Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Membangun Hubungan Untuk Menentukan Makna
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
Membangun Hubungan Untuk Menentukan Makna Menghubungkan sisi”mengapa” dari kenyataan konkret dalam Proses mengajar memberikan motivasi pen...
Membangun Hubungan Untuk Menentukan Makna
Menghubungkan sisi”mengapa” dari kenyataan konkret dalam
Proses mengajar memberikan motivasi penting yang diperlukan
Untuk belajar.

- Dale Parnell (2001, h.16)

Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pengajaran dan pembelajaran kontekstual. Ketika murid dapat mengaitkan isi dari mata pelajaran akademik seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, atau sejarah
dengan pengalaman mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL. Bab ini menjelaskan dan memberi contoh jenis-jenis keterkaitan yang sering diandalkan oleh para penduduk agar pembelajaran berisi makna yang khusus bagi murid. Bab ini menyorot keterkaitan yang dibuat oleh guru di ruang-ruang tradisional dan juga metode yang semakin kompleks yang digunakan oleh pendidik untuk menghubungkan isi dengan konteks, antara lain, pengaitan beberapa mata pelajaran, mata pelajaran terpadu, pembelajaran berbasis sekolah, dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bab ini menggambarkan hubungan masing-masing di atas, memberikan banyak contoh, dan memberikan tuntunan cara menggunakannya.
Pengaitan ini dengan konteks berhasil karena pengaitan semacam ini merupakan konponen dari CTL. Hubungan dari semua bagian di sistem CTL-lah yang memberikan kekuatan pada sistem ini. Sudah betahun-tahun, pangajar di program untuk siswa cerdas dan berbakat (talented and gifted program-TAG) menemukan bahwa menghubungkan studi akademik dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari yang diiringi dengan penggunaan komponen lainya dari CTL, efektif untuk pembelajaran. Guru-guru TAG sampai pada kesimpulan yang sama dengan yang disuarakan oleh gerakan CTL selama 1980-an tentang pengajaran dan pembelajaran efektif. Perbandingan singkat antara unsur-unsur CTL dan unsur-unsur yang digunakan pada program pengajaran bagi siswa TAG menggambarkan bahwa kedua sistem tersebut sebenarnya sama.

CTL dan TAG : Sistem yang Cocok untuk Semua Orang
Kotak 3.1 menunjukkan bahwa unsur-unsur CTL sebenarnya sama dengan unsur yang digunakan yang digunakan selama bertahun-tahun dengan program untuk anak berbakat (TAG). Kita seharusnya tidak perlu terkejut bahwa CTL dan TAG, walaupun terpisah, sama-sama telah membuka jalur menuju keunggulan akademik. jalur yang tepat untuk anak yang sangat berbakat adalah jalur yang tepat untuk semua anak. Dengan menerapkan komponen-komponen yang ada di bab ini secara bersama-sama, semua anak akan terbantu untuk mencapai standar pendidikan yang tinggi.
Tampak jelas sekali bahwa praktik menghubungkan muatan akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari memperoleh kekuatan dari hubungannya dengan bagian-bagian lain dari sistem CTL. Bagaimanapun, membangun hubungan itu sendiri sangat penting untuk menemukan makna. Kekuatan dari strategi tunggal ini sebagian timbul dari kesesuainya dengan fungsi otak dan tiga prinsip utama yang meliputi semua sistem kehidupan, termasuk manusia dan oraganisasinya.

Yang terpenting adalah keterkaitan
Setiap hari, kita berada dalam berbagai macam konteks saat kita pergi dari rumah ke kantor, menghadiri rapat, belanja, dan berkumpul dengan teman-teman. Sebagian besar dari kita pernah memikirkan konteks-konteks tersebut. Sebagian dari kita berusaha membentuknya. Visi yang kita miliki mengenai bagaimana seharusnya konteks suatu sekolah mencerminkan gambaran kita tentang dunia. Setiap individu mempunyai pandangan sendiri mengenai dunia. Maksudnya, cerita yang kita ceritakan pada diri kita

Kotak 3.1 Siswa CTL dan TAG
CTL didesain untuk membantu semua anak belajar materi akademik yang sangat berat. Komponen dari sistem ini sebenarnya sama dengan komponen yang dikembangkan satu dekade yang lalu untuk mengajar anak-anak dalam program anak berbakat. Menarik sekali bahwa Ellen Winner, seorang ahli dalam mendidik anak-anak berbakat, merekomendasikan agar menggunakan strategi mengajar yang terbukti telah berhasil baik untuk anak yang berbakat disemua tingkat kelas. Seperti yang ditunjukkan pada kolom berikut, pengguna strategi TAG mirip dengan pengguna komponen CTL. Bahkan, strategi yang digunakan dalam TAG adalah terjemahan yang sempurna dari komponen CTL. Kesamaan yang sangat menjolok tersebut menunjukkan bahwa cara mengajar yang baik akan bisa berlaku untuk semua anak, dan cara itu mencakup semua strategi di bawah ini.
Komponen Ctl
Para Siswa Akan:
Menjadi Siswa Yang Dapat Mengatur Diri Sendiri Dan Aktif Sehingga Dapat Mengembangkan Minat Individu, Mampu Bekerja Sendiri Atau Dalam Kelompok. Belajar Lewat Praktik.

Membangun Keterkaitan Antara Sekolah Dan Konteks Kehidupan Nyata Seperti Bisnis Dan Lembaga Masyarakat.




Melakukan Pekerjaan Yang Berarti: Pekerjaan Yang Memiliki Tujuan, Berguna Untuk Orang Lain, Yang Melibatkan Proses Menentukan Pilihan, Dan Menghasilkan Produk, Nyata Atau Tidak Nyata.
Mengunakan Pemikiran Tingkat Tinggi Yang Kreatif Dan Kritis: Menganalisis, Melakukan Sintesis, Memecahkan Masalah, Membuat Keputusan, Menggunakan Logika Dan Bukti.



Berkerja Sama: Membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok ; membantu mereka memahami bahwa apa yang mereka lakukan memengaruhi orang lain; membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain.
Mengembangkan setiap individu: tahu memberi perhatian dan mengatakan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Memotivasi dan mendorong setiap siswa. Siswa tidak dapat sukses tanpa dukungan dari orang dewasa. Para siswa menghormati teman sebayanya dan orang dewasa
Mengendalikan dan mencapai standar tinggi : mengidentifikasi tujuan yang jelas dan memotivasi siswa mencapainya. Menunjukkan kepada mereka cara untuk mencapai keberhasilan. STRATEGI TAG
Para siswa akan:
Menjadi pelajar yang dapat mengatur diri sendiri yang bekerja mencapai tujuan yang menarik minat mereka. Memperoleh keterampilan akademik melalui kegiatan langsung.

Mengajak belajar di luar ruangan kelas. Memanfaatkan sumber daya masyarakat untuk mempelajari materi akademik. Sebagai contoh, KKN, Aktivitas budaya, ekspedisi petualangan.

Mepelajari persoalan-persoalan kontraversial, meyelidiki masalah-masalah yang berarti, meyelesaikan proyek kemasyarakatan.


Berfikir kratif: menciptakan perbaikan pada produk yang sudah ada, mengembangkan produk baru, melontarkan pertanyaan bagus, mangambil risiko, bersikap fleksibel, dan berpikiran terbuka.
Berpikir kritis : mengidentifikasi asumsi-asumsi, myelesaikan masalah, berpikir secara sisitematis.
Mengembangkan hubungan interpersonal: belajar berfungsi sengan baik dalam kelompok, dengan teman sebaya, dan dengan orang dewasa. Belajar berkomunikasi yang baik dengan orang lain.
Membantu siswa mendapatkan pengetahuan interpersonal: anak-anak membutuhkan bimbing yang mau membaca, berbicara menginspirasi, memdorong dan melewatkan waktu dengan mereka untuk memahami didi mereka sindiri, perasaan, kekurangan dan bakat mereka.
Mendorong anak muda untuk mencapai yang terbaik dalam mengembangkan bakat dan minat. Memotivasi mereka untuk bekerja keras, tahan banting, penuh kosentrasi, dan mampu mendorong diri mereka sendiri.
Sendiri mengenai peran kita sebagai individu dan tujuan kita sebagai menusia. Cerita tersebut menggambarkan prisip kita dan menunjukkan nilai kita. Dari ilimu pengetahuan modern, kita memperoleh informasi baru, seperti yang sudah kita lihat, yang memengaruhi pandangan yang menuntun kita. Dari biologi dan fisika, kita belajar bahwa apa yang ada di alam saling berkaitan dan merasakan keterkaitan-keterkaitan tersebut merupakan ektivitas alami manusia. Kita hidup harmonis dengan alam saat kita bertanya, “Apakah kaitan aljabar dengan membangun sebuah rumah untuk fakir miskin?”
Kita belajar dari ilmu pengetahuan bahwa umat manusia memiliki kecendrungan untuk mencari keterkaitan diantara hal-hal yang berbeda seperti, politik, film, tenis, seni dan bisnis. Dengan membangun keterkaitan, kita menghasilkan konteks untuk belajar dan hidup. Karena kita makhluk hidup yang dapat mengolah dan mengatur diri sendiri, kita tiada henti mencari informasi dan menggunakanya untuk menciptakan makna kita sendiri.
Dalam hubungan dengan lingkungan kita, ada interaksi berkelanjutan dan pengaruh timbal balik antara dunia luar dan dunia kita sendiri....... reaksi kita terhadap lingkungan .... ditentukan ....oleh pengaruh langsung dari rangsangan luar terhadap sistem biologi kita [dan]... oleh pengalaman kita pada masa lalu, pengharapan kita tujuan kita dan ..... interpertasi kita masing-masing atas pengalaman kita dalam memahami sesuatu (capra, 1982, h. 295)

Prinsip kesaling- bergantungan, diferensiasi, dan mengatur diri sendiri (mengolah diri sendiri) menunjukkan pada kita bahwa membangunketerkaitan merupaka hal yangalami bagi manusia.
Sementara biologi dan fisika modern menyatakan bahwa mengaitkan merupakan aktivitas manusia yang alami, para ahli saraf tersebut menjelaskan bahwa mengaitkan merupakan ciri otak. Para ahli tersebut menemukan bahwa hubungan otak manusia dengan lingkungan sebenarnya membentuk struktur fisik otak manusia tersebut.dunia luar menghujani manusia dengan sensasi. Sensasi ini mengirim pesan ke otak. Saat pesan itu tiba di otak, pesan tersebut mengaruhi struktur otak. Otak menyusun pola fisik diantara saraf-sarafnya sebagai reaksi pada lingkungan. Profesor Walter J. Freeman dari University Of California, Bekeley, menjelaskan proses dari pembuatan pola tersebut.
Rangsangan membangkitkan reseptor-reseptor sensoris, reseptor-reseptor tersebut mengirim pesan ke otak. Input tersebut memicu reaksi, dan dengan reaksi itulah, otak membangun pola aktivitas saraf....pola tersebut..... adalah makna yang tertangkap dari rangsangan yang diterima oleh seseorang (Freeman, 1998, h. 146)

Pengaruh lingkungan terhada saraf otak mengubah pola saraf-saraf tersebut, atau dengan kata lain mengubah struktur fisik dari otak. Seperti yang dikatakan Fritjof Capra, “saat lingkungan berubah, otak berubah sebagai reaksi terhadap perubahan tersebut
......anda tidak akan pernah merusak otak; sebaliknya, semakin sering anda menggunakannya, otak tersebut akan menjadi semakin kuat” (Capra, 1982, h. 292, tulisan miring dari saya)
Untuk membantu otak anak-anak menjadi lebih kuat, kita butuh mengajak otak tersebut untuk membangun berbagai kaitan sehingga otak tersebut dapat menyusun pola yang menghasilkan makna. Semakin lama anak-anak mengerjakan tugas yang menarik kemampuan alami mereka, menarik minat mereka , melibatkan aktivitas fisik, dan membutuhkan pemikiran tingkat tinggi, otak mereka akan makin dirangsang. Rangsangan dari dunia luar seperti mewawancarai pemuka bisnis, menguji hipotesis, megumpulkan dan menyaring bukti, memaku dua papan menjadi satu, bermain terompet, melukis, berpodato, atau mengikuti lomba memungkinkan saraf otak untuk menguatkan antar saraf yang sudah ada, membentuk hubungan baru, dan menumbuhkan dendrit baru. Semakin banyak jumlah dendrit yang dimiliki saraf- dendritmerupakan perpanjangan sebuah sel saraf otak (neuron) yang bertugas menerima pesan – semakin mudah bagi satu saraf untuk berhubungan dengan saraf lain. Hubungan yang dibentuk oleh saraf berfungsi menyimpan, menetapkan, dan mengingat makna (Devis, 1997). Kaitan tersebutlah yang penting. Ketika hubungan kedua saraf dan banyak saraf sering digunakan, saraf-saraf tersebut menjadi lebih kuat. Kalau jalur ini tidak digunakan, jalur-jalur tersebut pada akhirnya akan hilang dari otak (Devis, 1997)
Karena setiap otak manusia memiliki kepandaian yang berbeda, CTL mendorong anak muda untuk membangun sebanyak mungkin kaitan (Devis, 1997) mengbungkan bebagai macam keterkaitan yang berbeda menungkatkan kesempatan bagi siswa untuk mencapai standar pendidikan yang tinggi.

Cara Mengaitlcan Pengajaran dan Pembelajaran,
Disertai Contoh-Contoh
Banyak cara efektif untuk mengaitkan pengajaran dan pembelajaran dengan konteks situasi sehari-hari siswa. Oleh sebab itu, diskusi di bawah ini perlu menyoroti metode yang paling efektif untuk menyatukan isi akademik dan konteks pengalainan pribadi siswa. Ada enam metode di sini:
1. Ruang kelas tradisional yang mengaitkan materi dengan konteks siswa.
2. Memasukkan materi dari bidang lain dalam kelas.
3. Mata pelajaran yang tetap terpisah, tetapi mencakup topiktopik yang saling berhubungan.
4. Mata pelajaran gabungan yang menyatukan dua atau lebih disiplin.
5. Menggabungkan sekolah dan peketjaan:
1) Pembelajaran berbasis pekerjaan.
2) Jalur karier.
3) Pengalaman kerja berbasis sekolah.
6. Model kuliah kerja nyata atau penerapan terhadap hal-hal yang dipelajari di sekolah ke masyarakat.


Bisa dikatakan pengaitan paling ampuh adalah pengaitan yang mengundang siswa untuk membuat pilihan, menerima tanggung jawab, dan memberikan hasil yang penting bagi orang lain. Seperti yang terlihat di halaman berikut, pengaitan seperti itu mungkin ada di hampir setiap lingkungan belajar, mulai ruang kelas tradisional hingga proyek-proyek yang berbasis kerja.

1. Ruang Kelas Tradisional
Guru adalah pemimpin di ruang kelas. Sebagai pemimpin, guru di sebuah ruang kelas tradisional dapat menghubungkan informasi baru dengan kehidupan siswa melalui banyak cara yang penuh dengan makna. Tanpa mengetahui ilmu pengetahuan atau ilmu mengenai saraf yang mendukung praktik semacam ini, guru-guru yang berdedikasi ini selalu mengisi mata pelajaran mereka dengan makna, dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan. Kegiatan mengaitkan sebagai komponen CTL sudah teruji oleh waktu. Mendiang Dr. Elizabeth Marie Pope, guru bahasa di Mills College, di Oakland, California, memberikan contoh yang sempurna tentang pengaitan isi pendidikan dengan konteks dari pengalaman siswa di ruang kelas tradisional.
Dr. Pope berhasil menghubungkan kesusastraan dengan kehidupan mahasiswa. Dia menunjukkan kepada para mahasiswanya bahwa sastrawan-sastrawan besar, seperti Shakespeare dan Milton, mengajak mereka untuk berpikir dengan hati-hati tentang bagaimana mereka menilai orang lain, membuat keputusan, melawan tekanan dari teman sebaya, menghadapi penghinaan, mempergunakan kekuatan, melatih kasih sayang, dan mempertahankan integritas. Dia menunjukkan kepada para mahasiswanya bahwa drama dan puisi Shakespeare dan Milton menghubungkan masa sekarang, saat kuliah diberikan, dengan dunia modern.
Di ruang kelas tradisionalnya, Elizabeth Pope mengandalkan perkuliahan dan tugas-tugas imajinatif yang membuat setiap mahasiswa bertanggung jawab untuk mengajar mahasiswa lain. Dengan tertatih-tatih, karena harus menggunakan penyangga, Elizabeth Pope masuk ke dalam kelas tepat setelah bel berbunyi. Dia tidak mengajar sambil berjalan ke sana-kemari seperti seorang penghibur, atau berdiri kaku di depan kelas, tetapi dia duduk di meja, dan buku catatannya yang tak tersentuh ditaruh di sampingnya. Sambil sedikit membungkukkan badan, dengan rambut putih berkilauan di bawah lampu neon dan senyum menawan, dia mulai berbicara dengan logika cerdas dan menghubungkan materi yang disampaikannya dengan kehidupan sehari-hari mahasiswanya lewat metafora yang sangat gamblang. Setelah menjelaskan poin yang kompleks, rumit, atau menarik, dia selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang dirancang untuk mendorong diskusi yang penuh semangat mengenai bagaimana materi tersebut berhubungan dengan pengalaman mereka sendiri.
Pope juga menghubungkan materi dengan kehidupan mahasiswanya dengan memberi tanggung jawab untuk memilih dan menjadi ahli dalam satu topik besar, topik yang bisa dituangkan dalam bentuk sandiwara atau puisi. Setelah menentukan tugas ini pada awal semester, Pope kemudian berhenti memberi kuliah dan sebagai gantinya dia meminta mahasiswa yang sudah memilih topik tertentu untuk maju ke depan kelas dan memberi tahu teman sekelas mereka tentang bagaimana mereka akan membawakan topik besar mereka, apakah dalam bentuk cerita, pidato, atau pertunjukan khusus. Untuk menjadi seorang ahli yang mampu membagi pengetahuan mereka, mereka menghabiskan berjam-jam membaca dengan cermat, kritis, dan. kreatif. Mereka mencari untuk memutuskan di bagian cerita mana topik mereka muncul dan mereka juga harus mencari bagaimana pandangan pengarang mengenai tema, penggambaran, atau kiasan klasik yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka juga harus menjelaskan bagaimana topik mereka berhubungnn dengan masa sekarang.
Jika seorang mahasiswa terlihat tidak pasti selama di kelas, mahasiswa yang lain ramai-ramai membantu. Tujuannya adalah untuk belajar dan mendorong kerja sama. Kelas menjadi lingkuilgan yang saling mendidik. Tidak sekali pun Elizabeth Pope menaikkan nada suaranya, mengekspresikan ketidakpuasan, menunjukkan ketidaksabaran, atau mencaci mahasiswanya, sekalipun kadang-kadang mereka kelihatan tidak siap atau tidak nyambung. Sebaliknya, dia memperlakukan setiap mahasiswa dengan sopan dan homat. Seusai kuliah, dia selalu memanggil setiap mahasiswa saat mereka berjalan melewati mejanya, meminta mereka berhenti untuk mengobrol sebentar, atau mungkin mengundang mereka ke kantornya untuk membicarakan lebih lanjut beberapa ide yang telah mereka kemukakan.
Keinginan Pope untuk mengajar mahasiswa agar melihat makna di dalam kesusastraan dan untuk berpikir masak-masak mengenai kesusastraan tampak jelas dari reaksinya pada salah seorang mahasiswi saat ujian akhir. Saat mengerjakan ujian akhir Shakespeate dari Dr. Pope, mahasiswi tersebut dengan terburu-buru membaca pertanyaan nomor satu, dan hanya membaca tiga kalimat pertama dari bagian yang tidak dikenal itu, ternyata dengan cepat dia mampu mengenali baris-baris kalimat itu sebagai bagian dari Hamlet. Dia pun menulis selama 90 menit tentang tema dan gambaran dominan dari "Hamlet" yang ditunjukkan oleh bagian itu. Setelah menjawab pertanyaan terakhir, mahasiswi itu pun berhenti. Ujian telah selesai dan dia sekarang punya waktu untuk melihat dengan hati-hati pada bagian yang disebutkan di pertanyaan pertama.
Setelah membaca bagian tersebut secara lengkap, dia tahu bahwa itu bagian dari King Lear, bukan Hamlet, dan dia tahu pasti di bagian mana kutipan itu muncul dalam drama dan mengapa bagian itu begitu penting. Pada bagian bawah buklet ujian akhirnya, mahasiswi itu menulis dengan terburu-buru: "Kalimat tersebut berasal dari King Lear. Saya minta maaf karena telah begitu ceroboh dan menulis tentang sandiwara yang salah. Saya benar-benar tahu, dan seharusnya saya menulis mengenai Lear. Saat Dr. Pope me-ngembalikan buku ujian, terhzlis di bawah jawaban tambahan mahasiswi itu nilai "A-" dan komentar, "Argumen Anda yang teliti dan detail nyaris meyakinkan saya bahwa bagian dari King Lear akan sangat bagus apabila dipakai dalam Hamlet. " Beruntunglah mahasiswi itu, Elizabeth Pope tertarik pada pemahaman mendalam, bukan detail. Untunglah, dosennya juga punya rasa humor dan belas kasih.
Setelah pensiun dari Mills, Dr. Pope menceritakan pengalamannya saat membantu cucu keponakannya, siswa kelas dua di sekolah menengah, belajar Macbeth. "Dia memberiku daftar dari bagian-bagian sebuah sandiwara, lalu dia memberiku teks sandiwara tersebut dan memintaku untuk melihat teks, sementara dia mengucapkan bagian-bagian di dalamnya. Saat aku bertanya apakah dia mau akujelaskan bagian-bagian itu kepadanya, dia bilang, Begini, aku tidak perlu tahu artinya. Aku hanya harus menghafalkan baris-baris tersebut, termasuk babak, adegan, dan baris-baris di dalanmya. Bantu aku menghafalkannya, oke?' Jadi, aku membantunya," dia tersenyum. "Sungguh mengecewakan."
Seperti yang ditunjukkan dari contoh-contoh Elizabeth Pope di atas, guru-guru berbakat menghubungkan isi dengan konteks dengan cara yang tak terhitung, bergantung pada tujuan belajar mereka dan siswa mereka. Beberapa pendekatan yang terkenal antara lain adalah mengundang pembicara tamu yang ahli; meminta pemimpin perusahaan untuk menjelaskan pada kelas bagaimana perusahaan mereka menggunakan keterampilan seperti menulis, berbicara, dan mendengarkan; memberikan waktu kepada siswa untuk mengajar dengan menceritakan pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri; mengolah masalah-masalah matematika, bahasa Inggris, ilmu pengetahuan yang diambil dari bisnis lokal; mengajar materi yang sama dengan cara yang dapat diterima oleh ragam kecerdasan dan gaya belajar yang berbeda; dan melakukan simulasi. Guru juga membantu murid-murid berkembang dengan menyibukkan mereka dalam tugas-ttlgas yang mendorong mereka berlmbungan dengan masyarakat. Contoh-contoh berikut menunjukkan beraneka macam cara yang dilakukan oleh guru-guru di kelas untuk menghubungkan mata pelajaran akademik dengan konteks siswa itu sendiri. Mereka menunjukkan bahwa pengaitanpengaitan yang dilakukan dalam CTL cocok diterapkan mulai dari sekolah dasar hingga universitas.
Contoh-Contoh Pengaitan dalam CTL di Kelas
 Di kelas yang sudah tinggi (Upward Bound), para guru mendorong siswa untuk membaca, menulis, dan berpikir secara kritis dengan meminta mereka untuk fokus pada persoalan-persoalan kontroversial di lingkungan atau masyarakat mereka. Kelas dibagi menjadi empat atau lima kelompok. Setiap kelompok memilih sebuah persoalan kontroversial dan menelitinya. Mereka melakukan penelitian di perpustakaan, melakukan survei lapangan, dan mewawancarai pejabat setempat mengenai persoalan yang sedang diteliti. Mereka menyajikan penemuan-penemuan dalam bentuk presentasi disertai foto, gambar, diagram, dan grafik. Mereka menyampaikan penemuan-penemuan tersebut di depan khalayak yang terdiri dari teman sekelas dan para orangtua.
 Anak-anak di sekolah dasar meneliti beberapa pelukis, seperti Rembrandt, Van Gogh, Monet, Winslow Homer, Andrew Wyeth, dan Picasso. Dalam kelas, mereka menghabiskan sebagian besar waktu untuk menggambar sesuai dengan gaya pelukis yang sedang dipelajari dengan menggunakan krayon dan kapur tulis. Pada akhir pelajaran kesenian, setiap anak memilih seorang pelukis yang karyanya paling disenangi untuk ditiru. Lalu, anak-anak tersebut pergi ke kantin sekolah saat sedang kosong dan mendapati kertas kosong yang sangat panjang dan luas tergantung di sana. Setiap siswa melukis sebuah gambar di kertas tersebut, meniru karya pelukis yang sudah mereka tentukan. Saat semua anak selesai menggambar, para siswa mundur untuk melihat dan membicarakan karya mereka. Mereka termotivasi saat mengetahui lukisan mereka akan menghiasi kantin selama dua minggu.
 Seorang guru ilmu pengetahuan di sekolah menengah, meminta tim yang terdiri dari dua siswa secara bergiliran untuk menentukan pembicara tamu mana yang akan bersedia menjelaskan topik yang sedang mereka pelajari. Siswa yang mendapatkan giliran untuk mencari pembicara tamu harus menelepon pembicara tersebut, menentukan tanggalnya, manyambut pembicara tersebut di pintu sekolah pada hari H, dan menulis ucapan terima kasih sesudah acara selesai.
 Para siswa kelas sembilan memilih satu episode dari Odyssey yang mereka senangi dan menuliskannya kembali dalam bentuk sandiwara boneka untuk anak-anak sekolah dasar. Mereka membuat dan mendesain boneka-boneka dan mempertunjukkan sandiwara boneka mereka di depan siswa kelas tiga dan empat.
 Para siswa bahasa dan sastra kelas sembilan belajar konflik sebelum mempelajari Romeo dan Juliet. Mereka menyelidiki konflik di koran dan majalah dan dengan mewawancarai teman sebaya dan orang dewasa. Mereka juga mengundang tamu ahli penasihat, ahli ilmu jiwa, sukarelawan klinik untuk penderita yang mengalami krisis mental-untuk berbicara di depan para siswa mengenai konflik. Siswa mempergunakan informasi ini sebagai latar belakang untuk mempelajari Romeo dan Juliet. Merekamengakhrripelajaran sandiwara tersebut dengan bekerja sama membuat buku panduan yang menjelaskan bagaimana mengatasi sebuah konflik. Buku panduan tersebut diperbanyak dan didistribusikan kepada para siswa.
 Para siswa kelas sepuluh yang sangat berminat pada cerita tiksi pendek dibagi dalam kelompok, setiap kelompok harus menceritakan kisah yang berbeda pada teman sekelas mereka dengan mengacu pada salah satu kecerdasan majemuk. Dulu, kelompok yang memilih kecerdasan kinestetik memerankan adegan dan membuat garis di lantai dengan menggunakan plester. Mereka meminta teman sekelasnya untuk berdiri di bagian yang mewakili pandangan mereka tentang sebuah episode atau tokoh. Sebuah kelompok kecerdasan spasial menciptakan model dari tanah Hat dan kayu untuk menyampaikan struktur isi cerita, dan mereka juga meminta teman sekelas untuk memetakan dan menggambar lokasi-lokasi dan adegan-adegan yang digambarkan dalam cerita. Kelompok kecerdasan linguistik menulis pertanyaan-pertanyaan menggelitik dan mengadakan diskusi untuk membahasnya. Sesudahnya mereka memberi tes esai singkat. Setiap kelompok memiliki strategi yang berbeda.
 Standar pendekatan CTL untuk mempelajari kesusastraan adalah memberikan satu pertanyaan untuk didiskusikan oleh para siswa sebelum mereka membaca tugas yang aican diberikan. Pertanyaan tersebut berhubungan dengan gambaran atau situasi yang akan ditemui oleh siswa pada bacaan yang ditugaskan. Membicarakan terlebih dahulu mengenai gagasan-gagasan di balik tugas yang akan diberikan membuka jalan bagi para siswa untuk melihat bahwa kesusastraan berhubungan dengan kehidupan mereka. Jika kemudian mereka membaca teks tersebut dengan cermat, menjadi akrab dengan materinya, mereka siap untuk menerapkan apa yang mereka pelajari pada puisi, cerita pendek, atau esai dengan kondeks kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh setelah membaca Hard Times karya Dickens, para siswa bias diminya untuk mengamati bagaimana defenisi memengaruhi masyarakat. Mereka dapat mengevaluasi kejelasan dan integritas defmisi yang digunakan di televisi, Man di koran, buku pedoman teknis, dan sumber-sumber yang lain. Kemudian, mereka dapat meugetnbangkan pedoman untuk membantu orang membedakan definisi yang dapat dipercaya dan definisi yang sedikit banyak berseberangan dengan kenyataan (Johnson & LaRocco,1997).
 Di sebuah kelas sejarah dunia yang diajar oleh Laura Snow, di Pensacola, Florida, para siswa memilih salah satu kota dan mereka harus tnembuat sebuah brosur perjalanan untuk kota tersebut. Mereka harus membayangkan bahwa brosur perjalartart tersebut dipublikasikan pada tahun 1600 oleh Kadin di kota tersebut. Kota-kota yang bisa mereka pilih, misalnya, Paris, Berlin, Leipzig, Moscow, Seville, dan Milan. Brosur yang mereka buat menggambarkan dan memperlihatkan berbagai macam atraksi yang mungkin menarik bagi turis pada tahun 1600. Brosur tersebut harus meliputi banyak hal, penuh warna, dan berdasarkan fakta sejarah.
 Sebuah simulasi yang diadakan oleh sebuah sekolah menengah mengenai kejadian-kejadian yang memicu Perang Dunia I meminta para siswa untuk membentuk kelompok yang mewakili Serbia, Inggris, Austria-Hungaria, Jerman, Rusia, dan Prancis. Setiap kelompok mengangkat seorang menteri luar negeri, seorang wakil menteri, dan seorang asisten menteri. Tugas mereka adalah bertemu dan berunding mencari upaya untuk menghindari perang yang akan terjadi. Para siswa mempelajari situasi dunia sebelum pecahnya perang, memeriksa tujuan dari setiap negara, danmempelajari dampak sekutu atas dimulainya Perang Dunia I.
 Permasalahan di bawah ini sesuai dengan standar Dewan Nasional Guru Matematika (National Council of Teachers of Matehmatics, NCTM): "Menabung untuk Masa Pensiun: Ada dua rumus: satu, menentukan jumlah uang yang akan didapatkan setelah seseorang menabung dalamjangka waktu tertentu ditambah bunga; rumus yang lain menentukan total uang yang akan diterima setelah seseorang melakukan pembayaran dalam satu periode waktu tertentu. Para siswa kemudian diminta untuk menghitung dan membandingkan berbagai macam rencana pensiun menggunakan dua rumus tersebut. Para siswa harus membuat rencana pensiun berdasarkan data terkini." Mereka belajar "persentase, evaluasi rumus, pemecahan masalah, penukaran uang" dengan menggunakan kalkulator grafik dan lembar kerja komputer. Para siswa melihat perbedaan jumlah uang apabila program pensiun dimulai lebih awal.
 Seorang Profesor di sebuah universitas menghubungkan pelajaran mitologi dengan kehidupan sehari-hari dengan menugaskan para mahasiswa mencari dan menyimpan ManMan berbau mitos ke sebuah buku catatan dan mereka harus memberikan keterangan seperlunya. Mereka juga diminta untuk mengidentifikasi iklan yang terkesan menciptakan mitos baru.
 Dalam mata kuliah Education 305, sebuah mata pelajaran pengantar praktik mengajar, para mahasiswa memperluas lingkup belajar mereka ke luar ruang kelas. Berpasangan dengan para guru senior, mereka masuk ke ruang kelas tingkat TK sampai sekolah ntenengah sejak awal semester, bukan di aklur semester. Karena mahasiswa prapraktik sudah mulai mengaplikasikan teori pendidikan dalam praktik di ruang kelas sejak awal semester, mereka memahami pengaruh pengaitan pelajaran akademik dengan kon-teks nyata. Para mahasiswa tersebut mengalami langsung keampuhan pengaitan isi dengan konteks sehari-hari yang diharuskan oleh CTL."

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi para guru di kelas untuk bekerja dengan 150 siswa hingga 180 siswa dalam sehari. Banyak guru yang mengatakan bahwa ketika mereka mengaitkan pelajaran dengan kehidupan siswa, semua siswanya maju dengan pesat. Para siswa yang bandel dan acuh tak acuh menjadi lebih fokus belajar, dan prestasi para siswa yang sudah baik meningkat.
Kotak 3.2 Langkah-Langkah CTL untuk Membangun Keterkaitan di Kelas
Daftar berikut ini mengajak para guru untuk membuat kelas mereka menjadi suatu tempat penuh makna bagi para siswa dengan cara membangun keterkaitan:
1. Pikirkan bagaimana para siswa mendapatkan informasi di kelas Anda. Apakah Anda menghabiskan sebagian besar waktu untuk memberi informasi, menjelaskan, memberi tahu? Saat Anda mengajar, apakah Anda sering berhenti dan mengajak para siswa untuk mendiskusikan apa yang sudah Anda jelaskan atau bertanya? Apakah pelajaran disampaikan dengan cara yang bervariasi agar mengena pada gaya belajar yang berbeda? Apakah Anda mendorong para siswa mempergunakan seluruh anggota tubuh dalam proses belajar?
2. Bertanyalah pada diri Anda sendiri: "Apa tujuan utama mata pelajaran ini?" atau "Apa tujuan dari pelajaran kali ini? TLyuan apa yang ingin saya capai dengan menggunakan pelajaran ini di kelas?" Tulislah hal-hal spesi{ulc yang Anda ingin siswa Anda ketahui dan dapat dilaksanakan. Gunakanlah kata kerja aktif.
3. Uji isi mata pelajaran. Mengapa Anda memberikan pelajaran tertentu? Apakah mata pelajaran Anda memberi para siswa waktu untuk ikut serta secara aktif dalam proses belajar? Apakah mereka memiliki waktu untuk bertanya, bekerja sama mengerjakan tugas, memecahkan masalah, dan menemukan hubungan antara ide-ide baru dan hal-hal yang sudah mereka ketahui? Beri mereka waktu untuk menemukan makna. Dorong mereka agar menyelidiki materi dengan lebih mendalam.
4. Apakah pelajaran-pelajaran tersebut penting? Apakah pelajaran tersebut mengajak para siswa dalam memproduksi barang-barang nyata untuk orang lain? Apakah pelajaran tersebut mencerminkan kesadaran akan pengalaman masa lalu dan situasi rumah para siswa sendiri?
5. Apakah Anda menggunakan beberapa metode "penilaian autentik (authentic assessment)" yang mensyaratkan para siswa agar giat belajar sekaligus mampu mempertunjukkan keterampilan? Tugas-tugas autentik adalah tugastugas yang secara alami berhubungan langsung dengan sebuah mata pelajaran. Mereka meniru pekerjaan yang sesungguhnya dilakukan oleh para praktisi.
6. Apakah para siswa mendapat kesempatan untuk menggunakan pemikiran tingkat tinggi untuk berpikir kritis dan kreatif? Bagaimana cara Anda mengajar para siswa seni dari pemikiran kritis? Bagaimana cara Anda menanamkan pemikiran kreatif?
7. Sudahkah Anda mengajak para siswa untuk bekerja sama sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari bakat siswa lain? Apakah bekerja sama mengajarkan untuk saling menghormati dan kemungkinan untuk berbagi kesuksesan? Apakah dengan bekerja sama tersebut para siswa belajar untuk mendengarkan pendapat orang lain?
8. Apakah para siswa yang mengambil kelas Anda mendapat kesempatan untuk menggunakan fasilitas-fasilitas pendukung, mengumpulkan dan mengatur informasi, bekerja dengan teknologi, meneliti sistem?
9. Apakah kelas Anda menyediakan lingkungan yang aman, terjamin, dan ramah?
10. Apakah Anda sering bertatap muka dengan setiap siswa? Cara lain apa yang Anda gunakan untuk memperlihatkan kepada para siswa bahwa Anda benar-benar peduli kepada mereka dan bersedia membantu mereka?


2. Penambahan atau Penyisipan Mata Pelajaran yang Berbeda
Praktik memasukkan materi yang berhubungan dari mata pelajaran lain ke dalam satu mata pelajaran sudah sangat dikenal. Para pengajar mata pelajaran akademik sepertinya sering mengajarkan sebuah topik dengan memperkenalkan materi dari disiplin ilmu lain. Sebagai contoh, guru sejarah mungkin memasukkan sejarah.
Di sebuah perguruan tinggi umum, keterampilan berkomunikasi juga dimasukkan dalam kelas teknologi manufaktur. Para siswa di kelas uu menulis sebuah esai yang menjelaskan bahayanya bekerja di sebuah toko mesin dan menjelaskan bagaimana cara terbaik untrtk menghindari bahaya tersebut. Mereka juga melakukan penelitian dan membuat presentasi mengenai desain dan peralatan terbaik untuk toko mesin yang cantik.

3. Mata Pelajaran yang Saling Berhubungan (Linked Comes]
Mata pelajaran yang saling berhubungan adalah mata pelajaran terpisah yang disatukan oleh materi yang saling melengkapi dan topik yang sama. Meskipun setiap mata pelajaran memiliki tujuan, penilaian dan nilai akhir yang terpisah, isi setiap pelajaran dihubungkan sedemikian rupa hingga memberikan konteks pelajaran yang kaya. Para guru dari mata pelajaran yang saling berhubungan berunding untuk memastikan bahwa materi di satu kelas melengkapi dan memperkulnth proses belajar yang terjadi di kelas yang lain.
Kerja sama antar fakultas dan mata pelajaran yang saling berhubungan merupakan tulang punggung The Environmental Middle School, sebuah sekolah menengah pertama wnum di West Coast. Di The Environmental Middle School, yang menampung sebanyak kira-kira 186 anak muda berbagai umur dalam 6 kelas, semua kelas saling berhubungan, dan semua guru merupakan satu tim. Bersama-sama mereka menulis kurikulum mengenai pendidikan lingkungan dan memastikan kurikulum tersebut memenuhi standar nasional. Setiap tahun sebuah tema seperti sungai, hutan, atau I'uuung-menjadi poin pelajaran utama di setiap kelas. Fokus pada tema lingkungan ini membuka banyak kesempatan bagi para siswa untuk meneliti ilmu pengetahuan, politik, sejarah, ekonomi, matematika, kesehatan, dan mata pelajaran lain dalam konteks yang kaya akan makna. Menghubungkan mata pelajaran akademik dengan persoalan-persoalan lingkungan juga mengajak para siswa untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Aktivitasnya bervariasi, mulai dari memilih dan memonitor sebuah lokasi alam, hingga belanja makanan di taman kota dan memasaknya untuk makan siang di sekolah. Persami (perkemahan Sabtu Minggu) menjadi bagian dari kelas-kelas biologi kelautan pada musim semi. Karena mereka berhadapan dengan persoalan-persoalan penting dan menantang di dunia nyata yang memiliki makna bagi mereka, para pelajar aktif ini mampu meraih standar akademik yang tinggi. Pada waktu yang bersamaan, mereka mengembangkan kemampuan merencanakan, memecahkan masalah, memimpin, memberikan presentasi pada masyarakat umum, dan menerima tanggung jawab.
Di Helena Middle School di Helena, Montana, semua guru kelas tujuh setuju bahwa di dalam ruang kelas masing-masing, mereka akan menyisihkan waktu beberapa jam untuk mengajar materi yang mirip dengan tugas memproduksi mainan. Setelah menerima peralatan dasar yang dibutuhkan untuk membangun mesin yang dapat menjalankan mobil mainan dari Perkumpulan insinyur Otomotif (The Society of Automotif Engineers), sekolah membagi kelas tujuh menjadi kelompok-kelompok dan memberi tugas mendesain dan membuat mobil mainan bermesin yang menarik bagi anak-anak kepada setiap kelompok. Dalam kelompok yang beranggotakan empat atau lima orang, para siswa mewawancarai anak-anak di sekolah dasar terdekat untuk mencari tahu apakah mereka lebih senang mobil mainan yang berjalan pelan dan dapat melewati jalanan menanjak atau mobil mainan yang seni dalam kelas mereka, dan guru seni dan bahasa mungkin memainkan komposisi musik yang liriknya berasal dari zaman tertentu. Para guru semakin sering memasukkan materi teknis-profesional ke dalam kelas akademik yang mereka ajar, dan sebaliknya.
Tentu saja materi dapat disisipkan dalam kelas dengan menggunakan banyak cara. Tugas membaca, topik-topik diskusi khusus, dan proyek langsung merupakan metode-metode yang terkenal untuk memasukkan materi ke dalam satu mata pelajaran. Para pengajar yang ingin memasukkan materi dari bidang lain ke dalam mata pelajaran akan menemukan praktik yang dijelaskan di Kotak 3.3 berikut ini yang memiliki banyak manfaat.

Kotak 3.3 Bagaimana Menciptakan Mata Pelajaran Tambahan
1. Pilihlah bidang yang ingin Anda masukkan dalam mata pelajaran Anda.
2. Temui dan kumpulkan informasi dari instruktur di bidang tersebut. Tanyakan mengenai tujuan belajar, tugas-tugas khusus, dan teknik-teknik penilaian.
3. Gunakan informasi ini untuk membuat daftar tujuan belajar-keterampilan dan kompetensi-yang diharapkan didapat oleh para siswa dari mata pelajaran tersebut. Bandingkan dengan tujuan belajar Anda sendiri.
4. Masukkan materi yang dapat memenuhi tujuan belajar dart kedua mata pelajaran. Pemikiran kritis, keterampilan berkomunikasi, dan kerja tim, sebagai contoh, mungkin merupakan tujuan bersama dari mata pelajaran teknologi otomotif dan ilmu pengetahuan alam.

Mata pelajaran mengarang tahun pertama di Mt. Hood Community College di Gresham, Oregon, banyak ditambahi dengan materi teknik-profesional. Kelas tambahan tersebut memiliki tujuan dan standar belajar yang persis sama seperti mata pelajaran mengarang lain. Sebagai bagian dari sebuah program menulis satu arah (one-track), mata pelajaran ini berisi tugas-tugas yang berhubungan dengan program teknik profesional khusus seperti Mengonsep dan Mendesain dengan Komputer, Teknik Sipil, Benda-Benda Berbahaya, Keramah-tamahan dan Turisme, Ilmu Keperawatan, Asisten Terapi Fisik dan Asisten Pengacara. Karena menghubungkan keterampilan menulis dengan minat karier, kelas tambahan seperti ini memotivasi siswa untuk menggapai standar yang lebih tinggi. Langkah ini membuka jalan bagi siswa teknik-profesional untuk melanjutkan studi S-1 ke universitas jika pada akhirnya mereka memutuskan untuk melakukamya (Darroch,1997b).
Ketika mata pelajaran teknik-profesional disisipi tugas-tugas akademik, para mahasiswajuga membuat pengaitan yang bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi. Para siswa sekolah menengah yang mengambil mata pelajaran mekanika mobil, misalnya, mempelajari salah satu segmen dari pemikiran kritis. Para instruktur memperkenalkan para siswa pada berpikir kritis dengan menggunakan papan permainan dan permainan kata yang melibatkan analisis dan logika. Kemudian, para instruktur menyabotase sebuah kendaraan dan meminta para siswa untuk mendiagnosis apa masalah mobil tersebut. Setiap siswa kemudian menulis sendirisendiri langkah-langkah yang diambil agar sampai pada diagnosis disertai dengan alasan di balik setiap langkah-langkah tersebut. Setelah semua murid mendapatkan kesempatan untuk mendiagnosis mobil tersebut, para siswa saling menjelaskan alasan mereka bergerak cepat di permukaan yang datar. Dengan menggunakan informasi tersebut, setiap kelompok mulai bekarja. Para siswa menggunakan matematika untuk menghitung yang dinamakan rasio persneling. Mereka menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan kepada anak-anak di sekolah dasar dan membuat catatan tertulis dari penemuan-penemuan mereka. Kemudian, setiap tim mendesain mobil yang diyakini akan sangat disenangi oleh anak-anak. Mobil yang telah jadi dievaluasi oleh juri yang terdiri dari orang-orang dewasa. Juri-juri ini mempertimbangkan gaya pegas mobil, mutu bodi mobil yang dibuat dengan tangan, dan kejelasan instruksi pengoperasian mobil. Mereka juga menilai penampilan saat mobil-mobil tersebut bertanding dengan yang lain.
Mata pelajaran yang saling berhubungan, mata pelajaran terpisah yang proyek dan tugasnya sama, memungkinkan para siswa untuk melihat bagaimana satu mata pelajaran berhubungan dengan mata pelajaran yang lain. Dengan membuat hubungan-hubungan ini, anak-anak muda memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menampilkan gaya belajar dan bakat mereka yang unik.


4. Mata Pelajaran Terpadu
“Terpadu” berarti mata pelajaran yang dicipatakan dengan mengombinasikan satu atau disiplin ilmu yang berbeda. Mata pelajaran terpadu ini biasanya diajar secara tim, dengan serangkaian tujuan dan penilaian yang sesuai dengan gabungan dari disiplin ilmu yang digabungkan. Kadang-kadang mata pelajaran ini disebut “multidisipliner”, “lintas-kurikulum”. Mata pelajaran terpadu sesuai dengan kebutuhan otak untuk menyusun pola dalam menemukan makna.
Dalam kelas terpadu, para siswa menemukan bahwa pengetahuan saling melengkapi dan terjalin; tidak ada batas, tidak ada perbedaan yang dibuat-buat (The Internastional Center for Leadership in Education, n.d.). Mata pelajaran terpadu menyatukan mata pelajaran yang berbeda ke dalam satu-kesatuan makna dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa.
Disebuah sekolah menengah pertama di Kentucky, para siswa kelas tujuh mengambil mata pelajaran terpadu yang menggabungkan ilmu pengetahuan, matematika, bahasa dan sastra, dan ilmu sosial saat mempelajari Yunani kuno. Mereka belajar tentang sejarah, hukum, arsitektur, ilmu pengetahuan, dan drama Yunani. Kelas ini diasuh oleh satu tim guru, dan pada akhir semester, para siswa mempertunjukkan pengetahuan mereka sebagian dengan menulis, memproduksi dan menampilkan drama kontemporer tentang salah satu karakter dari tragedi Yunani. Tugas ini termasuk hal-hal seperti mendesain dan membangun panggung, menjahit kostum, dan menulis pengumuman (Jordan, 1994).
Disebuah sekolah menangah atas, guru-guru biologi, kesehatan dan bahasa Inggris bekerja sama menawarkan mata pelajaran mengenai bahaya bahan kimia terhadap ekosistem dan kesehatan manusia. Mereka meneliti bahaya bahan kimia, sistem kehidupan dan tanggung jawab pelaku bisnis dan ilmuwan terhadap lingkungan mereka. Para guru bekerja bersama-sama mengindentifikasi tujuan akademik dan standar pemerintah yang harus dipenuhi oleh mata pelajaran terpadu ini. Mereka juga membangun hubungan dengan masyarakat yang dapat membantu penelitian proyek-proyek terkait.
Portland State University di Oregon telah menjadikan mata kuliah terpadu sebagai sarana yang digunakan para mahasiswa untuk memenuhi syarat pendidikan umum di universitas tersebut. Mahasiswa tahun pertama diwajibkan untuk mengambil mata kuliah terpadu selama satu tahun yang disebut “Fresham Inquiry”. Meskipun Freshman Inquiry berbeda dalam hal tema dan isi, mata kuliah tersebut termasuk menulis, matematika, pidato, teknologi, dan keterampilan grafik visual dan mungkin juga fokus pada ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan kemanusiaan. Dua contoh dari mata kuliah Freshman Inquiry selama satu tahun dibawah ini menggambarkan fokus mereka pada tema terpadu:
“Manusia/Alam: Mata kuliah ini menyelidiki hubungan timbal balik yang rumit antara manusia dan alam. Mata kuliah ini khususnya membidik ilmu sosial dan biologi, sejarah, kesusastraan, dan seni. “Keyakinan dan Logika: Mata kuliah ini berfokus pada “Bagaimana peran dikotomi rumit antara keyakinan dan logika dalam sejarah Eropa. Kita akan mendiskusikan.... pencerahan; Darwin, evolusi, ... ilmu pengetahuan di masyarakat modern; dan masalah-masalah kontemporer” (Portland State Univesity [PSU] 200a, h.19;PSU,200b, hh.136-137).
Efektivitas dari mata kuliah Freshman Inquiry di Portland State University bergantung, sebagaimana keberhasilan mata kuliah terpadu manapun, pada kejelasan dan kemantapan tujuan akademik, efektivitas kerja sama antara berbagai pengajaran, dan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaitkan topik dengan situasi siswa dengan cara yang pebuh makna.
Mata pelajaran terpadu dapat berhasil dengan baik apabila mata pelajaran ini menggabungkan semua komponen dari sistem pengjaran dan pembelajaran kontekstual. Komponen-komponen CTL menjamin bahwa mata pelajaran terpadu adalah pengalaman yang berpusat pada siswa, mengakomodasi siswa dari kebudayaan dan latar belakang yang berbeda, dan cocok dengan beragam minat, bakat dan gaya belajar. Apapun yang dipelajari: lumba-lumba, perbintangan, proses pemilihan, atau gempa bumi, jika mereka menghadapi tugas menantang yang berkaitan dengan kebutuhan nyata, mereka mencapai standar yang tinggi. Saat para mahasiswa saling mengaitkan mata pelajaran akademik dan menerapkannya dalam situasi dunia nyata, mereka menemukan makna, mengingat pelajaran, dan IQ mereka pun makin meningkat (Barab & Landa, 1995).

5. Menggabungkan Sekolah dan Pekerjaan
CTL mungkin paling dikenal sebagai sistem pengajaran yang menghubungkan sekolah dengan dunia kerja. Mengaitkan pekerjaan dengan sekolah memberi para siswa alasan praktis untuk belajar berbagai hal, ilmu pengetahuan, pemasaran, atau matematika. CTL tidak hanya memberi siswa dorongan dari dunia nyata untuk menguasai mata pelajaran akademik, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri.
Namun, orang-orang yang mengkritik kebijakan ini berpendapat bahwa pengaitan semacam itu akan mengubah sekolah menjadi tempat pelatihan dengan kurikulum yang buruk. Para kritikus itu percaya bahwa di tempat kerja, para siswa hanya belajar sedikit keterampilan terbatas yang cocok untuk satu bisnis saja. Karena pendidikan dalam dunia demokratis harus memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk menjadi unggul; apa saja yang membatasi perkembangan kecerdasan dan perkembangan pribasi dari anak-anak kita seharusnya ditolak. Namun, apabila diatur dan disusun dengan baik, maka hubungan antara sekolah dan pekerjaan akan membantu semua siswa unggul secara akademik dan mengembangkan diri sendiri.
Kemitraan antara kelas dan perusahaan dan antara sekolahdan LSM, apabila ditangani dengan baik akan memperkuat pendidikan. Mereka memberi anak muda kesempatan yang mengasyikkan dan nyata untuk mempelajari mata pelajaran akademik dengan menggunakannya sesegera mungkin. Karena otak melihat makna di dalamnya, dan mengingat penggunaannya dalam situasi kehidupan nyata, maka menggabungkan pelajaran sekolah dengan dunia kerja adalah sangat masuk akal.
Menghubungakan sekolah dengan pekerjaan secara hati-hati dnegan menggunakan unsur-unsur CTL, memberi semua siswa gerbang menuju masa depan. Menghubungkan sekolah dengan pekerjaan memberi siswa pilihan untuk mendapatkan gelar teknik-profesional dalam dua tahun, mengikuti kuliah di perguruan tinggi selama empat tahun, masuk ke sekolah kejuruan swasta, mendapat pekerjaan di tingkat staf, mendaftar program magang, atau menjadi anggota militer. Menghubungkan sekolah dengan pekerjaan mempersiapkan semua siswa untuk membuat pilihan diantara alternatif itu. CTL memberi anak-anak kita mada depan yang menjanjikan.
Praktik menghubungkan sekolah dengan pekerjaan mendapat dukungan kuat dari School-to-Work Opportunity Act (SWOA) pada 1994. Sekolah-ke-Pekerjaan (school-to-work) telah ditetapkan sebagai “suatu cara sistematis membangun pendidikan yang memadukan sasaran akademik, karier, dan tujuan pribadi” untuk melejitkan prestasi semua siswa (Laboratorium Pendidikan Wilayah Northwest, 1996, h.37). tujuan utama SWOA, seperti yang tertera dalam Undang-Undang adalah untuk “meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dengan cara memadukan materi akademik dengan pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan, memadukan pembelajaran berbasis sekolah dan pembelajaran berbasis pekerjaan, dan membangun hubungan yang efektif antara pendidikan menengah lanjutan dan menengah atas”. (Gray & Herr, 1995, h.139).
Pada 1997, Kantor School-to-Work Office yang dijalankan secara bersama-sama oleh Departemen Pendidikan dan Tenaga Kerja Amerika Serikat, menyediakan kira-kira 700 juta dolar untuk membantu negara-negara bagian dan komunitas untuk merancang ulang sistem pendidikan mereka (School-to-Work Report, 1999). Jenis-jenis kemitraan dan strategi imajinatif yang dibangun oleh SWOA 1994 akan dijelaskan dibawah ini. Kemitraan dan strategi imajinatif yang dimaksud meliputi pembelajaran berbasis-pekerjaan (work-based learning), pembelajaran berbasis-sekolah (school-based learning) dan sekolah menuju jalur karier (school-to-career pathways).

5.1 Pembelajaran Berbasis-Pekerjaan

“Pembelajaran berbasis-pekerjaan” terjadi ditempat kerja. Sebagian pengalaman pembelajaran berbasis-pekerjaan hanya ditunjukan agar anak-anak sekolah dasar tahu bagaimana orang dewasa bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Tujuan lainnya adalah untuk mengajarkan mata pelajaran akademik yang berat dan keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan karier seperti keterampilan berbicara, menulis, pemikiran kritis, dan membuat keputusan. Beberapa jenis pembelajaran berbasis-pekerjaan:
Kunjungan (darmawisata): Sekelompok siswa menghabiskan 1 atau 2 jam mengunjungi tempat kerja untuk melihat bagaimana pekerjaan dilaksanakan.
Membayangi pekerjaan: Selama 2 jam sampai beberapa hari, seorang siswa dipasangkan dengan seorang pegawai. Sedikit sekali siswa sekolah menengah yang tahu bagaimana sebuah bisnis atau industri dijalankan. Membayangi pekerja membantu mereka mengetahui apa yang terjadi di dunia bisnis, termasuk bagaimana seharusnya sikap seorang pegawai di perusahaan. Kadang-kadang pegawai dari perusahaan yang bersangkutan dan guru para siswa bertemu dan berunding untuk merencanakan sasaran pembelajaran yang akan didapatkan para siswa dari program ini.
Kerja praktik: Para siswa menyibukkan diri di tempat kerja selama 2 minggu atau lebih. Mereka belajar langsung dari pengalaman kerja yang terencana tentang bisnis atau industri. Sebagai contoh, seorang siswa kelas 11 magang di rumah sakit. Ia memandikan, menerima panggilan pasien, bergiliran jaga disemua bagian di rumah sakit, dan dari pengalaman ini ia bisa menyimpulkan apakah ia ingin menjadi seorang dokter. Tujuan kerja praktik bisa berupa mengetahui tugas-tugas khusus yang dilakukan pegawai selain keterampilan pribasi dan pengeatahuan akademik yang harus mereka miliki agar dapat menjalankan pekerjaan mereka dengan baik.
Program magang: Program magang memberikan pelatihan keterampilan kerja dengan cara menggabungkan pemeblajaran di kelas dengan pelatihan ditempat kerja. Magang memperkukuh pelajaran akademik yang diterima siswa. Program magang ini disponsori oleh pemimpin perusahaan, sekelompok pemimpin perusahaan, atau oleh komite program magang tenaga kerja. Para siswa dan pegawai bekerja bersama untuk menggabungkan materi akademik dengan standar keterampilan industri untuk menciptakan pengalaman belajar yang luas bagi siswa (Northweat Regional Educational Laboratory, 1996).
Dari sekolah menuju karier: Jalur karier adalah pengalaman kerja terstruktur yang menyatukan pelajaran di kelas dengan pekerjaan. Jalur karier memadukan kurikulum sekolah dan pengalaman kerja menjadi program yang rapi dengan tujuan yang jelas. Didesain sebagai alternatif bagi lingkungan yang memberikan banyak tawaran, tetapi tanpa tujuan jelas, yang mendominasi para siswa alasan penting untuk mempelajari mata pelajaran akademik dan memperoleh keterampilan pribadi. Teori dan praktik diramu dengan menempatkan ruang kelas dalam konteks dunia nyata (Office of Professional Technical Education, 1997).

5.2 Dari Sekolah Menuju Karier

Banyak sekolah menengah di Amerika Serikat diatur dengan cara membagi institusi utama menjadi lingkungan belajar terpisah. Ada lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan lingkungan berupa jalur sekolah kekarier. Dari kesemua lingkungan belajar ini, jalur sekolah kekarier mendapatkan pengakuan yang luas. Jalur karier merupakan sebuah area yang berisi berbagai pilihan karier yang spesifik. Pelayanan masyarakat, ilmu pengetahuan alam, teknik, kesehatan, komunikasi, dan bisnis merupakan jalur yang cukup dikenal. Di negara-negara bagian yang mewajibkan adanya jalur karier, beberapa diantaranya meminta sekolah-sekolah untuk menawarkan jalur karier yang spesifik, dan yang lain hanya merekomendasikan. Sastra dan komunikasi, pelayanan kesehatan, sistem industri dan teknik, bisnis dan manajemen, sumber daya manusia, dan sistem sumber daya alam merupakan jalur yang disarankan oleh Departemen Pendidikan Oregon, sekolah-sekolah boleh menggunakan satu jalur atau lebih, atau mereka boleh menggabungkan jalur tersebut dengan cara mereka sendiri.
Memilih sebuah jalur berarti mengambil pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan kesempatan kerja tertentu. Sebagai contoh, siswa kelas sembilan dan sepuluh mengambil mata pelajaran yang berhubungan dengan jalur karier mereka. Siswa kelas sebelas dan sepuluh belajar ditempat kerja dan juga di kelas.
Sistem CTL mensyaratkan agar saat berada ditempat kerja, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang penuh makna. Pengalaman-pengalaman ini memotivasi mereka untuk mencapai standar akademik yang tinggi, melakukan penilaian atas tugas-tugas yang mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan mampu mempertunjukkan keterampilan tingkat tinggi yang berhubungan dengan karier yang mereka pilih seperti pemikiran kritis dan kreatif, berkolaborasi dan mau menerima saran penasihat. Saat siswa belajar di tempat kerja, secara bersamaan mereka menemukan minat mereka sendiri, mengetahui apa yang dapat mereka kerjakan dengan baik, dan mencapai standar akademik tinggi yang membuka pintu keperguruan tinggi atau pekerjaan yang menjanjikan (Gray & Herr, 1997). Seorang siswa di jalur karier pelayanan di bidang kesehatan, misalnya, boleh memutuskan untuk mendaftar pada program teknisi laboratorium selama 2 tahun atau mengikuti sekolah kedokteran. Jalur karier berlaku untuk semua siswa. Untuk membangun jalur karier, metode-metode berikut ini telah terbukti sangat membantu.


Proses CTL untuk Membangun Jalur Karier

1. Sekolah dan bisnis bersatu-pasu menciptakan sebuah rencana pembelajaran. Jalur karier harus direncanakan dengan hati-hati untuk memenuhi kebutuhan bersama dari sekolah dan bisnis. Rencana tersebut haru secara maksimal memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang ada ditempat kerja sekolah. Para guru, pemimpin bisnis, pegawai, orang tua, dan siswa perlu karier dan harus bertemu secara rutin saat program yang diinginkan mulai terlihat gambarannya.
2. Para pebisnis dan pendidik bekerja bersama untuk menentukan tujuan akademik, sasaran-sasaran yang hendak dicapai di tempat kerja, dan sasaran-sasaran yang berhubungan dengan karier. Tujuan utama dari jalur karier adalah untuk mengajarkan materi akademik dengan konteks tempat kerja. Para guru dan pegawai perusahaan harus bekerja sama untuk mengembangkan sebuah pengalaman kerja yang memadukan materi akademik ke dalam keseluruhan aspek pengalaman kerja siswa. Untuk mencapai tujuan ini, para guru mengunjungi tempat kerja untuk mempelajari bagaimana pekerjaan bekerja. Mereka belajar memahami bagaimana perusahaan menggunakan mata pelajaran akademik. Dengan semangat kerja sama yang sama besarnya, para pegawai mengunjungi sekolah menengah atas untuk belajar lebih banyak dari para guru mengenai standar akademik yang diharapkan akan dicapai oleh para siswa. Dengan cara ini, sekolah dan perusahaan membuat tujuan belajar akademik yang jelas sambil meningkatkan rasa saling pengertian.
Pegawai di perusahaan dan pendidik bekerja bersama mengidentifikasi dan membuat siswa dasar tentang standar yang berhubungan dengan karier atau standar keterampilan industri yang harus dicapai oleh bidang tersebut. Para pemimpin perusahaan dan pendidik sering bertemu untuk mendiskusikan seberapa baik para siswa memenuhi standar tersebut.
3. Para pemimpin perusahaan dan pendidik menentukan penilaian yang akan mereka gunakan untuk menentukan tingkat kecakapan para siswa. Hanya dengan standar yang tinggilah, para siswa memiliki pilihan pada abad ke-21. Oleh karena itu, sangat penting bagi pegawai dan guru untuk mengevaluasi kemajuan siswa sesuai dengan standar akademik dan standar karier. Prestasi para siswa ditentukan dengan cara menilai seberapa baik para siswa menjalankan tugas yang dibebankan. Tingkat prestasi bisa digambarkan dalam bentuk angka.
4. Para pemimpin perusahaan memperlihatkan seluruh aspek bisnis dan industri kepada para siswa. Dengan mempelajari bagian-bagian perusahaan yang berbeda-akuntansi, pemasaran, hubungan masyarakat, pembelian, pemeliharaan, layanan pelanggan, reproduksi-para siswa menggunakan pemikitan tingkat tinggi saat mereka menganalisis sifat dari keseluruhan kegiatan tersebut secara sistematis. Para siswa belajar apakah kegiatan perusahaan yang berbeda-beda menarik minat mereka, dan mereka mengetahui keterampilan akademik yang harus dimiliki para pegawai di berbagai macam departemen. Belajar mengenai keseluruhan perusahaan menunjukkan kepada para siswa tidak hanya bagaimana sebuah organisasi berfungsi, tetapi juga bagaimana bisnis dan insutri menentukan konteks kehidupan pegawai mereka.
5. Para pemimpin perusahaan menyediakan mentor bagi para siswa. Seorang mentor di tempat kerja menghindarkan siswa dari perasaan bingung dan kewalahan. Mentor adalah seorang pegawai yang memberi siswa instruksi dan perhatian, bukan hanya karena tugas, melainkan atas dasar keikhlasan untuk mengajari siswa asuhnya meraih keberhasilan. Mentor tersebut mengajari para siswa cara melakukan pekerjaan, memecahkan masalah, dan menilai kemajuan dan kemampuan siswa. Sebagian tugas dari mentor ini adalah membantu siswa tersebut menjadi seseorang yang dapat mengarahkan diri mereka sendiri saat mereka membuat keputusan dan menerima tanggung jawab. Seminggu sekali, mentor bertemu dengan siswa untuk meninjau dan menjawab pertanyaan mengenai pekerjaan selama seminggu terakhir dan pekerjaan yang akan datang. Para mentor memerhatikan dengan saksama kekuatan dan kelemahan para siswa dan memberikan nasihat dan bantuan serta dorongan. Mentor secara rutin bahkan sering bertemu dengan guru untuk membicarakan kemajuan siswa.
6. Personel utama baik dari perusahaan maupun sekolah turut mengawasi program yang dijalankan. Penanggung jawab bisnis dan sekolah bertanggung jawab untuk memastikan bahwa sebuah jalur karier sesuai dengan minat para siswa. Para penanggung jawab ini memastikan bahwa standar akademik dan tempat kerja sudah jelas dan sesuai, dan mereka memastikan para pegawai dan guru dengan sungguh-sungguh menuntun siswa untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka juga mengawasi para penasihat untuk memastikan bahwa semua siswa mendapatkan nasihat yang memadai (Hamilton & Hamilton, 1997).

Sebuah contoh dari jalur karier dapat dilihat di Genesee County, Michigan. Di sini, sekolah menengah bekerja sama dengan industri kesehatan setempat menyediakan sebuah jalur karier yang berharga bagi para siswa. Untuk mendesain sebuah jalur karier, para wakil dari semua sekolah menengah atas bertemu dengan para wakil industri dari tiga rumah sakit dan tujuh panti asuhan untuk menentukan apa yang harus diketahui dan harus bisa dilakukan oleh para siswa karena memilih jalur karier di bidang kesehatan. Para pemimpin perusahaan mengajarkan standar yang berlaku di tempat kerja kepada sekolah-sekolah, termasuk hal-hal seperti pakaian, kehadiran, sikap, tingkah laku, dan keterampilan khusus. Para guru melatih para pemimpin perusahaan mengenai teknik memberikan nasihat kepada para siswa dan membantu mereka memahami standar akademik yang harus dipenuhi. Bersama-sama mereka menentukan jenis jenis pekerjaan yang sesuai dengan semua siswa, termasuk para siswa dengan kebutuhan khusus. Dari awal telah dipahami bahwa para siswa harus patuh pada standar atau mereka akan dikeluarkan dari program.
Para siswa yang berhasil dengan baik di jalur karier Bidang Kesehatan ini sebagian karena mereka telah dipersiapkan dengan baik. Di kelas 9 dan 10, para siswa Genesee County telah meng¬adakan penyelidikan tentang kemungkinan karier yang bisa mereka ambil dan mendapatkan dasar akademik yang kuat. Mereka telah belajar mengenai berbagai macam pekerjaan kesehatan melalui bayangan pekerjaan dan kerja praktik. Setelah memasuki tempat kerja pada saat mereka duduk di kelas 11, para siswa mengambil kelas akademik sesuai dengan pengalunan bekerja yang telah mereka dapatkan. Hubungan antara sekolah dan kerja ini memberi konteks belajar yang jelas dan serius.
Jalur karier memberi siswa dorongan untuk mencapai standar akademik yang tinggi. Jalur karier memberi siswa alasan untuk mengubah perilaku. Hubungan antara sekolah dan pekerjaan yang penuh makna mendorong pertumbuhan dan memberi kekuatan pada siswa, sehingga mereka menjadi aktif, menjadi kontributor yang dapat mengarahkan diri sendiri bagi pertumbuhan dan pengembangan diri sendiri (Gray & Herr, 1995).

5.3 Pembelajaran Berbasis Sekolah
Pembelajaran berbasis sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat kelja, bukan perusahaan atau industri. Usaha yang dikelola dan dijalankan siswa di sekolah bukanlah sunulasi. Usaha tersebut nyata dan secara ekonomi harus bertahan hidup. Rekanan bisnis lokal sering memberi para siswa nasihat tentang menjalankan sebuah usaha berbasis sekolah, dan sering kali mereka mensponsori usaha tersebut. Sekolah memberikan instruksi akademik dan profesional-teknis yang dapat dijalankan usaha tersebut. Misalnya, dalam pelajaran matematika bisa diajarkan konsep yang dapat membantu para siswa dalam menentukan biaya persediaan atau pengeluaran dalam proses manufaktur. Kelas bahasa dan sastra mungkin meng-ajarkan bagaimana menulis materi pemasaran, mempersiapkan, penjelasan tugas setiap karyawan, dan menyusun pertanyaan untuk wawancara kerja (Oregon Department of Education, 1998).
Selain kegiatan usaha berbasis sekolah yang sudah dikenal seperti buku tahunan dan koran sekolah, usaha-usaha baru terus bermunculan. Bank yang dikelola oleh sekolah, pabrik kue, seni berkebun, dan konsultasi masalah komputer adalah contoh-contoh kecil dari usaha berbasis sekolah yang kelihatannya bermunculan di seluruh negara. Di salah satu sekolah menengah di Oklahoma, misalnya, para siswa telah menjalankan usaha komputer mereka sendiri selama lebih dari 3 tahun. Para siswa memberi nasihat kepada orang baru di bidang komputer mengenai komputer dan perangkat lunak sesuai dengan kebutuhan mereka. Para siswa juga mengajari orang-orang bagaimana menggunakaii berbagai macam perangkat lunak. Para siswa juga menyelesaikan beberapa masalah seperti mengembalikan dokumen yang terha-pus atau printer yang rusak.
Di Twin Falls High School di Twin Falls, Idaho, restoran yang dikelola siswa menawarkan contoh bagus bagaimana kerja sama sekolah dengan masyarakat dapat menciptakan usaha berbasis sekolah yang membantu semua siswa mengembangkan potensi mereka. Pada 1998, Leile Poppleton, guru Family and Consumer Sciences serta Pat Thornsberry, guru Bisnis dari Twins Falls High School memutuskan untuk mendirikan restoran yang dikelola siswa. Tujuan mereka adalah memberikan kesempatan langsung bagi para siswa untuk belajar materi yang diajarkan guru-guru tersebut di kelas mereka masing-masing. Kerja sama kedua guru tersebut menghasilkan sebuah tim yang mengajarkan mata pelajaran pilihan "Keramah Tamahan Bisnis" yang terbuka bagi para siswa yang berhasrat untuk belajar materi akademik dan materi yang berhubungan dengan karier dengan cara mengelola sebuah restoran. Mata pelajaran ini menarik minat siswa yang berniat melanjutkan ke universitas dan ingin tahu bagaimana sebuah perusahaan dikelola, para siswa yang berencana mendapatkan gelar D-2 dalam seni memasak, dan mereka yang berencana untuk langsung terjun ke dunia kerja setelah lulus sekolah menengah atas.
Banyak rekanan telah memberi dukungan yang tak ternilai pada usaha ini. Misalnya, Akuntan Publik lokal merekomendasikan program perangkat lunak yang mengajar para siswa mencatat pembukuan perusahaan. Seorang juru masak terkenal di Sun Valley Resort dengan baik hati menjelaskan berbagai jenis pekerjaan, peralatan, dan daftar makanan yang sesuai untuk restoran sekolah dan mengundang para siswa untuk menghadiri sebuah demonstrasi makan siang. Instruktur seni memasak di The College of Southern Idaho menawarkan dukungannya, begitu juga Direktur Program Pengembangan Perusahaan Kecil, yang membantu para siswa menulis rencana bisnis. Guru-guru Twin Falls High School juga menjadi rekanan dengan menghubungkan mata pelajaran mereka dengan usaha restoran tersebut. Jurusan seni membuat sebuah papan besar bertuliskan restoran “The Hungry Bear”. Kelas matematika menggambar rancangan denah yang diminta oleh Departemen Kesehatan dan kelas bahasa Inggris mengedit materi tertulis dari restoran.
Restoran “The Hungry Bear”, yang benar-benar dapat berjalan sendiri, beroperasi pada hari Rabu dan juga melayani makanan untuk acara-acara khusus. Selama empat hari saat restoran tidak buka, siswa-siswa yang mengelolanya menghadiri kelas Keramah-tamahan/Bisnis yang diajarkan oleh tim guru. Tujuan dari mata pelajaran tersebut termasuk hal-hal seperti menguasai prinsip-prinsip akuntansi, mempelajari strategi pemasaran untuk mempromosikan sebuah perusahaan, mengetahui aspek hukum dan etika dalam mengelola sebuah perusahaan, mempelajari hukum pajak, dan mengelola sebuah perusahaan, mempelajari hukum pajak, dan memahami bagaimana menggunakan perangkat lunak khusus. Mereka juga menyimpan portofolio pekerjaan berisi resume, surat lamaran, dan materi yang dipilih siswa. Untuk melengkapi hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengelola sebuah perusahaan, diberikan pula tujuan-tujuan dalam memilih, menyiapkan dan menyajikan makanan, para siswa dengan cepat mengetahui bahwa kepiawaian dalam matematika, menulism, berbicara, dan mendengarkan, serta kemampuan mengumpulkan dan menerjemahkan informasi, menggunakan teknologi dan bekerja sama dengan orang lain sangat diperlukan agar sukses di dunia kerja.
Canby High School di Canby, Oregon, juga memiliki sebuah usaha berbasis sekolah. Perusahaan mereka menggunakan bioteknologi untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk perikanan, hidroponik, aquaponik, dan tissue culture Proyek tersebut dimulai pada 1993 saat jurusan Pertanian dan Biologi sekolah menengah tersebut bergabung untuk mengajarkan siswa pengembangbiakan dalam air, hidroponik, tissue culture, dan aquaponik, yang merupakan ruang lingkup biotek-nologi. Menyadari bahwa metode tradisional dalam menyediakan makanan dan serat tidak cukup bagi bumi kita yang kelebihan penduduk, fakultas mengundang para siswa untuk mengadakan penelitian guna menemukan metode alternatif untuk menambah makanan dan serat dengan menggunakan teknologi maju.
Proyek mereka "Alternative Growing Biological Environment (AGBE) ", disatukan dengan sebuah kelas bernama "AGBE: Bioteknologi Terapan, Penerapannya dalam Sumber Daya Alami". Kelas ini, yang menggabungkan biologi, matematika, pemasaran, dan pertanian, sangat penting bagi AGBE, sebuah proyek bagian dari pendidikan hidroponik dan aquakultur. Dalam usaha izu, para siswa juga menerapkan pengetahuan akademik dari mata pelajaran lain, tentang cara menanam, memelihara, mengawasi, memanen, mengiklankan, dan memasarkan produk-produk seperti daun selada, stroberi, daun basil, dai.ui mint, daun peterseli, tomat, merica, mawar yang dikembangkan secara tissue culture, daun pakis, Cape Sundew, Hosta, Venus fly trap, dan Tilapia (ikan air tawar). Mereka mengembangbiakkan sendiri ikan-ikan Tilapia. Setelah berhasil menetaskan hampir 4.000 ikan dari telur-telur yang diambil dari persediaan sendiri, mereka berhasil menciptakan pasar sendiri untuk bibit ikan itu.
Sejauh ini, bermacam rekanan telah memperkuat bisnis yang menyediakan hasil panen yang bernilai ini dan juga nasihat ahli tentang bioteknologi. Sekarang, peralatan yang dimiliki Canby High School terdiri dari 5.000 galon tangki aquakultur, lebih dari 200 kaki persegi kebun pengembangbiakan hidroponik dan aquaponik, sistem penetasan salmon, laboratorium pengembangbiakan mikro yang mengkhususkan diri pada pengembangbiakan planttissue, dan sebuah laboratorium dengan tempat untuk perkawinan dan sterilisasi.
Potensi siswa untuk meraih sukses lewat usaha berbasis sekolah ini tampak dalam tanggapan siswa terhadap pertanyaan mengenai proyek AGBE berikut ini. Saat ditanya mengapa mereka menikmati proyek AGBE, para siswa berkata, AGBE memberi kami kesempat untuk belajar sendiri dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada dibuku “Kami memiliki waktu untuk mengerjakan proyek." "Mudah sekali mempelajari ilmu biologi dan matematika kalau kita melihat penerapannya di dunia nyata." "Kami punya kebebasan dalam melakukan kegiatan." "Kami adalah guru bagi diri kami sendiri."
Saat ditanya apakah keterampilan akademik mereka meningkat akibat usaha ini, para siswa berkata, "Saya mendapatkan pemahaman dan pengalaman langsung dan mendalam. " "Kelas ini telah mengajarkan saya fisika dasar." "Kami bisa memahami apa yang sedang kami pelajari karena kami melalcukannya." "AGBE benar-benar mengajarkan matematika dalam situasi sehari-hari. " "Bagi saya lebih masuk akal melihat berbagai mata pelajaran diaplikasikan dalam hal-hal nyata yang saya kerjakan. Pekerjaan langsung merupakan cara untuk menerapkan ilmu dan menyaksikan manfaatnya. "
"Saya telah belajar berbicara di depan umum tanpa merasa gugup. Saya telah belajar keterampilan memimpin. "Sebagian besar siswa mengatakan bahwa mereka telah belajar menyelesaikan masalah dan "keterampilan bekerja sama dalam tim" dan telah belajar merasakan bagaimana bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri (AGBEResearch Question: Student Responses, n.d.).3s

6. Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Sebelum mendiskusikan manfaat KKN, pertama-tama perlu dibicarakan dua hal yang mungkin menjadi sumber kesalah pahaman. Pertama, "KKN" tidak sama dengan "kerja bakti". Tujuan utama dari kerja bakti adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain; pembelajaran akademik apa saja yang mungkin muncul dari kegiatan itu hanyalah kebetulan saja. Tujuan utama dari KKN adalah untuk memperoleh pembelajaran akademik tertentu pada saat membantu orang lain. Pelajaran akademik direncanakan dengan sangat hati-hati. Yang kedua, KKN bukanlah sebuah program. Sebaliknya, KKN adalah metode CTL yang sesuai untuk semua guru mata pelajaran.
KKN adalah metode pengajaran yang luar biasa karena hanya metode ini yang dengan sengaja mengajar manusia bertanggung jawab atas kesejahteraan orang lain dan planet mereka. Hanya KKN lah yang secara eksplisit memberi siswa kesempatan langsung untuk belajar kasih sayang saat mereka belajar kimia. KKN mengajarkan tidak hanya keahlian akademik dan kepandaian teknik yang dibutuhkan untuk membangun sebuah rumah, tetapi juga memerhatikan orang-orang yang membutuhkan rumah tersebut. Metode ini mengajarkan kepada siswa bahwa mereka bertanggung jawab tidak hanya pada diri mereka sendiri, tetapi pada konteks mereka sebagai seorang manusia yang berada di dalam sebuah jaringan keterkaitan yang menyatukan mereka dengan semua hal.
Karena kerja nyata menghubungkan pelajaran akademik dengan proyek dunia nyata, maka ini sesuai dengan cara kerja otak. Apa yang membuat seseorang pandai? Selama bertahun-tahun, kita berpikir bahwa kepandaian sudah dibentuk di dalam kandungan. Tetapi sekarang, penelitian tentang otak memberi tahu kita bahwa kepandaian tumbuh karena pengalaman-pengalaman yang membentuk otak. Ketika pengalamam siswa memungkinkan mereka menemukan makna dalam pelajaran akademik, pelajaran tersebut membentuk jalur saraf di otak mereka. Otak menyimpan pelajaran tersebut. Saat pengalaman siswa menginspirasi mereka untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, memunpin, berbicara di depan umum, dan bekerja dalam tim, saraf mereka membangun hubungan yang mengukir keterampilan-keterampilan tersebut dalam otak. Selanjutnya, saat pengalaman siswa mengajarkan mereka untuk peduli kepada orang lain dan bumi, pelajaran itu juga menjadi tertanam di jalur dan sirkuit otak. Peduli kepada orang lain menjadi suatu kebiasaan.
KKN mengajarkan bahwa kita dari segi etika berkewajiban memerhatikan kesejahteraan orang lain. Metode ini mengajarkan penggunaan ilmu pengetahuan dengan penuh kasih sayang dan perlindungan terhadap lingkungan. Karena proyek KKN menghubungkan setiap siswa dengan orang lain dan dengan konteks mereka, maka proyek seperti itu memperkuat masyarakat secara ke-seluruhan: Sebagai contoh, mencoret-coret tembok dan pencurian di toko menurun, saat siswa berusaha untuk memberi manfaat bagi orang lain, dan rasa hormat menggantikan kecurigaan saat orang dewasa bekerja sama dengan para siswa. Semua orang mendapat manfaat dari KKN yang menggabungkan tujuan akademik dan tujuan memberi layanan. Untuk mengembangkan sebuah proyek KKN, proses berikut ini telah terbukti efektif.

Proses untuk Mengembangkan Sebuah Proyek KKN

1. Ajar kan kepada siswa Anda apa yang dimaksud dengan KKN dan tnengapa program ini penting. Kirimkan informasi mengenai KKN kepada orangtua mereka.
2. Identiftkasi tujuan akademik yang harus dipenuhi dalam pelajaran ini, dan pastikan tujuan tersebut sesuai dengan standar luar yang dibuat oleh negara dan badan-badan pendidikan nasional. Putuskan tujuan mana yang mungkin paling pas diajarkan melalui KKN.
3. Memilih proyek. Anda boleh memilih satu proyek untuk seluruh lcelas. Atau, Anda boleh membagi para siswa menjadi kelompok-kelompok dan biarkan setiap kelompok memilih sebuah proyek KKN. Memilih proyek yang sesuai sering kali termasuk menghubungi anggota masyarakat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan. Para siswa yang lebih tua boleh menyelidiki sendiri dan menemukan proyek yang membutuhkan perhatian mereka. Sebelum menjalankan KKN, penting untuk mengetahui bagaimana kegiatan tersebut akan membantu para siswa memenuhi tujuan belajar di kelas.
4. Lakukan persiapan. Sebelumnya berilah para siswa ber¬bagai keterampilan dasar yang bisa membantu mereka. Misalnya, pelatihan tentang pemecahan masalah, sopan santun dalam bertelepon, kerja tim, teknik wawancara, dan pemikiran kritis mungkin membantu para siswa.
5. Menyampaikan hasil. Hasil dari proyek KKN merupakan bukti autentik dari apa yang diketahui dan dapat dilakukan para siswa. Hasil autentik tersebut bisa berwujud dalam berbagai bentuk termasuk, misalnya, taman, presentasi menggunakan alat-alat peraga, atau kamar yang baru dicat di panti jompo.
6. Dorong para siswa untuk merenungkan proyek mereka sepanjang proses dan sering-seringlah bertemu dengan mereka untuk mendapatkan umpan balik dari mereka.

Pengalaman membuktikan bahwa KKN adalah sebuah strategi efektif untuk mengajarkan isi pendidikan. Contoh-contoh dari KKN berikut ini menunjukkan bahwa saat siswa diberi wewenang untuk melakukannya, mereka akan menguasai isi akademik yang rumit untuk membentuk konteks, sekolah, lingkungan, atau daerah mereka. Siswa akan bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan akademik yang mereka butuhkan untuk membantu orang lain.


Contoh-Contoh Proyek KKN
Siswa kelas empat di sebuah sekolah di California sedang belajar menulis. Mereka belajar mengenai seorang penduduk asli Amerika berusia 78 tahun yang sudah tak bisa ke mana-mana dan tinggal di pesisir pantai di daerah mereka punya cerita yang sangat menarik mengenai proses tumbuh dewasa di daerah tersebut. Siswa-siswa ini sepakat bahwa akan sangat menyenangkan menulis cerita pria tua tersebut dan memberikannya pada perpustakaan setempat. Karena sudah mantap dengan proyek ini, siswa-siswa tersebut bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, menyusun pertanyaan wawancara yang mereka bahas dengan teman sekelas. Para siswa kemudian memilih pertanyaan-pertanyaan yang paling mereka sukai, mengurutkan pertanyaan-pertanyaan tersebut secara logis, mengetiknya dengan komputer, dan mengirimkannya kepada pria tersebut yang telah setuju untuk diwawancarai. Saat hari wawancara tiba, anak-anak tersebut mengunjungi rumah orang tua itu, tempat dia tinggal dengan keluarga besarnya. Dua orang siswa mengajukan pertanyaan, yang lain menulis jawaban, dan satu anak merekam ceritanya. Saat mereka kembali ke sekolah setelah wawancara, para siswa menulis surat terima kasih dan di dalamnya mereka menyebutkan hal-hal terbaik yang telah mereka pelajari dan menyiapkan informasi untuk perpustakaan. Proyek ini mengajarkan anak-anak mengenai pengolalah kata, berbicara, mendengarkan, dan keterampilan menulis, dan juga bagaimana mengatur, membuat prioritas dan bekerja sama. Selain itu, proyek tersebut mengajarkan mereka rasa kasih sayang dan hormat kepada orang yang lebih tua.
Tillamook Junior High School sangat mahir dalam menghubungkan isi pendidikan dengan konteks dari proyek-proyek yang bersentuhan dengan kehidupan bermasyarakat. Bahkan, KKN memperbaiki nilai ilmu pengetahuan dan matematika dalam tes standardisasi. Jill Sunullerlin, seorang guru matematika, menjelaskan bahwa semua siswa kelas tujuh diminta untuk mengambil Matematika Umum, dan semua guru Matematika Umum mengikut sertakan para siswa ke berbagai proyek KKN yang memungkinkan mereka untuk belajar matematika. Selama tiga tahun terakhir, siswa kelas tujuh di Tillamook Junior High School membantu membangun lima rumah untuk Habitat for Humanity. Habitat for Humanity adalah lembaga nirlaba yang membangun rumah untuk keluarga-keluarga yang kurang mampu dengan memanfaatkan tenaga sukarelawan. Dalam proses membangun rumah ini, mereka belajar menghitung berapa banyak cat yang dibutuhlcan untuk mengecat bagian dalam rumah dengan mengukur secara akurat jendela-jendela dan pintu-pintu serta menentukan luas dan garis keliling ruangan. Mereka mengecat sendiri lapisan utama pada dinding bagian dalam. Siswa-siswa tersebut juga telah menghitung berapa banyak penyekat yang dibutuhkan oleh sebuah rumah, berapa besar atap untuk sebuah rumah, berapa banyak kayu yang diperlukan untuk membuat pot-pot bunga, dan biaya dari setiap proyek. Mereka telah membuat pot-pot bunga dan mengisinya dengan bunga-bunga. Mereka juga telah menghitung berapa banyak semen yang diperlukan untuk membangun trotoar dan cara membuat fondasi.
Para siswa kelas delapan di Tillamook Junior High School juga telah terlibat dalam KKN. Bekerja sama dengan Departemen Kehutanan Amerika Serikat, misalnya, mereka belajar melakukan analisis statistik dengan memeriksa daerah hutan untuk menentukan berapa banyak "snag" (pohon yang berdiri tegak, tefapi dalam tahap rusak) dan "pohon yang sudah roboh", sisa-sisa pohon yang tergeletak di tanah harus tetap berada di tempatnya untuk menyediakan habitat yang cukup layak bagi kehidupan liar. Mereka memberikan hasil dari penelitian lapangan mereka pada Departemen Kehutanan.
KKN di Tillamook Junior High School menunjukkan bahwa para siswa mempunyai kemampuan luar biasa untuk mencapai standar pendidikan dan standar etika yang tinggi jika mereka melihat mengapa hal yang mereka lakukan itu penting. Hal yang sama ditunjukkan oleh KKN di South Salem High School. Di South Salem High School, para siswa junior yang mengambil kesusastraan mengembangkan proyek KKN yang menghubungkan mata pelajaran ini dengan masyarakat. Pada bulan September, kelas kesusastraan Pam Johnson melihat sebuah video yang menggambarkan KKN dan manfaatnya sebagai sebuah metode pengajaran. Sesudahnya, para siswa membawa pulang sebuah surat yang menjelaskan tentang KKN dan mengundang para orangtua untuk menghubungi guru yang bersangkutan apabila mereka memiliki pertanyaan. Setelah itu, pertemuan pada hari Jumat disediakan untuk kegiatan KKN. Dalam kesusastraan Amerika, motif yang berulang-ulang muncul adalah "penghormatan terhadap alam". Motif ini menjadi dasar dilakukamlya KKN di kelas ini. Para siswa mencari sendiri sebuah proyek yang akan memberikan pengaruh positif pada alam-tanah, udara, air, atau hewan. Dari proyek-proyek kecil hingga yang ambisius semuanya dapat mencapai tujuan ini.
Salah satu proyek dalam kelas itu adalah proyek "Paws and Claws" yang dilaksanakan oleh lima siswa. Proyek ini relatif sederhana, tetapi mempunyai pengaruh yang kuat. Para siswa tersebut mengetahui bahwa kelompok pencinta hewan setempat memerlukan makanan dan mereka menjadikan proyek tersebut sasaran mereka. Kelompok tersebut menelepon perusahaan-perusahaan di wilayah itu untuk mengumpulkan sumbangan. Mereka juga bekerja sama menyusun sebuah surat yang menjelaskan siapa mereka, apa yang sedang mereka pelajari, keprihatinan mereka terhadap memburuknya kondisi kelompok pencinta hewan, dan kebutuhan mereka akan sumbangan. Kemudian, mereka menggunakan Internet untuk mencari perusahaan di seluruh Amerika Serikat yang sudi menyumbangkan uang atau makanan pada kelompok pencinta hewan. Mereka mengirimkan surat edaran pada perusahaan tersebut dan, hasilnya, mereka menerima sumbangan dalam jumlah besar. Sebagai contoh, pabrik makanan hewan peliharaan mengirimkan mobil semi trailer ke sekolah memuat 1.000 pon makanan hewan, dan sebuah jaringan supermarket mengirimi mereka voucher untuk membeli makanan hewan di toko setempat.
Setelah menyelesaikan proyek KKN, mereka masing-masing, setiap kelompok di kelas kesusastraan Pam Johnson, kemudian harus menyiapkan sebuah makalah penelitian yang menghubungkan fakta-fakta proyek KKN mereka dengan tradisi panjang peng-hormatan pada alam yang dijelaskan dalam kesusastraan Amerika. Dalam makalah ini, mereka menjelaskan proyek mereka sendiri kemudian memberikan penjelasan tambahan dengan menyebutkan bagian-bagian dan kejadian-kejadian yang ada sangkut pautnya dengan karya sastra. Menerapkan kesusastraan dalam proyek KKN menyebabkan para siswa membaca dengan cermat dan mengingatnya.
KKN juga merupakan sebuah pendorong yang kuat untuk belajar menulis makalah penelitian. Dalam sebuah mata pelajaran penelitian setingkat perguruan tinggi, setiap siswa bebas untuk memilih topik penelitian, selama topik tersebut memberikan informasi penting yang bermanfaat bagi perseorangan atau masyarakat Setelah makalah selesai, para siswa membuat sebuah pamflet yang berisi ringkasan dari penemuan-penemuan penting dari penelitian. Setelah meneliti siapa saja dalam masyarakat yang mungkin mendapat manfaat setelah mengetahui informasi yang dituliskan dalam pamflet tersebut, para siswa mengirimkan pamflet kepada orang-orang tersebut. Makalah itu sendiri menjadi dokumen milik umum. Makalah itu disimpan di tempat yang dapat ditemukan dengan mudah oleh penduduk, yaitu di perpustakaan sekolah.
Hubungan antara KKN dan menulis sebuah makalah penelitian diilustrasikan oleh pengalaman seorang wanita muda yang melakukan penelitian tentang jam sekolah yang ideal yang sesuai dengan jam biologis remaja. Setelah meringkas kesimpulan utama dari makalahnya di sebuah pamflet, siswa peneliti tersebut mengirimkan pamflet itu kepada anggota dewan sekolah dan kepala sekolah. Hasilnya, dia diundang oleh ahli kurikulum daerah untuk duduk dalam panitia yang bertanggung jawab untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam jadwal sekolah menengah yang sudah ada.
Para guru dan siswa sama-sama,memuji KKN. Mereka memujinya karena KKN menghubungkan seseorang dengan orang yang lain dan dengan lingkungan mereka. Mereka memuji karena KKN membebaskan siswa untuk membangun keterkaitan yang menurut mereka berarti, untuk membuat sesuatu yang sudah ada lebih baik lagi. KKN menantang siswa untuk membentuk konteks, dan siswa dengan antusias bereaksi terhadap kesempatan tersebut (Kinsley & McPherson, 1995).
Halaman-halaman sebelumnya menunjukkan betapa kuatnya pengaruh pengaitan terhadap pembelajaran. Otak secara alami mencari makna; secara alami, otak sangat ingin membangun makna dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Sebagai pelengkap dari kegiatan otak, ada tiga prinsip alani semesta yang memanggil kita untuk mengenali secara naluriah tempat kita di dalam sebuah jejaring hubungan yang rumit. Prinsip-prinsip tersebut membuat kegiatan mengaitkan pelajaran akademik dengan dunia nyata menjadi sesuatu yang alami. Para guru yang sangat imajinatif dan berdedikasi di setiap tingkat pendidikan dari taman kanak-kanak sampai universitas sudah lama mengajak siswa mereka untuk belajar dengan cara alami ini dengan membangun keterkaitan-keterkaitan. Membangun keterkaitan untuk menemukan makna merupakan kunci utama dari sistem pengajaran dan pembelajaran kontekstual.
Guru-guru CTL membantu para siswa membangun keterkaitan dengan berbagai cara. Mereka menggabungkan pelajaran, wawasan siswa, dan proyek langsung untuk menjangkau sampai keluar dulding kelas. Ketika matematika disuntikkan ke dalam kelas praktik, konteksnya yang praktis memberi para siswa alasan yang jelas untuk mempelajari rumus-rumus matematika. Penggabungan mata pelajaran yang berbeda dalam satu-kesatuan mata pelajaran bisa diibaratkan seperti membebaskan pengetahuan dari kotak-kotak yang terpisah-pisah dan menunjukkan kesalingterkaitannya. Pembelajaran berbasis-pekerjaan dan berbasis sekolah memungkinkan para siswa untuk mempelajari materi akademik sambil mempelajari keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di tempat-tempat tertentu dan melihat bagaimana keseluruhan perusahaan atau industri bekerja. KKN mengajarkan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik untuk memperbaiki dunia mereka. KKN mengajarkan kepada mereka bahwa mereka sebagai umat manusia berkewajiban untuk bertindak dengan penuh rasa kasih sayang bagi kepentingan orang lain dan untuk mening¬katkan kesejahteraan masyarakat.

Kesimpulan: Mengaitkan-Sebuah Kegiatan Alami Manusia
Membangun keterkaitan untuk menemukan makna dapat meningkatkan pengetahuan dan memperdalam wawasan. Lebih jauh lagi, membangun keterkaitan memungkinkan kita memengaruhi konteks kita, yaitu dunia tempat kita tinggal. Seperti apakah seharusnya konteks ini? Haruskah konteks ini menoleransi kesalahan, mendorong keberanian untuk mengambil risiko, dan menghargai insiatif? Haruskah membangun hubungan menekankan kerja sama dan berbagi? Haruskah membangun hubungan menekankan pada keterbukaan dan integritas? Haruskah membangun keterkaitan berarti menghormati segala macam perbedaan? Siswa yang mengaitkan pelajaran dengan dunia mereka sehari-hari menjadi siswa.
Jangan Lupa berikan komentar Anda tentang blog ini, ataupun tentang posting ini.


About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top