Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Marah Dalam Islam
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan wahyu Allah SWT yang ditujukan untuk manusia, diri pribadi dan alam semesta. Al-Qur’an merupakan ...
Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan wahyu Allah SWT yang ditujukan untuk manusia, diri pribadi dan alam semesta. Al-Qur’an merupakan kitab yang sempurna, memuat berbagai aspek kehidupan manusia, baik itu berhubungan dengan aqidah, ibadah, muamalah, maupun yang berhunbungan dengan kehidupan pada umumnya seperti politik, hukum, perdamaian, perang, social dan ekonomi. Dalam kehidupan social ini manusia beraneka ragam watak pikiran serta masalah yang dihadapi, dari watak yang lembut sampai watak yang keras dalam menyelesaikan permasalahan.

Setiap jiwa manusia mengalami berbagai perubahan dan pengaruh, apabila manusia senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dengan baik, maka akan memperoleh ketenangan dalam hidup, sebaliknya jika manusia tidak menjalankan perintah Allah SWT dapat digolongkan kedalam umat yang merugi. Sebagaimana firman Allah SWT Q.S Al-Asr ayat 1-3 yang berbunyi:
ﻮﺍ ﻠﻌﺻﺮ ﴿١﴾ ﺇ ﻦ ﺍ ﻻ ﻨﺴﺎ ﻦ ﻠﻔﻴﻰ ﺧﺴﺮ ﴿۲﴾ ﺍ ﻻ ﺍ ﻠﺬ ﻴﻦ ﺍ ﻤﻧﻮﺍ ﻮ ﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍ ﻠﺻﻠﺤﺖ ﻮ ﺗﻮﺍ ﺻﻮﺍ ﺒﺎ ﻠﺤﻖ ﻮ ﺗﻮﺍ ﺻﻮﺍ ﺒﺎ ﻠﺻﺒﺮ ﴿۳﴾


Artinya : “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar barada dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasihat- menasihati supaya mentaati kabenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”.

Dari ayat diatas jelaslah bahwa manusia yang merugi adalah manusia yang tidak beriman, selalu ditimpa keresahan dan kebimbangan-kebimbangan. Kemudian Allah SWT menyuruh manusia untuk saling nasihat-menasihati agar mentaati kebanaran dan bersabar.
Pada dasarnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang mempunyai empat sifat : 1) beriman 2) beramal shaleh 3) saling berwasiat kepada kebenaran dan 4) saling berwasiat kepada kesabaran. Mereka melakukan dan mengajak kebaikan kepada orang lain. Setapak pun ia takan mundur sekalipun berhadapan dengan masyaqat dan musibah didalam melaksanakan da’wah kebaikan.

Seseorang yang tidak dapat mengendalikan dan mengarahkan jiwanya, serta tidak dapat menentukan kehendak dan akalnya maka akan menimbulkan sifat marah. Ketika seseorang sedang marah, maka pasti ia tidak mampu lagi mengendalikan akal dan aktifitasnya atau bahkan tidak mampu mengendalikan ucapanya, hal ini akan membawa kepada tindakan yang tidak terkontrol atau mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena terbawa oleh emosi. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bukanlah orang yang gagah itu orang yang paling gagah dimedan pertempuran, melainkan orang yang gagah itu adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.
Nafs amarah mengeluarkan perintah kepada jasad untuk melampiaskan kekesalan hati dengan celaan-celaan, tindakan-tindakan dan wujud kekesalan lainya tergantung pada tingkatan kemarahan dari keimanan seseorang. Sebagaimana firman Allah SWT QS Al-Imran ayat 134:
ﺍ ﻠﺬ ﻴﻦ ﻴﻧﻔﻗﻮ ﻦ ﻔﻰ ﺍ ﻠﺴﺮﺍﺀ ﻮﺍ ﻠﻀﺮﺍﺀ ﻮﺍ ﻠﻛﺎ ﻈﻤﻴﻦ ﺍ ﻠﻐﻴﻆﻮ ﺍ ﻠﻌﺎ ﻔﻴﻥ ﻋﻦ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺱ ﻮ ﺍ ﷲ ﻴﺤﺐ ﺍ ﻠﻤﺤﺴﻨﻴﻦ ﴿ﺍ ﻞﻋﻤﺮﺍ ﻦ׃١٣٤﴾
Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Berdasarkan firman Allah SWT diatas dapat dipahami bahwa menahan amarah merupakan perbuatan kebajikan, Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, jika manusia tidak melaksanakan kebijakan Allah SWT dengan baik dan mempunyai iman yang lemah, akan mengakibatkan manusia menjadi marah.
Menurut Al-Maraghi: orang-orang yang menahan dan mengekang perasaan amarahnya, tidak mau melampiaskanya, sekalipun hal itu bisa saja ia lakukan. Barang siapa menuruti nafs amarah, kemudian bertekad untuk dendam, beararti ia tidak stabil lagi dan tidak mau berpegang teguh kepada kebenaran. Bahkan terkadang ia bisa melampauinya hingga kelewat batas. Oleh karena itu, dikatakan bahwa mengekang amarah termasuk taqwa kepada Allah SWT.
Di zaman yang serba penuh kompetisi ini, tekanan selalu datang bertubi-tubi. Persoalan hidup demikian pelik dan rumit, mulai dari urusan kantor, keluarga, tetangga atau saudara, masalah setiap saat menjumpai kita. Dengan demikian bara api dalam hati menjadi gampang terpanggang, tidak perlu obor, tidak perlu daun kering dan kertas, apalagi minyak tanah. Cukup sepercik api akan lansung membakar, bahkan tidak sekedar ditiup saja bara itu lansung keluar api.
Rasulallah saw bersabda:
ﻮﻋﻥ ﺍ ﺒﻰ ﻮﺍ ﺌﻞ ﺍ ﻠﻘﺎ ص ﻘﺎ ﻞ ׃ ﺪ ﺨﻠﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﺮ ﻮ ﺓ ﺒﻦ ﻤﺤﻤﺩ ﺒﻦ ﺍ ﻠﺴﺩ ﻯ ﻔﻛﻠﻤﻪ ﺮ ﺟﻞ ، ﻔﺎ ﻏﻀﺒﻪ ، ﻔﻘﺎ ﻢ ﻔﻘﻮﻀﺄ ﻔﻘﺎ ﻞ ׃ ﺤﺩ ﺛﻨﻰ ﺍ ﺒﻰ ، ﻋﻦ ﺠﺩ ﻯ ﻋﻄﻴﺔ ﻘﺎ ﻞ ׃ ﻘﺎ ﻞ ﺮﺴﻮﻞ ﺍ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺍ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻮ ﺴﻠﻢ ׃ ﺍ ﻦ ﺍ ﻠﻐﻀﺐ ﻤﻥ ﺍ ﻠﺸﻴﻄﺎ ﻦ ، ﻮﺍ ﻥ ﺍ ﻠﺸﻴﻄﺎ ﻦ ﺨﻠﻖ ﻤﻥ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺮ، ﻮﺍ ﻨﻤﺎ ﺘﻄﻔﺄ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺮ ﺒﺎ ﻠﻤﺎﺀ ، ﻔﺎ ﺫﺍ ﻏﺿﺏ ﺍ ﺤﺩ ﻛﻡ ﻔﻠﻴﺘﻮ ﻀﺄ ﴿ﺮﻮﺍ ﻩ ﺍ ﺒﻮ ﺩﺍﻮﺩ﴾
Artinya : Dan dari Abu Wa’il Al-Qaash, ia berkata : kami masuk atas Marwan bin As-Sa’diy, maka seseorang berbicara dengannya, maka ia menjadi marah, maka ia berdiri lalu berwudhu’, lalu berkata : Bapakku menuturkan kepada ku dari neneknya Athiyah, ia berkata : Rasulallah s.a.w. bersabda : bahwa setan diciptakan dari api, yang dapat meredamkan api adalah air, maka kalau seseorang diantara kamu marah, maka hendaklah berwudhu’(HR. Abu Daud).


Selagi api marahnya semakin kuat berkobar, maka ia akan membuat orang menjadi buta dan tuli untuk mendengar nasihat. Sebab amarahnya sudah naik keotak dan menutupi pikiran jahatnya. Hingga mata menjadi gelap, otak pun seperti lorong goa yang sempit, yang didalamnya dinyalakan api yang berkobar-kobar, hingga semua nampak gelap penuh dengan asap, sehingga ketika amarah benar-benar sudah sampai pada puncaknya, orang lainpun bisa dibunuhnya.
Orang biasanya mudah kepada orang-orang yang berada dibawahnya, baik anak-anak, istrinya, karyawanya maupun teman-temanya juniornya tempat timbulnya marah dalam hal ini disebabkan adanya rasa percaya diri yang berlebihan dan tidak ada rasa takut sedikitpun. Inilah kesombonganya dari itu, ia bisa marah tanpa ada beban sedikitpun. Karena, walau ia marah-marah tetapi bawahanya tidak mungkin berani marah kepadanya. Krena itu, supaya tidak menjadi pemarah maka kesombongan harus dihilangkan.
Marah termasuk sifat kebinatangan yang dimiliki manusia. Dan ia merupakan hal yang alami yang terakhir dalam diri manusia atau hewan dari perasaan yang keras dan tajam terhadap yang lain. apabila seseorang menemui sesuatu yang menjadi penghalang bagi keinginanya atau bertentangan denganya, maka ia akan merasa kesempitan (susah dan kesal), seperti ia mendengar perkataan yang buruk atau tertimpa kezaliman. Lalu timbulah pada dirinya perasaan ingin membalas dendam, dan kemudian bergolaklah darahnya.. karena itu, kita menyaksikan bahwa kondisi kemudia , sebagian orang berubah mukanya, menjadi merah dan tampak denagn jelas pergerakan darah yang ada diwajahnya. Ketika itu jiwa seseorang cenderung untuk membalas dendam dan berusaha untuk melakukanya.
Kemudian mulailah ia melontarkan kata-kata yang bertentangan dengan yang sebenarnya, mencela orang lain dengan ungkapan “yang keji dan yang hina” atau menggunakan tangan dan kakinya. Dalam kondisi semacam ini ia tidak sadar apa yang ia perbuat. Inilah kondisi kebinatangan yanga tak lagi memperhatikan kebenaran. Ia ulurkan tanganya kepada kebatilan dengan pandangan seperti pandangan hewan, ketika ia berjalan beriringan dengan gejolak kemarahan, tidak ada yang ia lihat dihadapanya selain dendam, sehingga terkadang ia merobek pakaianya, melontarkan celaan kepada sesuatu yang tidak ada dihadapanya, ataupun memukul dirinya sendiri. Marah Dalam Islam

About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top