Karakteristik Dan Perbedaan Individu

Individu dan Karakteristikmakalah
Untuk memahami karakterisik individu tersebut, perlu di pahami apa yang dimaksud dengan individu itu.

1. Pengertian Individu
“Manusia” mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusiamaupun objek material yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagia mahluk yang berpikir “homo sopin”, mahluk yang berbuat atau “home faber”, mahluk yang dapt dididk atau “homo educandum” dan seterusnya, merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat d gunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut. Berbagipandangan itu membuktikan bahwa, manusia adalah mahluk yang kompleks. Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagi pribadi yang merupakan manusia sebagai pribadi yang utuh, pengejewantahan menunggalnya berbagi cirri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi (i) individu dan social (ii) jasmani dan rohani, dan (iii) dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut mengambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesame manusia, manusia dengan alam sekitar atau linkunganya, dan manusia dengan Tuhan

Uraian tentang manusia dengan kedudukannya sebagai peserta didik, haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebid ditekankan hakiki manusia sebagai kesatuan mahluk individu dan mahluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai mahluk tuhan dengan menempatkan hidupnya didunia sebagai pesiapan kehidupannya di akherat. Sifat-sifat dan cirri-ciri tersebut merupakan hal yang secara mutlak disandang oleh manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau ndividu yang utuh . Individu atau individu berarti : tidak dapat dibagi (individed), tidak dapat dipisahkan; keberadaannya sebagai mahluk yang pilah, tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena cirri-cirinya yang khusus itu (Webster’s, 743). Menurut kamus Echols & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, persorangan, oknum (Echols, 1975: 519).
Berdasarkan pengertian diatas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh guru, orang tua dan orang dewasa lainnya untuk memamfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.

Bukti-bukti telah jelas bahwa seorang anak tidak dilahirkan dengan perlengkepan yang sudah sempurna. Dengan sendirinya pola-pola berjalan berbicara, merasakan, berpikir, atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Barang kali tidak ada minat yang bersifat alami, tetapi dorongan-dorongan potensi tertentu atau impul-impul tertentu membentuk dasar-dasar dari minat apa saja yang dikembangkan anak dilingkungan ia tumbuh dan berkembang.

Sejak lahir, bahkan sejak masih dalam kandungan ibunya, manusia merupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan sifat kodat manusia yang harus mendapat perhatian secara seksama. Mengingat pentingnya mkna pertumbuhan dan perkembangan ini, maka persoalan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan akan dijelaskan secara khusus dibagian lain. Untuk member gambaran bahwa makna pertumbuhan dibedakan dari makna perkembangan, secara singkat disajikan yaitu bahwa istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani dan aspek sosial.

Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupan nya bagi seorang bayi mementingkan kehidupan jasmaninya. Ia belum peduli dengan apa yang terjadi diluar dirinya. Ia sudah merasa senang apabila kebutuhan fisiknya, seperti makan, minum, dan kehangatan tubuhnya terpenuhi. Dalam perkembangan nya lebih lanjut, ia mulai mengenal lingkungan dan bahkan lingkungan yang lebih luas. Kebutuhan kian bertambah dan suatu saat membutuhkan fungsi alat berkomunikasi (bahasa) semakin penting. Ia membutuhkan, teman, keamanan, dan seterusnya. Semakin besar anak, maka kebutuhan nonfisiknya semakin banyak. Sudah barang tentu setiapmanusia akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Dengan demikian telah terjadi perkembangan hal dalam kebutuhan-kebutuhan baik fisik maupun nonfisik. Apabila dicermati maka kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dibedkan menjadi dua kolompok besar, yaitu kebutuhan utama yaitu primer dan kebutuhan kedua yaitu sekunder. Dengan perkataan lain, pertumbuhan fisik senantiasa diikuti perkembangan aspek kejiwaan atau psikisnya.

Seterusnya marilah kita kaji pertumbuhan dan perkembangan manusia pada umumnya secara garis besar dengan mengenal berbagai karakteristiknya. Uraisecara lebih rinci tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja dan hal-hal lin yang berkaitan dengan remaja akan disajikan pada bagian lain.
2. Karakteristik Individu
Setiap individuu memiliki ciri dan sifat atau kaakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut factor bagus maupun fakor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan Kepribadian terbawa pembawaan (heredity) dan lingkungan merupakan dua faktoryang bentuk karena faktor berpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan dikerjakanseseoarang, atau apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada diantara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh-pengaruh lingkungan

Seorang anak munkin memulai pendikan formalnya ditingkat taman kanak-kanak pada usia 4 atau 5 tahun pada awal dia memasuki sekolah mungkin tertunda sampai ia usia 5 atau 6 tahun. Tanpa memperdulikan berapa umur seorang anak , karekteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibawa kesekolah akhirnya terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan hal itu tampaknya mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannya disekolah dan masa perkembangan hidupnya di kelak kemudian.

Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental dan emosional pada setiaptingkat perkembangan sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu seperti : “dia” atau sejauh mana seseorang individu dipengeruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Sampai sekarang tetap merupakan subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengeruhi faktor lingkungan.

Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak saat terjadinya pembuahan atau atau konsepsi kehidupan yang baru itu secara berkesinanmbungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang . Masing-masing ransangan tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan ransangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang dibawa sejak lahir. Hal itu akhirnya membentuk suatu pola karekteristik tingkah laku yan dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkerakteristik berbeda dengan individu-individu lain.

B. Perbedaan Individu
Dari bahasan bermacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua dari manusia mempunyai unsure-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya dan (ii) didalam yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara biologis dan sosial tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda pebedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak sifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsure perbedaan tersebut.

Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan apakah berada didalam suatu kolompok atau seorang diri, ia disebut individu. Individu menunjukan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaiatan Perbedaan individual dengan perseorangan ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual. Maka “perbedaan” ‘dalam ”perbedaan individual” menurut landgren(1980:578) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi aspek fisik maupun psikologis seorang ibu yang memiliki seorang bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, banyak bergerak, kuat minum. Ibu lain juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum, cerita kedua ibu itu telah menunjukan bahwa kedua bayi itu memiliki cirri sifat berbeda satu sama lainnya.

Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa yang berbeda di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorangpun yang sama. Mungkin sekali dua orang melihatnya hampir sama atau mirip. Akan tetapi pada kenyataan nya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapa perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya, seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit bentuk muka, dan semacamnya. Dari fisiknya seorang guru cepat mengenal siswa dikelasnya satu persatu. Cirri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka. Ada siswa yang nada suaranya kecil atau tingkat dan ada yang besar atau endah, ada yang jika berbicara yan cepat dan ada yang pula pelan-pelan. Apabila ditelesuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat-aifat psikis yang berbeda-beda.

Bidang-bidang perbedaan
Upaya pertama yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan individu sebeum dilakukan pengukuran kapasitas mental yang mempengaruhi penilaian sekolah, adalah menghitur umur kronologis. Seorang anak memasuki sekolah dasar pada umur 6 tahun dan ia diperkirakan dapat mengelami kemajuan secara teratur dalam tugas-tugas sekolahnya dilihat dalam kaitannya dengan factor umum. Selanjutnya ada anggapan bawa semua anak diharapkan mampu menangkap/ mengerti bahan-bahan pelajaran yang mempunyai kesamaan dalam hal ini materi dan penyajian bagi semua siswa pada kelas yang sama. Ketidakmampuan yang jelas tampak pada siswa untuk menguasai bahan pelajaran umumnya dijelaskan dengan pengertian factor-faktor seperti kemasalan atau sikap keras kepala. Penjelasan itu tidak mendasarkan kenyataan bahwa para siswa memang berbeda dalam hal kemampuan mereka untuk menguasai satu atau lebih bahan pelajaran dan mungkin berada dalam satu tingkat perkembangan.

Telah disadari bahwa perbedaan-perbedaan antara satu dengan lain nya dan juga kesamaan-kesamaan diantara mereka merupakan ciri-ciri dari semua pelajaran pada suatu tingkat belajar. Sebab-sebab dan pengaruh perbedaan individu ini dan sejauh mana tingkat tujuan dan pendidikan, isi dan teknik-teknik pendidikan hendaknya disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan tersebut, nampaknya telah mendapat banyak perhatian dari para ahli ilmu jiwa dan petugas sekolah.

Umur kronologis, sebagai faktor yang mewakili tingkat kematangan siswa dan karna itu memungkinkan dia dapat dididik hendaknya dilihat sebagai komonen perbedaan. Tidak peduli betapa tingginya kemampuan mental atau fisik seorang anak usia 3 tahun, ia tidak dapat diharapkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan anak usia 14 tahun karena perbedaan tingkat kematangan. Kecakapan mental secara umum seperti diukur dengan tes in teligensi juga merupakan indeks kesiapan anak untuk belajar kecakapan khusus yang dimiliki anak berbeda antara anank yang satu dengan yang lainnya. Masalah ini perlu dipertimbangkan pula, terutama dalam mempelajari hal-hal yang memerlukan kemampuan mental yang tinggi. Tambahan lagi, kesiapan untuk melibatka diri dalam situasi belajar tertentu berbeda antara individu satu dan lainnya dalam setiap tingkatan umur.

Konstitusi fisik dari individu sejauh mana ia secaa fisik mempunyai bentuk-bentuk yang khas, tingkat stabilitas emosional dan temperamennya, sikapnya terhadap pelajaran, dan minat-minatnya, akan mempengaruhi keberhasilan yang dicapai dalam belajar mereka. Factor-faktor lain seperti jenis kelamin, pengaruh keluarga, status ekonomi, pengelaman belajar sebelumnya, kesesuaian bahan yang dipelajari, dan teknik-teknik mengajar semuanya berpengaruh terhadap tingkat kemampuan individu untuk mencapai keberhasilan dalam tingkat belajarnya.

Dalam kaitannya dengan perbedaan individu hendaknya selalu diingat bahwa perbedaan dalam kualitas atau cirri-ciri adalah berjenjang. Tidak ada pengolonggan anak-anak kedalam satu katagori atau sama sekali tidak termasuk dalam suatu katagori. Seorang anak dapat dikatogorikan inteligen atu tidak inteligen, berminat atau tidak berminat, dapat mengontrol emosi spenuhnya atau betul-betul sangat terganggu emosinya, 100% siap untuk melakukan kegiatan belajar tertentu atau ada pada tingkat nol dalam kesiapan belajarnya. Faktor-faktor luar dari individu sekalipun seperti pengaruh keluarga, kesempatan pendidikan sebelumnya, kurikulum yang ditawarkan dan teknik-teknik tidak sepenuhnya baik dan juga tidak sepenuhnya jelek. Aspek-aspek tingkah laku yang mana pun atau factor-faktor pngaruh yang mana pun, indvidu mempunyai tingkat derajat perbedaan dan bukan berbeda secara absolute dari individu yang lain. Apalagi didalam diri individu sendiri ada perbedaan dalam bermacam-macam aspek dari keseluruhan pribadinya. Tetapi karena tidak ada satu sifat pun yang berdiri sendiri, berfungsinya satu sifat akan mempengaruhi berfungsinya sifat lainnya, maka semua sifat-sifat itu mempengaruhi keseluruhan pola tingkah laku individu. Seorang anak yang telah mengentahui makna tentang kerajinan bagi dirinya dan orang lain, ia akan mempraktikan berbuat rajin disekolah maupun di rumah.

Selanjutnya banyak individu cenderung berbeda tatapi oerbedan itu hanya sedikit dalam kaitannya dengan sifat atau kondisi, jadi mereka berada dalam kolompok sekitar rata-rata dari suatu distribusi. Dengan demikian penyimpangan-penyimpangan mulai berkurang ke arah ekstrim fakta ini menambahkan kesulitan dalam memberikan pendidikan untuk semua anak yang memiliki perbedaan individual yang mungkin ada di antara pelajar dalam beberapa aspek kpribadiannya. Jumlah dan macam pengalaman sebelumnya dan pengentahuan yang dibawa individu kesituasi tertentu mempengaruhi kapasitasnya untuk belajar pada tingkat selanjutnya atau sikapnya terhadap mata pelajaran tersebut. Jika sisa merasa (benar atau salah) bahwa ia telah mengentahui banyak tentang isi dari suatu tertentu ia mungkin akan kehilangan minat untuk mempelajari mata pelajaran tersebut dan akibatnya mereka dapat mengalami kegagalan dalam mata pelajaran selanjutnya.

Garry 1963 (Oxedine, 1984 : 317) mengkategorikan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut :
1. Perbedaan fisik : usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, kemampuan bertindak.
2. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, suku
3. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat dan sikap
4. Pebedaan intelegensi Dn kemampuan dasar
5. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.

Perbedaan fisik bukan saja terbatas pada ciri yang dapat diamati dengan pancaindera kita, seperti tinggi badan, warna kulit, jenis kelamin, nadasuara, dan bau keringat, akan tetapi juga ciri lain yang hanya dapat diketahui setelah diperoleh imformasim atau diadakan pengukuran. Usia, berat badan, dan kecepatan lari, golongan darah, pendengeran, penglihatan, dan semacamnya merupakan cirri-ciri yang tidak dapat diamati perbedaannya dengan penginderaan.

Dalam kehidupannya stiap manusia berhubungan dengan manusia lain dan dililngkungan luar dirinya. Tiap manusia berhubungan dengan manusia lain, dengan sesamanya; manusia bersosialisasi, dan terjadilah perbedaan status sosial dan ekonomi manusia. Manusia juga berhubungan dengan sang pencipta atau dengan tuhannya, maka manusia beragama manusia hidup berkelompok dan bekeluarga, sesuai dengan sifat genetic orang tuanya; ketika mengenal kolompok-kolompok/suku yang berbeda di Indonesia ada suku Jawa, Sunda, Irian, Madura, dan sebagainya lingkungan , agama, keluarga, keturunan, kolompok suku dan semacamnya merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya perbedaan individu.

Perbedaan-perbedaan tersebut berpengaruh terhadap prilaku mereka dirumah maupun disekolah. Gejala yang dapat di amati adalah bahwa mereka menjadi lebih atau kurang dalam bidang tertentu dibandingkan dengan orang lain. Sebagian manusia lebih mampu dalam bidang seni atau bidang ekspresi yang lain, seperti olahraga dan keterampilan, sebagian lagi dapat lbih mampu dalam bidang kognitif atau yang berkaitan dengan ilmu pengentahuan.

a. Perbedaan kognitif
Menurut Bloom, proses belajar, baik disekolah maupun diluar sekolah, menghasilkan tiga pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi Bloom , yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengentahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki resepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu objek. Berarti ia menguasai sesuatu yang diketaui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengentahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya. Setiap saat ,bila diperlukan, pengentahuan yang dimilikinya atu dapat di reproduksi. Banyak atau sedikit, tepat atau atau kurang tepat pengentahuan itu dapat dimiliki dan dapat diproduksi kembali merupakan tingkat kemampuan kognitif seseorang.

Kemampuan kognitif mengabarkan penguasaan ilmu pengentahuan dan teknologi tiap-tiap orang. Pada dasrnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan pepaduan antara faktor pembawaan dan pengaruh lingkngan (faktor dasr dan ajar). Faktor dasar yang berpengaruh menonjol pada kemampuan kognitif lingkngan dapat dibedakan dalam bentuk lingkungan alamiah dan lingkungan yang dibuat. Proses belajar-mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai fositif, diatur dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang telah dimiliki oleh anak. Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang di ukur dengan tes hasil belajar.

Tes hasil belajar menghasilkan nilai kemampuan kognitif yang bervariasi. Variasi nili tersebut mengabakan perbedaan kemampuan kognitif tiap-tiap individu. Dengan demikian pengukuran kemampuan kognitif dapat dilakukan dengan tes kemampuan belajar atau tes hasil belajar. Tes hasil belajar digunakan hendaknya memenuhi persyaratan sebagai tes yang baik, yaitu : bahwa tes tersebut harus bersih (valid) dan handal (reliable). Jika persyaratan tes tersebut dipenuhi, maka variasi nilai kemampuan kognitif yang dihasilkan dengan tes tersebut akan terbentuk suatu kurva normal.

Inteligensi (kecerdasan) sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Dikatakan bahwa antara kecerdasan dan nilai kemampuan kognitif berkolerasi tinggi dan positif, semakin tinggi nilai kecerdasan seseorang semakin tinggi, perkembangan kemampuan kognitifnya. Uraian tentang perkembangan kecerdasan (inteligensi) manusia akan disajikan dibagian lain.
b. Perbedaan individu dalam kecakapan bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupannya. Kemampuan tiap individu dalam bahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh maka. Logis dan sistematis. Kemampuan berbahasa ter but sangat dipenaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan. Faktor-faktor lain yang juga penting antara lain adalah fisik, terutama organ berbicara.

Perkembangan bahasa dan seni merupakan lahan yang subur untuk penelitian bagi para psikologi dan pendidik. Banyak penelitian eksperimental telah dilakukan dengan tujuan untuk menemukan faktor-faktor psikologis yang mendasar keberhasilan atau kegagalan dalam penguasaan bahasa. Guru yang berpengalaman menyadari adanya fakta bahwa siswa-siswa brbeda secara luas dengan kekuatan atau kemampan untuk menguasai an memahami bahasa lisan dan tertulis serta kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri secara tepat. Individu-individu yang memasuki kegiatan-kegiatan disekolah formal, pada dasarnya telah membawa kebiasaan-kebiasaan sebagai hasil belajar, baik dari lingkungan pendidikan prasekolah maupun dari latar belakang kehidupan sebelumnya. Pegaruh-pengaruh dari lingkungan keluarga tidak hanya terbatas pada pola-pola pikirnya secara dini dan pola mengekspresikan ,tetapi juga seluruh kondisi yang ada dirumah. Pengaruh-pengaruh tersebut secara berkelanjutan akan terus memperlancar atau sebaliknya menghambat kemajuan berbahasa anak. Apabila latar belakang keluarga kaya dengan kurtur, anak akan mendapatkan keuntungan dalam hal perbedaan bahasa dan seni; demikian halnya pada kondisi sebaliknya. Logis bahwa anak-anak yang masuk kemampuan berbahasa mereka berbeda-beda. Pengalaman-pengalaman dan kematangan anak sebelumnya merupakan faktor pendorong perkembangan anak dalam berbagai kemampuan, termasuk kemampuan berbahasa.

c. Perbedaan dalam kecakapan motorik
Kecakapan motorik atau kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut terjadi karena kerja syaraf yang sistematis. Alat indra menerima ransangan, ransangan tersebut diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan dengan demikian ketepatan kerja jaringan syaraf akan menghasilkan suatu bentukkegiatan yang tempat dalam arti kesesuaian antara rangsangan dan responnya. Kerja ini akan mengambarkan tingkat kecakapan motrik.
Yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berpikir, merupakan faktor penting di dalam koordinasi kecakapan metorik. Ketidaktepatan dalam penbentukan persepsi dan penyampaian perintah, akan terjadi kekeliruan respond atau kegiatan –kegiatan yang kurang sesuai dengan tujuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa inteligensi merupakan faktor dalam bentuk yang lebih tinggi dari keterampilan motorik. Secara umum kordinasi motorik dan kecakapan untuk melakukan suatu kegiatan yang kompleks membutuhkan keterampilan motorik yang lebih kompleks pula.

Seorang individu yang semakin dewasa, menunjukan fungsi-fungsi fisik yang semakin matang. Hal ini berarti ia akan mampu menunjukan kemampuan yang lebih baik dalam banyak hal, seperti kekuatan untuk mempertahankan perhatian, koordinasi otot, kecepatan berpenampilan keajegan untuk mengontrol, dan resisten terhadap kelelahan. Dari kenyataan ini dapat dinyatakan bahwa semakin bertambahnya umur seseorang, berarti ia semakin matang dan akan mampu menunjukan tingkat kecakapan motorik yang semakin tinggi.

Dari uraian di atas dapat disimpiulkan bahwa kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berpikir. Karena kematangan pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda, maka hal itu membawa akibat terhadap kecakapan motorik masing-masing, dan dengan demikian kecakapan motorik setiap individu akan berbeda-beda pula. Anda akan dapat mengamati teman dan anak-anak disekeliling anda bahwa ada orang yang cekatan, orang yang teampil, dan sebaliknya ada orang yang lamban dalam mereaksi sesuatu.

d. Perbedaan dalam latar belakang
Dalam suatu kolompok siswa pada tingkat manapun, perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan pelajaran.Pengalaman-pengalaman belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi kemauan untuk berprestasi dalam situasi belajar yang disajikan.

Minat dan sikap individu terhadap sekolah dan mata pelajaran tertentu, kebiasan-kebiasaan kerja sama, kecakapan atau kemauan untuk berkosentrasi pada bahan-bahan pelajaran, dan kebiasaan-kebiasaan belajar semuanya merupakan faktor –faktor perbedaan diantara para siswa. Faktor-faktor tersebut kadang-kadang berkembang akibat sikap-sikap anggota keluarga dirumah dan lingkungan sekitar. Latar belakang keluarga, baik dilihat dari segi sosio ekonomi mau pun sosiokultural, adalah berbeda-beda. Demikian pula lingkungan sekitarnya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik akan memberikan pangaruh yang berbeda-beda.
e. Perbedaan dalam bakat
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat. Sebaliknya bakat tidak dapat berkembang sama sekali, manakala lingkungan tidak member kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya. Dalam hal inilah makna pendidikan menjadi penting artinya.

Belajar di tingkat sekolah dasar berkaitan dengan penguasaan alat-alat belajar, pemenuhan tentang ajaran umum yang bagi seorang anak yang memiliki kecakapan khusus atau bakat belum begitu menonjol selama tahun-tahun permulaan sekolahnya dibandingkan dengan tahun-tahun permulaan sekolahnya dibandingkan dengan tahun-tahun selanjutnya. Pada tingkat sekolah menengah dan perguuan tinggi, program pendidikannya harus telah memperhantikan dan mengupayakan proses belajar-mengajar yang mapu merangsang dan memupuk.

Perkembangan bakat yang dimiliki siswa secara individual. Meskipun inteligensi umum merupakan faktor dari hamper semua atau bahkan semua bidang penampilan atau perfomasi, namun hasil tes inteligensi yang selama ini dilaksanankan belum terkait dengan beberapa bidang belajar seperti keterampilan motorik, musik, seni, dan olah raga. Hasil tes inteligensi lebih banyak berhubungan dengan keberhasilan atau kemampuan bidang akademik. Dengan demikian perencanaan pendidikan selanjutnya serta lebih memperhatikan kemampuan atau bakat akademik daripada kemampuan tentang bakat khusus untuk dijadikan dasar pertimbangan.
f. Perbedaan dalam kesiapan belajar
Di depan telah diuraikan, bahwa perbedaan latar belakang keluarga lingkungan mempunyai pengaruh terhadap belajar. Perbedaan latar belakang tersebut. Yang meliputi perbedaan sosio ekonomi dan sosiokultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas, dalam hal ini pelajaran disekolah. Dengan demikian perbedaan-perbedaan individu itu tiadak saja di sebabkan oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.

Anak umur 6 tahun yang memasuki sekolah dasar (kelas 1), mungkin berbeda satu, dua bahkan tiga tahun dalam tingkat kesiapan untuk mengambil mamfaat dari pendidikan formal. Hal ini ditunjukan dari hasil sebuah penelitian bahwa kemampuan mental atau umur mental ( mentalage), bagi anak-anak kelas satu sekolah dasar ditemukan dalam rentanganumur kronologis antara 3 tahun sampai 8 tahun (yang secara normalanak ini seharusnya telah duduk dikelas dua atau tiga sekolah dasar) tetapi kemampuan belajarnya masih sama dengan mereka yang duduk dikelas satu. Hal ini mengambarkan produk keluarga yang amat kurang, yang mingkin sekali ekspresi bahasa dan kehidupan keluarga tersebut kurang baik.

Kondisi fisik yang sehat, dalam kaitannya dengan kesehatan dan penyesuian diri yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman, disertai dengan rasa ingin tahu yang amat besar terhadap oang-orang dan benda-benda, membantu berkembangnya kebiasaan berbahasa dan belajar yang diharaokan. Sikap apatis, pemalu, dan kurang percaya diri, akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh, dan latar belakang yang miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri.
C. Aspek-aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
Dalam banyak buku makna pertumbuhan sering diartika sama dengan perkembangan, sehingga kedua istilah itu penggunaannya seringkali dipertukarkan (interchange) untuk makna yang sam. Ada penulis yang suka mengguna istilah perkembangan saja. Dalam buku ini istila pertumbuhan diberi makna dan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran fisik yang secara kuantitatif semakin besar dan atau panjang, sedang istilah perkembangan diberi makna dan digunakan untuk menyatakan terjadinya perubahan-perubahan aspek psikologis dan aspek sosial.

Setiap individu pada hakikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap. Berikut ini uraikan pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek tersebut.
1. Pertumbuhan fisik
Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga dewasa.



a. Pertumbuhan sebelum lahir
Manusia itu ada terjadi dimulai dari sutu proses pembuahan (pertemuan sel telur dan sperma) yang membentuk suatu sel kehidupan, yang disebut embrio. Embrio manusia yang telah berumur satu bulan,berukuran sekitar setengah seniti meter. Pada umur dus bulan ukuran embiro itu sebesar menjadi dua setengah senti meter dan disebut janin atau “fetus”. Baru setelah satu bulan kemudian (jadi kandungan telah berunur tiga bulan), janin atau fetus tersebut telah berbentuk menyerupai bayi alam ukuran kecil.

Mas sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena pada masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh tersusunnya jaringan syaraf yang membentuk system yang lengkap. Pertumbuhan perkembangan janin di akhiri saat kelahiran. Kelahiran pada dasr nya merupakan pertanda kematangan biologis dan jaringan syaraf masing-masing kompone biologitelah mampu berfungsi secara mandiri.
b. Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertubuhan fisik manusia berlangsung sampai masa dewasa. Selama tahun ertama dalam petumbuhannya, ukuran panjang badannya akan bertambah sekitar sepertiga dari panjang badan semula dan berat badannya akan bertambah menjadi sekitar tiga kalinya. Sejak lahir sampai dengan umur 25 tahun, perbandingan ukuran badan individu, dari pertumbuhan yang kuang propesional pada awalny terbentuk manusia (kehidupan sebelum lahir atau prenatal) sampai dengan proporsi yang ideal dimasa dewasa, dapat dilihat pada gambar berikut

Pertumbuhan fisik manusia berbeda engan pertumbuhan. Demikien anak hewan itu dilahirkan, dalam waktu yang elatif singkat ia segera dapat berjalan menngikutiinduknya untuk mencari makan. Tetapi tidak demikian halnya bagi manusia. Pada awal setelah bayi itu dilahirkan respon terhadap segala rangsangan dari luar dirinya dilakukan secara reflex dan belum terkoordinasikan. Apabila pipinya disentuh (dari sebelah kiri), maka bayi itu menggerakan kepalanya kearah sentuhan secara refletik dengan mulut terbuka dan kepalanya terus berputar sampai dengan mulutnya mencapai ransangan yang diberikan. Respon yang bersipat reflex ini akan berakhir atau menjadi lebih terarah pada sasaransat bayi berumur 4 sampai 5 bulan.

Kapasitas syaraf sensoris seorang bayi amat terbatas. Bayi yang baru lahir pendengarannya amat baik. Ia mampu membedakan antara suara lembut dan kasar, dan lebih senang pada suara yang lembut daripada yang lain. Penglihatannya masih lemah, walaupun bayi dapat melihat, tetapi amat singkat dan jaraknya tidak lebih dari 1,25 meter. Dalam perkembangannya bayi segera dapat membedakan terangnya cahaya, warna, dan mampu mengikuti rangsangan yang bergerak dengan penciuman, dan pencernaan berkembang sejalan dengan syaraf penglihatan.

Perkembangan fungsi syaraf semakin sempurna dan lengkap, sehingga anak mampu mengintepresikan apa yang ia lihat, dengar, sentuh,dan rasakan. Semua ini merupakan potensi yang fungsinya bagi terbentuknya pengentahuan seseoang.

Pertumbuhan dan perkembangan fungsi biologis setiap orang memiliki pola dan urutan yang teratur. Banyak ahli psikologis menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan fisik anak memiliki pola yang sama dan menunjukan keteraturan. Dari lahir seorang bayi yang hanya mampu menngerakkan tangannya secara reflektif kearah kepalanya, setelah umur satu bulan mulai mampu berguling (memutar badannya), seterusnya pada umur dua bulan mulai telungkup, merangkak pada umur tiga bulan melangkah satu atau dua langkah, dan kemudian mampu berjalansendiri setelah anak itu berumur 15 tahun. Pola dan urutan pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisik ini diikuti oleh perkembangan kemampuan mental spiritual dan perkembangan sosial.

Pertumbuhan fisik, baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi prilaku anak sehari-hari. Secara langsung pertumbuhan fisik seorang anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisik akam mempengaruhi bagaimana ank ini memandang dirinya sendiri dan bagaumana ia memandang orang lain. Pertumbuhan fisik terjadi secara kalanya lambat. Irama pertumbuhan ini bagi setiap orang berbeda-beda, walaupun secara keseluruhan tetap memperlihatkan keteraturan. Ada beberapa anak yang mengalami pertumbuhan cepat, sedangkan anak lain mengalami kelambatan

Pertumbuhan fisik anak dapat dibagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepat dan dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang cepat dan dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat. Selama periode pralahir dan 6 bulan setelah lahir, pertumbuhan tumbuhnya sangat cepat. Pada akhir tahun pertama kehidupan pasca lahirnya, pertumbuhan tumbuhnya sangat cepat. Pada akhir tahun pertama kehidupan kehidupan pasca lahirnya, pertumbuhan seorang bayi memperlihatkan tempo yang sedikit lambat dan kemudian menjadi stabil sampai dianak memasuki tahap remaja, atau tahap kematangan kehidupan seksualnya. Hal ini dapat dimulai ketika anak berusia sekitar b sampai 12 tahun. Mulai saat itu sampai ia berumur 15 atau 16 tahun pertumbuhan fisiknya akan cepat kembali dan biasanya masa ini disebut ledakan pertumbuhan puberitas. Periode ini kemudian akan disusul dengan periode tenang kembali sampai ia memasuki tahap dewasa. Tinggi badan yang sudah tercapai dalamperiode keempat ini akan tetap sampai ia tua, tetapi berat tubuh masih dapat berubah-ubah. Meskipun ada kenyataan bahwa daur pertumbuhan fisik dapat dikatakan teratur dan dapat diramalkan, namun terjadi pula keaneka ragaman. Seperti dikemukakan oleh Johnston: “jadwal waktu pertumbuhan fisik anak sifatnya sangat individual” (Hurlock,1991:114)

Ukuran dan bangunan tubuh yang diwariskan secara genetic juga mempengaruhi laju pertumbuhan. Anak-anak yang mempunyai bangun tubuh kekar biasanya akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan mereka yang bangun tubuhnya kecil atau sedang. Anak-anak dengan bangun tubuh besar, biasanya akan memasuki tahap remaja lebih cepat daripada teman sebayanya yang mempunyai bangun tubuh lebih kecil.

Kesehatan dan pemberian makanan yang bergizi terutama pada tahun pertama kehidupan seseorang juga menentukan kecepatan atau kelambatan daur pertumbuhan ini. Seseorang anak yang memperoleh perawatan memadai biaanya akan tumbuh dengan cepat dan anak yang kurang memperoleh perawatan kesehatan dan gizi yang memadai umumnya akan mengalami kelambatan dalam pertumbuhannya. Anak-anak ini akan tumbuh lebih cepat karena jarang sakit dan lebih sehat dibandingkan dengan ank yang sering sakit karena kurang teratur imunisasinya.
Anak-anak yang tenang cenderung tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak yang mengalami gangguan atau tekanan emosional, danketegangan dapat lebih mempengaruhi berat tubuh dari pada tinggi tubuh seseorang. Yang paling menonjol dalam variasi pertumbuhan ini adalah faktor pengaruh jenis kelamin. Pertumbuhan anak laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan pada usia tertentu, dan pada suatu saat nanti wanita tumbuh lebih cepat daripada laki-laki ketika mencapai usia tertentu. Misalnya pada usia, 9, 10, 13, dan 14 tahun ank perempuan lebih tinggi daripada laki-laki karena pengaruh perkembangan awal remajanya. Begitu juga dikalangan sesama anak laki-laki, sering Nampak variasi yang jelas satu sama lain. Baik pada laki-laki ataupun perempuan, sama-sama mengalami kenaikan berat tubuh pada usia tertentu.
Setelah memahami pertumbuhan fisik manusia, selanjutnya berikut ini diuraikan tentang kemampuan-kemampuan non fisik seperti kemampuan intelek (berpikir), sosial, bahasa, dan mengenal nilai, moral moral dan sikap.
2. Intelek
Intelek atau pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otak. Karena piker pada dasarnya enunjukan fungsi otak, maka kemampuan intelektual yang lazim disebut denga istilah lain kemampuan berpikir, dipengaruhi oleh kematangan otak yang mapu menunjukan fungsinya secara baik. Pertumbuhan syaraf yang telah matang akan dikuti oleh fungsinya dengan baik, dan oleh karena itu seorang individu juga akan mengalami perkembangan kemampuan berpikirnya, maka kala pertumbuhan syaraf pusat atau otaknya telah mencapai matang. Perkembangan tngkat berpikir atau perkembangan intelek akan diawali dengan kemampuan mengenal yaitu mengentahui dunia luar. Reaksi atau respon terhadap ransangan dari luar pada awalnya belum terkoordinasikan secara baik, hampir semua respon yang diberikan bersifat reflex. Pada umur sekitar 4 (empat) bulzn, respok yang brsifat reflex mulai bekurang, pemberian respon terhadap setiap rangsangan telah mulai terkoordinasikan. Sebagai contoh respon terhadap suara, sinar, dan earna mulai ditunjukan dengan gerakan pandangan mata kearah asal rangsanganitu di berikan.

Perkembangan lebih lanjut tentang perkembangan intelek ini ditunjukan ada prilakunya, yaitu tindakan dan menolak dan memilih sesuatu. Tindakan itu berarti telah terdapat proses analisis, evaluasi, sampai dengan kemampuan menarik kesimpulan dan keputusan. Fungsi ini terus berkembang mengikuti kekayaan pengentahuannya tentang dunia luar dan proses belajar yang dialaminya, sehingga pada saatnya seseorang akan berkemampuan melakukan peramalan atau peramalan atau prediksi, perencanaan, dan berbagai kemampuan analisis dan sintesis. Perkembangan kemampuan berpikir semacam ini dikenal pula sebagai perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif seseorang menurut piaget (Sarlito,1991: 81) mengikuti tahap-tahap sebagai berikut
1. Tahap pertama : Masa sensori motor (0,0 2.5 tahun).
Masa ketika bayi mempergunakan system penginderaan dan aktifitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik atas rangsangan-rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks (misalnya refleks menyebut penting susu ibu, refleks menangis dan lain-lain). Refleks-refleks ini kemudian berkembang lagimenjadi gerakan-gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan.
2. Tahap kedua : Masa pra-oprasonal (2.0-7.0 tahun).
Ciri khasmasa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili suatu konsep. Misalnya kata ‘pisau plastik” kata “pisau”atau tulisan”pisau” sebenarnya mewakili makna benda yang sesungguhnya. Kemampuan simbolik ini memungkinkan anak melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan hal-hal yang telah lewat; misalnya seorang anak yang pernah melihat dokter berpraktik, akan (dapat) bermain’dokter-dokteran.
3. Tahap ketiga : Masa konkreto prerasional (7.0-11.0 tahun).
Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan bebbagai macam tugas yang konkret. Anak mulai mengembangkan tiga macam oprasi berpikir, yaitu :
a. Identifikasi : mengenali sesuatu,
b. Negasi : mengingkari sesuatu, dan
c. Repokasi : mencari hubungan timbal-balik antara beberapa hal.

4. Tahap keempat : Masa oprasional (11.0-dewasa).
Dalam usia remaja dan seterusnya seseorang sudah mampu berpikir abstrak dan hipotesis. Pada tahap ini seseorang bias memperkirakan apa yang mungkin terjadi. Ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan seperti : Kalau mobil A lebih mahal dari pada mobil B, sedang mobil C lebih murah dari pada mobil B, maka ia dapat menyimpulkan mobil mana yang paling mahal dan yang mana yang paling murah.




3. Emosi
Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Dalam hidupnya atau dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, banyak hal yang dibutuhkannya. Kebutuhan dansetiapa orang dapat dibedakan menjadi dua kolompok besar, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan-kebutuhan tersebut ada yang prima, yaitu kebutuhan yang harus segera dipenuhi dan kebutuhan sekunder yang pemenuhannya dapat di tangguhkan. Keinginan untuk segera memenuhi kebutuhan, terutama kebutuhan primer, merupakan hal yang wajar bagi setiap individu. Jadi kebutuhan itu tidak segera terpenuhi, maka seseoramg akan merasa kecewa dan sebaliknya jika kebutuhan-kebutuhan itu dapat terpenuhi dengan baik, maka ia akan senang dan puas.”kecewa”,”senang” dan “puas” merupakan gejala perasaan yang mengandur unsure senang dan tidak senang.

Pada awal pertumbuhannya yang dibutuhkan seorang bayi adalah kebutuhan primer, yaitu makan, minum dan kehangatan tubuh. Bayi yang lapar akan menangis dan semakin keras tangisnya jika tidak segera diberi makan. Kebutuhan bayi masih amat sederhana, makan dan minum yang dibutuhkannya dapat dipenuhi dengan air susu ibu (ASI). Begitu pula kebutuhan lainnya, selimut untuk kehangatan tubuhnya. Refleks sebagai reaksi biologis terhadap setiap respon belun dibarengi kepeduliannya terhadap lingkungan dan penggunaan berbagai criteria. Apapun yang diberikan atau dimasukan ke mulutnya akan disambutnya, tanpa memperdulikan dari siapa. Semakin kompleks, karena pertumbuhan fisik itu diikuti oleh perkembangan non fisik.

Sering terjadi dalam kehidupan ini, terdapat persamaan-persamaan kebutuhan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Apabila hal yang akan di capai untuk memenuhi kebutuhan tersebut tebatas, maka akan timbul persainggan antar individu yang sama-sama ingin memenuhi kebutuhannya. Kekalahan dalam persainggan terkadang dapat diterima dengan berbagai alasan, akan tetapi hal itu kadang-kadang tidak dapat diterima. Jika demikian halnya, maka akan timbul perasaan kecewa dan kekecewaan itu dikaitkan dengan oang lain yang menjadi sainggannya.
Emosi merupakan gejala perasaan yang disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah yang ditunjukan dengan teriakan suara keras, atau tingkah laku yang lai. Begitu pula sebaliknya seorang yang gembira ia melonjak-lonjak sambil tertawa lebar, dan sebagainya.

4. Sosial
Bayi lahir dalam keadaan yang sangat lemah. Ia tidak akan mampu hidup terus tampa bantuan orang lain. Manusia lain, terutama ibunya, akan membantu bayi yang baru lahir itu untuk dapat hidup terus. Jadi bayi, begitu juga setiap orang, memerlukan orang lain. Dengan perkataan lain, dalam proses pertumbuhan setiap orang tidak dapat berdiri sendiri. Setiap manusia memerlukan lingkungan, dan senantiasa akan memerlukan manusia lainnya.

Sejalan dengan pertumbuhan badannya, bayi yang telah menjadi anak dan seterusya menjadi orang dewasa itu, akan mengenal lingkungan lebih luas, mengenai banyak mmanusia. Perkenalan dengan orang lain dimulai dengan mengenal ibunya, kemudian mengenal ayah dan saudaranya-saudaranya, dan akhirnya mengenal manusia diluar keluarganya. Selanjutnya manusia yang dikenaknya semakin banyak dan amat hetoregen, sebaya yang sama jenis. Anak membentuk kolompok sebaya sebagai dunianya, memahami dunia anak dan kemudian dunia pergaulan yang lebih luas. Akhirnya manusia mengenal kehidupan bersama, kehidupan bermasyarakat atau kehidupan sosial. Dalam perkembangannya setiap orang akhirnya mengentahi bahwa manusia itu saling memerlukan, membantu dan dibantu, member dan diberi.

5. Bahasa
Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Setiap orang senantiasa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya; dengan orang-orang disekitarnya sejak bayi manusia telah berkomunikasi dengan dunia lain. “Tangis” atau menangis disaat kelahiran, mempunyai arti bahwa disamping menunjukann gejala kehidupan juga merupakan cara bayi itu berkomunikasi dengan sekitar. Pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapt diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain. Dengan demikian dalam berbahasa ada dua fihak-fihak itu saling berganti fungsinya, antara penerima dan penyampai isi pikiran.

Bicara adalah bahasa suara, bahasa lisan. Dalam perkembangan awal berbahsa lisan, bayi menyampaikan isi pikiran atau perasaannya dengan tangis dan atau ocehan. Ia menangis atau mungkin menjerit jika tidak senang atau sakit dan mengoceh atau meraba jika sedang senang. Ocehan-ocehan semakin lama semakin jelas, dan bayi itu mampi menirukan bunyi-bunyi yang didengarnya. Di saat itu sebaliknya ibu mengucapkan kata-kata sederhana yang mudah ditirukan sang bayi agar akhirnya setelah bayi semakin besar semakin banyak kata yang dapat dikuasai dan diucapkannya.

Perkembangan lebih lanjut, seorang bayi (anak) yang telah berusia 6-9 bulan, mulai berkomunikasi dengan satu kata atau dua kata, seperti “maem”dan”bu maem”. Demikian seterusnya anak mulai mampu menyusun kalimat tiga kata untuk menyatakan maksud atau keinginannya.

6. Bakat khusus
Bakat pada awalnya merupakan hal yang amat penting sehubungan dengan bidang pekerjaan atau tugas. Kemudian pada bidang pendidikan juga memperhatikan masalah bakat tersebut, mengingat fungsi pendidikan itu adalah untuk mempersiapkan peserta didik dalam memasuki dunia kerja. Dalam proses pendidikan, bakat merupakan faktor penting untuk mendapatkan perhatian cara pendidik.

Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimilik oleh seorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan, kemampuan itu dapat berkembang dengan baik. Sumadi Suryabrata (1984) menyimpulkan bahwa pengertian tentang bakat yang dikemukakan oleh para ahli memang belum seragam. Diakui bahwa adanya perbedaan dalam tiap-tiap definisi bersifat saling melengkapi. Diantara berbagai definisi tengan bakat, Sumadi tampak lebih mengikuti definisi yang dikemukakan oleh Guilford. Di dalam definisi bakat yang yang dikemukakan Guilford (Sumadi;1984), bakat mencakup tiga dimensi, yaitu (i) dimensi perceptual, (ii) dimensi psikomotor, dan (iii) dimensi intelektual. Ketiga dimensi itu mengabarkan bahwa bakat tersebut mencakup kemampuan dalam penginderaan, ketepatan dan kecepatan menangkap makna, kecepatan dan ketepatan bertindak serta kemampuan berpikir inteligen. Atas dasar bakat yang dimilikinya maka seorang individu akan mampu menunjukan kelebihan dalam bertindak dan menguasai serta memecahkan masalah dibandingkan dengan orang lain.

Seorang yang memiliki bakat akan cepat dapat diamati, sebab kemampuan yang di miliki akan berkembang dengan pesat dan menonjol. Bakat khusus merupakan salah satu kemampuan untuk bidang tertentu seperti dalam bidang seni, olahrga, atau keterampilan.

7. Sikap, Nilai, dan Moral
Bloom (Woolfolk dan Nicolich, 1984: 390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar dikelompokan menjadi tiga sasaran, yaitu pengasa pengentahuan (kognitif) penguasaan nilai dan sikap (afektif) dan penguasaan psikomotor. Masa bayi belum mempersoalkan masalah moral, motor. Masa bayi masih belum memperoleh masalah moral, karena dalam kehidupan bayi belum dikenal hirarki nilai dan suara hati. Perilakunya belum dibimbing oleh norma-norma moral. Pada masa anak-anak telah terjadi perkembangan moral yang relative rendah (terbatas). Anak belum menguasai nilai-nilai abstrak yang berkaitan dengan benar salh dan baik buruk. Hal ini dikarenakan oleh pengaruh perkembangan intelek yang masih terbatas. Anak belum mengentahui mamfaat suatu ketentuan atau peraturan dan belum memiliki dorongan untuk mengerti peraturan-peraturan dalam kehidupan.

Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya, anak mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai; ditunjukan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh, yang harus dilakukan dan ang di larang. Menurut Piaget, padd awalnya pengenalan nilai dan perilaku serta serta tindakan itu masih bersifat “paksaan”, dan anak belum mengentahui maknanya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan inteleknya, berangsur-angsur anak mulai mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga; dan semakin lam semakin luas sampai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat dan Negara.
Butuh dengan Artikel ini Silahkan download : "Karakteristik Dan Perbedaan Individu""Tentang Karakteristik Dan Perbedaan Individu"
Bagikan: Google+ Linkedin Technorati Digg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih telah berkunjung ke ikhsanudin.com. Tinggalkan komentar jika anda telah berkunjung