anak menjelang dan selama masa remaja ini menyebabkan tanggapan masyarakatyang berbeda pula. Mereka diharapkan dapat memenuhi tanggung jawab orang dewasa, tetapi berhubung antara pertumbuhan fisik dan pematangan psikisnya masih ada jarak yang cukup lebar, maka kegagalan yang sering dialami remaja dalam memenuhi tuntutan sosial ini menyebabkan frustasi dan konflik-konflik batin para remaja terutama bila tidak ada pengertian pada pihak orang dewasa. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa para remaja lebih dekat dengan teman-temannya sebaya daripada dengan orang dewasa.
Pertumbuhan anggota-anggota badan lebih cepat daripada badannya; hal ini membuat remaja untuk sementara waktu mempunyai proporsi tubuh yang tidak seimbang. Tangan dan kakinya lebih panjang dalam perbandingan dengan badannya. Sering kali penyimpangan dari bentuk badan khas wanita atau khas laki-laki menimbulkan kegusaran batin yang cukup mendalam karena pada masa ini perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan dirinya. Menurut Hill dan Monks (1977, h. 37) maka remaja sendiri merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi memenuhi persyaratan , maka hal ini berakibat positif terhadap penilaian dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah –masalah yang berhubungan dengan pernilaian diri dan sikap sosialnya. Misalnya anak wanita yang tumbuh selalu tinggi, anak laki-laki yang bahunya terlalu sempit atau anak wanita yang bentuk badannya terlalu kelaki-lakian sangat mengganggu batin remaja.
Catat-catat badan sangat merisaukan terutama pada masa remaja, justru karena penampilan fisik pada masa ini sangat dianggap penting. Catat-catat badan yang berat mempengaruhi pernilaian diri remaja sebegitu rupa, hingga menghambat perkembangan kepribadian yang sehat.
5.3.2 Perkembangan seksualitas
Pada pasal yang sebelumnya telah dikemukakan mengenai hubungan antara percepatan perkembangan fisik dengan pemasakan seksual genital.
Pertumbuhan organ-organ genital yang ada baik di dalam maupun di luar badan sangat menentukan lagi perkembangan tingkah laku seksual selanjutnya.
Tetapi di samping tanda-tanda kelamin yang primer ini maka juga tanda-tanda kelamin yang sekunder, dipandang dari sudut psikososial, memegang peranan penting sebagai tanda-tanda perkembangan seksual, baik bagi remaja sendiri maupun bagi oranga-orang lain. Misalnya perubahan suara pada anak laki-laki merupakan tanda yang jelas bagi perkembangan anak laki-laki ke arah keadaan dewasa. Seperti halnya reaksi masyarakat atau orang-orang keliling terhadap pertumbuhan badan anak, begitu pula pemasakan seksualitas mempengaruhi tingkah laku remaja dan tingkah laku keliling teehadapnya. Tetapi lebih baik kiranya untuk membicakan dulu secara khusus apa yang disebut pemasakan seksual dan apa yang dimaksudkan dengan tanda-tanda kelamin primer dan tanda-tanda kelamin sekunder.
Istilah tanda-tanda kelamin primer menunjuk pada organ badan yang langsung berhubungan dengan persetubuhan dan proses reproduksi. Jadi pada anak wanita hal tadi adalah rahim dan saluran telur , vagina, bibir kemaluan dan klitoris; pada anak laki-laki penis, tes-tes dan skrotum. Tanda-tanda kelamin sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan persetubuhan dan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang khas wanita dan khas laki-lak. Pertama kali yaitu rambut kemaluan: pada wanita merupakan gambar segitiga dengan bisis ke atas, pada laki-laki gambar segi tiga dengan ujung ke atas di bawah pusat. Selanjutnya tanda-tanda lain yang sudah disinggung sebelumnya yaitu: bahu yang lebar pada laki-laki dan anggul yang lebar membuat pada wanita. Kemudian pertumbuhan rambut yang pada wanita terbatas pada kepala, ketiak dan alat kemaluan, sedangkan pada laki-laki masih terdapat pertumbuhan kumis , janggut, rambut pada kaki , kadang-kadang lengan dan kadang-kadang juga masih masih pada dada. Sedangkan tanda kalamin sekunder yang paling penting pada wanita adalah tumbuh nya payudara dan pada laki-laki timbulnya pergantian suara.
Para tinjauan mengenai pemasakan seksual pada anak lakia-laki dan anak wanita perlulah diperhatikan mengenai unisitas individu. Meskipun pemasakan seksual berlangsung dalam batas-batas tertentu dan urutan tertentu dalam perkembangan cirinya, namun anak-anak remaja tadi begitu berbeda secara individual, hingga hanya mungkin untuk memberikan ukuran rata-rata dan penyebarannya saja.
Ada 3 kriteria yang membedakan anak laki-laki dari pada anak wanita yaitu dalam hal: (1) kriteria pemasakan seksual, (2) permulaan pemasakan seksual, dan (3) urutan gejala-gejala pemasakan.
1. Mengenai kriterianya nampak lebih jelas pada anak wanita dari pada anak laki-laki. Menarche atau permulaan haid dipakai sebagai tanda permulaan pubertas. Sesudah itu masih dibutuhkan satu sampai satu setengah bulan lagi sebelum anak wanita dapat betul-betul masak untuk reproduksi. Menarche amrupakan ukuran yang baik karena hal itu menentukan salah satu ciri kemasakan seksual yang pokok , yaitu suatu disposisi untuk konsepsi (hamil) dan melahirkan. Di samping itu menarche juga merupakan manifentasi yang jelas meskipun pada permulaannya masih terjadi perdarahan sedikit (Konopka, 1976). Kriterium sejenis ini tidak terdapat pada anak laki-laki. Berhubung ejakulasi (pelepasan air mani) pada laki-laki pada permulaannya masih sangat sedikit hingga tidak jelas, dipakai juga kriteria yang lain. Sering dipakai juga percepatan pertumbuhan sebagai kriteria karena diketahui adanya korelasi antara percepatan pertumbuhan itudengan timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder maupun primer. Meskipun begitu pertumbuhan sendiri tidak dapat dipandang mempunyai hubungan langsung dengan seksualitas. Dalam pasal sebelumnya sudah dikemukakan bahwa pertumbuhanhipofisa menyebabkan dikeluarkannya baik hormon-hormon tumbuh maupun hormon-hormon gonadrotrop. Dari dua hal ini harus dicari hubungannya antara percepatan pertumbuhan dengan pemasakan seksual.
2. Mengenal permulaan pemasakan seksual ternyata bahwa pada anak wanita kira-kira 2 tahun lebih dulu mulainya daripada pada anak laki-laki, seperti halnya juga pada percepatan pertumbuhan.
Menarche merupakan tanda permulaan pemasakan seksual dan terjadi sekitar usia 13 tahun. Pada tahun 1956 : 13 tahun 7 bulan ; pada tahun 1966 : 13 tahun 4 bulan ( perpindahan pertumbuhan sirkuler; Van Wieringen, 1968) dengan penyebaran normal antara 10 sampai 16 ½ tahun, jadi kira-kira satu tahun sesudah dilaluinya puncak percepatan pertumbuhan. Juga pada anak laki-laki baru terjadi produksi spermatozoa hidup selama kira-kira satu tahun sesudah puncak percepatan perkembangan (+ 14 tahun). Namun ejakulasi pertama mendahului puncak percepatan perkembangan, tetapi dalam air mani baru terdapat sedikit sperma. Tetapi bila nanti, pada anak laki-laki maupun anak wanita, terjadi kemunduran dalam percepatan pertumbuhan, terdapatlah produksi yang lebih besar dari pada sel –sel telur ( ovum ) dan sel-sel bibit ( spermatozoa). Hal ini menimbulkan dugaan akan adanya hubungan antara dua keadaan tersebut diatas. Hormon –hormon sel ovum dan sel sperma, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya nampaknya mempercepat pertumbuhan, tetapi sebaliknya juga menghambatnya. Meskipun begitu suatu proses yang betul-betul antagonistik sesungguhnya tidak ada. Kemungkinan produksi hormon sel-sel ovum dan sel-sel sperma pada mulanya ikut mempercepat pertumbuhan kerangka, yaitu pembagian sel pada pita epifise (pita tulang rawan) pada ujung-ujung tulang yang mengakibatkan pengerasan bagian-bagian yang paling ujung. Dengan meningkatnya produksi hormon sel-sel ovum dan sel-sel sperma kemungkinan proses pengerasan tadi berjalan lebih cepat daripada proses pembagiannya, hingga pertumbuhan lama-lama berhenti.
Bagaimana hipotetisnya keterangan tersebut diatas, yang dapat dipastikan ialah adanya hubungan antara percepatan pertumbuhan dan mulainya pemasakan seksual (pubertas) yang dimulai lebih kemudian pada anak laki-laki daripada anak wanita.
3.Perbedaan yang ketiga antara anak laki-laki dan wanita dalam hal pemasakan seksual adalah pada urut-urutan timbulnya berbagai gejala. Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa pemasakan seksual pada anak wanita dimulai dengan tanda-tanda kelamin primer.
Pernyataan tersebut mungkin masih terlalu gegabah; yang jelas yaitu bahwa pada anak wanita pemasakan dimulai dengan suatu tanda sekunder, tumbuhnya payudara yang Nampak dengan sedikit mencuatnya bagian punting susu. Hal ini terjadi pada usia antara sekitar 8 dan 13 tahun. Baru pada stadium yang kemudian sebentar menjelang menarche maka jaringan pengikat di sekitarnya mulai tumbuh hingga payudara mulai memperoleh bentuk yang dewasa. Kelenjar payudara sendiri baru mengadakan reaksi pada masa kehamilan dengan suatu pembengkakan sedangkan produksi air susu terjadi pada akhir kehamilan. Hal ini merupakan akibat reaksi fisiologis yang menyebabkan perubahan pada organ-organ kelamin internal dalam hipofisa lobus frontalis.
Pada anak laki-laki maka pemasakan seksual dengan pertumbuhan testes yang dimulai antara 91/2 dan 131/2 tahun berakhir antara 131/2 dan 17 tahun.
Pada usia kurang lebih 15-16 tahun anak laki-laki mengalami suatu perubahan suara. Baik pada anak laki-laki maupun pada anak wanita pangkal tenggorok mulai membesar yang menyebabkan pita suara menjadi lebih panjang. Perubahan dalam pita suara tadi menyebabkan anak gadis mendapat suara yang lebih punah dan lebih hangat dibanding dengan anak-anak mempunyai suara yang lebih melengking. Suara anak laki-laki berubah menjadi agak berat. Karena pertumbuhan anatomic yang cepat mendahului penyesuaian urat syarafnya ( urat-urat syaraf belum dapat “cocok” ) maka timbullah keadaan yang khas pada anak laki-laki: terdengarlah suara yang tinggi di antara suara yang berat. Seperti halnya pertumbuhan anggota-anggota badan, maka keadaan tersebut hanya bersifat sementara namun dalam waktu itu cukup memberikan alasan untuk frustasi karena suara tidak mau menaati si pembicara (Ausubel, 1965).
Suatu gambaran mengenai permulaan dan penyebaran perkembangan biologis seksual pada anak wanita dan laki-laki terlihat pada table 7.
Table 7. gambaran mengenai penyebaran perkembangan seksual biologis.
Pertubuhan/
Perkembangan Anak wanita















Data ini belum diadakan pengujian di Indonesia
Dengan bertambahnya berat dan panjang badan , Nampak, baik pada anak wanita maupun pada anak laki-laki, kekuatan badan juga bertambah. Hal ini Nampak lebih jelas pada anak laki-laki daripada anak wanita berhubung pada anak wanita tambahnya berat badan sebagaian besar disebabkan oleh tumbuhnya lemak yang membuat bentuk badan khas wanita. Selanjutnya tambahnya berat badan pada wanita juga disebabkan oleh pertumbuhan kerangka (membesarnya pinggul) dan hanya sebagian kecil saja disebabkan oleh pertumbuhan dan menjadi kuatnya urat-urat daging. Pada anak laki-laki maka di asamping pertambahan berat badan karena pertumbuhan kerangka maka pertumbuhan dan penguatan urat daging dan otot-otot juga merupakan penyebab yang penting.
Bersama-sama dengan percepatan pertumbuhan terjadilah pada anak laki-laki suatu percepatan pertumbuhan kekuatan yang mencapai puncaknya pada umur kira-kira 11/2 tahun sesudah tercapai puncak percepatan pertumbuhan tadi, urat-urat daging tumbuh bersama-sama dengan rangka tetapi bila kerangka mencapai puncak pertumbuhannya maka baru urat daging mengalami penguatan (pembesaran) yang terutama menyebabkan bertambahnya kekuatan. Pertumbuhan badan yang berlebihan pada periode sebelumnya justru dapat melemahkan badan.
Seperti yang sudah dikemukakan di muka maka hanya penyimpangan yang jelas dari batas-batas penyebaran menunjukkan hal-hal yang tidak normal dalam perkembangan. Penyimpangan juga dapat terjadi karena sebab-sebab lain. Misalnya pada anak-anak gadis yang badannya yang sangat kurus karena ketegangan-ketegangan psikis (“anorexia nervosa”) dan bila ini terjadi pada masa-masa pertumbuhan dapat menyebabkan suatu hambatan yang serius bahkan dapat menyebabkan suatu hambatan yang serius bahkan dapat menyebabkan berhentinya siklus menstruasi. Selanjutnya hal ini dapat memberikan ketegangan batin lagi dan akhirnya memberikan akibat yang serius (lihat Van de Loo, 1980).
Lebih penting daripada pemasakan bio-seksual adalah aspek psikososialnya daripada perkembangan seksual yaitu tingkah laku seksualnya. Pada umunya maka pemasakan fisik menimbulkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk melakukan hal itu. Ia belajar membaca dan menulis, bila susunan otot-otot dan otak sudah cukup berkembang dan bila dalam lingkungan sosialnya cukup merangsang yang sesuai (situasi sekolah). Dalam bidang seksual sebaliknya, tidak segera ada alas an untuk melakukan tingkah laku seksual, karena adanya norma-norma agama dan norma-norma social yang hanya memperbolehkan hubungan seksual dalam perkawinan. Hal ini menimbulkan ketegangan-ketegangan pada remaja. Makin maju masyarakatnya makin besar tuntunannya untuk dapat melakukan perkawinan. Usia perkawinan makin mundur.
Untuk menambah wawasan mengenai tingkah laku seksual anak-anak muda dibarat dapat diajurkan: laporan Kinsey mengenai prilaku seks di amerika, kemudian tulisan schofield mengenai perilaku seks anak-anak muda di inggris usia 15-19 tahun. Agnekt Margriet membicarakan perilaku seks di Nederland yang meneliti sampling dari populasi usia 21-65 tahun dan hanya melalui cara retrospeksi memperoleh data mengenai tingkah laku anak-anak muda.
5.4 perkembangan social remaja
Percepatan perkembangan dalam masaremaja yang berhubungandengan pemasakan seksualitas, juga mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan social remaja. Sebelum masa remaja sudah ada saling hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya. Sering juga timbul kelompok-kelompok anak, perkumpulan-perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama, misalnya untuk kemah, atau saling tukar pengalaman, merencanakan aktivitas bersama misalnya aktivitas terhadap suatu kelompok lain. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif, kadang-kdang criminal seperti misalnya mencuri, penganiayaan dan lain-lain, dalam hal ini dapat dilakukan anak nakal.
Sifat yang khas kelompok anak sebelum pubertas adalah bahwa kelompok tadi terdiri daripada sekse yang sama. Persamaan sekse ini dapat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan yang berhubungan dengan itu ialah perasaan identifikasi yang menpersiapkan pembentukan pengalaman identitas. Pada usia 5 atau 6 tahun Nampak jelas adanya sifat-sifat jenis sekse atau tingkah laku yang khas bagi jenis seksenya. Sesudahnya itu anak sering mengidentifikasi dengan seksenya sendiri hingga antara usia 8/9-11 tahun anak sering menghindarkan diri dari hubungan dengan sekser yang berlawanan. Suatu sifat yang khas lagi dari kelompok anak pra-remaja atau pra-pubertas ini adalah bahwa mereka tidak menentang orang dewasa, melainkan justru menirukan mereka dalam olahraga, permainan dan kesibukan-kesibukan yang lain.
Dalam kedua hal tersebut di atas datngalah , sesudah mulainya masa remaja, suatu perubahan yang jelas yang memberikan sifat-sifat khusus bahkan suatu kebudayaan sendiri pada kelompok anak remaja (Keniston, 1960; Baacke, 1967). Hal ini memberikan masalah-masalahnya sendiri yang akan dikupas lebih lanjut.
5.4.1 Dorongan untuk dapat berdiri sendiri dan krisis origin nalitas
Dalam perkembangan social remaja dapat dilihat adanya dua macam gerak: satu yaitu memisahkan diri dari orang tua dan yang lain adalah menuju kea rah teman-teman sebaya. Dua macam arah gerak ini tidak merupakan dua hal yang berturutan meskipun yang satu dapat terkait yang lain. Hal ini menyebabkan bahwa gerak yang pertama tanpa adanya gerak yang kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Hal ini kadang-kadang dijumpai dalam masa remaja; dalam keadaan yang ekstrim hal ini dapat menyebabkan usaha-usaha untuk bunh diri (Ausubel, 1965). Juga kualitas hubungan dengan orang tua yang memegang peranan yang sangat penting (De Wuffel, 1986). Dalam hal ini sifat lekat anak terhadap orang tua banyak menentukan. Kelekatan yang tidak aman (insecure attachemnt) (Yzendroorn dkk., 1982) bila terjadi persamaan dengan kemandirian menimbulkan perhatian yang berlebihan pada kepentingan sendiri, sedangkan kelekatan yang tidak aman bersamaan dengan ketergantungan menimbulkan orientasi konformistis atau isolasi penuh kecemasan.
Dalam macam gerak ini yang memisahkan diri dari orang tua dan menuju kea rah teman-teman sebaya, merupakan suatu reaksi terhadap suatu interim anak muda. Sesudah mulainya pubertas, timbul suatu diskrepansi yang besar antara “kedewasaan” jasmaniah dengan ikatan social pada milieu orang tua.
Dalam keadaan sudah dewasa secara jasmaniah dan seksual, remaja masih terbatas dalam kemungkinan-kemungkinan perkembangannya, mereka masih tinggal bersama dengan orang tua mereka dan merupakan bagian dari keluarga. Mereka secara ekonomik masih tergantung pada orang tua, kadang-kadang sampai jangka waktu yang lama. Mereka belum bisa kawin,hubungan seksual tidak diperkenankan sesuai dengan norma-norma agama dan social, meskipun mereka sudah bisa mengadakan kencan-kencan dengan teman-teman lain jenis. Mereka biasanya masih duduk dalam bangku sekolah dan bila sudah bekerja belum mempunyai nafkah yang tetap (lihat pembicaraan yang sebelumnya). Dalam keadaan ini dapatlah dimengerti bahwa mereka saling mencari teman sebaya karena mengerti bahwa mereka ada dalam nasib yang sama. Seperti halnya sebelum timbulnya tingkah laku sesuai jenis, yaitu umur 5-6 tahun, timbullah lagi kelompok-kelompok campuran (anak-anak wanita dan anak-anak laki-laki). Tetapi alas an pembentukan kelompok campuran tadi lain dengan waktu sebelumnya. Anak-anak wanita dan anak-anak laki-laki betul-betul ada dalam situasi yang sama, dalam status interim yang sama. Mereka sama-sama berusaha untuk mencapai kebebasan, mereka mempunyai kecenderungan yang sama untuk menghayati kebebasan tadi sesuai dengan usia dan jenis seksenya. Untuk pertama kalinya mereka merasa satu dan mereka saling mengisi. Disamping itu untuk pertama kalinya mereka merasa secara jelas tertarik pada jenis sekse yang lain. Hal ini memberikan kepada mereka penghayatan yang belum pernah dikenalnya lebih dahulu dan yang mereka alami sekarang sebagai tanda-tanda status dewasa yang diinginkan. Untuk itu mereka korbankan sebagaian besar hubungan emosi mereka dengan orang tua dalam usaha untuk menjadi wakil kelompok teman sebaya mereka. Pada anak wanita hal ini terjadi lebih sukar daripada anak laki-laki.
Bahwa pelepasan emosi dengan orang tua pada anak wanita terjadi dengan agak sukar mungkin juga disebabkan oleh adanya interaksi antara sifat khas wanita dan nilai-nilai masyarakat sekelilingnya. Di sndonesia, paling tidak di jawa anak wanita diharapkan untuk mencintai orang tua dan keluarga dalam arti lebih mempunyai unsure-unsur merawat, memelihara, bertanggung jawab terhadap rumah dan keluarga. Hal ini tidak berarti bahwa anak wanita tidak mempunyai kesempatan yang sama dalam masyarakat, bahwa dia tidak dapat menduduki fungsi yang penting dalam masyarakat, hanyalah penilaian masyarakat akan positif terhadap wanita bila ia disamping kegiatannya dimasyarakat itu juga tidak melalaikan tugas-tugasnya di rumah. Terhadap anak laki-laki yang ceroboh, yang tidak rapih, orang-orang keliling masih dapat memaafkannya, terhadap anak wanita yang demikian akan dicerca dan dikatakan “tidak pantas”. Kata-kata “tidak pantas” masih banyak di lontarkan pada anak wanit, baik bagi tingkah laku social maupun kesusilaannya. Disamping emansipasi yang sudah dicapai wanita Indonesia, diskriminasi tersembunyi yaitu terutama berkenaan dengan tingkah laku kesusilaan, kepantasan masih saja ada.
Seorang istri di samping karier yang ia miliki masih saja bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Keadaan rumah dengan suami yang memasak, yang mengurus rumah tangga, memelihara anak, belum terlalu umum di Indonesia, meskipun pada dewasa ini sudah nampak gejala-gejala pengikutsertaan suami pada kerja rutin rumah tangga yang sampai sekarang masih dijabat khas oleh wanita
Keadaan diatas tadi dapat diduga menyebabkan pelepasan hubungan emosional dengan keluarga (orang tua) lebih sukar pada anak wanita yang sejak kecil telah dididik sesuai dengan peranan jenisnya.
Melepaskan hubungan dengan orang tua atau usaha untuk dapat berdiri sendiri ini, juga sudah dijumpai pada masa sebelum remaja, meskipun belum begitu tandas dan bahkan untuk sebagaian terjadi secara tidak sadar. Menurut Maccoby (1984) maka system hubungan orang tua anak dalam keluarga (Smits, 1985) berubah dari regulasi oleh orang tua yang terjadi antara usia 8 dan 12 tahun menjadi co-regulasi (menentukan bersama) dimana orang tua makin memberikan kebebasan menetukan sendiri pada anak dalam situasi regulasi diri (self-regulation). Hal ini tidak menghalangi adanya interaksi yang komperatif antara orang tua dan anak dalam masa remaja ini, meskipun hubungan antara ibu dan anak lebih dekat daripada antara ayah dan anak. Komunikasi dengan ibu meliputi permasalahan sehari-hari, komunikasi dengan ayah meliputi persiapan remaja hidup dalam masyarakat nanti. Hal ini khususnya mengenai komunikasi dengan anak laki-laki, dan kurang dengan anak permpuan. Di samping itu ayah dan anak laki-laki mempunyai banyak perhatian yang sama. Ibu pada umumnya bersikap lebih menerima, lebih mengerti dan lebih komperatif terhadap anaknya remaja disbanding dengan ayah, meskipun ibu seperti juga ayah dapat menunjukkan otoritasnya bila persoalan mengenai hal-hal yang prinsip (Youniss & Smollar, 1985). Dalam hal ini mungkin sekolah mempunyai peranan yang penting (Van der Linden & Roeders, 1983). Remaja memperoleh banyak informasi dan nilai-nilai melalui sekolah sendiri, tetapi juga melalui kontak dengan teman-teman sebaya dari keluarga dan lingkungan yang berlainan. Remaja menemukan nilai-nilai yang menarik yang ingin dimilikinya. Untuk itu dalam hal-hal tertentu perlu ada jarak dengan milieu keluarga mereka sendiri.
Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari milieu orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Erikson menanamkan proses mencari identitas ego. Sudah barang tentu pembentukan identitas, yaitu perkembangan ke arah individualitas yang mantap, merupakan aspek yang penting dalam perkembangan berdiri sendiri. Bahwa kita tidak tenggelam dalam peran yang kita mainkan, misalnya sebagai anak, teman, pelajar, teman sejawat, pembimbing dan sebagainya tetapi dalam hal-hal tersebut tetap menhghayati sebagai pribadi dirinya sendiri, adalah suatu pengalaman yang sehat. Marcia (1980) berpendapat bahwa perkembangan identitas itu terjadi selain dari mencari secara aktif (eksplorasi) juga tergantung daripada adanya “commitments”. Dalam proses perkembangan identitas maka seseorang dapat berada dalam status yang berbeda-beda. Marcia membedakan antara: menemukan identitas sesudah mengadakan eksplorasi yang disebut “achievement”; kemudian satatus “moratorium” yang menggambarkan remaja masih sedang sibuk-sibuknya mencari identitas; status “foreciosure” yaitu menemukan identitas tanpa mengalami krisis atau eksplorasi lebih dahulu, dan keadaan tanpa bias menemukan identitas sesungguhnya (identity diffusion atau role-confusion) “Commitments” dapat lemah atau kuat dan dapat ditunjukkan pada berbagai hal. Bosma (1983) yang meneliti lebih kurang 300 anak muda usia 13-21 tahun menemukan adanya commitments dengan sekolah dan pekerjaan , bentuk-bentuk pengisian waktu luang, persahabatan, relasi dengan orang tua, problem politik dan social, hubungan yang intim, religi, self, bergaul dengan orang lain, penampilan, kebahagian dan kesehatan, kebebasan, uang. Terutama commitments dengan hal-hal yang ditulis miring tadi sangat popular diantara anak muda berkaitan dengan perkembangan menemukan dirinya sendiri. Dalam hal tersebut tadi Debesse (1936) mempunyai pendapat yang berbeda. Dia berpendapat bahwa remaja sebetulnya menonjolkan apa yang membedakan dirinya dari orang dewasa, yaitu originalitasnya dan bukan identitasnya. Istilah krisis organilitas mungkinlebih tepat daripada krisis identitas (Erikson, 1968). Juga bila remaja tidak dapat menemui dan bergaul dengan teman-teman sebaya dan hidup kesepian, ia akan tetap akan memanifestasi penampilan mudanya yang membedakan dirinya dari penampilan anak dan orang dewasa.
Usaha remaja untuk mencapai originalitas sekalihus menunjukkan pertentangan terhadap orang dewasa dan solidaritas terhadap teman-temansebaya. Prinsip emansipasi memungkinkan bahwa kedua arah gerak yang disebutkan di muka saling bertemu dalam usaha originalitas ini hingga timbul suatu jarak antar generasi (generationgap) dan suatu kultur pemuda.
Jarak generasi yang dimaksudkan di sini tidak berarti bahwa tidak ada pengertian baik orang tua maupun anak. Memeng orang tua sering tidak mengerti mengapa anak mereka melakukan hal-hal tidak seperti yang mereka harapkan. Perselisihan faham memang ada tetapi adanya perselihihan faham belum menentukan adanya jarak antar generasi (Monks/Heusinkveld, 1973, h. 204). Juga Konopka (1976, h. 56) berpendapat bahwa jarak antara generasi adalah suatu mitos. Juga De Wit dan Van de Veer (1979)berpendapat bahwa hipotesis jarak generasi tadi belum dapat dibuktikan secara nyata. Dalam suatu interview yang diberikan pada 1000 orang remaja dan orang tuanya terbukti bahwa sebetulnya tidak ada konflik yang betul-betul serius. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaaan pendapat antara orang tua-anak berkisar pada antara lain penampilan, pemilihan teman, jampulang dirumah pada malam hari (Scheffer dkk., 1977 ; Monks dd., 1981; Fasich, 1984). Disamping itu remaja juga sering minta saran kepada orang tua mengenai penentuan masa depan, pekerjaan dan sebagainya (Youniss &Smollar, 1985).
Bahan pertentangan kebanyakan berkisar pada tindakan-tindakan konkrit: (ter)lambat pulang, kurang hormat terhadap atasan, sikap kurang sopan, bicara mengenai pendapat-pendapat dan bertingkah laku yang lebih bbebas dalam bidang seks, moral, Ke-Tuhanan. Tetapi bila pola pendapat tadi ditinjau secarakeseluruhan maka terdapatlah persesuaian yang lebih besar antara pendapat para remaja dan orang tua daripada pendapat para remaja dengan orang-orang lain.
Pada umumnya perbedaan pendapat mengenai politik, moral, dan pandangan hidup hanya sedikit, jarang ekstrim. Anak-anakm muda biasanya lebih progresif daripada orang tuanya, tetapi baik mengenai pendapat-pendapat maupun tindakan-tindakan mereka Nampak jelas tidak ada pertentangannya. Anak-anak muda menunjukkan originalitasnya bersama-sama dalam berpakaian, berdandan atau justru sama sekali tidak berdandan, gaya rambut, gaya tingkah laku, kesenangan music, tingkah laku konsumen, pertemuan-pertemuan dan pesta-pesta: untuk hal-hal ini semua memanifestasikan dirinya sebagai kelompok anak muda dengan gayanya sendiri.
Pengertian orginalitas di sini tidak boleh di artikan secara individual. Dalam pernyataan-pernyataan mereka, mereka tidak individualistic maupun tidak kreatif; origanilitas merupakan sifat khas pengelompokan anak-anakmuda (sebagai keseluruhan). Mereka menunjukkan kecendrungan untuk memberikan kesan lain daripada yang lain, untuk menciptakan suatu gaya sendiri, subkultur sendiri.sub-kultur ini kadang-kadang disebut kultur remaja yang dalam hal-hal tertentu dapat bersifat anti kultur. Tetapi yang terakhir ini kebanyakan merupakan sifat remaja dalam akhir masa tersebut. Permulaan masa remaja ditandai oleh kohesi kelompok yang dapat begitu kuatnya hingga tingkah laku remaja betul-betul ditentukan oleh norma kelompoknya.
5.4.2 Konformitas kelompok remaja
Meskipunusaha kea rah originalitas pada remaja tersebut pada satu pihak dapat dipandang sebagai suatu pernyataan emansipasi social, yaitu pada waktu remaja membentuk suatu kelompok dan melepaskan dirinya dari pengaruh orang dewasa, pada lain pihak hal ini membentuk kelompok.dalam tiap kelompok kecendrungankohes bertambah dengan bertambahnya frekuensi interaksi (Homanas, 1966).
Dalam kelompok kohesi yang kuat berkembanglah suatu iklim kelompok dan norma-norma kelompok tertentu. Ewert, (1983) menyebutkan sebagai pemberian normatingkah laku oleh pemimpin dalam kelompok itu. Juga meskipun norma-norma tersebut tidak merupakan norma-norma yang buruk, namunterdapat bahaya bagipembentukan identitas remaja. Dia akan lebih mementingkan perananya sebagai anggota kelompok daripada mengembangkan pada norma diri sendiri. Moral kelompok tadi dapat berbeda sekali dengan moral yang dibawa remaja dari keluarga yang sudah sejak kecil diajarkan oleh orang tua . bila moral kelompok lebih baik daripada moral keluarga, maka hal ini akan tidak memberikan masalah apapun, asalkan remaja betul-betul menyakini moral kelompok yang dianutnya. Tetapi justru adanya paksaan dari norma kelompok tadi, menyukarkan, bahkan tidak memungkinkan, dicapai keyakinan diri ini. Sifat “kolektifnya” akan menguasai tingkah laku individu. Kecenderunagna yang bersifat anti-emansipasi, yaitu kecenderungan untuk membatasi rasionalitasdan berpikir rasional ini tidak mambantu perkembangan kepribadian yang senyatanya. Bila kelompok sudah menuntut hak untuk bertindak kolektif yang begitu membatasi kebebasan individu, maka hilanglah kesempatan untuk emansipasi. Sementara orang menilai komformisme kelompok ini positif sebagai bantuan menemukan identitas diri (Riesman, 1950;De Hass, 1978). Marilah kita kembali pada pengertian control internal dan kontol eksternal yang sudah dikemukakan sebelumnya.
Konformitas kelompok ada hubungannya dengan kontrol eksternal. Remaja yang kontrol eksternalnya lebih tinggi akan lebih peka terhadap pengaruh kelompok. Seperti yang disebutkan dimuka hal ini berhubungan dengan pola pendidikan. Lefcourt (1966) menemukan bahwa orang-orang dari kelas sosial yang lebih rendah mempunyai sekor yang lebih tinggi dari pada kontrol eksternalnya. Dalam hubungan dengan remaja dan kelompoknya dikatakan bahwa remaja yang berasal dari kelas sosial yang lebih rendah mempunyai kecendrungan yang lebih banyak untuk melakukan konformitas dengan kelompoknya. Bila kelompok tersebut dirasa menguntungkan maka remaja akan sesuai dengan tuntutan (pemimpin-pemimpin) kelompoknya, juga bila misalnya tuntutan tadi bertentangan dengan norma-norma yang baik. Di samping itu perlu disadari bahwa moral dari kelas sosial yang lebih tinggi bukan merupakan moral kelas sosial yang lebih rendah. Orientasi internal terhadap norma-norma kelasnya sendiri dapat menyebabkan para remaja dari kelas yang lebih rendah bergabung menjadi satu dan menunjukkan solidaritas mereka. Begitu juga Phares (1976) menunjukkan bahwa orang negro Amerika dapat menunjukkan sikap kontrol internal yang baik di dalam sub kultur bangsa negro sendiri, tetapi di dalam konteks sosial yang lebih luas maka ia seakan-akan dikuasai oleh kontrol yang internal (Phares, 1976; h. 156).
Di dalam sekolah, kelompok remaja sering juga dapat menimbulkan kesukaran bila para pemimpin non formal dalam kelas bertentangan dengan pemimpin formal atau gurunya. Bila pelajaran yang di berikan dipandang tidak ada artinya maka situasi konflik sosial tersebut dengan mudah. Ia secara setengah formal dan setengah tidak formal diserahi tugas untuk mengatur kepentingan kelasnya. Ketua kelas dapat terjepit antara guru dan pimpinan kelompok.
Menurut penelitian Fromm (1941) di Amerika belum banyak dijumpai prestasi yang istimewa pada remaja yang berasal dari kelas sosial yang lebih rendah yang memiliki “ watak sosial “ tersendiri. Selanjutnya Fromm mengatakan bahwa pelajaran yang sangat bertujuan prestasi, mudah membuat para remaja dari milieu tersebut bersatu menentang guru dan pelajarannya. Bila gurunya marah, sportif dan penuh pengertian, hingga murid-murid senang padanya (Tausch, 1963; 1980) sebetulnya hal ini hanya merupakan pengatasan semu saja karena komunikasi yang baik tadi hanyalah suatu interaksi (alat teknis) saja. Komunikasi tadi bukan suatu “dialog” yang baik karena dasar politik masyarakatnya akan tetap tidak dipermasalahkan (Mollenhauer, 1974). Dalam keadaan itu kelompok akan mengadakan penyesuaian sementara dengan norma yang lain yang tidak merasuk dalam dirinya karena norma tersebut tidak berakar didalam kelompok maupun tidak berakar di dalam lingkungan kelompok.
Kelompok remaja mempunyai lapangan sendiri terutama dalam waktu luang yang dapat memberikan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan dirinya sendiri. Di situ terdapat juga bebarapa segi positifnya seperti yang akan dikemukakan dalam pasal berikut ini.
5.4.3 Remaja dalam waktu luang
Krisis originalitas remaja nampak paling jelas pada waktu luang yang sering disebut sebagai waktu pribadi orang (remaja) itu sendiri.
Brightbill (1966) menamakan waktu luang tersebut sebagai suatu tantangan karena waktu tadi merupakan waktu untuk bebas bagi seseorang. Pernah dipelajarkan bahwa sikap yang paling baik adalah untuk menggunakan waktu itu sekreatif mungkin. Hal yang dapat dicatat adalah bahwa para remaja mengalami lebih banyak kesukaran dalam “ memanfaatkan” waktu luangnya itu dari pada anak-anak dan bahwa mereka lebih sering melakukan hal-hal “to kill the time”. Waktu luang dapat betul-betul bersifat membebaskan bila ia dihayati sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri dan untuk melepaskan ketegangan. Pada anak-anak memang sudah dihayati demikian. Dalam permainan mereka menemukan baik pelepasan ketegangan maupun pengembangan diri. Tetapi untuk dapat bermain kita harus dapat “ seperti anak-anak” dan sifat khas remaja adalah bahwa ia justru “ bukan anak-anak lagi” . Dorongan remaja originalitas, ke arah perwujudan diri yang asli yang berarti lain daripada anak dan lain dari pada orang dewasa, menyebabkan remaja menggunakan waktu luangnya juga secara original.
Pengisian waktu luang dengan baik dengan cara yang sesuai dengan umur remaja, masih merupakan masalah bagi kebanyaan remaja. Kebosanan, segan untuk melakukan apa saja merupakan fenomene yang sering kita jumpai (Knoers, 1966; Oerter , 1981). Hal ini sering dinilai negatif sebagai tanda desintegrasi dalam diri remaja. Sebetulnya dapat pula dipandang positif. Yaitu bila hal tadi dipandang sebagai suatu tanda tidak puas terhadap tuntutan luar untuk melibatkan diri dengan aktivitas-aktivitas yang dianggapnya tidak ada artinya. Hal ini merupakan sikap penolakan terhadap tuntutan dunia luar untuk datang pada pendapat sendiri dari pada pilihan sendiri mengenai kesibukan-kesibukan yang baginya lebih berarti.
Banyak remaja menyukai olah raga. Di situ remaja dapat menunjukkan originalitasnya karena ia dalam tingkatan yang hampir profesional itu masih dapat bertindak secara maina-main juga. Dengan begitu dalam berlatih olah raga ia dapat bermain tidak sebagai anak-anak lagi, namun juga belum sepenuhnya sebagai orang dewasa. Remaja dapat melepaskan kelebihan energinya dalam berolah raga, dan dalam menemukan identitasnya , dapat membandingkan kemampuan dengan teman-teman dalam mencari identitas dan dominansi yang pada anak laki-laki lebih berkorelasi dengan prestasi plah raga dari pada dengan sifat atraktif dan intelegensi (Werfeld dkk., 1983). Sebagai fungsi sampingan, maka dalam olahraga remaja juga dapat bergaul dengan teman-teman sebaya untuk menghayati masa mudanya.
Dalam negara yang sedang membangun seperti indonesia, remaja, yang juga disebut generasi muda, mempunyai peranan yang sangat berarti. Semangat yang cukup tinggi untuk mencapai suatu ideal tertentu dengan kerja yang “ tanpa pamrih” dapat membuat remaja menghasilkan prestasi-prestasi yang baik yang berguna untuk pembangunan remajanya.
Dalam hubungan ini remaja mempunyai cukup banyak kesibukan yang produktif dalam waktu luangnya. Organisasi-organisasi pemuda yang ada banyak di indonesia bertujuan untuk menghimpun tenaga remaja dan menyalurkannya ke dalam kesibukan yang produktif. Penyalahgunaan dari pada keadaan ini sudah barang tentu ada, yaitu bila pemimpin-pemimpin himpunan pemuda tadi menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan diri sendiri dan mengarahkan kelompoknya untuk maksuda-maksud yang kurang baik. Tetapi dalam keadaan yang nrmal maka himpunan atau organisasi pemuda yang ada pada hampir setiap tempat di Indonesia, di samping bermanfaat untuk memberikan sumbangan dalam pembangunan negaranya, juga berfungsi sebagai pengembangan sikap sosial remaja. Ronda kamping, mengadakan pertandaingan antar kampung atau antar daerah, kerja gotong-royong dan sebagainya, memberikan penghayatan rasa sosial, rasa bertanggung jawab dan juga latihan untuk berorganisasi pada para remaja. Bila dibandingkan dengan olah raga, maka hubungan dengan teman sebaya yang dipandanng sebagai fungsi sampingan itu, merupakan fungsi yang cukup penting. Juga dalam contoh-contoh yang dikemukakan di Indonesia tadi maka himpunan-himpunan pemuda merupakan pengelompokan remaja untuk maksud yang ideal. Dalam hal ini himpunan tadi juga memberikan kesempatan pada para remaja untuk melarikan diri dalam angan-angan yang romantis dan idealistis di dalam dunia muda dan kultur muda, yang dianggap sebagai “hidup yang sesungguhnya” daripada oranng-orang muda (Hamsen, 1961). Hal ini merupakan fungsi yang penting bagi remaj yang mulai sadar akan kekhususannya dan originalitasnya.
5.5 Remaja dalam sekolah
Tertama di kota-kota di Indonesia masa remaja masih merupakan masa belajar di sekolah. Hal ini terutama berlaku bagi permulaan masa tersebut, remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah pertama atau yang setingkat. Di desa-desa terutama di pelosok-pelosok masih saja dijumpai banyak anak remaja yang sudah tidak sekolah lagi, meskipun mereka pada umumnya dapat menikmati pendidikan sekolah dasar. Sesudah tamat sekolah dasar mereka membantu orang tuanya di sawah di ladang atau mereka mencari pekerjaan di kota. Sering juga mereka berdagang keliling. Dengan kemajuan jaman banyak orang tua di desa, yang sudah mengerti manfaat pendidikan sekolah, banyak yang mengirimkan anaknya ke kota untuk melanjutkan sekolahnya. Berbondong-bondong mereka ke kota untuk melanjutkan pelajaran di Perguruan Tinggi hingga di sini dapat dikatakan ada “rush” untuk memasuki Perguruan Tinggi dengan segala maacam komplikasinya.
Remaja di kota dari keluarga yang terpelajar atau yang berada biasanya diharapkan (oleh orang tuanya0 untuk melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi. Bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan mereka berusaha untuk mendapatkan suatu pekerjaan, tetap banyak juga yang tidak berhasil mendapatkan suatu pekerjaan hingga kemudian menambah angka pengangguran.
Situasi di Indonesia pada dewasa ini sedemikian rupa hinngga kebutuhan anak dan anak muda untuk bersekolah begitu besarnya hingga sekolah-sekolah yang ada tidak dapat menampungnya lagi. Seleksi menjadi begitu ketat hingga anak=anak yang tidak tergolong bodoh tetapi juga tidak sangat pandai terpaksa tidakb isa melanjutkan sekolahnya. Karena kesempatan kerja juga tidak banyak maka akhirnya banyak remaja tidak menentukan nasibnya. Banyak yang mengalami frustasi dan melakukan hal-hal yang negatif. Masalah sekolah dan kerja ini merupakan masalah remaja yang serius yang di Indonesia masih memerlukan pengatasan yang tepat.masalah yang dapat dilontarkan adalh apakah sekolah yang mempunyai fungsi pembentukan watak yang sesuai dengan perkembangan kepribadian remaja? Dengan lain perkataan: sumbangan apa yang diberikan oleh sekolah kepada pemenuhan tugas-tugas perkembangan remaja serta terhadap emansipasinya? Bantuan apa yang diberikan oleh sekolah terhadap penerimaan fisik remaja, seksualitas saat remaja melepaskan secara emosional dari orang tua, pada saat memepersiapkan diri untuk ekonomis mandiri, mencari pekerjaan, membuat hubungan baik dengan teman-teman sebaya. Juga bantuan apa diberikan sekolah pada remaja dalam mencari pengisian waktu luang yang baik, dalam mengembangkan kemampuan kreatifnya dalam musik, drama, dan pendidikan jasmani?
Rasanya sekolah masih banyak kekurangan dalam hal seperti dilihat pada masalah motivasi yang merupakan problematik pokok dalam sekolah. Masa sekolah yang semakin lama memperlebar jarak antara dunia dewasa dan dunia orang muda (Husen, 1977). Sudahkah sekolah memperhatikan hal itu semua hingga dapat menjawab problema masa remaja tersebut? Menurut penelitian yang baru hal itu masih sangat diragukan dan masih harus banyak dilakukan hingga sekolah dapat betul=betul memebrikan pengaruh yang positif terhadap perkembangan remaja (Van der Linnden dan Roders, 1983).

5.6 Rangkuman
Batasan usia masa remaja adalah masa di antara 12-21 tahun dengan perincian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa pubertas meliputi masa remaja awal dan berisi perubahan fisik seperti percepatan pertumbuhan dan timbulnya seksualitas.
Berhubungan perkembangant idak hanya berisi pemasakan dan reaksi lingkungan terhadap pemasakan tadi, melainkan juga berisi pengaruh lingkungan terhadap remaja, maka juga dibicarakan mengenai pengaruh teman sebaya sekolah dan keluarga terhadap perkembangan remaja, berhubung dengan
Bagikan: Google+ Linkedin Technorati Digg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih telah berkunjung ke ikhsanudin.com. Jangan lupa tinggalkan komentar