Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroprasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembang...
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroprasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang menggunakan isitilah “pertumbuhan” dan “perkembangan” secara bergantian. Kedua proses ini berkangsung secara interdependensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak bias dipiisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri; akan tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunanya.

Petumbuhan berkaitan dengan perubaahan kualitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagi hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) heretic dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.
Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran-ukuran kualitatif badan anak, seperti panjang, berat, dan kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin sempit tentang system jaringan syaraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Dengan demikian pertumbuhan dapat juga diatikan sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.
Pertumbuhan jasmani berakar pada organisme yang selalu berproses untuk menjadi (the process of coming into being). Organisme merupakan system yang mekar secara kontinu, yang selalu “beroprasi” atau berfur juga bersifat dinanmis dan tidak pernah statis secara komplit. Pertumbuhan jasmaniah ini dapat diteliti dengan mengukur berat, panjang dan ukuran lingkarannya; umpama lingkaran kepala, lingkar dada, lingkar pinggang, lingkar lengan dan lain-lain. Dalam pertumbuhannya, setiap bagian tubuh itu mempunyai perbedaan tempo kecepatan. Misalnya, pertumbuhan alat kelamin berlangsung paling lambat pada masa kanak-kanak, tetap mengalami percepatan pada masa pubertas. Sebaliknya pertumbuhan susunan syaraf pusat berlangsung paling cepat pada masa kanak-kanak kemudian menjadi lambat pada akhir masa kanak-kanak, dan relative berhenti pada masa pubertas.
Perbedaan kecepatan tumbuh masing-masing bagiantubuh mengakibatkan adanya perbedaan dalam keseluruhan proporsi tubuhdapat juga menimbulkan perbedaan dalam fungsinya. Kepala seorang berubah misalnya, adalah relative lebih besar, sedangkan kaki dan tangannya relatif pendek jika dibandingkan dengan keadaan orang dewasa. Pada orang dewasa, perbandingan badan dan anggota badan hamper sam panjangnya pada usia 2 tahun, pertengahan badan berada diatas tulang kemaluan perbandingan atau proporsi badan tersebut seperti tergambar dihalaman atas. Contoh lain misalnya pertumbuhan indera penglihatan atau mata lebih cepat daripada pertumbuhan otot-otot tangan dan kaki.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organism bermacam-macam
Pertama, factor-faktor yang terjadi sebelum lahir. Umpama peristiwaa kekurangan nutrisi pada ibu dan janin; janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan; terkena infleksi oleh bakteri syphilis terkene penyakit gabag, TBC, Kholera, gondok, sakit gula dan lain-lain.
Kedua, Faktor ketika lahir atau saat kelahiran. Factor ini antara lain adalah intracranial haemorage, atau perdarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan oleh efek pada susunan syaraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan bantuan tang (tangverlossing) .
Ketiga factor yang dialami bayi sesudah lahir, antara lain oleh karena pengalaman traumatic pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi (janin) terpukul, atau mengalami serangan sinar matahari (zonnestik). Infleksi pada otak atau selaput otak, misalnya penyakit cerebal meningitis, gabag, malaria tropika, dypteria dan lain-lain. Semua penyebab tersebut diatas mengakibatkan pertumbuhan bayi dan anak sangat terganggu.
Keempat, factor psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan ibu, ayah atau kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak dititipkan pada suatu lembaga, seperti rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dan lain-lain, sehingga mereka kurang sekali mendapat perawatan jasmaniah dan cinta kasih orang tua. Anak-anak tersebut mengalami kehampaan psikis (innanite psikis), kering dari perasaan sehingga mengakibatkan kelambatan pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah. Pertumbuhan fisik memang mempengaruhi perkembangan psikologis, demikian juga sebaliknya factor psikologis dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik.
Jadi istilah pertumbuhan dimksudkan pertumbuhan dalaukuran-ukuran badan dan fungsi-fungsi biologis.
Secara umum konsep perkembangan di kemukakan oleh Werner (1957) sebagai berikut; “perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi itu di artikan sebagi prinsip totalitas pada diri anak; bahwa dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
Sejak bayi dilahirkan, ia telah mempunyai “gambaran total atau gambaran lengkap” tentang dunia ini, hanya saja gambaran tersebut masih kabur dan samar-samar. Terbawa oleh perkembangannya, gambaran total yang samar-samar tadi berangsur-angsur menjadi terang dan bagian-bagiannya bertambah nyata, jelas dan strukturnya semakin lengkap. Timbullah kemudian kompleks dan unsure-unsur, umpamanya unsure gerak, jarak, struktur, warna dan lain-lain. Namun semuanya merupakan bagian dari satu totalitas atau keseluruhan dan mengandun g sifat-sifat totalitas tersebut. Dalam hubungannya dengan konsep perkembangan orthogenetic yang dikemukakan oleh Werner ini, maka perubahan kearah terorganisasi dan terintegrasinnya suatu aspak menunjukan adanya kontinuitas. Perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung terus pada tahapan-tahapan perkembangan berikutnya dengan cara-cara yang sama. Apa yang ada perkembangan sebelumnya diteruskan pada tahapan-tahapan perkembangan berikutnya dengan cara-cara yang sama. Apa yang ada pada perkembangan berikutnya, sedangkan perubahan kearah diferensiasi yaitu timbulnya karekteristik baru yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya masih global disebut diskontinuitas.
Pada anak prasekolah dan taman kanak-kanak tampak adanya diskontinuitas, sedang pada kolompok umur yang lebih tinggi sampai dengan mahasiswa menunjukan kontinuitas.
Menurut Nagel (1957), perkembangan merupakan pengertiandimana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla (1957), perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dal organisasi organism, dan organism ini dilihat sebagai system fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya, perubahan-perubahan progresif ini meliputi dua factor yakni kematangan dan pengalaman.
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan yakni
1) Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
2) Filogenetik, yakni perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.
Perkembangan perubahan fungsi sepanjang hidupnya menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan ini juga terjadi sejak permulaan adanya manusia. Jadi perkembangan mengarah kesuatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi yang mengarah ke kesempurnaan kemanusiaan.

Bijou dan Baer (1961) mengemukakan perkembangan psikologis yakni perubahan progresif yang menunjukan cara organism bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi yang dimaksud disini adalah apakah suatu jawaban tingkah laku akan diperlihatkan atau tidak, tergantung dari perangsang-perangsang yang ada di lingkungannya. Rumusan lain tentang arti perkembangan dikemukakan oleh Libert, Paulus dan Strauss (Singgi dapat mencerh, 1990: 31), yaitu bahwa: “Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi proses
perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan”. Istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang menampak. Perkembanagan dapat juga dilukiskan sebagai suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu orgnisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kemasakan dan belajar (Monks, 1984: 2).
Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 4 (empat) katagori utama, yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan untuk mengganti hal-hal yang baru.
a. Perubahan dalam ukuran
Perubahan dapat berbentuk pertambahan ukuran panjang atau tinggi maupun berat badan. Berat badan yang semula 3 kg ketika dilahirkan menjadi 8-9 kg pada umur 6 bulan. Panjang bayi 50 cm ketika dilahirkan menjadi 60 cm pada umur 1 tahun diikuti oleh organ-organ tubuh lain yang mengalami perubahan ukuran, antara lain volume otak yang membawa akibat terjadinya perubahan kemampuan.
Jumlah suku kata yang dikuasai pada mulanya sedikit atau terbatas, semakin bertambah umur semakin bertambah banyak, sehingga pada umur kurang dari 1.5 tahun anak sudah bisa mengucapkan rangkaian suku kata-suku kata menjadi perkataan-perkataan yang mulai bermakna dan ada hubungannya dengan objek tertentu.
Kemampuan mengenak objek-objek dilingkungannya bertambah sedikit demi sedikit. Semua perubahan diatas menunjukan adanya perbedaan kuantitatif yan bisa diukur.
b. Perubahan dalam perbandingan
Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proporsional antara kepala, anggota badan dan anggota gerak. Misalnya perbandingan besarnya kepala dengan anggota badan, semakin bertambaha umur, semakin bertambah besar. Sampai pada umur tertentu perbandingan akan menetap, yakni pada usia akhir belasan tahun.
Perubahan secara proporsional juga terjad pada perkembangan mental. Perbandingan antara yang tidak real, yang khayal dengan hal-hal yang rasional semakin lama semakin besar. Artinya anak-anak masih banyak mengkhayal dan sedikit tedapat realita pada mereka, tetapi semakin lama akan semakin berubah kesebaliknya, yakni banyak realita dan sedikit berkhayal.
Dalam perkembangan sosial mereka juga sedikit demi sedikit berubah. Dari bermain sendiri, bermain dengan saudara, bermain dengan anak etangga, dan kemudian bermain dengan anak-anak lainpada lingkungan yang lebih luas lagi.
c. Berubah untuk mengganti hal-hal yang lama
Pada bayi terdapat kelenjar buntu yang disebut gl. Thymus pada dasr dada yang sedikit demi sedikit mengalami atrophy (penyusutan) menghilang setelah dewasa. Pada bayi juga terdapat rambut-rambut yang lama kelamaan hilang.
Bahasa bayi yang tidak jelas dengan kadang-kadang berbicara cepat semakin menghilang dan diganti dengan perkataan yang lebih jelas artinya kebiasaan untuk merangkak kalau mengambil sesuatu akan menghilangkan sesuai dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan motorik dan bergerak dengan berjalan. Dari sudut emosi terjadi perubahan-perubahan kearah kemampuan menunda emosi secara lebih tepat. Kebiasaan untuk melakukan sesuatu tampak menahan diri dan menunda emosi sedikit demi sedikit akan hilang. Kebiasaan mengompol akn hilang dan anak akan mampu mengatur persyaratan dan perototan yang berhubungan dengan penguasaan saluran dan kantung seni. Pada anak-anak gigi akan tanggal satu demi dan diganti dengan sisi tetap.
d. Berubah untuk memperoleh hal-hal yang baru
Banyak hal yang baru diperoleh selama perkembangan sesuai dengan keadaan dan tingkatan/tahapan perkembangannya. Ketika dilahirkan banyak belum mempunyai gigi dan beberapa waktu kemudian (kalau sudah sampai waktunya atau umurnya) akan tumbuh gigi tersebut. Dengan demikian banyak memperoleh atau menambah sesuatu yang baru sebelumnya belum ada belum dimiliki. Menjelang usia remaja terjadi pertumbuhan bulu-bulu ketiak, bulu-bulu sekitar alat-alat kelamin, timbul kumis pada laik-laki akibat mulai berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin. Tanda-tanda ini dikenal dengan istilah tanda-tanda kelamin sekunder.
Dilihat dari segi mental akan bertambah perbendaharaan kata dalam kekayaan bahasa. Nilai dan norma moral semakin meningkat. Berbagai pengentahuan akan diperoleh terutama dari lingkungan pendidikan formal.
Selama perkembangannya manusia masih tetap menerima dan memperoleh hal-hal yang baru, terutama yang berhubungan dengan kehidupan psikis. Pada manusia terdapat kebutuhan untuk memperoleh dan mengentahui. Jika tidak terpenuhi kebutuhan ini akan menimbulkan kekecewaan dan penderitaan secara psikis. Misalnya kita merasa tidak enak jika tidak memperoleh berita dalam Koran dan majalah atau pengalaman lain yang baru. Akan tetapi jika berita jika berita yang diperolehnya tidak sesuai dengan seleranya, juga dapat menimbulkan kekecewaan. Baru pada usia lanjut, setelah anak itu masuk sekolah, intesitas dan dorongan untuk ini pada umumnya mulai berkurang, karena belajar disekolah pada hakikatnya merupakan kegiatan untuk mengentahui dan memperoleh sesuatu yang baru secara bertahap dan di rencanakan. Sebagian besar kegiatan anak adalah kegiatan untuk mempeoleh hal-hal baru sebagaimana dapat dilihat pada anak-anak yang setiap hari harus sekolah dan setelah pulang sekolah masih harus belajar. Disini terlihat bahwa proses perkembangan untuk memperoleh hal-hal baru itu, sebagian besar dan untuk waktu yang relatif lama adalah mengenai kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan mental.
Kehidupan psikis anak merupakan kegitan yang maju, yang meningkat seperti yang terlihat pada tingkah laku atau ulah seorang anak yang mencampakkan alat permainan yang baru diberikan kepadanya beberapa hari yang lalu. Pada anak itu timbul perasaan bosan dan alat permainan itu tidak menarik lagi. Ia ingin alat permainan yang baru. Pada remaja sering terlihat sifat bosan dan ingin selalu melakukan untuk memperoleh yang baru, secara psikis. Mengikuti mode merupakan perwujudan keinginan mengikuti dan memperoleh Sesutu yang dianggap baru, sekalipun yang baru ini menjadi sangat relatif dan merupakan fungsi dari perubahan waktu, bisa lam dan bisa cepat. Kebutuhan untuk memperoleh dan mencari sesuatu yang baru merupakan dorongan yang menjadi sebagian cirri kepribadiannya yang b erbeda-beda pada setiap orng dan pada setiap tingkatan tahapan perkembangannya.

Tugas-tugas Perkembangan
Perkambangan merupakan suatu proses yang mengambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang hamonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari dijalani, dan dikuasi oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus ditempuh. Pada jenjang kehidupan remaja, seseorang telah berada pada posisi yang cukup kompleks, dimana ia telah banyak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, seperti misalnya mengatasi sifat tergantung pada orang lin, memahami norma pergaulan dengan teman sebaya, dan lain-lain. Secara sadar pada akhir masa anak-anak seorang individu berupaya untuk dapat bersikap dan berprilaku lebih dewasa. Hal ini merupakan “tugas” yang cukup berat bagi para remaja untuk lebih menuntaskan tugas-tugas perkembangannya, sehubungan dengan semakin luas dan kompleksnya kondisi kehidupan kehidupan yang harus dihadapi. Tidak lagi ia (mereka) ingin dijuluki sebagai anak-anak melainkan ingin dihargai dan diakui sebagai orang yang sudah dewasa. Dengan demikian para remaja menjalani tugas mempersiapkan diri untuk dapat hidup dewasa, dalam arti mampu menghadapi masalah-masalah, berttindak dan bertanggung jawab sendiri. Oleh karena itu tugas perkembangan pada masa remaja ini dipusatkan pada upaya u tuk menanggulangi sikap dan pola perilaku kekanak-kanankan.
Tugas-tugas perkembangan tersebut oleh Havighurst dikaitkan dengan fungsi belajar, karena pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagi upaya mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar ia (mereka) mampu melakukan penyesuain diri dengan baik di dalam kehidupan nyata.

Untuk memahami jenis tugas perkembangan remaja, perlu difahami hal-hal yang harus dilakukan oleh orang dewasa. Makan “dewasa” dapat diartikan dari berbagi segi, sehingga dikenal istilah dewasa secara fisik, secara sosial, secara psikologis, dewasa menurut ukum, dn sebagainya setelah orang berusia 17 tahun dikatakan sebagai orang telah dewasa yang dapat diartiakn dewasa dari beberapa segi, baik dewasa dari segi fisik yang bearti orang itu telah siap untuk melaksanakan tugas-tugas reproduk dewasa dari segi hukum yang berarti seseorang telah dapat dikenai aturan-aturan hokum atu telah harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan sesuai dengan hokum yang berlaku. Oleh karena itu jenis tugas perkembangan remaja itu pada dasarnya mencakup segala persiapan diri untuk memasuk jenjang dewasa, yang intinya bertolak dari tugas perkembangan fisik dan tugas perkembangan sosio-psikologis. Havigurts (Garrison, 1956: 14-15) mengemukakan 10 jenis tugas perkembangan remaja, yaitu :
1) Mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan dan matang;
2) Mencampai perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial;
3) Menerima keadaan badannya dan menggunakanya secara efektif;
4) Mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa;
5) Mencapai kebebasan ekonomi;
6) Memilih dan menyiapakan suatu pekerjaan;
7) Menyiapakan perkawinan dan kehidupan berkeluarga;\
8) Mengembangakan keterampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi warga Negara yang kompeten;
9) Meninginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial;
10) Mengapai suatu perangakat nilai yang digunakan sebagai pedoman bertingkah laku.

Secara rinci akan dibahas jenis tugas perkembanagan remaja yanga berkaiatan dengan kehidupan pribadi sebagai individu dan kehidupan sosial kemasyarakatan, sedang tugas perkembangan remaja yang berkaiatan dengan kehidupan pendidikan dan karier serta kehidupan bekelurga akan di bahas dalam bab tersendiri.
Tugas-tugas tersebut pada dasarnya (praktis) tidak dapat dipisahkan secara pilah, karena remj itu adalah pribadi yang utuh. Dilihat dari perkembangan kehidupan secara menyeluruh, pertumbuhan dan perkembangan dimasa remaja relative berjalan secara singkat. Namun demikian banyak hal yang harus diselesaikan selama masa perkembangan remaja yang singkat ini. Pada tugas perkembangan fisik upaya untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan yang”serba tak harmoni” amatlah berat. Hal ini dapat bertambah sulit bagi remaja yang sejak masa anak-anak telah memiliki konsep yang mengangungkan penampilan diri pada waktu dewasa nanti. Oleh karena itu tidak sedikit remaja bertingkah kurang baik dan kurang tepat (salah suai).
Di lain pihak remaja telah mengantisipasi tentang tugas-tugas dalam kehidupan sosial. Bagi seorang pria merencanakan untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab bagi kehidupan keluarga, sehingga tugas mempersiapkan diri untuk mampu menjadi manusia bertanggung jawab dalam arti menjadi pelindung keluarga baik dari segi keamanan maupun ketenteraman jiwa wanita dan anak-anak telah direncanakan. Implikasi pemikiran ini tercemin dalm nalurinya untuk menjadi seorang yang kuat, secara ekonomis menjadi orang yang produktif, yang hal ini tercemin pada jenis pekerjaan yang diidamkan. Dengan sendirinya hal itu juga pengaruh kepada pemilihan jenis pendidikan yang akan ditempuh. Bagi remaja wanita, naluri untuk menjadi wanita yang penuh kasih sayang tetapi sekali gus menjadi wanita yang membutuhkan perlindungan, telah pula mempengaruhi upaya untuk mempersiapkan dirinya memasuki jenjang.

Memasuki jenjang dewasa, telah “terbayang” berbagai hal yang harus dihadapi. Bukan saja menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, sosial dan ekonomi, tetapi juga menghadapi tugas yang berkaitan dengan factor psikologis, seperti pencapaian kepuasan persaingan, kekecewaan dan perang batin yang bisa terjadi karena perbedaan norma masyarakat dalam system kehidupan sosial dan kata hati seorang individu.

Hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan
Bagi setiap makhluk hidup sejak kelahirannya dan dalam menjadi kehidupan seterusnya terdapat dasar-dasar dan pola-pola kehidupan yang berlaku umum sesuai dengan jenisnya. Du samping itu terdapat pulapola-pola yang berlaku khusus sehubungan, dengan sifat-sifat individualism pola-pola ini mempunyai arti yang universal yang bisa berlaku dimana-mana. Pola kehidupan yang dimaksud bisa dipergunakan sebagai patok untuk mengenal ciri perkembangan anak-anak, misalnya anak-anak Amerika, anak –anak di Asia, dan juga bagi anak-anak di Indonesia semua karena cirri dan sifatnya yang universal. Lingkungan dan latar belakang kebudayaan masing-masing bangsa mempengaruhi pada pertumbuhan dan perkembangan bangsa itu, dan dengan demikian akan terjadi atau terbentuk karakteristik-karakteristik yang menjadi pola khusus bangsa yang bersangkutan. Di antara pola-pola khusus itu, dan bahkan antara pribadi dengan pribadi, juga terdapat perbedaan-perbedaan tertera perbedaan tersebut akan lebih jelas apabial di bandingkan secara keseluruhan pribadi bangsa-bangsa itu.
Berdasar persamaan-persamaan dan perbedaan itu diperoleh kecenderungan-kecenderungan umum dalam pertumbuhan dan perkembangan ,yang selanjutnya dinamakan hokum-hukum pertumbuhan dan perkembangan. Hokum-hukum perkembangan itu antara lain :
1) Hukum Cephalocoudal
Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik di mulai dari kepala kea rah kaki. Bagaian-bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan prenatal, yaitupada janin. Seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih “matang” daripada bagian-bagian lain. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat daripada anggota badan lainnya. Baik pada masa perkembangan pranetal, neonatal maupun anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang tubuhnya mula-mula kecil dan makin lama perbandingan ini makin besar.
2) Hukum Proximodistal
Hukum Proximodistal adalah hokum yang berlaku pada pertumbuhan baik dan menurut hokum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ketepi. Alat-alat tubuh yang terdapat dipusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih duhulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ditepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki. Anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan tetapi bila terjadi kelainan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.
Ditinjau dari sudut biologis, anatomis dan ilmu faal masih banyak lagi ketentuan yang berhubungan dengan pertumbuhan, stuktur dan fungsi serta kefaalan anggota tubuh. Misalnya dalm hal kematangan, anggota-angota tubuh akan tumbuh, berkembang dan berfungsi yang tidak sama antara satu dengan lainnya.contohnya terlihat kepada kelenjar-kelenjar kelamin, yang baru mulai berfungsi (matang) ketika anak memasuki masa remaja. Pada saat ini terjadi perubahan besar pada bentuk tubuh, yang bahkan juga mempengaruhi perubahan pada kehidupan psikisnya.

3) Perkembangan terjadi dari umum ke khusus
Pada setiap asfek terjadi proses perkembanganyang dimulai dari hal-hal yang umu, kemudian secara sedikit demi sedikit menngkat ke hal-hal yang khusus . terjadi proses diferensiasi seperti dikemukakan oleh Werner. Anak lebuh dahulu mampu menggerakan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan terlebih dahulu daripada menggerakan jari-jari sebelum ia bisa menggunakan kedua tungkainya untuk menyangga batang tubuhnya, melangkahkan kaki dan berjalan.
Dari sudut perkembangan kemampuan juga terlihat penghalusan dari hal-hal yang adinya umum ke khusus. Seorang anak akan menyebutkan semua wanita “mama”, sebelum ia mapu membedakan mana ibunya, mana pengasuh atau bibinya. Anak mengenal istilah binatang dan mengenal pohon melalui kemampuannya untuk membedakan man yang tergolong anjing, kucing, ayam, mengenal pohon pisang, pohon papaya, dan pohon mangga.
Dilihat dari segi perkembangan emosinya juga terjadi hal-hal yang tidak enak, yang menyakitkan, yang menyedihkan yang menjengkelkan dengan reaksi-reaksi yang sama. Ia akan sedikit demi sedikit membedakanrangsangan tertentu dengan reaksi yang berlainan. Anak memperlihatkan reaksi kemarahan terlebih dahulu, sebelum ia bisa memperlihatkan emosi cemburu atau iri hati.
4) Perkemabangan berlangsung dalam tahapan-tahapan perkembangan
Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi kedalam masa-masa perkembangan. Pada setiap masa perkembangan terdapat cirri-ciri perkembangan yang berbeda antara cirri-ciri yang ada pada suatu masa perkembangan lain. Sebenarnya ciri-ciri yang ada masa perkembangan terdahulu dapat diperlihatkan pada masa-masa perkembangan berikutnya. Hanya dalam hal ini terjadi dominasi pad ciri-ciri yang baru. Jadi bila seseorang suatu tahap dalam perkembanganya, maka mungkin saja ia masih memperlihatkan cirri-ciri yang sebenarnya merupakan cirri-ciri perkembngan masa perkembanganya yang terdahulu hanya saja apa yang diperlihatkan itu dalam “jumlah” yang kecil. Justru apabila ciri-ciri pada masa-masa perkembangan sebelumnya banyak diperlihatkan dalam perkembangan baru berarti ia belum meningkat ke tahap perkembangan berikutnya.
Ada asfek-asfek tertentu yang tidak berkembang dan tidak meningkat lagi, yang hal ini disebut Fiksasi. Aspek intelek pada anak-anak tertentuyang memang secara konstitusional terbatas, pada suatu saat akan relative berhenti, tidak bisa atau sulit berkembang dan dikembangkan. Masalah penahapan (periodisasi) perkembangan ini biasanya juga merupakan masalah yang banyak dipersoalkan oleh para ahli; pendapat mereka mengenalkan dasar-dasar penahapan itu serta panjang masing-masing tahap juga bermacam-macam, yang pada umumnya lebih bersifat teknis daripada konsepsional.
Contoh penahapan dalamperkembangan manusia itu antara lain meliputi: masa pra-lahir, masa jabang bayi ( 0-2 minggu), masa bayi (1 minggu-1 tahun). Masa ank pra-sekolah (1-5 tahun) masa sekolah (1 tahun-12 tahun), masa remaja (13-21 tahun), masa dewasa (21-65 tahun) masa tua (65 tahun keatas).
5) Hukum tempo dan ritme perkembngan
Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang relative tetap serta bisa berlaku umum. Justru perbedaan-perbedaan waktu, yaitu cepat-lambatnya sesuatu penahapan perkembangan terjadi, atau masa perkembangan dijalan menampilkan adanya perbedaan-perbedaan individu. Semakin lambat masa-masa perkembangan dibandingkan dengan norma-norma umum yang berlaku semakin menunjukan adanya tanda-tanda gangguan atau hambatan dalam perkembangan. Adanya hubungan-hubungan antara satu asfek dengan asfek lain yang saling mempengaruhi, menunjukan bilamana satu aspek mengalami kelambatan, maka pada asfek-asfek lain juga akan terjadi hal yang samaa; sebaliknya kalau tidak maka ada factor-faktor khusus yang mempengaruhi perkembangan itu. Karena itu setiap gejala baru dapat dijelaskan berdasarkan perkembangan sebelumnya.

Dalam praktik sering terlihat dua hal sebagai petunjuk kelerkambatan pada keseluruhan perkembangan mental, yakni:
A) Jika perkembangan kemampuan fisiknya untuk berjalan jauh tertinggal dari patokan umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionalitas fisiknya yang terganggu.
B) Jika perkembangan kemampuan berbicara sangat terlambat dibandingkan dengan anak-anak lain pada masa perkembangan yang sama. Seorang anak yang pada umur 4 tahun misalnya mengalami kesulitan dalam berbicara, mengemukakan sesuatu dan terbatas perbendaharaan kata, mudah diramalkan anak itu akan mengalami kelambatan pada seluruh aspek perkembangan.

Cepat-lambatnya sesuatu masa perkembnagan dilalui dan seluruh perkembangan dicapai, selain berbeda antara perkembangan filogenetik da ontogenetic, juga menunjukan perbedaan secara perorangan, meskipun tingkat perbedaannya tidak terlalu besar. Cepat-lambatnya suatu masa perkembangan dilalui, menjadi cirri yang menetap sepanjang hidupnya, bilamana tidak ada hal-hal yang bisa mempengaruhi proses perkembangan menjadi lambat dan terlambat.
Ritme atau irama perkembangan akan semakin jelas tampak pada saat kematangan fungsi-fungsi. Pada saat itu terlihat adanya selingan diantara cepat dan lambatnya perkembangan, yang kurang lebih tetap/konstan sifatnya. Inilah yang disebut sebagai irama perkembangan.
Setiap perkembangan tidak berlangsung secara melompat-lompat, akan tetapi menurunkan suatu pola tertentu dengan tempo dan iramatertentu pula, yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari dalam diri anak. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh ses yang bereorang pendidik untuk mengubah, mempercepat atau memperlambat tempo dan irama perarkembangan tersebut.
Remaja : Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan
Untu k menghindari kesimpangsiuran dan kesalah pahaman dalam penggunaan istilah sebaiknya istialah remaja dijelaskan terlebih dulu. Istilah asing yang sering dipakai untuk menunjukan makna remaja anatara lain adalah pubertelit, adolescentia dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula dikatakan pubertas atau remaja, istilah puberty (inggris) atau puberteit (belanda) b erasal dari bahsa latin; pubertas yang berarti usia kedewasaan (the age of manhood ). Istilahi berkaitan dengan kata latin lainnya pubescre yang berarti masa pertumbuhan rambut didaerah tulang “pusic” (di wilayah kemaluan). Pengguna istilah ini lebih terbatas dan menunjukan mulai berkembang dan tercapainya kematangan seksual pubescence dan puberty sering diartiakan sebagai masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologisnya.
Istilah adolescentia berasal dari kata Latin: Adulescentis. Dengan adulescentia dimaksudkan masa muda. Adolescence menunjukkan masa yang tercepat antara usia 12-22 tahun dan mencakup seluruh perkembangan psikis yang terjadi pada masa tersebut. Untuk menghindarkan kesalahpahaman dalam pemakaian istilah pubertas dan adolescensia, akhir-akhir ini terlihat adanya kecenderungan untuk memberikan arti yang sama pada keduanya. Hal ini disebabkan sulitnya membedakan proses psikis pada masa pubertas dan mulainya proses psikis pada adolescensia.
Di Indonesia baik istilah pubertas maupun adolescensia dipakai dalam arti umum dengan istilah yang sama yaitu remaja.

Remaja itu sulit di definisikan secara mutlak. Oleh karena itu di coba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandangan, antara lain menurut hokum, perkembangan fisik, WHO, sosial psikologi, dan pengertian remaja menurut pandangan masyarakat Indonesia.

a. Remaja menurut Hukum
Konsep tentang “remaja”, bukanlah berasal dari bidang hokum, melainkan berasal dari bidang ilmu-ilmu sosial lainnya seperti Antropologi, Sosiologi, Psikologi dan Paedagogi. Kecuali itu, konsep “remaja” juga merupakan konsep yang relative baru, yang muncul kira-kira setelah era industrialisasi merata di Negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Negara-negara maju lainnya. Masalah remaja baru menjadi pusat perhatian ilmu-ilmu sosial dalam 100 tahun terakhir ini.
Dalam hubungan dengan hukum, nampaknya hanya undang-undang perkawinan saja
yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara Friksi atau konflik-konflik dalam diri remaja yang seringkali menimbulkan masalah itu, tergantung sekali pada keadaan masyarakat di mana remaja yang bersangkutan tinggal. Remaja yang tinggal dalam masyarakat yang menuntut persyaratan yang berat untuk menjadi dewasa akan menjalani masa remaja ini dalam kurun waktu yang panjang. Biasanya hal ini terjadi dalam masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas dan atau masyrakat yang menuntut pendidikan setinggi-tingginya bagi anak-anaknya.
Sebaliknya dalam masyarakat primitive, perubahan fungsi sosial ini tidak dibiarkan berjalan berlama-lama. Penelitian yang dilakukan oleh Kitara (1984, dalam Sarlito, 1991:12) menemukan bahwa di kalangan suku-suku primitive yang banyak tabu seksualnya, cenderung dilaksanakan ritual pubertas yaitu upacara pada saat anak itu sudah dewasa. Dengan ritual tersebut anak tidak lagi meragukan identitas dan peranannya dalam masyarakat. Ia diperlakukan dan harus berlaku seperti orang dewasa.
Penelitian lain yang dilakukan oleh antropolog terkenal Margaret Mead (1950) terhadap anak-anak di Samoa membuktikan bahwa anak-anak Samoa tidak mengalami krisis remaja, oleh karena masyarakat Samoa tidak membedakan anak-anak dari orang dewasa. Dalam kehidupan seksual, orang tua di Samoa tidak mentabukan apa pun kepada anak-anak mereka. Menurut Ruth Benedict perkembangan jiwa pada masyarakat Samoa merupakan satu kontinuitas (kelanggengan), sedangkan di masyarakat Barat perkembangan jiwa dihadapkan pada masyarakat yang memaksakan diskontinuitas (penjenjangan, pergantian peran), sehingga dituntut kemampuan penyesuaian diri pada remaja di masyarakat Barat lebih banyak dari pada di masyarakat Samoa.

e. Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan. Di Indonesia, kita bisa menjumpai masyarakat golongan atas yang sangat terdidik dan menyerupai masyarakat di Negara-negara Barat dan kita bisa menjumpai masyarakat semacam masyarakat di Samoa.
Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut :
1) Usia 11 tahun adalah usia diman apada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai Nampak (criteria fisik).
2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak (krirteria sosial).
3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempernuan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri ( ego identity) (Erik Erikson) tercapainya fase genital dari perkembangan psiko-seksual (frreud), tercapianya punck perkembangan kognitif (piaget) maupun moral (Khohlberg) (criteria psikologik).
4) Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk member peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi). Golongan ini banyak terdapat di Indonesia, terutama dikalanagan masayarakat kelas menengah keatas yang masyarakat berbagai hal ( Terutama pendidikan setinggi tingginya) untuk mencapai kedewasaan. Tetapi dalam kenyataan cukup banyak pula orang yang mencapai kedewasaannya sebelum usia ini.
5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting dimasyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hokum maupun dalam kehidupan masyarakat keluarga.

Rentangan usia dalam masa remaja nampak ada berbagai pendapat, walaupun tidak terjadi pertentangan. Bigot, Kohnstam dan Palland mengemukakan bahwa masa pubertas berada antara 15- 18 tahun, dan masa adolescence dalam usia 18-21 tahun. Menurut Hurlock (1964) rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang dibagi pula dalam usia masa remaja awal 13 atau 14 sampai 17 tahun dan remaja akhir 17-21 tahun.
WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja WHO menyatakan walaupun definisi diatas terutama didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurun usia dalam dua bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Perseriakatan bangsa-bangsa sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai tahun pemuda internasional. Di Indonesia, batas remaja yang mendekati batasan PBB tentang pemuda adalah kurun usia 14-24 tahun yang dikemukakan dan digunakan dalam sensus penduduk 1980.
Mengingat saat mulainya masa remaja yang sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan perorangan, maka penentuan umur saja belum cukup untuk mengentahui apakah suatu tahap perkembangan baru telah atau belum mulai. Penggolongan remaja yang semata-mata berdasarkan usia saja tidak membedakan remaja yang keadaan sosial psikologisnya berlain-lainan.
Seorang remaja pada batas peralihan kehidupan anakdan dewasa. Tubuhnya kelihatan sudah”dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menenjukan kedewasaannya. Pada remaja terlihat adanya:
1) Kegelisahn: keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi. Di satu pihak ingin mencari pengalaman, karena diperlakukan untuk menambah pengentahuan dan keluwesan dalam tingkah laku. Di satu pihak lain mereka merasa diri belum mampu melakukan berbagai hal.
2) Pertentangan: pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri mereka juga menimbulkan kebingungan baik bagi diri mereka maupun orang lain. Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan anatara si remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan remaja yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua. Akan tetapi keinginan untuk melepaskan diri ini ditentang lagi oleh keinginan memperoleh rasa aman di rumah. Mereka tidak berani mengambil resiko dari tindakan meniggalkan lingkungan-lingkungan yang aman diantara keluarganya. Tambahan pula keinginan melepaskan diri secara ekonomis tidak memperoleh lagi bantuan dari keluarga dan hal keuanggan.
3) Berkeinginan besar untuk mencoba hal yang ingin belum diketahuinya. Mereka ingin mencoba apa yang dilakukan orang dewasa dapat pula dilakukan oleh si remaja. Remaj putrid mulai bersolek menurut mode dan kosmetik terbaru. Keinginan mencoba pada remaja ini dapat berakibat negative apabila mereka diajak mencoba mengisap ganja, atau menyuntik morphin. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat penyaluran yang tidak ada mamfaatnya. Dalam bidang seksual keinginan besar untuk mendapatkan kepuasaan dilakukan dengan onani atau masturbasi. Dengan kata lain gejala onani atau masturbasi itu merupakan penyaluran seksual yang semu. Hal ini ada yang memandang biasa atau normal karena merupakan upaya untuk menghilangkan ketegangan-ketegangan serta sekaligus merupakan upaya menghindari dari larangan normal sosial dan hokum.
4) Keinginan menjelajah kea lam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kolompok atas himpunan pencinta alam (HPA) dan sebagainya. Keinginan menjelajahi dan menyelidiki ini dapat disalurkan dengan baik ke penyelidikan yang bermamfaat.
5) Menghayal dan berfatansi.
Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karir. Khayalan dan fantasi tidak selalu bersifat negative, dapat juga bersifat positif. Melalui khayalan dan fantasi yang positif dan konstruktif banyak hal dan ide baru yang dapat diciptakan oleh para remaja.
6) Aktivitas berkelompok
Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama mengadakan penjelajahan secara berkelompok. Keinginan berkelompok ini tumbuh sedemikian besarnya dan dapat dikatakan merupakan masa remaja.


Jenis-jenis kebutuhan dan Pemenuhanya
Sebagaimana telah diuraikan di depan, bahwa individu adalah pribadi yang utuh dan kompleks. Kekompleksan tersebut dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Oleh karenanya di samping seorang individu harus memahami dirinya sendiri ia juga harus memahami orang lain dan memahami kehidupan bersama dalam masyarakat, memahami lingkungan serta memahami pula bahwa itu adalah mahluk Tuhan. Sebagai makhluk psiko-fisis manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis, dan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, manusia mempunyai kebutuhan individu (yang juga dikenal sebagai kebutuhan pribadi) dan kebutuhan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian maka setiap individu tentu memiliki kebutuhan, karena ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kondisi fisik dan sosial psikologis yang lebih sempurna dalam kehidupannya.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya menuju kejenjang kedewasaan, kebutuhan hidup seseorang mengalami perubahan-perubahan sejalan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan sosial psikologis semakin banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik. Karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin luas. Kebutuhan itu timbul disebabkan oleh dorongan-dorongan (motif). Dorongan adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (Sumadi,1971: 70;Lefton (1982) menyatakan bahwa kebutuhan dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami goncangan atau ketidakseimbangan. Munculnya kebutuhan tersebut untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakikatnya merupakan kebutuhan biologis atau organic dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli. Contoh kebutuhan primer itu antara lain adalah : makan, minum, bernafas dan kehangatan tubuh. Pada tingkat remaja dan dewasa kebutuhan primer ini dapat bertambah, yaitu kebutuhan seksual. Sedangkan kebutuhan sekunder umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari, seperti misalnya kebutuhan , untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti pola hidup bermasyarakat, kebutuhan akan hiburan, alat transportasi, dan semacamnya. Klasifikasi kebutuhan menjadi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder sering digunakan, namun pengklasifikasian semacam itu sering membingungkan.Oleh karena itu Cole dan Bruce (1959) (Oxendine,1984:227) membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis. Pengelompokan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Murray (1938) (Oxendine, 1984: 227) yang diajukan dengan istilah yang berbeda, yaitu kebutuhan viscerogenic dan kebutuhan psychogenic. Beberapa contoh kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah : makan-minum, istirahat, seksual, perlindungan diri. Sedang kelompok kebutuhan psikologis, seperti yang dikemukakan Maslow (1943) mencakup (i) kebutuhan untuk memiliki sesuatu, (ii) kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, (iii) kebutuhan akan keyakinan diri, dan (iv) kebutuhan aktualisasi diri. Dalam perkembangan kehidupan yang semakin kompleks, pemisah jenis kebutuhan yang didorong oleh motif asli dan motif-motif yang lain semakin sukar dibedakan.
Mengapa manusia berperilaku ?
Untuk menjawab pertanyaan ini digunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan organismik (internal) dan pendekatan lingkungan (eksternal). Pembicaraan tentang motif dan/atau motivasi merupakan bagian yang akan ditinjau secara khusus dalam bagian ini, yang berarti uraian bagian ini menitikberatkan bahwa motif itu merupakan factor pendorong manusia bertingkah laku. Perilaku meupakan pengejawantahan atau aktualisasi diri. Perilaku didorong oleh motif. Hal ini tidak berarti bahwa kita mengesampingkan factor lingkungan, tetapi seperti kita ketahui bahwa motivasi dan lingkungan pada dasarnya berinteraksi, dengan demikian persoalan lingkungan akan dengan sendirinya tercakup di dalam uraian ini.
Banyak pendekatan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan kekuatan dari dalam yang menghasilkan gejala yang dimaksud dengan tingkah laku. Eksperimen-eksperimen psikologi cenderung untuk memilih pendekatan system dalam menerangkan tingkah laku dari sisi dorongan, di mana dorongan diartikan sebagai kekuatan/dorongan biologis dalam arti luas, seperti lapar, haus dan dorongan seksual. Bagi guru atau pendidik perlu melihat motivasi yang tidak semata-mata berasal dari factor/dorongan biologis. Hal ini dikemukakan oleh para psikolog yang telah meniru perilaku manusia dari factor dorongan atau motivasi.
Beberapa psikolog, seperti Carl Rogers(1951), Artthus W. Combs Snygg (1959) rmeyakini bahwa motif dasa manusia adalah “need adequacy’, yang mereka artikan sebagai suatu “great driving, strive force in each of us by which we are continually seeking to makeourself ever more adequate to cope with life” Lindgren, 1980:36). Kebutuhan akan keyakinan diri ini diekspresikan melalui dua bentuk perilaku, yaitu kebutuhan mempertahankan diri (maintenance) dan mengembangkan diri (enchancement).
Kebutuhan psikologis muncul dalam kehidupan manusia, seperti apa yang dialami setiap hari secara emosional, yaitu: senang, puas, susah, lega, kecewa dan semacamnya. Berhubung manusia hidup bersama didalam masyarakat, maka mereka ingin mengatur dan mengikuti praturan yang berlaku di dalam kehidupan masyaakat, sekalipun kadang-kadang ini amat sukar. Untuk itu manusia belajar memahami norma- norma atu sifat normatif , artinya prilaku manusia diapahkan dan disesuaikan dengan norma- norma yang belaku dan tetap digariskan untuk diikuti dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejak bayi kehidupan manusia kecil itu prilakunya didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis yakni kebutuhan untuk mempertahankan diri. Kebutuhan ini disebut deficiency need artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan memang di perelukan untuk teta hidup survevisal Kemudian ada masa kehidupan berikutnya, muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri . bekembangnya kebutuhan ini tejadi karena pengaruh faktor lingkungan dan faktor belajar, seperti kebutuhan akan cinta kasih, kebutuhan untuk memiliki yang ditandai berkembangnya “aku” manusia kecil, kebutuhan harga diri, kebutuhan akan kebebasan, kebutuhan untuk berhasil, dan munculnya kebutuhan untuk bersaing dengan yang lain.
Kebutuhan-kebutuhan sebelumnya adalah kebutuhan untuk memiliki baik pemilikan itu bekaitan dengan lingkungan manusia maupun berkaitan dengan kebendaan. Dalam tingkat perkembangan tertentu seorang individu berupaya memiliki teman sejawat, mendapatkan kasih sayang dan memiliki benda-benda yang disenanginya.
Menuut Lewis Dan Lewis kegiatan remaja atau manusia itu didorong oleh berbagai kebutuhan, yaitu:
a. Kebutuhan jasmaniah
b. Kebutuhan psikologis
c. Kebutuhan ekonomi
d. Kebutuhan sosial
e. Kebutuhan politik
f. Kebutuhan penghargaan dan
g. Kebutuhan aktualisasi diri

Kebutuhan remaja, masalah dan konsenkuensinya
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa Hall (dalam liebert, dan kawan-kawan, 1974: 478) memandangnya bahwa masa remaja ini sebagai masa “storm and strest” menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan yaitu :
a) Kebutuhan organik sepeti makan, minum, bernafas, seks:
b) Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari pihak lain.
c) Kebutuhan berprestasi yang bekembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sekaligus menunjukan kemamuan psiko-fisis.
d) Kebutuhan untuk mempetahankan diri dan mengembangkan jenis.

pertumbuhan fisik dan pekembangan sosial-psikologis dimasa remaja ada dasanya merupakan kelanjutan yang dapat diartikan penyempurnaan proses pertumbuhan dan pekembangan sebelumnya, seperti halnya pertumbuhan fisik yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awal masa remaja sebagai indikator menuju tingkat kematangan fungsi seksual seseoang.
Disamping itu remaja membutuhkan pengakuan akan kemampuan nya yang menurut Maslow kebutuhan itu disebut kebutuhan penghargaan. Remaja membutuhkan penghargaan dan pengakuan bahan ia telah mau berdiri sendiri, mampu melaksanakan tugas-tugas seperti yang dilakukan orang dewasa, dan bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang dikerjakannya. Faktor non fisik yang secara integrasi tergabung didalam faktor sosial-psikologis, dijiwai oleh tiga potensi dasar yang dimiliki manusia yaitu pikir, rasa dan kehendak. Ketiganya secara potensial mendorong munculnya berbagai kebutuhan. Remaja telah memahami berbagai aturan didalam kehidupan bemasyarakat, dan tentu saja ia berupaya untuk mengikuti aturan-aturan itu.
Dalam kehidupan dunia modern, manusia tidak saja berpikir tentang kebutuhan pokok, mereka telah lebih maju.Pemikirannya telah bercakrawala luas, oleh karena itu kebutuhan pokoknya juga sudah berkembang pendidikan dan hiburan misalnya,di dalam masyaakat modern telah menjadi kebutuhan hidupnya yang mendesak, bahkan telah masuk dalam daftar kebutuhan pokok kini anda dapat mengamati lingkungan, bahwa prilaku kehidupan manusia telah kompleks. Menjadi begitu.
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Upaya untuk dapat mengubah sikap dan prilaku kekanak-kanakan menjadi sikap prilaku dewasa tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan.ada masa ini remaja menghadapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan prilaku yang besar, sedang dilain pihak harapan ditumpukan ada remaja muda untuk dapat meletakaan dasar bagi pembentukan sikap dan pola prilaku.
2) Sering kali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang measa puas dengan tubuhnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi. Ketidak serasian proporsi tubuh ini sering menimbulkan kejengkelan, karena ia sulit untuk mendapatkan pakaian yang pantas , juga hal itu tamak ada gerakan atau prilaku yang kelihatannya ragu dan tidak pantas
3) Perkembangan fungsi seks ada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan prilaku yang melanggar norma, pandangannya terhadap sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan. Bagi remaja laki-laki dapat berprilaku yang menantang norma dan bagi remaja perempuan akan berprilaku mengurung diri atau menjauhi pergaulan sebaya lain jenis.
4) Dalam memasuki kehidupan bemasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian, dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti prilaku yang over acting, “lancing” dan semacamnya. Kehidupan bermasyarakat banyak menuntut remaja untuk banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi tidak semuanya selaras. Dalam hal terjadi ketidakselarasan antara pola hidup masyarakat dan prilaku menurut remaja baik
5) Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri hidup masih secara sosial ekonomis, akan berkaitan dengan berbagai masalah menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi reaksi mereka bukan saja harus menghadapi satu arah kehidupan sebaya remaja dan kuatnya pengaruh kolompok sebaya.
6) Berbagai norma dan nilai yang berlaku didalam hidup bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja, sedang dipihak remaja merasa memiliki nilai dan kehiduannya yang dirasa tidak sesuai. Dalam hal ini para remaja menghadapi perbedaan norma ini merupakan kesulitan tersendiri bagi kehiduan remaja. Seing kali perbedaan norma yang belaku dan noma yang di anutnya menimbulkan prilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan “Nakal”

3. Usaha-usaha pemenuhran kebutuhan remaja dan implikasinya dan penyelenggara pendidikan.

Pemenuhan kebutuhan fisik atau oganik merupakan tugas pokok kebutuhan ini harus dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehiduannya agar tetap lebih tegar. Tidak berbeda dengan pemuhan kebutuhan serupa dimasa pekembangan sebelumnya kebutuhan ini sangat dipengauhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat berpengauh terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan psikologi sosial seoang individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan hidup teratur sangat perlu di tanamkan oleh orang tua, sekolah dan lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja
Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhan fisik remaja, usaha pemenuhannya harus mendapat perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Sekalipun kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut faktor lain untuk diperhatikan dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup tangga dan waspada secraa dini menjelaskan dan memberikan pengetian arti dan fungsi kehiduan seksual bagi remaja terutama wanita dan arti seksual dalam kehiduan secara luas. Pemenuhan kebutuhan dan dorongan seksual ada remaja dimana ada saat itu ia telah menyadari akan adanya noma agama, sosial, dan hukum, maka banyak dilakukan secara diam-diam aktifitas onani atau masturbasi.
Pendidikan seksual disekolah dan terutama didalam keluarga harus mendapatkan perhatian, program bimbingan keluarga bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara periodik oleh setia oganisasi ibu-ibu dan organisasi wanita ada umumnya . sekolah sekali-kali perlu mendatangkan ahli atau dokter untuk memberi ceramah penjelasan tentang masalah-masalah remaja. Khususnya masalah seksual.
Untuk mengembangkan kehiduan hidu bemasyaakat dan mengenalkan bebagi noma sosial, amat enting dikembangkan kolomok-kolomok emaja untuk bebagi uusan, seeti kolomok olahaga, kolomok seni dan musik,kolomok koasi, kolomok belaja dan semacamnya. Ada kesematan sekolah menyelanggarakan acara-acara tertentu seperti malam pertemuan, perpisahan sekolah, ada baiknya anak-anak ditugasi untuk ikut mengurus atau dimasukan sebagai panitia penyelenggara.
Silahkan Download

http://www.ziddu.com/download/15094735/PertumbuhandanPerkembanganRemaja.pdf.html

About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top