Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Demi Kebangkitan Islam
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
Daftar Isi Daftar Isi..................................................................................................... 2 Kata Pengan...
Daftar Isi

Daftar Isi..................................................................................................... 2

Kata Pengantar........................................................................................... 4

Merubah Paradigma Salah........................................................................ 7

1. Pembaharuan Dalam Tuntunan Sunnah............................................7

Seorang Muslim Selalu Dituntut Berbuat Untuk Agama dan

Dunianya






.................................................................................................13

Siapa yang Telah Melakukan Pembaharuan? ...........................................14

Kapan Terjadinya Pembaharuan ................................................................22

Siapa Yang Menjadi Obyek Pembaharuan? ..............................................24

Apa Agama Masyarakat Yang Menjadi Target Pembaharuan?...............25

Makna Pembaharuan ..................................................................................26

Pembaharuan Dari Segi Keimanan ............................................................32

Urgensi Keimanan Dalam Kehidupan Kita................................................33

Kita Membutuhkan Pendidikan Keimanan ...............................................34

2. Ijtihad Dan Pembaharuan: Antara Standar Menurut Syari'at

Islam dan Tuntutan Zaman .............................................................. 36

Tertutupnya Pintu Ijtihad............................................................................39

Ruang Lingkup Ijtihad Ada Dua.................................................................42

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan..............................................................43

3. Islam Dan Kemajuan......................................................................... 55

Sikap Manusia Terhadap Perkembangan/Kemajuan...............................56

Kapan Masyarakat Islam Menghadapi Bahaya.........................................63

Mereka yang Mendewa-Dewakan Kemajuan Zaman Tidak Memiliki

Sikap Tertentu .........................................................................................64

4. Kedudukan Manusia Dalam Islam................................................... 66

Pembicaraan Tentang Pemikiran dan Arus Baru...................................76

1. Harus Ada Standar yang Dijadikan Tempat Merujuk.................... 76

Aliran, Kepercayaan Atau Agama yang Baru?..........................................82

Umat Ini Tidak Akan Musnah ....................................................................90

Karakteristik Satu-Satunya .........................................................................91





Page 3

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 3

Raksasa yang Berguncang ....................................................................... 96

1. Harapan Umar Atau Kebutuhan Kita pada Para Pejuang.............. 97

2. Kekuatan yang Tidak Terkalahkan ............................................... 102

3. Apakah Kita Beriman? .................................................................... 109

4. Tidak Ada Jalan Lain .......................................................................117

5. Islam: Seruan Untuk Menuntut Ilmu Dan Maju .......................... 121

Mereka yang Dengki Terhadap Islam..................................................... 122

Bebas Tuduhan Bila Tidak Ada Bukti...................................................... 122

Orang-orang yang Mencari Pembebasan dari Aib................................ 123

Solusi Islam: Menyeru Pada Dialog Ilmiah............................................. 124

Agama yang Benar Tidak Menentang Perkembangan .......................... 125

6. Perangilah Buta Huruf .................................................................... 127

Page 4

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 4

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah sepenuh langit dan bumi, sepenuh yang

dikehendaki Allah Swt. Shalawat dan salam semoga tercurah atas penutup

para nabi dan rasul, Muhammad Saw, juga tercurahkan pada keluarga,

para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga

hari kiamat.

Pembahasan dan makalah-makalah yang terdapat di dalam buku ini

ditulis dalam rentang waktu yang cukup berjauhan serta tersebar di

beberapa majalah yang berbeda-beda1.

Sebagian makalah ada yang tidak pernah terlupakan dari ingatanku.

Karena makalah-makalah tersebut ditulis, setelah saya bebas dari penjara

perang, di musim panas tahun 1956 M. Tulisan-tulisan itu dimuat dalam

majalah Mimbar Islam yang diterbitkan oleh Kantor Urusan Agama,

Departemen Wakaf Mesir.

Saya mengenakan nama Yusuf Abdullah dalam tulisan-tulisan itu.

Karena tulisan dengan menggunakan nama Yusuf Qardhawi, akan

mengundang pihak investigasi menghalangi langkah saya setiap saat. Pada

saat itu, saya dilarang untuk melakukan tugas pemerintahan di segala

bidang yang berhubungan dengan masyarakat. Seperti mengajar dan

dakwah, dua bidang yang merupakan keahlian saya.

Pada suatu ketika, saya datang untuk mengajar di Al-Azhar. Nama saya

merupakan nama yang berada dalam urutan pertama daftar nama dosen

pengajar. Nama saya terletak di dalam daftar nama dosen dari tiga fakultas

di Al-Azhar, yaitu fakultas Ushuluddin, Syari'at dan bahasa Arab. Namun

ketika nama-nama itu diajukan, pihak investigasi menghapus nama saya

dari daftar nama dosen pengajar.

Inilah yang mendorong saya untuk tidak mencantumkan nama yang

sebenarnya secara terang-terangan sehingga tidak menjadi perhatian

pihak-pihak yang menunggu kesempatan.

Di departemen agama urusan wakaf terdapat seorang pegawai

administrasi yang bernama Yusuf Abdullah. Makalah pertama yang

pertama berjudul “Harapan Umar”. Makalah ini telah tersebar atas nama

Yusuf Abdullah. Sementara itu Yusuf Abdullah menyangka bahwa salah

seorang syaikh seperti Syaikh Al-Ghazali atau Syaikh Sayyid Sabiq menulis

makalah atas namanya untuk kepentingan syaikh tersebut. Kemudian

syaikh tersebut memberikan upah penulisan itu padanya. Yusuf Abdullah

benar-benar pergi untuk mengambil upah tersebut. Hampir saja, Yusuf

Abdullah memperoleh upah tersebut, jika tidak ada sahabatnya yang

1 Diantaranya terdapat tulisan dan dipublikasikan lebih dari 30 tahun yang lalu.





Page 5

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 5

memberi tahukan duduk perkara yang sebenarnya. Dia diberitahu siapa

nama penulis makalah yang sesungguhnya.

Begitulah, hampir saja upah penulisan sebesar 5 Junaih berpindah ke

tangan orang lain. 5 Junaih pada saat itu, merupakan jumlah uang yang

cukup banyak bagi saya.

Saya tidak tahu mengapa berbagai buah pikiran ini terus berputar di

dalam kepala. Saya juga tidak tahu mengapa harus menulis ini semua? Saya

cuma berharap semua ini merupakan nasihat, pelajaran, peringatan untuk

diri sendiri dan semua orang. Allah telah memerintahkan kita untuk

mengingat malapetaka dan cobaan di masa lalu untuk dibandingkan

dengan karunia di saat ini. Oleh karenanya, saya mengingat berbagai

nikmat dan karunia Allah dan bersyukur atas seluruh nikmat yang telah

diberikan oleh-Nya.

Allah Swt telah mengingatkan rasul-Nya dan orang-orang beriman

yang bersama beliau di Madinah dengan masa lampau mereka sewaktu

masih di kota Mekkah. Allah berfirman,

(#ÿρãà2øŒ$#uρ

øŒÎ)

óΟçFΡr&

×≅‹Î=s%

tβθàyèôÒtGó¡•Β

’Îû

ÇÚö‘F{$#

šχθèù$sƒrB

βr&

ãΝä3x©Üy‚tGtƒ

â¨$¨Ζ9$#

öΝä31uρ$t↔sù

Νä.y‰−ƒr&uρ

⎯ÍνÎóÇuΖÎ/

Λäls%y—u‘uρ

z⎯ÏiΒ

ÏM≈t6Íh‹©Ü9$#

öΝà6¯=yès9

tβρãä3ô±s?

∩⊄∉∪

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah

sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-

orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu

tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan

pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik

agar kamu bersyukur.” (Al-Anfal (8):26)

Walau zaman telah berubah, tempat dan keadaan penulisan telah

berganti, namun kata-kata ini bersumber dari mata air yang satu, yaitu

Islam yang universal dan seimbang, Islam yang kuat dan tidak membuat

penganutnya menjadi putus asa serta pesimis. Islam yang terus melawan

dan tidak membuang senjatanya. Sehingga mata air ini membuat cita-cita

kaum muslimin menjadi semakin panjang, luas dan dalam.

Semua cita-cita itu -baik dulu maupun sekarang- mengarah pada satu

tujuan:

Ikut berperan serta dalam mewujudkan kebangkitan Islam yang

sesungguhnya. Kebangkitan yang berbeda lantaran petunjuk, kematangan

dan mendapatkan cahaya dari-Nya. kebangkitan akal yang cerdas, hati

yang bersih dan kekuatan niat yang masih segar. Kebangkitan yang

mengetahui tujuannya, jalan untuk mencapainya. Kebangkitan yang

mengetahui buah atau hasil yang akan diperolehnya. Namun, kebangkitan

Page 6

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 6

ini juga mengetahui akibat atau bahaya yang akan menimpanya.

Kebangkitan yang mengetahui siapa kawan dan siapa lawannya.

Kebangkitan yang berbuat untuk memperbarui agama dan

membangkitkan dunia. Kebangkitan yang mengkoreksi berbagai

pemahaman yang keliru, meluruskan jalan yang bengkok, menyadarkan

akal yang tidur. Kebangkitan yang menggerakkan kehidupan yang statis,

meniupkan ruh di dalam mayat, sehingga kembali hidup, bergerak dan

berkembang.

Alhamdulillah sekarang, kita sudah melihat tanda-tanda kebangkitan

itu. Kebangkitan yang sebelumnya adalah sesuatu yang tidak jelas di mata

banyak orang.

Alhamdulillah mari kita panjatkan kepada Allah atas berbagai jasa yang

telah dilakukan oleh para ulama, syuhada, da’i dan reformis. Semua usaha

mereka tidak akan sia-sia. Dengan izin Allah, buahnya telah kita rasakan

sekarang. Maha Benar Allah dengan firman-Nya,

öΝs9r&

ts?

y#ø‹x.

z>uŸÑ

ª!$#

WξsWtΒ

ZπyϑÎ=x.

Zπt6ÍhŠsÛ

;οtyft±x.

Bπt7Íh‹sÛ

$yγè=ô¹r&

×MÎ/$rO

$yγããösùuρ

’Îû

Ï™!$yϑ¡¡9$#

∩⊄⊆∪

þ’ÎA÷σè?

$yγn=à2é&

≅ ä.

¤⎦⎫Ïm

ÈβøŒÎ*Î/

$yγÎn/u‘

3

ÛUÎôØo„uρ

ª!$#

tΑ$sWøΒF{$#

Ĩ$¨Ψ=Ï9

óΟßγ¯=yès9

šχρã2x‹tGtƒ

∩⊄∈∪

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat

perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya

teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan

buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat

perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka

selalu ingat.” (Ibrahim (14):24-25)

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Allah yang memiliki

karunia agung yang telah menjadikan kebangkitan hari ini lebih baik dari

kemarin. Semoga Allah menjadikan kebangkitan esok hari lebih baik dari

kebangkitan hari ini. Semoga Ya Allah, Aaamiin.

$uΖ−/u‘

ö≅¬7s)s?

!$¨ΨÏΒ

(

y7¨ΡÎ)

|MΡr&

ßìŠÏϑ¡¡9$#

ÞΟŠÎ=yèø9$#

∩⊇⊄∠∪

"Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah

Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah

(2):127)

Dr. Yusuf Qardhawi

Page 7

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 7

Merubah Paradigma Salah

1. Pembaharuan Dalam Tuntunan Sunnah

Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah bersabda,

"Setiap di penghujung seratus tahun sekali, Allah mengirim

seseorang yang menjadi seorang pembaharu dalam agamanya

(Islam).2"

Abu Dawud menyebutkan hadits ini di dalam Permulaan Kitab Al-

Malahim, bab Maa Yudzkaru fi qarni Al-Mi'ah.3

Sanad Hadits

Abu Dawud berkata, "Sulaiman bin Dawud Al-Mahri telah

menyampaikan kepada kami, dia berkata, "Ibnu Wahab mengabarkan

kepada kami, dia berkata, "Sa'id bin Abu Ayyub telah mengabarkan

kepadaku dari Syarahil bin Yazid Al-Ma'afiri dari Abu 'Alqamah dari Abu

Hurairah ra. –sepanjang sepengetahuanku- dari Rasulullah, beliau

bersabda, "seperti hadits di atas."

Abu Dawud berkata, "Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdurrahman

bin Syuraih Al-Iskandarani. Perawi Syarahil menilai Abdurrahman bin

Syuraih Al-Iskandari telah memauqufkan hadits ini."

Al-Mundziri di dalam Al-Mukhtashar As-Sunan (no. 4123)

mengatakan, "Abdurrahman bin Syuraih Al-Iskandarani merupakan perawi

yang dapat dipercaya (tsiqah). Imam Bukhari dan Muslim sepakat

menggunakan hadits yang diriwayatkan perawi ini sebagai hujjah/dalil."

Al-Mundziri mengkategorikan hadits ini sebagai hadits mu'dhal4, yaitu

perawi ini telah menggugurkan dua orang perawi yaitu Abu 'Alqamah dan

Abu Hurairah. Maka yang dikatakan sebagai hadits mu'dhal adalah

gugurnya dua orang perawi secara berurutan dari sebuah sanad.

2 HR Abu Dawud dalam sunannya dengan no. hadits 4270, HR Hakim di dalam Al-Mustadrak di

dalam Al-Fitan (4:522), HR Baihaqi dalam "Ma'rifah As-Sunan wal Aatsar" hal. 52, HR Al-Khatib dalam

Tarikh Al-Baghdad 61:2. Hal ini juga disebutkan AlBani di dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 599. Hadits

ini juga dihubungkan dengan Abu Amru Ad-Dani di dalam Al-Fitan( dalam shahih Al-Jami' Ash-

Shaghir 1874 cet. kedua – Al-Maktab Al-Islami. Al-Harwi dalam Dzam Al-Kalam dan dalam tanggapan

Syaikh Muhammad Zakaria Yahya Al-Kandahlawi atas "Badzlul Majhuud fi Halli Abu Dawud. Dikutip

dari mantan budak kami Abdul Hayyi bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Sufyan,

Bazzar, Thabrani di dalam Al-Ausath dan Abu Na'im di dalam Al-Hilyah dan lain sebagainya.

3 Dia (Abu Dawud) berkata di dalam Badzlul Majhud juz 17/201 yaitu dalam rentang selama 100

tahun itu telah banyak terjadi hal-hal bid'ah, sehingga di penghujung 100 tahun Allah mengirim

seorang pembaharu.

4 Mukhtashar As-Sunan karya Mundziri juz 6/163, cet. Al-Maktabah Al-Atsariyyah di Lahore,

Pakistan dicopi dari cet. keenam Al-Muhammadiyyah Mesir dengan seorang peneliti Muhammad

Hamid Al-Fiqi





Page 8

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 8

Pendapat Abu Dawud di atas tidak membuat hadits ini menjadi cacat.

Walaupun hadits yang diriwayatkan melalui Abdurrahman dikategorikan

sebagai hadits mu'dhal, namun hadits yang diriwayatkan melalui Sa'id bin

Abu Ayyub adalah hadits yang bersambung (washalahu) dan bersandar

(asnadahu). Sehingga sanad yang diriwayatkan melalui Sa'id bin Abu

Ayyub lebih dari sekedar tsiqah (dapat dipercaya). Hadits dengan sanad ini

dapat diterima. Di samping itu, perawi Sa'id bin Abu Ayyub termasuk

perawi yang diakui di dalam ushulul hadits.

Sanad hadits ini shahih. Para perawinya dapat dipercaya (tsiqah).

Mereka adalah para perawi yang biasa meriwayatkan hadits Muslim. Oleh

karena itu, lebih dari seorang ahli hadits menilai hadits ini sebagai hadits

shahih. Imam As-Suyuthi menunjukkan keshahihan hadits ini dalam buku

Al-Jami' Ash-Shagir. Pensyarah buku Al-Jami' Ash-Shagir, Al-Manawi5

memperkuat pendapat itu. Al-Hakim juga menilai hadits ini sebagai hadits

shahih6. Al-Manawi berkata, "Az-Zain Al-Iraqi dan yang lainnya berkata,

'Sanad hadits ini shahih.'" Syaikh Al-Bani mencantumkan hadits ini di

dalam silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 5997.

Sepatah Kata Seputar Topik Hadits

Hadits ini mengandung satu kalimat berita. Menjelaskan mengenai

berita ghaib yang disampaikan oleh nabi Muhammad Saw. Beliau

menyampaikan berita ini bukan berasal dari hawa nafsunya. Dia

mengetahui berita ghaib ini hanya dari Allah Swt. Allah Swt berfirman,

ãΝÎ=≈tã

É=ø‹tóø9$#

Ÿξsù

ãÎγôàãƒ

4’n?tã

ÿ⎯ϵÎ7øŠxî

#‰ tnr&

∩⊄∉∪

ωÎ)

Ç⎯tΒ

4©|Ós?ö‘$#

⎯ÏΒ

5Αθß™§‘

…絯ΡÎ*sù

à7è=ó¡o„

.⎯ÏΒ

È⎦÷⎫t/

ϵ÷ƒy‰tƒ

ô⎯ÏΒuρ

⎯ϵÏù=yz

#Y‰|¹u‘

∩⊄∠∪

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak

memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali

kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia

mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di

belakangnya." (Jin (72):26-27)

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya, Kitab Al-

Malahim. Al-Malahim adalah bentuk jamak dari kata mulhamah. Al-

Malahim berarti Al-Ma'arik (peperangan) yang terjadi di masa akan datang

antara kaum muslimin dan musuh-musuhnya. Seperti hadits Rasulullah

yang membahas tentang peperangan kaum muslimin melawan Turki,

Romawi, Yahudi dan lain sebagainya.

5 Lihat Faidhul Qadir Syarah Al-Jami' Ash-Shagir (juz 2/282)

6

Bukan di dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim menilai hadits ini shahih, padahal dia hanya

mendiamkannya (sakata 'alaih). Al-Bani berkata, "Semoga pernyataan Al-Hakim (yang

menshahihkan,pentj) terhapus dari hasil fotocopy kitab Al-Mustadrak." Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-

Shahihah, jilid dua hal. 151 hadits no. 59, cet. Al-Maktab Al-Islami, Beirut

7 ibid

Page 9

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 9

Sebagian berita ghaib yang disampaikan Nabi Saw telah terjadi,

sedangkan sebagian yang lain belum terjadi. Kita meyakini bahwa semua

berita ghaib itu akan terjadi, yaitu di waktu yang telah ditetapkan oleh

Allah Swt. Tidak pernah sekalipun Muhammad Saw berdusta dan tidaklah

mungkin beliau didustai oleh Allah (karena berita ghaib pasti berasal dari

Allah).

Biasanya, topik Al-Malahim (peperangan) disebutkan bersama dua

topik lainnya, yaitu topik tentang fitnah dan tanda-tanda datangnya hari

kiamat. Terkadang semua topik ini dapat ditemukan dalam satu hadits.

Terkadang topik-topik ini ditemukan dalam hadits yang terpisah. Semuanya

membicarakan tentang kejadian akan datang yang belum terjadi (sewaktu

Rasulullah mengucapkannya).

Topik-topik mengenai fitnah, peperangan dan tanda-tanda hari kiamat

termasuk topik yang harus dibahas secara luas oleh para ulama. Sehingga

tidak disampaikan kepada mereka yang lari dari topik ini karena

pengingkarannya secara menyeluruh. Juga tidak disampaikan kepada

mereka yang telah meyakini topik-topik ini, namun meyakininya tanpa

pengkajian terlebih dahulu. Topik-topik ini juga tidak disampaikan kepada

mereka yang kerap melakukan takwil tidak pada tempatnya.

Tujuan Hadits

Hadits ini dapat menggugah harapan di dalam jiwa kaum muslimin.

Ternyata bara api umat ini tidak akan pernah padam. Agama ini tidak

pernah musnah. Setiap seratus tahun sekali, Allah akan senantiasa

mengirimkan seorang pembaharu umat ini.

Yang dimaksud bi ra'sil mi'ah (lafadz yang terdapat di dalam hadits)

bukan berarti tahun ke 100 atau tahun 101. Tetapi yang dimaksud adalah

akhir-akhir tahun menjelang 1 abad atau awal-awal tahun setelah 1 abad.

Oleh karenanya diungkapkan dengan kata ra'si. Namun dalam kenyataan,

kita tidak dapat memastikannya. Apakah pengertian ra'sil mi'ah terhitung

dari hijrah Nabi Saw ke Madinah atau terhitung sejak beliau wafat atau

terhitung sejak beliau diutus menjadi Rasul.

Yang terpenting adalah Allah tidak membiarkan umat ini tidur dan

terpecah belah, tanpa ada orang yang menyadarkannya dan

mempersatukannya.

Kita membutuhkan kepastian tentang makna ini, agar dapat

menghadapi gelombang keputusasaan yang amat tinggi. Agar kita dapat

menghadapi ungkapan bahwa Islam selalu terbelakang dan orang-orang

kafir selalu terdepan. Agar kita dapat menghadapi ungkapan bahwa tanda-

tanda kiamat kecil telah muncul dan akan tetap seperti ini hingga tanda-

tanda kiamat besar muncul atau hingga hari kiamat tiba. Jika hari kiamat

Page 10

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 10

tiba, tidak ada seorang pun yang dapat mengucapkan kata "Allah, Allah."

Hal ini sebagaimana terdapat di dalam hadits shahih8.

Ada sebagian orang yang memastikan makna hadits ini dengan hadits-

hadits yang dipahami secara tidak proporsional. Seperti hadits yang artinya,

"Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing

seperti ketika pertama kali muncul. Beruntunglah orang-orang yang

asing itu.9"

Mereka lupa bahwa Islam dianggap asing bukan berarti Islam lemah

secara mutlak. Mereka yang berpegang teguh pada Islam dan para da'inya

dianggap asing bukan berarti mereka lemah secara mutlak. Pengertian

hadits di atas adalah mereka yang berpegang teguh pada Islam adalah

mereka yang unggul. Mereka tidak larut dalam masyarakat yang rusak.

Mereka bagaikan tahi lalat di tengah-tengah manusia.

Di sebagian riwayat, Nabi Saw menjelaskan karakteristik orang-orang

asing (Al-Ghuraba') adalah "Mereka yang mengadakan perbaikan di saat

masyarakat merusak sunnahku.10" Sehingga pengertian Al-Ghuraba'

bukanlah orang-orang yang berputus asa dan bukan pula mereka yang

kerap membuat kerusakan di tengah masyarakat. Al-Ghuraba' adalah

mereka yang mengadakan perbaikan di saat masyarakat merusak kebiasaan

Islam. Mereka menghidupkan adab dan akhlak Islam.

Di dalam hadits ini tidak ada lafadz yang menunjukkan bahwa

pengertian asing itu mencakup secara umum, mencakup segala aspek dan

senantiasa ada di setiap masa. Jadi terkadang asing di suatu negri dan tidak

di negri yang lain. Asing di suatu kaum dan tidak asing di kaum yang lain.

Asing di suatu zaman dan tidak asing di masa yang lain, sebagaimana

pendapat Ibnul Qayyim11. Kemudian keadaan berubah, yang lemah

berubah menjadi kuat dan yang kalah menjadi menang.

8 Terdapat di dalam HR Muslim dari Anas r.a. yang artinya, "Hari kiamat tidak akan muncul

hingga di bumi ini tidak ada lagi yang mengucapkan Allah, Allah." Hadits no 234, dengan peneliti

Muhammad Fuad Abdul Baqi

9 HR Muslim yaitu hadits dari Abu Hurairah r.a. hadits no. 232, HR Tirmidzi yaitu hadits dari Ibnu

Mas'ud r.a. hadits no. 6231. Imam Tirmidzi berpendapat, "Hadits ini dikategorikan sebagai hadits hasan

shahih gharib." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah hadits no. 3986. Imam Suyuthi (Al-Jami'

Ash-Shagir) menghubungkan hadits ini dengan Ibnu Majah dari Anas bin Malik r.a.. Hadits ini juga

diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Salman r.a., Sahl bin Sa'ad r.a. dan Ibnu Abbas r.a.. Hadits ini tidak

diriwayatkan oleh Bukhari. Imam Tirmidzi menyebutkan di dalam kitab "Al-'Ilal" bahwa dia bertanya

kepada imam Bukhari tentang hadits ini. Imam Bukhari menjawab, "Hadits ini dikategorikan sebagai

hadits hasan (Al-Faidh 2/322).

10 HR Tirmidzi hadits no. 2632 yaitu hadits yang diriwayatkan melalui Katsir bin Abdullah bin

Amru bin Auf Al-Hazni. Perawi ini merupakan perawi yang lemah, walaupun Tirmidzi menilai hadits

ini sebagai hadits hasan, bahkan dia terkadang menilainya sebagai hadits shahih. Adapun sanad hadits

yang diriwayatkan melalui Abdullah bin Amru berstatus marfu'. "Beruntunglah! Beruntunglah orang-

orang yang asing! Beruntunglah orang-orang yang asing! Seorang sahabat bertanya, "Siapa yang

dimaksud orang-orang asing ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Orang yang berbuat baik di tengah

orang-orang yang berbuat buruk. Orang-orang yang durhaka terhadap mereka (orang-orang asing)

lebih banyak daripada orang-orang yang mentaati mereka. (hadits no. 7072. Syaikh Syakir berpendapat

sanad hadits ini shahih).

11 Lihat Madarij As-Salikiin karya Ibnul Qayyim juz 3/196 dengan peneliti Abdul Hamid Al-Fiqi

Page 11

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 11

Ada pula sebagian orang yang menghubungkan hadits di atas12 dengan

hadits riwayat Bukhari yang diriwayatkan melalui Anas r.a., "Tidak akan

datang suatu zaman melainkan zaman sesudahnya lebih buruk dari yang

sebelumnya.13" Tidak selayaknya seseorang mengambil hadits ini secara

dzahirnya saja, secara mutlak atau secara umum semata.

Sebagian ulama memiliki takwil bagus terhadap hadits ini. Ibnu Hajar

di dalam syarahnya berkata, "Maksud hadits ini adalah khusus bagi para

sahabat yang mendengarnya. Sedangkan pemahaman Anas bin Malik

tentang hadits ini umum (bukan khusus bagi para sahabat saja)14." Yaitu

Nabi Saw –lewat hadits ini- ingin memberi petunjuk kepada para

sahabatnya yang mendengar hadits ini, agar mempersiapkan diri

menghadapi perubahan zaman. Sehingga realita kehidupan tidak dapat

memalingkan mereka dari Islam. Perubahan keadaan yang disaksikan tidak

membuat keimanan mereka terhadap Islam menjadi goyah.

Jika pemahamannya tidak seperti ini, maka tentu akan ada

pertentangan dengan realita sejarah yang ada. Zaman Umar bin Abdul Aziz

lebih baik dari zaman bani Umayyah sebelumnya.

Demikian pula akan bertentangan dengan realita sejarah di masa

Nuruddin Mahmud15 dan Shalahuddin Al-Ayyubi16. Di tangan mereka

12 mengenai kemunculan pembaharu setiap seratus tahun sekali

13 Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Kitabul Fitan dari Zubair bin Adiy, dia berkata,

"Kami menemui Anas bin Malik. Kami mengadukan segala perlakuan buruk Hajjaj (yang dimaksud

Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqfi). Anas menjawab, "Bersabarlah! Tidak akan datang suatu zaman melainkan

zaman sesudahnya lebih buruk dari yang sebelumnya, hingga kalian bertemu dengan Allah. Saya

mendengar hadits ini dari nabi kalian." Hadits ini no. 7068 riwayat Bukhari. Terdapat di dalam Al-Fath

juz 3 hal 19,20, cet. Ad-Dar As-Salafiyyah, dibawah pimpinan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Penomeran

dilakukan oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi.

14 Al-Fath juz 13 hal. 21. Ibnu Hajar berkata, "Ibnu Hibban di dalam shahihnya berkesimpulan

bahwa hadits Anas r.a. bukan hadits umum terhadap hadits-hadits yang membicarakan tentang imam

Mahdi. Di dalam hadits-hadits itu dijelaskan bahwa imam Mahdi memenuhi bumi dengan keadilan,

setelah sebelumnya bumi dipenuhi dengan kemaksiatan.

15 Dia adalah Mahmud bin Zanki ('Imaduddin) yang dijuluki dengan julukan penguasa yang adil

(Al-Malik Al-'Adil). Dia juga dijuluki penguasa Syam, Pendeta Jazirah Arab dan Mesir. Dia adalah

penguasa yang paling adil, paling agung dan paling utama di masanya. Perjalanan hidupnya penuh

dengan kebaikan, keadilan dan keinginannya untuk menegakkan hukum Allah di dalam negri serta

berjihad memerangi musuh-musuh Islam di luar negri. Perjalanan hidupnya mirip dengan perjalanan

hidup Khulafaur Rasyidin. Dia memerangi tentara salib. Dia membangun sekolah, masjid jami dan

penginapan dalam jumlah banyak di pinggir jalan. Dia adalah orang pertama yang membangun sekolah

khusus jurusan hadits. Dia amat mencintai ilmu dan menghormati para ulama. Dia sering bertemu

dengan para ulama dan tidak pernah membantah pendapat para ulama. Dia memahami fiqih madzhab

Abu Hanifah, namun tidak fanatik. Dia mendengar hadits dari sekelompok perawi di Syuria Utara dan

Dimasyq. Sekelompok perawi meriwayatkan hadits darinya. Dia wafat tahun 569 H. Lihat "Al-'Alam"

karya Zarkali juz 8/46 kitab "Ar-Raudhatain" karya Abu Syamah dan Ibnul Atsir juz 11/151, "Al-

Bidayah wan Nihayah" juz 12/277-284 cet. Beirut. "Nuruddin Mahmud-Sirah Mujahid Shadiq" karya

Dr. Husain Al-Mu'nis, diterbitkan dan diedarkan oleh Ad-Dar As-Su'udiyyah lin nasyr wat tauzi', Jeddah

1404 H/1984 M

16 Dia adalah Abu Al-Madzfar Yusuf bin Ayyub bin Syaadzi dijuluki dengan julukan penguasa

yang menang (Al-Malik An-Nashir) dia merupakan salah seorang penguasa Islam yang terkenal. Dia

adalah sosok penguasa yang amat memperhatikan kesejahteraan negara, berbuat adil di tengah rakyat.

Dia pula yang telah mengalahkan tentara salib. Melalui tangannyalah Allah membebaskan Baitul

Maqdis setelah dikuasai selama 900 tahun lebih. Shalahuddin Al-Ayyubi mengalahkan tentara salib

dalam peperangan Hittin yang terkenal itu. Dia berkuasa di Mesir dan Syam. Dialah pendiri daulah Al-

Ayyubi. Dia tidak memperkaya diri dengan harta maupun tanah. Dia banyak membangun sekolah dan

rumah sakit. Wafat tahun 589 H. lihat "Wafiat Al-A'ayan karya Ibnu Khalkan juz 2/376 dan Ibnul Atsir

Page 12

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 12

berdualah, Allah membebaskan tanah Islam dari tentara Salib. Di tangan

mereka pula sunnah dapat hidup dan bid'ah dilenyapkan. Oleh karena itu,

masa mereka berdua lebih baik dari zaman-zaman sebelumnya.

Jika hadits Anas di atas dipahami berdasarkan dzahirnya seperti yang

dipahami kebanyakan orang, maka akan bertentangan dengan hadits-

hadits yang menunjukkan akan kemenangan dan tersebarnya Islam

sebelum hari kiamat tiba. Terlebih lagi ketika khalifah muncul atau ketika

penguasa yang shalih memerintah bumi ini dengan adil, dia yang dikenal

dengan sebutan Imam Mahdi17. Jika hadits Anas dipahami menurut

dzahirnya saja, maka itu akan bertentangan dengan hadits yang membahas

tentang turunnya Isa bin Maryam untuk memerintah dengan Islam dan

beliau hanya menerima agama Islam saja18.

Saya tidak dapat mengerti mengapa hadits-hadits seperti hadits Anas di

atas tersebar luas, sementara itu hadits-hadits yang mengandung harapan

dan kabar gembira bagi umat Islam seperti ditelan bumi. Misalnya hadits

yang diriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi,

"Perumpamaan umatku seperti hujan yang tidak diketahui awal atau

akhirnya yang baik.19"

Selain itu hadits Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim yang berbunyi,

"Berilah kabar gembira umat ini dengan cahaya, agama, derajat yang

tinggi, kemenangan dan meneguhkan kedudukan di bumi ini.20"

Di dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda,

"Perkara ini (agama ini) akan mencapai seperti yang dicapai malam

dan siang. Allah tidak membiarkan sebuah rumah yang dimiliki

juz 12/37, Al-Bidayah wan Nihayah juz 13/2 dan hal-hal selanjutnya demikian pula bagian akhir juz

12, Syadzraat Adz-Dzahb juz 2/298 dan Al-'Alam karya Zarkali juz 9/291-293

17 Kalimat hadits-hadits di dalam As-Sunan membahas tentang Imam Mahdi. Tidak ada sesuatu

yang jelas mengenai imam Mahdi yang dibahas dalam Ash-Shahihain.

18 Lihat At-Tashrih bi maa tawatara fii nuzuul Al-Masih, karya Al-Allamah Anwar Al-Kasymiri,

peneliti Abdul Fatah Abu Ghuddah

19 Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas r.a. hadits no. 2873. Imam Tirmidzi berkata,

"Hadits ini dikategorikan sebagai hadits hasan gharib. Imam As-Suyuthi (di dalam Al-Jami' Ash-Shagir)

menghubungkan hadits ini dengan imam Ahmad dari Anas r.a., juga dihubungkan dengan Imam

Ahmad dari Amar bin Yasir r.a. Hadits ini juga dihubungkan dengan Abu Ya'la dari Ali r.a.,

dihubungkan pula dengan Ath-Thabrani dari Abdullah bin Amru r.a. Ibnu Hajar di dalam Al-Fath

berkata, "Hadits ini dikategorikan sebagai hadits hasan. Hadits ini juga diriwayatkan melalui jalur sanad

yang banyak, sehingga derajatnya dapat naik menjadi shahih." Al-Manawi berkata, "Ibnu Hibban

menilai hadits yang diriwayatkan melalui 'Amar sebagai hadits yang shahih." Lihat Faidhul Qadir juz

5/507

20 Penulis buku Al-Jami' Ash-Shagir menghubungkan hadits ini dengan Ahmad, Ibnu Hibban,

Hakim dan Baihaqi di dalam Asy-Sya'bu dari ayahnya. Al-Manawi menyebut di dalam Al-Faidh (juz

3/201) bahwa Al-Haisyami berpendapat tentang sanad Ahmad, "Para perawi hadits ini merupakan para

perawi hadits shahih. Imam Hakim menilai hadits ini sebagai hadits shahih dan Adz-Dzahabi

menyetujui pendapat ini di suatu tempat serta mencantumkan hadits ini di tempat yang lain. Hadits ini

shahih. Namun dengan dua sanad yang berbeda. Berdasarkan penjelasan sanad yang disebutkan Hakim

di Al-Mustadrak (4/311), imam Adz-Dzahabi menyetujui untuk menshahihkan hadits ini. Hanya saja

Adz-Dzahabi mencoba memberi kritikan di dalam (4/318). Lihat komentar kami atas hadits no. 15

yang terdapat di dalam buku kami (Al-Muntaqa minat targhib wat tarhib). Al-Mundziri menyebut

hadits ini dalam "At-Targhib" dan dia menyebutkan penilaian shahih dari Hakim, dan Al-Mundziri

sendiri menyetujuinya. Al-Bani menyebutkan hadits ini di dalam Shahih Al-Jami' 2825

Page 13

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 13

penduduk desa dan penduduk badui kecuali Allah memasukkan

agama ini ke dalamnya, baik dengan kemulian orang yang mulia

atau kehinaan orang yang hina. Dengan kemuliaan, Allah

memuliakan Islam dan dengan kehinaan Allah menghinakan

kekufuran.21"

Adapun munculnya tanda-tanda kiamat kecil, tidak berarti perjalanan

Islam telah selesai dan kiamat akan datang esok hari atau lusanya. Padahal

diutusnya Nabi Saw termasuk salah satu tanda kiamat kecil. Di dalam

hadits shahih terdapat keterangan, Rasulullah Saw bersabda, "Jarak saya

diutus (menjadi rasul) ke hari kiamat seperti ini22" Rasulullah

mengisyaratkan dengan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah.

Seorang Muslim Selalu Dituntut Berbuat Untuk Agama dan

Dunianya

Seorang muslim harus berbuat untuk dunianya hingga ajal

menjemputnya. Dia tidak boleh terlambat sedetikpun untuk memakmurkan

bumi ini. Rasulullah telah mengajarkan kepada tentang hal ini. Beliau Saw

bersabda,

"Jika hari kiamat tiba dan di tangan salah seorang dari kalian masih

terdapat sebuah pohon kurma kecil, maka sebisa mungkin tanamlah

pohon itu.23"

Mengapa kita diperintahkan untuk menanam, padahal hari kiamat

telah tiba atau sebentar lagi akan tiba? Tanaman kurma itu tidak akan

tumbuh hingga dapat dipetik buahnya, lalu mengapa harus ditanam?

Bukankah setelah hari kiamat, tidak ada lagi orang yang dapat menikmati

buah itu dan berkata, "Orang-orang yang hidup sebelum kami telah

menanam untuk kami, sehingga kami dapat menikmati hasilnya. Kami juga

akan menanam, sehingga orang-orang yang hidup setelah kami dapat

menikmatinya." Hari kiamat untuk seluruh alam ini. Ide yang terkandung

dalam hadits di atas adalah penghargaan terhadap suatu perbuatan.

Seorang mukmin harus melakukan sesuatu yang produktif, walaupun di

saat terakhirnya –selama dia masih mempunyai kemampuan untuk

memberi-.

21 HR Ibnu Hibban di dalam shahihnya (1631,16332), Al-Bani mencantumkan hadits ini di dalam

Ash-Shahih no. 3

22 HR Ahmad, Asy-Syaikhan, Tirmidzi dari Anas r.a., HR Ahmad dan Asy-Syaikhan dari Sahl bin

Sa'ad r.a. Hadits ini juga diriwayatkan melalui sahabat Jabir r.a., Buraidah r.a. dan sahabat Rasulullah

lainnya. As-Suyuthi berpendapat, "Hadits ini dikategorikan sebagai hadits mutawatir (Al-Faidh juz

3/202)." Lihat Al-Lu'lu' wal Marjan tentang kesepakatan Asy-Syaikhan tentang hadits ini. Buku ini

karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, cet. Isa Al-Halbi hadits no. 1862, 1863

23 HR Ahmad di dalam musnadnya. Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad,

diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi, Abdu bin Humaid, Al-Bazar dan yang lainnya. Al-Haitsami berkata,

"Para perawi hadits ini dapat dipercaya dan tsabat. Lihat Faidhul Qadir 3/30,31. Al-Bani

mencantumkan hadits ini di dalam Ash-Shahih no. 9 dan juga di dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shagir

(hadits no. 1424)

Page 14

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 14

Jika untuk urusan dunia saja, seorang muslim dituntut sedemikian

rupa, lalu bagaimana dengan urusan agama? Apakah mungkin urusan

agama di sisi Allah lebih hina dibandingkan urusan dunia?!

Seorang mukmin dituntut berbuat untuk agamanya semaksimal

mungkin. Dia dituntut untuk menjadi seorang da'i, yang melakukan amar

ma'ruf dan nahi mungkar. Dia dituntut untuk menjadi pejuang di jalan

Allah, menjadi penentang keburukan dan kerusakan. Seorang mukmin juga

dituntut untuk saling tolong menolong sesama saudaranya seiman dalam

kebaikan dan ketakwaan. Nash-nash yang memerintahkan semua hal di

atas tidak dihapus (nasakh) dan tidak juga dikhususkan untuk zaman

tertentu. Tapi nash-nash itu kekal selamanya.

Inti yang Terkandung di Dalam Hadits

Makna hadits di atas harus jelas. Apa yang dimaksud dengan mujadid?

Siapa yang masuk kategori mujadid? Lalu apa yang dimaksud agama yang

diperbarui? Apa yang dimaksud dengan pembaharuan? Sejauh mana

cakupan pembaharuan dan apa saja yang mendukung suatu

pembaharuan?

Siapa yang Telah Melakukan Pembaharuan?

Siapa yang telah melakukan pembaharuan? Untuk menjawab

pertanyaan ini, kita perlu memperhatikan lafadz haditsnya dan hal itu

dapat diketahui setelah memahami lafadz man terlebih dahulu.

Kata man yang terdapat di dalam hadits di atas yaitu pada ungkapan

man yujaddidu dipahami oleh mayoritas ulama untuk satu orang. Oleh

karena itu, mereka menganggap mujadid adalah ungkapan untuk satu

orang. Seorang mujadid adalah orang pilihan, jenius di tengah-tengah

umat. Orang ini mendapat perhatian dari Allah agar menjadi seorang yang

memperbarui sesuatu yang telah dipelajarinya, menguatkan sesuatu yang

lemah dan meninggikan sesuatu yang rendah.

Berikut ini terdapat daftar para mujadid yang dimulai dari 100 tahun

pertama. Yang pertama adalah Umar bin Abdul Aziz (wafat pada tahun

101 H). 100 tahun yang kedua adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i

(Wafat pada tahun 204 H). Sedangkan mujadid pada 100 tahun yang

ketiga, banyak para ulama yang berbeda pendapat tentang siapa yang

berhak menyandang gelar sebagai mujadid. Yang berpendapat dia adalah

Abul Hasan Al-Asy'ari (wafat 324 H). Ada pula yang berpendapat dia

adalah Abul Abbas bin Suraij (wafat tahun 306 H). Adapula yang

berpendapat dia adalah Nasa’i, penulis Sunan Nasa’i (Wafat tahun 303 H).

Sedangkan mujadid di 100 tahun yang keempat adalah Al-Qadhi Abu

Bakar Al-Baqilani (Wafat tahun 403 H) dan Abu Hamid Al-Asfirayayni

(wafat tahun 406 H). Mujadid di 100 tahun yang kelima adalah Abu

Hamid Al-Ghazali (wafat tahun 505 H), 100 tahun yang keenam adalah

Al-Fakhrur Razi (wafat tahun 606 H) dan ada yang mengatakan di adalah

Ar-Rafi’i (wafat tahun 623 H).

Page 15

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 15

Mujadid di 100 tahun yang ketujuh adalah Ibnu Daqiq Al-Ied (wafat

tahun 703 H). Mujadid di 100 tahun yang kedelapan adalah Al-Hafidz

Zainuddin Al-’iraqi (wafat tahun 808 H) atau Sirajuddin Al-Balqini (wafat

tahun 805 H).

Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi (wafat tahun 911 H) menyusun daftar

para mujadid hingga di zamannya dalam sebuah syair. Dia berharap

bahwa dirinya adalah mujadid di abad ke 9 H. Dia juga mengklaim dirinya

sebagai seorang mujtahid mutlak. Banyak orang di masanya ada yang tidak

mengakui bahwa dirinya adalah seorang mujadid.

Imam As-Suyuthi memperkuat pendapat bahwa ungkapan man di

dalam hadits di atas merupakan ungkapan untuk satu orang, yaitu seorang

mujadid. Imam Manawi juga mengutip pendapat As-Suyuthi mengenai

nama-nama mujadid di atas. Al-Hafidz berpendapat bahwa pengertian

ungkapan man untuk jamak dan bukan untuk bentuk tunggal/satu orang.

Misalnya kita dapat mengatakan bahwa mujadid yang muncul di 100

tahun yang ketiga adalah Ibnu Sarij untuk bidang fikih, Al-Asy'ari dalam

bidang ushul dan An-Nasa’i dalam bidang hadits. Sedangkan pada 100

tahun yang keenam adalah Al-Fakhrur Razi di bidang ilmu kalam, Al-

Hafidz Abdul Ghani dalam bidang hadits24.

Ibnul Atsir di dalam Jami' Al-Ushul berkata, "Mereka telah menakwil

hadits di atas. Masing-masing orang mengaku bahwa mujadid itu berasal

dari madzhabnya. Mereka menempatkan hadits ini pada madzhabnya.

Ungkapan dengan kata man adalah ungkapan untuk satu orang atau

banyak orang. Hadits ini tidak membatasi bahwa mujadid itu dari kalangan

ahli fiqih. Seorang pemimpin (ulil amri) juga dapat berguna untuk seluruh

umat. Demikian pula dengan ahli hadits, para qari' dan orang-orang suka

memberi nasehat. Namun orang yang dianggap sebagai mujadid adalah

salah seorang yang memiliki kriteria di atas.

Mujadid 100 tahun pertama yang berasal dari kalangan Ulil Amri

adalah Umar bin Abdul Aziz. Sedangkan mujadid dari kalangan ahli fiqih

adalah Muhammad Al-Baqir, Al-Qasim bin Muhammad, Salim bin

Abdullah, Al-Hasan, Ibnu Sirin dan yang lainnya. Sedangkan mujadid dari

kalangan Qari adalah Ibnu Katsir dan dari kalangan ahli hadits adalah Az-

Zuhri.

Mujadid 100 tahun kedua yang berasal dari kalangan Ulil Amri adalah

Al-Makmun. Mujadid dari kalangan ahli fiqih adalah Asy-Syafi’i, Al-Lu'lui

salah seorang sahabat Abu Hanifah, Asyhab salah seorang sahabat imam

Malik. Sedangkan dari kalangan qari' adalah Al-Hadhrami. Dari kalangan

ahli hadits adalah Ibnu Mu'in serta dari kalangan ahli zuhud adalah Al-

Karkhi.

Mujadid 100 tahun ketiga yang berasal dari kalangan Ulil Amri adalah

Al-Muqtadiri. Mujadid dari kalangan ahli fiqih adalah Ibnu Sirij Asy-Syafi'i,

Ath-Thahawi Al-Hanafi, Al-Khilal Al-Hambali. Sedangkan dari kalangan

24 Faidhul Qadir juz 1 hal 11

Page 16

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 16

Mutakallimin adalah Al-Asy'ari. Dari kalangan ahli hadits adalah An-

Nasa'i.

Mujadid 100 tahun keempat yang berasal dari kalangan Ulil Amri

adalah Al-Qadir. Mujadid dari kalangan ahli fiqih adalah Al-Asfarayayni

Asy-Syafi'i, Al-Khawarizmi Al-Hanafi, Abdul Wahhab Al-Maliki dan Al-

Husain Al-Hambali25. Sedangkan dari kalangan Al-Mutakallimin adalah

Al-Baqilani dan Ibnu Furk. Dari kalangan ahli hadits adalah Hakim serta

dari kalangan ahli zuhud adalah An-Nuri. Demikian pula abad-abad

berikutnya26.

Di dalam Al-Fath, Al-Hafidz menyebutkan sesuatu yang dapat

memalingkan pendapat sebagian orang. Mujadid yang muncul setiap

seabad tidak harus berjumlah seorang. Bahkan seperti yang diungkapkan

oleh imam An-Nawawi tentang hadits,

"Senantiasa akan ada sekelompok umatku yang selalu menang dalam

menjalankan perintah Allah."

Mujadid bisa dalam bentuk kelompok yang bermacam-macam. Mereka

terdiri dari orang-orang yang berani dalam peperangan, ahli fikih, ahli

hadits, ahli tafsir, yang kerap melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Diantara mereka ada yang merupakan ahli zuhud, ahli ibadah.

Berkumpulnya mereka tidak harus dalam satu negri. Namun boleh dalam

satu daerah atau terpisah di beberapa daerah. Mereka boleh terpisah dalam

suatu negri. Mereka dapat terpisah dengan yang lainnya. Mereka boleh

meninggalkan suatu daerah, hingga tinggal satu kelompok saja.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Berkumpulnya berbagai sifat yang

dibutuhkan untuk diperbarui tidak hanya terbatas pada satu jenis kebaikan

saja. Semua sisi kebaikan tidak harus berada dalam satu orang saja. Hanya

saja hal itu terdapat di dalam diri Umar bin Abdul Aziz. Dia adalah sosok

mujadid di abad pertama yang lengkap dengan semua sifat kebaikan dan

dia termasuk orang yang unggul dalam sifat-sifat tersebut. Kemudian Imam

Syafi’i, dia memiliki sifat-sifat dan berbagai keutamaan yang baik. Hanya

saja beliau tidak berjihad dan tidak memerintah dengan adil.

Al-Hafidz berkata, "Berdasarkan keterangan ini, maka barangsiapa

yang memiliki salah satu sifat seperti yang dijelaskan di atas dan berada di

penghujung abad, dia layak untuk disebut sebagai mujadid, baik dalam

jumlah banyak atau tidak27."

25 Al-Husain Khalf Al-Firaa

26 Jami' Al-Ushul karya Ibnul Atsir juz 11 hal. 320-324. Bila diperhatikan Ibnul Atsir menyebutkan

sebagian orang yang dianggap sebagai mujadid. Padahal mereka tidak sampai pada tingkat mujadid.

Misalnya para ulil Amri dari dinasti Abbasiyyah. Mereka ini banyak memiliki cacat. Maksud mengutip

pendapat Ibnul Atsir ini adalah bahwa pembaharu dalam 1 abad tidak hanya terdiri dari satu orang

saja.

27 Faidhul Qadir juz 1 hal. 11, Lihat Fathul Bari juz 12/295 dan Syarah Muslim karya imam An-

Nawawi juz 4/583,584 cet. Asy-Sya'bu, Kairo

Page 17

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 17

Diskusi Dan Tarjih

Pembahasan yang saya pilih adalah pendapat Ibnul Atsir, Adz-Dzahabi

dan yang lainnya tentang pengertian man. Kata man yang terdapat dalam

hadits merupakan ungkapan untuk jamak dan juga bisa digunakan untuk

bentuk tunggal.

Demikianlah kata man merupakan ungkapan untuk bentuk tunggal

dan bisa juga untuk bentuk jamak. Di dalam Al-Qur'an28,

∅tΒuρ

ö≅yϑ÷ètƒ

z⎯ÏΒ

ÏM≈ysÎ=≈¢Á9$#

⎯ÏΒ

@Ÿ2sŒ

÷ρr&

4©s\Ρé&

uθèδuρ

Ö⎯ÏΒ÷σãΒ

y7Íׯ≈s9'ρé'sù

tβθè=äzô‰tƒ

sπ¨Ψyfø9$#

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki

maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu

masuk ke dalam surga. " (An-Nisaa' (4):124)

Jika kita melihat ayat di atas terkadang mujadid itu hanya seseorang

yang dipersiapkan Allah untuk melakukan tugas menghidupkan dan

memperbarui, seperti Umar bin Abdul Aziz. Ada yang mengatakan,

"Mujadid itu adalah seseorang yang mempunyai cita-cita untuk

menghidupkan umat."

Terkadang yang melakukan aktifitas pembaharuan dalam bentuk

kelompok, yayasan atau gerakan –baik dalam bentuk pemikiran,

pendidikan dan perjuangan-. Para anggotanya senantiasa saling menasehati

dalam kebenaran dan kesabaran. Mereka saling tolong menolong dalam

kebaikan dan ketakwaan.

Terkadang aktifitas pembaharuan dilakukan oleh beberapa orang atau

kelompok-kelompok yang tersebar. Semua pihak berada di posisi, bidang

dan keahliannya masing-masing. Ada yang mengkhususkan bidang ilmu

dan pemikiran. Ada pula yang mengkhususkan diri dalam bidang akhlak

dan pendidikan. Ada yang mengkonsentrasikan pada bidang pelayanan

masyarakat. Ada diantara mereka yang memusatkan perhatiannya pada

permasalahan hukum dan politik. Yang lainnya mengkhususkan diri

dengan perkara yang berkaitan dengan jihad dan perlawanan. Mereka

semua saling melengkapi. Tujuan dan prinsip mereka sama, walaupun

posisi dan tugas mereka berbeda.

Ada suatu perkara yang nampaknya perlu diperhatikan bagi mereka

yang berjuang di jalan Allah untuk meninggikan kalimatullah –baik secara

individu maupun kelompok-:

Perbedaan metode, langkah untuk kepentingan Islam dan berbagai

kelompok atau gerakan yang berjuang untuk Islam bukan merupakan

suatu penyakit. Kedua hal ini bukan merupakan perkara yang dicela oleh

28 Masih banyak lagi ayat-ayat yang sejenis

Page 18

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 18

Allah dan orang-orang yang beriman. Dengan syarat perbedaan ini tidak

saling bertentangan atau bermusuhan. Artinya, perbedaan itu diarahkan

untuk saling melengkapi, bersinergi dan tolong menolong dalam berbagai

macam kegiatan. Satu sama lain saling melengkapi, saling memperkuat dan

dipersatukan untuk menyelesaikan permasalahan pokok/inti. Semuanya

sepakat dan seia sekata untuk menghadapi musuh bersama.

Adapun jika setiap pejuang Islam –baik secara perorangan atau

gerakan- hanya mementingkan dan menguatkan diri sendiri serta tidak

mempedulikan yang lainnya, bahkan melenyapkan pejuang Islam yang

lainnya, maka hal itu akan menyebabkan lemahnya kekuatan Islam secara

menyeluruh. Sehingga kekuatan Islam digrogoti dari dalam. Selain itu,

keadaan seperti ini membuka kesempatan kepada musuh-musuh Islam

untuk mengikis habis sampai ke akar-akarnya. Mereka menghadapi

kekuatan Islam tidak perlu bersusah payah, karena kekuatan Islam hancur

dengan sendirinya.

Arti Al-Ba'tsu/yab'atsu yang terdapat di dalam hadits di atas adalah,

“Mempersiapkan beberapa jalan yang sesuai, membuka peluang dan

menciptakan suasana yang kondusif bagi munculnya gerakan

pembaharuan Islam dan gerakan membangkitkan umat. Semua itu berjalan

sesuai dengan sunatullah yang tidak akan berubah.”

Sehingga pengertian Al-Ba'tsu/yab'atsu bukanlah munculnya seorang

mujadid yang sakti dan diluar batas-batas sunatullah. Dia bukan seorang

mujadid yang turun dari langit secara tiba-tiba, bukan pula muncul secara

mendadak dari dalam bumi untuk merubah segala yang terdapat di dalam

diri manusia. Padahal mereka tidak dapat berubah kecuali mereka merubah

dirinya sendiri.

Inilah yang dapat kami pahami dari hadits di atas. Pemahaman ini

sejalan dengan hal-hal yang dikandung dalam hadits-hadits yang lain.

Hadits-hadits itu menjelaskan bahwa kemenangan Islam di akhir zaman

bergantung pada suatu kelompok yang berjuang di jalan yang haq, bukan

bergantung pada satu orang saja. Seperti yang terdapat di dalam hadits

berikut ini,

"Senantiasa akan ada sekelompok umatku yang selalu berada dalam

kebenaran. Orang-orang yang menentang tidak akan dapat

membahayakan mereka, hingga keputusan Allah datang dan mereka

masih tetap dalam kebenaran."

Hadits ini diriwayatkan melalui beberapa orang sahabat dengan lafadz

yang mirip29.

Bahkan pemahaman kami tidak saja sejalan dengan makna hadits di

atas, namun sejalan dengan firman Allah berikut ini,

29 Lihat kata pengantar Majalah Al-Markaz no.1

Page 19

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 19

ô⎯£ϑÏΒuρ

!$oΨø)n=yz

×π¨Βé&

tβρ߉öκu‰

Èd,ysø9$$Î/

⎯ϵÎ/uρ

šχθä9ω÷ètƒ

∩⊇∇⊇∪

"Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang

memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula)

mereka menjalankan keadilan." (Al-'Araaf (7):181)

Ayat ini turun untuk kalian –wahai kaum muslimin-. Ada sekelompok

orang dari kalian yang memiliki sifat seperti yang digambarkan dalam ayat

di atas30. Dia (Ibnu Katsir) menujukkan sebuah firman Allah yang juga

terdapat di dalam surat yang sama,

⎯ÏΒuρ

ÏΘöθs%

#©y›θãΒ

×π¨Βé&

šχρ߉öκu‰

Èd,ptø:$$Î/

⎯ϵÎ/uρ

tβθä9ω÷ètƒ

∩⊇∈®∪

"Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi

petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah

mereka menjalankan keadilan." (Al-'Araaf (7):159)

Kedua ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah. Adapula ayat lain

yang sejenis, namun dalam bentuk perintah Allah, seperti firman Allah,

⎯ä3tFø9uρ

öΝä3ΨÏiΒ

×π¨Βé&

tβθããô‰tƒ

’n<Î)

Îösƒø:$#

tβρããΒù'tƒuρ

Å∃ρã÷èpRùQ$$Î/

tβöθyγ÷Ζtƒuρ

Ç⎯tã

Ìs3Ψßϑø9$#

4

y7Íׯ≈s9'ρé&uρ

ãΝèδ

šχθßsÎ=øßϑø9$#

∩⊇⊃⊆∪

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru

kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah

dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali

Imran (3):104)

Ayat di atas diperkuat dengan ayat berikut ini,

(#θçΡuρ$yès?uρ

’n?tã

ÎhÉ9ø9$#

3“uθø)−G9$#uρ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan

takwa.” (Al-Maidah (5):2)

”Nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat

menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr (103):3)

¨βÎ)

©!$#

=Ïtä†

š⎥⎪Ï%©!$#

šχθè=ÏG≈s)ãƒ

’Îû

⎯Ï&Î#‹Î6y™

$y|¹

Οßγ¯Ρr(x.

Ö⎯≈uŠ÷Ψç/

ÒÉθß¹ö¨Β

30 Ibnu Katsir menyebutkan hal ini di dalam tafsirnya tentang Qatadah yang menyampaikan

kepada Nabi Saw, juz 2/269 cet. Al-Halbi

Page 20

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 20

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di

jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti

suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaaf (61):4)

Rasulullah Saw bersabda, "Tangan Allah bersama jama'ah.31"

Meskipun seseorang memiliki bakat dan kemampuan yang banyak,

tetap saja tenaga dan kekuatannya terbatas. Dia akan tetap seperti itu,

selama tidak ada orang-orang yang mendukung dan menolongnya. Seorang

diri sedikit, bersama orang-orang lain akan menjadi banyak. Seorang diri

lemah, berjamaah dan bersama-sama akan menjadi kuat.

Oleh karena itu Musa as –padahal dia sosok orang yang kuat dan dapat

dipercaya- ketika diberi tugas oleh Allah, berkata,

≅yèô_$#uρ

’Ík<

#\ƒÎ—uρ

ô⎯ÏiΒ

’Í?÷δr&

∩⊄®∪

tβρã≈yδ

©År&

∩⊂⊃∪

÷Šß‰ô©$#

ÿ⎯ϵÎ/

“Í‘ø—r&

∩⊂⊇∪

çµø.Îõ°r&uρ

þ’Îû

“ÌøΒr&

∩⊂⊄∪

ö’s1

y7ysÎm7|¡èΣ

#ZÏVx.

∩⊂⊂∪

x8tä.õ‹tΡuρ

#·ÏWx.

∩⊂⊆∪

y7¨ΡÎ)

|MΖä.

$uΖÎ/

#ZÅÁt/

∩⊂∈∪

"Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu)

Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan

jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak

bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau.

Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami."

(Thaha (20):29-35)

Allah memenuhi permintaan nabi Musa ini, sebagaimana terdapat di

dalam firman Allah berikut ini,

tΑ$s%

‘‰à±t⊥y™

x8y‰àÒtã

y7‹Åzr'Î/

ã≅yèøgwΥuρ

$yϑä3s9

$YΖ≈sÜù=ß™

"Allah berfirman, 'Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan

Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar.'" (Al-Qashash

(28):35)

Ayat-ayat di atas memberi pengertian kepada kita bahwa betapapun

kuatnya seseorang, dia membutuhkan pertolongan yang akan

membantunya.

31 HR Tirmidzi diriwayatkan melalui Ibnu Abbas r.a. dengan no. hadits 2167, juga diriwayatkan

melalui Ibnu Umar r.a. dengan no. hadits 2168. Kedua hadits ini dinilai sebagai hadits gharib. Adapun

hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani dengan para perawi yang dapat dipercaya (tsiqat), seperti yang

diucapkan Al-Haitsami. Ibnu Hajar berkata, "Hadits ini memiliki penguat (syawahid) yang banyak

diantaranya hadits mauquf shahih." Oleh karenanya, As-Suyuthi menilai hadits ini sebagai hadits hasan.

Beliau mencantumkan hadits ini di dalam kitab "Al-Jami' Ash-Shagir". Lihat Faidhul Qadir juz 6/459.

Al-Bani mencantumkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami' dengan no. hadits 8065, cet. kedua.

Page 21

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 21

Saya akan menjelaskan firman Allah yang ditujukan kepada

Muhammad Saw,

uθèδ

ü“Ï%©!$#

š‚y‰−ƒr&

⎯ÍνÎóÇuΖÎ/

š⎥⎫ÏΖÏΒ÷σßϑø9$$Î/uρ

∩∉⊄∪

y#©9r&uρ

š⎥÷⎫t/

öΝÍκÍ5θè=è%

4

"Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan

para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang

yang beriman)." (Al-Anfal (8):62-63)

Allah Swt telah memperkuat nabi-Nya dengan pertolongan dari-Nya

dan orang-orang beriman yang hatinya telah disatukan dalam tujuan dan

akidah yang satu. Dengan kata lain, Allah menolong nabi-Nya dengan

kelompok orang-orang beriman yang saling terikat.

Jika kita memahami hadits di atas dengan pemahaman seperti ini, maka

kita tidak perlu menunggu datangnya seorang mujadid, imam Mahdi yang

turun dari langit ke tengah-tengah kita.

Kita tidak perlu menunggu sampai ada seseorang yang mengaku

dirinya sebagai mujadid/pembaharu abad ini. Kemudian ada yang

mengakui dan ada pula yang menolak bahwa dirinya adalah seorang

mujadid. Sebagaimana yang terjadi atas diri As-Suyuthi, ketika dia

mengaku bahwa dirinya adalah seorang mujadid abad ke 9 H. Banyak

orang di masanya yang mengingkari bahwa dirinya adalah seorang

mujadid.

Kita tidak perlu menunggu sampai ada seseorang, kelompok Zaid atau

kelompok Amru sebagai kelompok pembaharu di abad ke 10 atau 14 H.

Sehingga orang-orang yang berada di dalam kelompok itu akan menerima

anggapan ini. Sedangkan pihak lain akan mengolok-oloknya.

Kita tidak perlu menunggu sampai setiap kelompok dicalonkan sebagai

mujadid. Sehingga orang yang mengerti hadits mencalonkan diri sebagai

seorang ahli hadits. Ulama ilmu kalam mencalonkan diri sebagai

Mutakalimin. Orang-orang yang mendalami ilmu fiqih hanya mau

dipanggil dengan sebutan ahli fiqih. Setiap kelompok mengajukan seorang

yang paling faqih di madzhabnya. Madzhab Syafi’i mengajukan imam

Syafi'i. Madzhab Hambali mengajukan Imam Ahmad bin Hambal. Orang-

orang yang amat konsern terhadap masalah politik, mengajukan seorang

calon khalifah atau amir. Sedangkan mereka yang memperhatikan masalah

Jihad mengajukan seorang panglima perang.

Jika tidak seperti pemahaman ini, kita dapat mengikut sertakan seluruh

umat dalam proses pembaharuan. Umatlah yang mengkategorikan siapa

yang layak menjadi mujadid dan umat pula yang membuat mereka menjadi

semakin cemerlang. Umat yang menggerakkan mereka, mempersiapkan

kondisi yang sesuai untuk kemunculan dan aktivitas mereka. Umat pula

yang membantu mereka untuk mewujudkan cita-cita mereka dan

melenyapkan berbagai rintangan yang menghalangi. Umat pula yang

membekali mereka untuk menempuh perjalanan yang panjang hingga

memperoleh apa yang mereka inginkan. Umatlah yang memberikan setiap

Page 22

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 22

orang posisi dalam kafilah pembaharuan. Sehingga mereka dapat dikatakan

sebagai bagian dari Islam.

Dari sinilah muncul pertanyaan dalam diri setiap muslim:

Apa peranku dalam gerakan pembaharuan? Apa kewajibanku terhadap

gerakan pembaharuan?

Semua pertanyaan di atas merupakan pengganti pertanyaan, "Kapan

mujadid/pembaharu akan muncul?"

Kapan Terjadinya Pembaharuan

Namun kapan terjadinya pembaharuan?

Hadits di atas memberikan batasan waktu bagi pembaharuan adalah

'kepala/penghujung setiap seratus tahun sekali.' Kepala dari segala sesuatu

adalah bagian atasnya, sedangkan kepala dari tahun adalah awalnya.

Para pensyarah hadits bertanya-tanya tentang penghitungan pertama

dari 1 abad. Al-Manawi berkata, "Kemungkinan dihitung sejak kelahiran

Nabi Saw, bisa juga dihitung sejak diutusnya Muhammad sebagai

Rasulullah. Ada juga yang menyatakan bahwa penghitungan itu sejak

wafatnya Rasulullah." Namun Subki dan yang lainnya penghitungan 1 abad

dimulai dari peristiwa hijrah nabi Muhammad Saw.

Para pensyarah hadits ketika membicarakan tentang para

pembaharu/mujadid, mereka menganggap bahwa tanggal hijriah

merupakan dasar perhitungan. Pendapat ini merupakan pendapat yang

masuk diakal. Karena penanggalan hijriah merupakan penanggalan yang

Allah ilhamkan kepada kaum muslimin di masa pemerintahan Umar.

Mereka membuat perhitungan tanggal dimulai dari peristiwa hijrah, tidak

yang lain. Perhitungan tidak dimulai dari peristiwa kelahiran Rasulullah,

tidak dimulai dari peristiwa diutusnya Muhammad sebagai Rasul dan

bukan pula dihitung dari waktu wafatnya Nabi Saw.

Selain itu dapat dilihat, ketika para pensyarah menjadikan tahun

wafatnya pembaharu pada penghujung abad. Hal ini sebagaimana dapat

dilihat dari tahun wafat mereka yang ditetapkan sebagai pembaharu. Umar

bin Abdul Aziz wafat pada tahun 101 H. Asy-Syafi’i meninggal pada tahun

204 H, Ibnu Sirij wafat di tahun 306 H, Al-Baqilani pada tahun 403 H, Al-

Ghazali pada tahun 505 H, Ar-Razi pada tahun 606 H, Ibnu Daqiq Al-’ied

pada tahun 703 H dan Al-Iraqi pada tahun 808 H.

Para pensyarah tidak menyebut diantara mereka, seorang imam pun.

Mereka tidak menyebut nama Imam Ibnu Taimiyyah yang memimpin

gerakan pembaharuan dalam bidang pemikiran Islam dengan segala

aspeknya. Karena wafatnya jauh dari penghujung abad. Ibnu Taimiyyah

wafat di tahun 728 H.

Hadits di atas tidak berbunyi, "Allah mewafatkan seorang mujadid

(pembaharu) di penghujung abad." Tetapi hadits itu berbunyi, "Allah

mengutus seorang pembaharu di penghujung abad." Artinya, "Tugas

Page 23

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 23

pembaharu (mujadid) dimulai di penghujung abad dan bukan berakhir di

penghujung abad."

Saya menemukan Al-Allamah Al-Manawi menaruh perhatian terhadap

makna hadits ini. Dia berkata, "Ini merupakan peringatan yang perlu

menggunakan kecerdasan. Setiap orang yang berbicara tentang hadits ini

"Allah mengutus ………dan seterusnya hingga akhir hadits", memutuskan

berdasarkan bahwa orang yang diutus di penghujung abad, wafatnya juga

di penghujung abad. Anda memang ahlinya dalam mengambil kesimpulan

dengan segera. Al-Ba'tsu adalah Al-Irsal (mengutus/mengirim) yang terjadi

di penghujung abad, yaitu di awal abad. Arti mengutus ke dunia adalah

mempersiapkannya untuk menghadapi manusia agar dapat bermanfaat

bagi mereka. Memberinya kedudukan untuk menyebarkan hukum-hukum

Allah. Kemudian dia wafat dipenghujung abad juga. Coba renungkanlah

dengan obyektif!"

Al-Manawi berkata, "Saya melihat Ath-Thayyibi berpendapat, "Yang

dimaksud Al-Ba'tsu adalah setelah berlalunya 100 th. Hal ini merupakan

alam yang sudah dikenal."

Al-Kirmani berkata, "Orang yang berada dalam ketaatan pada Allah

selama seabad, juga termasuk orang yang membenarkan dan melaksanakan

perintah agama. Inilah yang dimaksud dengan orang yang menghabiskan

selama seabad dan dia masih hidup serta mengenal orang yang ada

diselilingnya."

Al-Manawi berkata, "Terkadang seorang pembaharu berada di

pertengahan abad bahkan terkadang lebih baik dari mereka yang diutus di

awal abad. Penyebutan secara khusus penghujung abad adalah karena

biasanya pada saat itu banyak ulama yang berpulang ke rahmatullah,

munculnya berbagai bid'ah dan bermunculan para dajjal32." Ini pendapat

yang dapat diterima akal.

Menurut saya (penulis), hadits ini memberi pengertian munculnya

abad baru berarti munculnya fajar dan harapan baru. Sehingga umat Islam

dapat menyambut kedatangan abad itu dengan harapan bahwa esok lebih

baik dari hari ini. Hati mereka penuh dengan niat yang membaja untuk

melakukan yang terbaik, berniat untuk merubah keadaan sekarang dengan

keadaan yang semestinya. Terlebih lagi di penghujung abad ini, umat Islam

harus mengoreksi diri dan meluruskan sikap-sikapnya yang menyimpang.

Mereka harus berusaha untuk mengambil pelajaran dari masa lalunya,

harus bangkit menjalani hidup saat ini dan selalu berusaha agar masa

depan menjadi lebih baik. Pendekatan diri mereka terhadap Allah hari ini

harus lebih baik dari kemarin dan esok hari harus lebih baik dari hari ini.

Hadits di atas tidak menutup kemungkinan hadirnya para pembaharu

di pertengahan atau di akhir abad. Ungkapan hadits itu adalah ungkapan

mengenai realita yang dapat disaksikan oleh orang-orang yang membaca

perjalanan sejarah umat ini. Diantara mereka yang pantas dikategorikan

32 Faidhul Qadir juz 1/12

Page 24

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 24

sebagai pembaharu yang muncul di pertengahan atau akhir abad adalah:

Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syatibi, Ibnul Wazir, Ibnu

Hajar, Ad-Dahlawi, Asy-Syaukani dan lain sebagainya.

Siapa Yang Menjadi Obyek Pembaharuan?

Seperti yang dijelaskan di dalam hadits, yang menjadi obyek

pembaharuan adalah umat Islam, umat Muhammad. Al-Manawi berkata,

"Kata umat mengandung arti banyak orang, namun diungkapkan dengan

kata tunggal (yaitu kata ummat). Menggunakan lafadz bentuk tunggal,

namun mengandung arti jamak (banyak orang). Jama'ah atau komunitas

yang di tengah-tengah mereka diutus seorang nabi, mereka diseru untuk

menyembah Allah, maka mereka biasa disebut sebagai umat dakwah. Jika

semua atau sebagian yang beriman, maka mereka disebut dengan istilah

orang-orang beriman atau umat yang menerima dakwah (Ummatul

Ijabah). Itulah yang dimaksud hadits. Di samping itu diperkuat lagi dengan

ungkapan agamanya/agama umat (diiniha)33."

Kata Li-Hadzihil Ummati merupakan isyarat kepada ummat Islam, umat

yang menerima dakwah sepanjang abad itu atau generasi di abad itu.

Seolah-olah Nabi Saw mengundang mereka dihadapannya dan menunjuk

kepada mereka dengan sabdanya, "ummat ini."

Dia merupakan umat yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, seperti

terdapat di dalam ayat berikut ini,

y7Ï9≡x‹x.uρ

öΝä3≈oΨù=yèy_

Zπ¨Βé&

$VÜy™uρ

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam),

umat yang adil dan pilihan." (Al-Baqarah (2):143)

öΝçGΖä.

uöyz

>π¨Βé&

ôMy_Ì÷zé&

Ĩ$¨Ψ=Ï9

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia."

(Ali Imran (3):110)

Al-Qur'an dan Sunnah hanya mengenal sebutan umat untuk umat

Islam saja. Umat Islam adalah umat yang satu, walaupun berbeda suku,

bangsa, warna kulit dan negrinya.

¨βÎ)

ÿ⎯ÍνÉ‹≈yδ

öΝä3çF¨Βé&

Zπ¨Βé&

Zοy‰Ïm≡uρ

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua;

agama yang satu." (Al-Anbiya (21):92)

33 Faidhul Qadir juz 1/10

Page 25

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 25

¨βÎ)uρ

ÿ⎯ÍνÉ‹≈yδ

óΟä3çF¨Βé&

Zπ¨Βé&

Zοy‰Ïn≡uρ

O$tΡr&uρ

öΝà6š/u‘

Èβθà)? $$sù

∩∈⊄∪

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua,

agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah

kepada-Ku." (Al-Mukminun (23):52)

Oleh karena itu, kita tidak boleh mengungkapkan umat-umat Islam. Di

dalam Islam tidak terdapat umat-umat. Yang ada hanya umat yang satu.

Yang benar adalah menggunakan ungkapan negri-negri Islam. Karena

negri-negri Islam merupakan bagian dari umat Islam.

Pembaharuan secara mutlak dan keseluruhan meliputi seluruh umat

Islam dan berpengaruh secara merata. Pembaharuan secara sempurna

meliputi ilmu dan amal secara bersamaan. Menurut kami hal seperti ini

nampak pada pengaruh Umar bin Abdul Aziz, Asy-Syafi’i, Al-Ghazali dan

lainnya. Mereka semua termasuk para pembaharu yang berpengaruh

seluruh umat Islam. Walaupun terkadang pengaruh tersebut hanya pada

satu sisi kehidupan. Namun di lain sisi berpengaruh dalam berbagai aspek

kehidupan umat Islam.

Namun pembaharuan terkadang bersifat parsial, kadang kala pada sisi

kehidupan saja atau terkadang hanya meliputi satu daerah tertentu, bahkan

terkadang hanya berpengaruh pada satu kelompok saja. Akan tetapi bisa

jadi pengaruh pembaharuan meliputi berbagai aspek kehidupan, beberapa

kelompok bahkan terkadang berpengaruh pada beberapa negara.

Apa Agama Masyarakat Yang Menjadi Target Pembaharuan?

Seperti yang terdapat di dalam hadits, yang perlu diperbaharui adalah

agama. Namun apa yang dimaksud dengan agama yang terdapat di dalam

hadits di atas?

Kata Ad-Dien semakna dengan kata Al-Islam. Jika kata ini disebutkan,

maka mempunyai makna salah satu dari kedua makna berikut ini,

Pertama, bermakna metode illahi (Allah). Allah mengutus rasul-Nya,

menurunkan kitab-Nya demi menjelaskan metode illahi ini. Yang termasuk

ke dalam metode illahi adalah perkara akidah, ibadah, akhlak dan syari'at.

Metode Illahi ini berfungsi untuk mengatur hubungan antara manusia

dengan Allah dan hubungan sesama manusia. Hal ini sebagaimana

diungkapkan Ibnu Khaldun, "Peraturan Allah adalah kompas bagi umat

manusia dengan memberikan pilihan pada mereka untuk kebaikan di

dunia dan akhirat."

Pada dasarnya, makna di atas adalah makna yang sudah fix, tidak

memerlukan perubahan dan tidak pula memerlukan adanya pembaharuan.

Kedua, bermakna keadaan yang dialami oleh manusia yang berkaitan

dengan makna pertama. Baik dari segi pemikiran, perasaan, perbuatan atau

akhlak. Sehingga dapat diungkapkan bahwa si fulan agamanya lemah, si A

agamanya kuat. Si fulanah Islamnya baik dan si anu Islamnya buruk.

Page 26

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 26

Pengertian dien/agama di atas dapat berubah-ubah, dapat bertambah

dan berkurang, melemah dan menguat, murni dan keruh, lurus dan

menyimpang tergantung pada pemahaman manusia terhadap agama. Kuat

atau lemahnya juga tergantung pada keimanan dan keterikatan seseorang

pada agama.

Makna agama seperti inilah yang perlu diperbaharui. Sehingga tidaklah

aneh bila kata dien/agama dalam hadits di atas bergandeng dengan kata

umat dan bukan bergandengan dengan kata Allah. Hal ini nampak pada

ungkapan Li yujaddida lahaa dienahaa. Sehingga pengertian pembaharuan

ditujukan pada agama umat dan bukan agama Allah.

Makna Pembaharuan

Oleh karena itu menurut kami, tidak beralasan penolakan sebagian

ulama untuk menggunakan istilah 'pembaharuan agama'. Mereka khawatir

istilah ini digunakan orang-orang sesat untuk ungkapan yang tidak

dibenarkan oleh Islam. Penggunaan istilah yang kami maksud di sini bukan

ditujukan untuk pengertian pembaharuan agama yang diturunkan Allah

(yaitu bukan pengertian agama dalam makna yang pertama). Ungkapan ini

telah biasa digunakan dan dibenarkan oleh hadits. Tidak perlu seorang

muslim merasa khawatir untuk menggunakan ungkapan ini. Yang

terpenting adalah kita harus memberikan batasan pengertiannya, sehingga

setiap orang atau setiap kelompok tidak menggunakan ungkapan ini

semaunya. Kalau begitu, apa arti pembaharuan di sini?!

Al-'Azizi di dalam syarah Al-Jami' Ash-Shagir mengutip dari Al-'Alqami

menjelaskan bahwa makna At-Tajdid (pembaharuan) adalah

menghidupkan kembali untuk mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah yang

selama ini telah dilupakan34. Sehingga pembaharuan ditujukan pada amal

perbuatan.

Imam Al-Manawi berkata dalam menjelaskan lafadz yujaddidu adalah

menjelaskan mana saja yang termasuk perbuatan sunnah dan perbuatan

bid'ah. Mengembangkan ilmu dan menolong orang-orang yang berilmu.

Kemudian meluruskan orang-orang yang gemar berbuat bid'ah35.

Pengertian pembaharuan di sini adalah ditujukan pada ilmu.

Di bagian lain, imam Al-Manawi berkata, "Pengertian memperbaharui

adalah menghidupkan kembali hukum-hukum syari'at Islam yang telah

dilupakan. Menghidupkan kembali rambu-rambu sunnah yang telah

hilang dan menghidupkan kembali ilmu-ilmu teori dan praktek36."

Ungkapan pembaharuan di atas meliputi ilmu dan amal. Pembaharuan

secara mutlak meliputi ilmu dan amal secara keseluruhan.

Saya (penulis) ingin memperingatkan disini tentang makna penting dari

pembaharuan. Pembaharuan terhadap sesuatu merupakan usaha

34 Juz 1 hal. 411 dari buku As-Siraj Al-Munir karya Al-'Azizi

35 Faidhul Qadir juz 2/281, 282

36 Al-Faidh juz 1 hal. 10

Page 27

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 27

mengembalikan sesuatu seperti ketika pertama kali muncul, sehingga

kemunculannya seolah-olah seperti baru. Hal itu dengan menguatkan

sesuatu yang telah lemah, memperbaiki yang telah rusak, menambal

sesuatu yang telah koyak, sehingga kembali seperti keadaan semula.

Sehingga pembaharuan bukanlah merubah tabi'at/ karakteristik yang

lama, bukan pula mengganti dengan sesuatu yang lain, baru dan

merupakan hasil kreativitas. Ini semua bukan termasuk dalam kategori

pembaharuan.

Sebagai contoh, ketika kita ingin merenovasi/memperbaharui suatu

bangunan kuno, maka kita harus menjaga keaslian, keorisinalan,

karakteristik dan kekhasan penting bangunan lama. Maka menjaga

kekhasan, memperbaiki segala yang rusak dan memperbaiki jalan masuk

serta memudahkan sarana untuk mencapai bangunan itu termasuk aktifitas

renovasi/pembaharuan. Sehingga pembaharuan terhadap sesuatu

bukanlah merubuhkannya dan mendirikan bangunan baru dengan model

yang baru.

Demikian pula halnya dengan memperbaharui urusan agama.

Memperbaharui urusan agama bukan berarti memunculkan sesuatu

dengan karakteristik baru. Namun memperbaharui urusan agama adalah

mengembalikannya seperti di masa Rasulullah, para sahabat dan orang-

orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Orang yang membaca fiqih para shahabat Rasulullah dan para tabi'in,

niscaya akan memahami bahwa mereka adalah manusia yang paling

paham terhadap semangat Islam dan tujuan-tujuan dari syari'at Islam.

Mereka amat berpegang teguh pada syari'at Islam. Selain itu, mereka juga

berijtihad mencari hukum pada perkara-perkara baru, namun dengan

tetap menjaga semangat persaudaraan sesama muslim. Masyarakat pada

saat itu mengetahui bahwa Allah menurunkan syari'at Islam untuk

kepentingan hamba-hamba-Nya. Dia menginginkan kemudahan bagi

hamba-hamba-Nya dan bukan menghendaki kesulitan mereka. Metode

mereka seperti yang diungkapkan oleh Ali r.a. (metode pertengahan).

Kunci pembaharuan agama adalah kesadaran dan pemahaman. Dalam

ungkapan Islam adalah fiqih. Yang saya maksud dengan fiqih di sini bukan

makna fiqih menurut istilah. Bukan dalam pengertian segala yang

berkaitan dengan pengetahuan hukum furu' seperti wudhu', shalat,

menyusui, menikah, thalaq saja. Namun yang saya maksud fiqih disini

adalah pemahaman seseorang terhadap Al-Qur'an dan Sunnah. Hal ini

sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini,

ô‰s%

$uΖù=¢Ásù

ÏM≈tƒFψ$#

5Θöθs)Ï9

šχθßγs)øtƒ

∩®∇∪

"Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami

kepada orang-orang yang mengetahui." (Al-'An'am (6):98)

Page 28

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 28

Allah menjelaskan bahwa pemahaman seperti ini tidak dimiliki orang-

orang musyrik dan musuh-musuh Islam. Hal ini seperti yang dijelaskan

dalam ayat berikut ini,

"Kaum yang tidak mengerti." (Al-Anfal (8):65)

Allah menjelaskan tentang penduduk neraka dengan ungkapan seperti

ini,

öΝçλm;

Ò>θè=è%

ω

šχθßγs)øtƒ

$pκÍ5

"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk

memahami (ayat-ayat Allah)." (Al-'Araf (7):179)

Allah berfirman,

Ÿωöθn=sù

txtΡ

⎯ÏΒ

Èe≅ä.

7πs%öÏù

öΝåκ÷]ÏiΒ

×πxÍ←!$sÛ

(#θßγ¤)xtGuŠÏj9

’Îû

Ç⎯ƒÏe$!$#

(#ρâ‘É‹ΨãŠÏ9uρ

óΟßγtΒöθs%

#sŒÎ)

(#þθãèy_u‘

öΝÍκös9Î)

óΟßγ¯=yès9

šχρâ‘x‹øts†

∩⊇⊄⊄∪

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka

beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang

agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila

mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga

dirinya." (At-Taubah (9):122)

Rasulullah bersabda,

"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka dia akan diberi

pemahaman dalam urusan agama.37"

Fiqih (pemahaman) di sini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Al-

Qur'an dan As-Sunnah adalah pemahaman tentang alam dan tentang

agama. Oleh karena itu, yang pertama adalah pemahaman mengenai Allah

dalam kaitannya dengan penciptaan. Yang kedua pemahaman mengenai

Allah dalam kaitannya dengan syari'at-Nya.

Yang dimaksud dengan pemahaman tentang alam adalah pemahaman

ayat-ayat Allah yang terdapat dalam jiwa manusia dan planet-planet.

Pemahaman tentang sunatullah-Nya yang tidak pernah berubah atas alam

dan manusia. Hal ini sebagaimana yagn ditunjukkan redaksi ayat-ayat Al-

Qur'an.

Yang dimaksud dengan pemahaman tentang dien/agama adalah

mengetahui, memahami setelah mempelajari Islam secara mendalam dari

sumbernya yang jernih. Yaitu dari orang-orang yang memiliki pemahaman

yang lurus dan bersih. Mempelajari dari orang-orang yang memperoleh

tuntunan dari generasi pertama yaitu generasi yang paling memahami

37 HR Muttafaq 'alaih, hadits yang diriwayatkan melalui Mu'awiyyah r.a.

Page 29

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 29

Islam dan generasi yang paling komitmen pada Islam. Mempelajari Islam

dari orang-orang yang tidak lalai pada keuniversalan, kemoderatan dan

kemudahan Islam. Orang-orang seperti ini mampu membedakan antara

perkara yang kulliyat (menyeluruh, global) dan juziyyat (parsial), dapat

membedakan antara hukum-hukum yang ushul (pokok) dan yang furu'

(cabang). Mereka juga mampu membedakan bagian ajaran Islam mana

yang tetap dan abadi (tsabat dan khulud) serta bagian mana yang elastis

dan dapat berubah (murunah dan taghayyur). Mereka dapat membedakan

tingkatan dan derajat perbuatan menurut syari'at Islam. Apakah perbuatan

itu baik (hasanah) atau buruk (sayyi'at). Mereka tahu bahwa rukun

berbeda dengan hal-hal yang fardhu. Mereka juga tahu bahwa fardhu

tidak sama dengan wajib. Kewajiban juga tidak sama dengan sunnah dan

rawatib. Rawatib juga berbeda dengan perbuatan mustahabbaat.

Di sisi lain, mereka juga mengetahui bahwa kekufuran tidak sama

dengan perbuatan maksiat, walaupun termasuk perbuatan dosa besar.

Mereka tahu bahwa dosa besar yang diharamkan tidak sama dengan dosa

kecil. Mereka juga memahami bahwa dosa kecil tidak sama dengan perkara

yang syubhat. Hal-hal yang haram tidak sama dengan hal-hal yang

makruh. Mereka dapat membedakan antara perkara makruh yang

diharamkan (tahriman) dan perkara makruh yang dibersihkan (tanzihan).

Setiap perbuatan ada tingkatannya dan setiap tingkatan ada status

hukumnya.

Mencampur adukkan dan menyamakan perbedaan antara derajat

perbuatan dan perbuatan itu sendiri merupakan perbuatan yang amat

bodoh dan membahayakan. Juga termasuk hal yang bodoh dan

membahayakan, jika menganggap sesuatu yang menyeluruh sebagai satu

bagian. Menggabungkan sesuatu yang telah dipisahkan dan dibedakan oleh

Allah juga termasuk perbuatan yang bodoh dan menyesatkan. Memisahkan

sesuatu yang telah digabungkan oleh Allah juga termasuk perbuatan yang

odoh dan amat berbahaya.

Di abad 15 H ini, kita membutuhkan pembaharuan dalam bidang

pemikiran yang bersifat budaya dan pendidikan (tajdid fikriy tsaqafi)

secara luas dan mendalam. Pembaharuan akan mengembalikan kehidupan

dan kegiatan ijtihad kembali bersemi. Ijtihad dilihat dari jenisnya dibagi

menjadi dua:

1. Ijtihad dalam pengertian memilih pendapat yang kuat secara murni

2. Ijtihad dalam pengertian kreasi yang membangun

Ijtihad itu adalah mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan

baru dan kontemporer. Solusi itu digali dari syari'at Islam. Ijtihad dapat

mendeteksi, mendiagnosa berbagai penyakit masyarakat disertai

kemampuan memberi resep yang diambil apotik Islam dan bukan dari

apotik barat yang sekularis atau apotik timur yang atheis.

Hal ini diwajibkan atas kelompok ilmiah yang bergerak dalam bidang

ini (ijtihad). Janganlah engkau membatasi sumber pendapat-pendapat

ijtihad. Selain itu, wajib atas fakultas syari'ah membuat metode, buku-buku

Page 30

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 30

dan kajiannya dalam bidang fiqih, ushul fiqih dan sejarahnya, terlebih lagi

fiqih Al-Qur'an dan Sunnah dalam studi komparasi ilmiah. Sehingga

fakultas syari'ah mampu untuk membentuk akal pemikiran yang merdeka

dan diharapkan dapat berijtihad di bidangnya. Hendaknya fakultas syari'ah

dapat mengembangkan kemampuan mahasiswa cerdas dan menguatkan

tekad untuk tetap berada di jalan ini.

Pembaharuan mampu untuk mengembalikan Islam ke panggung dunia

dalam bahasa kekinian. Pembaharuan menyeru semua kaum dengan

bahasa mereka. Pembaharuan menyadari kekhasan masa kini, kekhasan

Islam dan kekhasan masing-masing kaum. Pembaharuan mampu

memahami pemahaman secara luas dan mendalam. Allah berfirman,

!$tΒuρ

$uΖù=y™ö‘r&

⎯ÏΒ

@Αθß™§‘

ωÎ)

Èβ$|¡Î=Î/

⎯ϵÏΒöθs%

š⎥Îi⎫t7ãŠÏ9

öΝçλm;

(

"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa

kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada

mereka." (Ibrahim (14):4)

Ayat ini tidak berarti kita bercakap-cakap bahasa Inggris terhadap

orang Inggris dan berbahasa Cina dengan orang Cina. Tidak itu saja. Tapi

harus tahu bagaimana kita dapat masuk dalam akal dan hati orang Inggris.

Bagaimana kita dapat masuk dalam akal dan hati orang Cina. Pendekatan

tertentu terkadang cocok untuk suatu negara, namun tidak cocok untuk

negara yang lain.

Ini berarti perlu adanya perkembangan sarana dan tekhnis dakwah.

Selain itu perlu pengembangan kemampuan para pengemban dakwah.

Perkembangan ini sesuai dengan tuntutan zaman dan pengarahan Islam.

Berbicara pada kaum/bangsa yang telah sampai ke bulan bukan

dengan bahasa kaum/bangsa yang tinggal di pedalaman. Masing-masing

mereka mempunyai bahasa. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bahasa

setiap bangsa, agar kita dapat berpikir seperti mereka dan dapat

menjelaskan kepada mereka.

Pembaharuan dapat mengembalikan pandangan mengenai ilmu-ilmu

tentang manusia dan masyarakat dari sudut pandang Islam yang benar,

yaitu sudut pandang yang bersandar pada filsafat Islam yang menyeluruh

dan yang bersandar pada pandangan Islam terhadap agama, kehidupan,

manusia, masyarakat dan sejarah. Semua itu dapat dimanfaatkan seluruh

sekolah yang berdiri dan dapat pula dimanfaatkan oleh berbagai hasil

penelitian serta analisanya. Semua itu dapat dilakukan tanpa harus

terpasung oleh satu filsafat atau seluruh filsafat.

Ini berarti, perguruan tinggi kita harus dapat melepaskan dari belenggu

pemikiran barat yang memiliki cabang dua yaitu Liberal dan Marx.

Perguruan tinggi kita harus kembali pada akar dan pokok ajaran Islam.

Semua perguruan kita harus mengambil segala sesuatu yang berasal dari

Islam. Semua perguruan tinggi hendaknya mampu untuk mencetak

generasi yang memiliki pemikiran yang merdeka. Perguruan tinggi

Page 31

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 31

seharusnya mampu memadukan antara keorisinalan Islam dan

kemoderanan zaman.

Hal ini merupakan kewajiban bagi seluruh perguruan tinggi di negri

Arab dan dunia Islam. Merupakan kewajiban perguruan tinggi Islam

khususnya, seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Imam Muhammad bin

Su'ud, Universitas Islam Al-'Alamiyyah di Islamabad dan perguruan tinggi

lainnya.

Pembaharuan memberi kesempatan kepada umat Islam untuk unggul

ilmu alam dan matematika, memberi kesempatan kepada mereka untuk

unggul dalam penerapan tekhnologi di lapangan sipil dan militer.

Pembaharuan memberi kesempatan kepada umat mampu membuat

persenjataan, memberi kesempatan untuk mengeksplorasi hasil alam yang

tersebar. Sehingga tidak ada lagi kekurangan pangan dan kelemahan

persenjataan.

Ini semua menuntut adanya pengembangan metode pengajaran, sarana,

tujuan dan tekhnis pendidikan sesuai dengan tuntutan zaman dan sesuai

dengan yang diwajibkan oleh Islam.

Jika para ahli pendidikan di Amerika Serikat menyerukan keharusan

pengembangan pendidikan yang disesuaikan tuntutan zaman. Karena

mereka berpendapat bahwa umat manusia berada dalam jurang bahaya.

Jika perjalanan dunia pendidikan mereka senantiasa disempurnakan,

lalu bagaimana keadaan kita saat ini?

Pembaharuan agama bukan dari segi pemikiran saja, sebagaimana

pemahaman mayoritas. Ketika mereka menyebut kata 'pembaharuan' dan

memperbincangkannya, maka hanya berputar pada perkara pembaharuan

ijtihad dan membangkitkan pemikiran muslim untuk menghadapi

perkembangan zaman.

Tidak diragukan lagi, pembaharuan pemikiran, menghidupkan ijtihad

dan merubah paradigma salah, muncul sebagai garis depan pembaharuan.

Ilmu harus ada terlebih dahulu, mendahului perbuatan dan pemikiran

mendahului gerakan.

Untuk melandasi pendapat ini cukuplah wahyu pertama yang turun

kepada Rasulullah Saw dijadikan dalil. Wahyu pertama yang turun kepada

beliau diawali dengan kata Iqra' (bacalah). Ya memang benar, membaca

adalah kunci dari ilmu, pemikiran dan pengamatan.

Namun yang namanya manusia tidak terdiri dari akal saja. Manusia

memiliki akal dan hati, tubuh dan ruh. Oleh karena itu pembaharuan

terhadap diri manusia adalah pembaharuan manusia secara keseluruhan.

Inilah yang menjadi perhatian terbesar bagi Islam. Islam memberikan

perhatiannya secara proporsional, menurut haknya masing-masing.

Para ulama yang mempunyai perhatian terhadap para pembaharu

dalam sejarah Islam sepakat bahwa Umar bin Abdul Aziz merupakan

Page 32

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 32

mujadid (pembaharu) di abad pertama hijriah (tahun 101 H), meskipun

masa pemerintahannya tidak lebih dari 30 bulan.

Pembaharuan yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz bukan dalam

bidang pemikiran atau ilmu, sebagaimana pembaharuan yang dilakukan

imam Syafi’i dalam abad ke 2 H. Pembaharuan yang dilakukan Umar

adalah pembaharuan dalam amal perbuatan dan pemerintahan. Beliau

menilai batil tradisi dosa. Beliau menghidupkan berbagai kebiasan adil.

Selain itu, dia melenyapkan berbagai perbuatan dzalim, mengembalikan

hak kepada pemiliknya dan menolak berbagai ambisi serta keinginan

keluarganya. Dalam pemerintahannya, selalu disebarkan suasana

ketakwaan dan rasa takut kepada Allah. Oleh karena itu, para ulama

mengkategorikan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah kelima dari

Khulafaur Rasyidin yang empat.

Umar berhasil melakukan itu semua, tanpa sedikit pun rasa sombong,

berbangga hati dan membusungkan dada. Namun beliau selalu berharap

cemas sambil berdoa, "Ya Allah, Umar memang tidak layak memperoleh

rahmat-Mu, namun rahmat-Mu berhak memperoleh Umar!!."

Suatu ketika, seseorang merasa berhutang budi dengan Umar bin Abdul

Aziz, sehingga dia berucap, "Semoga Allah memberikanmu balasan

kebaikan dari Islam." Namun Umar menjawab, "Semoga Allah memberikan

kebaikan/kemajuan Islam lantaran diriku."

Beliau mengembalikan hak kepada pemiliknya. Beliau meletakkan

perkara pada tempatnya. Sehingga Islam yang telah merubah Umar

sedemikian rupa. Bukan Umar yang merubah Islam.

Pembaharuan Dari Segi Keimanan

Yang kami maksud dengan keimanan adalah akidah Islam dan

dasarnya yang berbentuk Tauhid. Unsur-unsur keimanan dibagi menjadi 3,

"Hendaknya kita tidak mencari tuhan selain Allah, tidak menjadikan

penolong selain Allah serta tidak mencari hukum selain hukum Allah."

Inilah makna syahadat Laa ilaaha Illa Allah.

Setelah tauhid, berlanjut pada keimanan terhadap risalah Islam, yaitu

bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Dia bukan tuhan, bukan pula anak

tuhan dan dia tidak berkedudukan sebagai tuhan. Beliau hanyalah hamba

Allah dan rasul-Nya. Allah menurunkan kitab-Nya kepada beliau. Beliau

menyampaikan semua yang diwahyukan padanya. Beliau tidak pernah

berkhianat dan tidak pernah menyembunyikan satu pun ayat Allah. Semua

yang diucapkannya tidak berangkat dari hawa nafsu.

÷βÎ)

uθèδ

ωÎ)

Ö©óruρ

4©yrθãƒ

∩⊆∪

"Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan

(kepadanya)." (An-Najm (53):4)

Page 33

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 33

Salah satu aspek akidah yang disampaikan Rasulullah adalah, keimanan

terhadap akhirat dan balasan perbuatan manusia di dunia. Kematian

bukanlah akhir segalanya. Di balik kehidupan yang fana ini terdapat

kehidupan lain yang kekal. Setiap jiwa akan wafat dan dibalas sesuai

dengan amal perbuatannya di dunia.

⎯yϑsù

ö≅yϑ÷ètƒ

tΑ$s)÷WÏΒ

>六sŒ

#\ø‹yz

…çνttƒ

∩∠∪

⎯tΒuρ

ö≅yϑ÷ètƒ

tΑ$s)÷WÏΒ

;六sŒ

#vx©

…çνttƒ

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,

niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang

mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat

(balasan) nya pula." (Al-Zalzalah (99):7-8)

Urgensi Keimanan Dalam Kehidupan Kita

Keimanan dalam kehidupan kita sebagai muslim bukanlah suatu

perkara yang remeh. Sekali lagi tidak, keimanan adalah permata dan inti

keberadaan kita di dunia ini. Keimanan merupakan rahasia kelangsungan

hidup kita di dunia dan juga merupakan sumber risalah Islam. Kehidupan

kita tidak ada artinya tanpa keimanan dan tidak ada alasan yang mendasari

keberadaan kita di dunia.

Setiap orang memiliki kunci. Jika engkau mengetahui kunci itu dan

dapat menggunakannya, maka engkau dapat mengetahui potensi yang

dimiliki. Dengan kunci itu, engkau dapat menyalakan kandungan

potensimu. Kunci kepribadian manusia di dalam umat kita adalah

keimanan.

Dengan kunci itu, engkau dapat menggerakkan mobil di daratan, kapal

laut di lautan dan pesawat terbang di udara, sehingga engkau dapat

mempersingkat lamanya perjalanan. Demikian pula dengan keimanan,

keimanan dapat menggerakkan segala potensi umat. Sehingga dengan

segala potensi tersebut akan tercipta berbagai keajaiban dan

bermunculannya para tokoh yang membawa harum Islam.

Sementara itu ada sebagian orang menempuh cara lain untuk

menggerakkan umat. Mereka menyanyikan lagu mars untuk

menggerakkan umat. Mendengar lagu ini, umat tidak akan tergerak dan

bersemangat menyambut seruan lagu tersebut.

Mereka menyanyikan lagu-lagu nasionalis, sosialis dan demokrasi.

Namun mereka tidak menghasilkan apa pun juga. Yang ada hanyalah

kemunduran dan kerugian.

Namun ketika engkau memimpin umat ini dengan mushaf yang engkau

angkat ke angkasa atau engkau meneriakkan Allahu Akbar dan berkata,

"Wahai wangi surga bertiuplah ke arahku." Engkau mungkin akan terkejut,

sekelompok orang berjalan bersamamu dan di belakangmu terdapat jutaan

orang yang siap untuk gugur di jalan Allah.

Page 34

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 34

Keimanan ini terdapat di dalam fitrah umat ini. Keimanan seperti

sebuah bibit unggul di tanah yang subur. Kita wajib menjaganya,

menumbuhkannya dan memberi pupuk. Disamping itu, kita juga harus

menjaganya dari serangan hama dan serangga. Sehingga bibit itu dapat

tumbuh, berbunga, berbuah dan hasilnya dapat dimakan dengan izin Allah.

Kita Membutuhkan Pendidikan Keimanan

Oleh karenanya, kita butuh pada pendidikan keimanan yang benar.

Makna-makna ketuhanan yang pokok ditanamkan di dalam hati. Seperti,

rasa takut pada Allah, berharap pada-Nya, lemah lembut pada-Nya,

mencintai-Nya, ridha pada-Nya, tawakal pada-Nya, kembali pada-Nya, taat

pada perintah-Nya, menerima hukum-Nya dan hukum rasul-Nya.

Sebagaimana yang terdapat di dalam ayat berikut ini,

Ÿξsù

y7În/u‘uρ

Ÿω

šχθãΨÏΒ÷σãƒ

4©®Lym

x8θßϑÅj3ysãƒ

$yϑŠÏù

tyfx©

óΟßγoΨ÷t/

§ΝèO

Ÿω

(#ρ߉Ågs†

þ’Îû

öΝÎηÅ¡àΡr&

%[`tym

$£ϑÏiΒ

|MøŠŸÒs%

(#θßϑÏk=|¡ç„uρ

$VϑŠÎ=ó¡n@

∩∉∈∪

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman

hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka

perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati

mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima

dengan sepenuhnya." (An-Nisaa' (4):65)

$yϑ¯ΡÎ)

tβ%x.

tΑöθs%

t⎦⎫ÏΖÏΒ÷σßϑø9$#

#sŒÎ)

(#þθããߊ

’n<Î)

«!$#

⎯Ï&Î!θß™u‘uρ

u/ä3ósu‹Ï9

öΝßγoΨ÷t/

βr&

(#θä9θà)tƒ

$uΖ÷èÏϑy™

$uΖ÷èsÛr&uρ

4

y7Íׯ≈s9'ρé&uρ

ãΝèδ

tβθßsÎ=øßϑø9$#

∩∈⊇∪

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil

kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di

antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh."

Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An-Nuur

(24):51)

Dari unsur-unsur pendidikan ini muncul berbagai makna akhirat dan

segala yang berhubungan dengannya. Seperti, kematian, kuburan, hari

kebangkitan, hari berkumpul, hari perhitungan, hari ditunjukkannya

catatan amal, hari penimbangan amal, berjalan di atas sirat Al-Mustaqim,

surga dan neraka.

Dengan kata lain kita butuh pada suatu warna sufi ketuhanan yang

diungkapkan oleh sebagian orang dengan ungkapan, "Kejujuran bersama

kebenaran, akhlak dengan akhlak." Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan

firman Allah berikut ini,

Page 35

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 35

¨βÎ)

©!$#

yìtΒ

t⎦⎪Ï%©!$#

(#θs)? $#

t⎦⎪Ï%©!$#¨ρ

Νèδ

šχθãΖÅ¡øt’Χ

∩⊇⊄∇∪

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-

orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl (16):128)

Ayat di atas menggambarkan ruh/inti agama yang benar: "Takwa

kepada Allah dan berbuat baik kepada orang lain. Sehingga tashawwuf

yang sebenarnya adalah ketakwaan dan akhlak, sebelum segala sesuatu."

Ibnul Qayyim berkata, "Agama secara keseluruhan adalah akhlak.

Sehingga barangsiapa menambah akhlak dengan sesuatu yang lain, itu

berarti dia menambah-nambah agama, demikian pula dengan takwa."

Di dalam Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim mengutip dari sebagian

pelopor sufi mengenai definisi tashawwuf. Dia berpendapat, "Tashawwuf

itu adalah akhlak. Sehingga barangsiapa menambah akhlak dengan sesuatu

yang lain, itu berarti dia menambah-nambah tashawwuf38."

Inilah tashawwuf yang kami maksud: "Tashawwuf pendidikan, akhlak

Qur'an dan Sunnah." Tashawwuf-lah yang memberi makan keimanan,

melembutkan hati, menggerakkan hati, mengasah keinginan, mendidik

jiwa, menguatkan tingkah laku dalam naungan Al-Qur'an dan Sunnah

serta di bawah petunjuk Salafush Salih. Inilah tashawwuf yang kita idam-

idamkan dan yang kita serukan. Tashawwuflah yang melaksanakan tugas

pensucian (tazkiyyah) yang telah diisyaratkan Al-Qur'an dalam memberi

tugas-tugas kerasulan.

uθèδ

“Ï%©!$#

y]yèt/

’Îû

z⎯↵Íh‹ÏiΒW{$#

Zωθß™u‘

öΝåκ÷]ÏiΒ

(#θè=÷Ftƒ

öΝÍκön=tã

⎯ϵÏG≈tƒ#u™

öΝÍκÏj.t“ãƒuρ

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul

di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,

mensucikan mereka." (Al-Jumu'ah (62):2)

Tashawwuf adalah suatu tingkat ihsan dalam diri seorang muslim.

Ihsan sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits nabi Saw berikut ini,

"Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah, seolah-olah engkau

melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa

Dia melihat engkau." (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaa'i)

Namun ada juga tashawwuf yang negatif, seperti yang diungkapkan

oleh sebagian orang. Mereka mengatakan, "Berikanlah tugas penciptaan

kepada Allah Yang Maha Pencipta, berikanlah kerajaan kepada raja!"

Tashawwuf seperti ini mengabaikan perintah kepada yang ma'ruf dan

pencegahan terhadap yang mungkar. Tashawwuf seperti ini tertolak.

Mereka berkata, "Hamba-hamba Allah menegakkan yang diinginkannya."

Ungkapan ini adalah ungkapan yang benar, namun dengan maksud.

38 Madarij As-Salikin juz 2/307

Page 36

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 36

Contoh penyimpangan lain dari tashawwuf adalah, menghilangkan

kepribadian seorang pengikut dihadapan gurunya. Sebagaimana yang

mereka katakan, "Seorang murid bertanya kepada gurunya, "Mengapa?

Mengapa dia bahagia?" Lalu mereka berkata, "Seorang berada dihadapan

gurunya, seperti seonggok mayat dihadapan orang yang memandikannya."

Ini juga sesuatu yang ditolak.

Ada pula orang yang memahami tashawwuf dengan membedakan

antara hakikat dan syari'ah. Mereka berkata, "Barangsiapa memandang

makhluk dengan pandangan syari'ah, maka dia telah melampaui batas.

Barangsiapa memandang makhluk dengan pandangan hakikat, berarti dia

lengah terhadap makhluk." Kami tidak sepertinya.

Jika yang dimaksud tashawwuf adalah perdukunan dan memperjual

belikan agama pada orang-orang awam, maka hal itu merupakan hal yang

batil. Para dukun dapat membuat cerita-cerita bohong dan memberikan

orang-orang awam berbagai jampi.

Pendek kata, jika tashawwuf sebagai sarang cerita-cerita khurafat

dalam pemikiran, syirik dalam akidah, bid'ah dalam ibadah, lemah dalam

akhlak, negatif dalam tingkah laku serta tidak mempedulikan kehidupan,

maka kamilah orang yang pertama kali memerangi tashawwuf seperti ini.

Agama Islam akan mengalami pembaharuan yang sebenarnya dengan

dakwah mengajak kepada Islam. Islam yang dikandung dalam Al-Qur'an

dan dijelaskan oleh sunnah. Islam yang dipahami para sahabat dan para

pengikutnya yang mengikuti mereka dengan baik. Kami menyeru kepada

Islam yang murni tanpa ada kesyirikan, bersih tanpa ada noda. Kami

menyeru kepada Islam secara universal yang tidak terkotak-kotak. Kami

menyeru pada Islam secara proporsional, tidak dilebih-lebihkan dan juga

tidak dikurangi. Kami menyeru kepada Islam sebagai jalan yang lurus, yang

tidak menyimpang atau cendrung ke kanan dan ke kiri. Allah Swt

berfirman,

¨βr&uρ

#x‹≈yδ

‘ÏÛ≡uÅÀ

$VϑŠÉ)tGó¡ãΒ

çνθãèÎ7? $$sù

(

Ÿωuρ

(#θãèÎ7−Fs?

Ÿ≅ç6¡9$#

s−§xtGsù

öΝä3Î/

⎯tã

⎯Ï&Î#‹Î7y™

4

öΝä3Ï9≡sŒ

Νä38¢¹uρ

⎯ϵÎ/

öΝà6¯=yès9

tβθà)−Gs?

∩⊇∈⊂∪

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang

lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan

(yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari

jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar

kamu bertakwa." (Al-An'am (6):153)

2. Ijtihad Dan Pembaharuan: Antara Standar Menurut

Syari'at Islam dan Tuntutan Zaman

Dulu pernah terjadi dialog antara majalah Al-Ummah Al-Qathariyyah

dengan penulis, seputar permasalahan ijtihad dan pembaharuan:

Page 37

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 37

Ijtihad merupakan bagian dari agama Islam. Bahkan ijtihad merupakan

salah satu hal pokok yang menguatkan kedinamisan Islam dan

kemampuannya dalam memberikan solusi bagi berbagai permasalahan

hidup yang baru. Kapan gerakan ijtihad ini dimulai? Apakah pintu ijtihad

telah ditutup sebagaimana yang diklaim sebagian orang di masa-masa

tertentu? Siapa yang bertanggung jawab terhadap pernyataan ini? Apakah

benar daulah Utsmaniyyah?

Ijtihad telah dimulai sejak masa Nabi Saw. Hal ini nampak dalam

peristiwa 'Shalat Ashar di Bani Quraidzah'. Selain itu terdapat di dalam

hadits Mu'adz. Pada suatu ketika Nabi Saw mengutus Mu'adz ke Yaman.

Beliau bertanya, "Dengan apa engkau memutuskan perkara, jika engkau

dihadapkan suatu perkara?"

Muadz menjawab, "Dengan kitabullah."

Beliau kembali bertanya, "Jika tidak ditemukan dalam kitabullah?"

Muadz menjawab, "Dengan sunnah Rasulullah."

Beliau kembali bertanya, "Jika tidak ditemukan dalam sunnahku?"

Muadz menjawab, "Saya akan berijtihad menurut pendapatku."

Mendengar jawaban ini Nabi Saw menyetujuinya dan bahkan beliau

memujinya. Hadits ini merupakan hadits masyhur. Sejumlah imam menilai

sanad hadits ini baik (jayyid). Mereka adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnul

Qayyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir dan lain sebagainya. Sejumlah sahabat

Rasulullah Saw melakukan ijtihad terhadap beberapa masalah, ketika

mereka tidak lagi bersama Rasulullah. Diantara mereka ada yang ijtihadnya

diakui dan sebagian yang lain ada yang melakukan ralat terhadap

pendapatnya yang terdahulu.

Di masa pasca Nabi Saw wafat, para sahabat melakukan ijtihad. Mereka

menghadapi berbagai permasalahan kehidupan yang baru yang

bermunculan di tengah masyarakat yang berperadaban. Para sahabat

menggali pendapat mereka dari nash-nash Islam dan petunjuk Islam secara

umum. Dengan ijtihad, mereka menemukan solusi untuk berbagai

permasalahan. Menemukan penawar untuk berbagai penyakit.

Ijtihad para sahabat dalam berbagai fakta kehidupan dan pemahaman

mereka terhadap Islam mengenai solusinya merupakan contoh yang benar

dari fiqih pokok Islam. Fiqih pokok Islam yang bersifat realistis, mudah

serta tetap memperhatikan syari'at untuk kepentingan manusia tanpa

melanggar nash-nash syari'at.

Jika melihat fiqih Khulafaur Rasyidin, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Aisyah

dan fiqih para sahabat lainnya, maka akan terlihat dengan jelas dan

meyakinkan bahwa para sahabat adalah generasi yang paling memahami

semangat Islam.

Contohnya adalah sikap Umar dan para sahabat (diantaranya Ali dan

Mu'adz) yang paling memahami fiqih. Umar dan dua orang sahabatnya ini

tidak setuju dengan pembagian tanah Irak diserahkan kepada orang-orang

Page 38

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 38

yang ikut serta dalam penaklukkan Irak. Para penakluk Irak ini

menganggap tanah Irak termasuk dalam kategori ghanimah (rampasan

perang), yaitu mendapat 4/5 rampasan perang. Allah berfirman,

(#þθßϑn=÷æ$#uρ

$yϑ¯Ρr&

ΝçGôϑÏΨxî

⎯ÏiΒ

&™ó©x«

¨βr'sù

¬!

…çµ|¡çΗè~

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh

sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk

Allah." (Al-'Anfal (8):41)

Umar dan dua orang sahabatnya ini berpendapat tanah Irak untuk

kepentingan generasi-generasi Islam yang akan datang. Beliau berkata

kepada mereka yang menuntut adanya pembagian tanah Irak sebagai

ghanimah, "Apakah kalian menghendaki generasi mendatang tidak

memiliki apapun juga?!"

Ali dan Muadz berkata pada Umar, "Putuskanlah perkara yang

memiliki maslahat masyarakat saat ini dan akan datang!"

Oleh karena itu, Umar memutuskan adanya kewajiban agar umat saling

tolong menolong di seluruh generasi dan di setiap pelosok.

Contoh yang lain adalah sikap Utsman r.a. mengenai unta yang hilang.

Di dalam hadits dijelaskan bahwa unta yang hilang tidak perlu dicari, dia

akan kembali ke pemiliknya. Rasulullah menjawab pertanyaan orang yang

menanyakan permasalahan ini, "Apa urusanmu dan urusannya (unta yang

hilang)? Unta itu mengenakan sepatunya dan dia memiliki kantung air. Dia

akan mendatangi kolam air dan akan makan daun-daunan hingga

akhirnya dia pulang menemui tuannya (pemiliknya). Demikianlah, unta

yang hilang akan dibiarkan saja seperti yang terjadi di masa pemerintahan

Abu Bakar dan Umar. Unta itu dibiarkan begitu saja, tidak ada seorang pun

yang mengambilnya hingga unta itu kembali ke pemiliknya." Namun ketika

Utsman memerintah, masyarakat telah berubah. Masyarakat mengambil

unta-unta yang tidak diketahui pemiliknya, sehingga sebagian unta yang

hilang tidak kembali ke pemiliknya. Oleh karena itu, Utsman menunjuk

seorang penggembala yang bertugas mengumpulkan unta-unta yang

hilang, kemudian mengumumkan ciri-cirinya. Jika pemilik unta itu tidak

datang untuk mengambilnya, maka unta itu dijual. Hasil penjualan itu

disimpan dan diberikan ketika pemiliknya datang.

Di masa pemerintahan Ali r.a. juga terdapat riwayat tentang ijtihad

beliau. Beliau berpendapat menjatuhkan denda bagi para perajin atau

pembuat (pedang misalnya), jika mereka menghilangkan pesanan kliennya.

Tangan mereka adalah amanah. Namun Ali r.a. berubah pendapat ketika

melihat adanya perubahan pada diri masyarakat, beliau berkata, "Para

pengrajin dapat memperbaikinya bila dalam keadaan seperti di atas."

Demikianlah keluasan dan kedinamisan fiqih para sahabat. Namun

tidak diragukan lagi, mereka tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip

yang ada.

Page 39

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 39

Para tabi'in yang merupakan murid-murid para sahabat juga

mempunyai sikap yang sama. Mereka mendirikan sekolah-sekolah fiqih.

Sekolah ini mengajarkan dan memberi fatwa tentang berbagai macam

kejadian. Mereka mengarahkan segala peristiwa dengan hadits. Dari

sekolah-sekolah dan berbagai perguruan tinggi yang mereka bangun,

bermunculan imam-imam yang terkenal. Diantaranya adalah mereka

adalah, imam Abu Hanifah, imam Malik, Imam Syafi’i, Ahmad, Ats-Tsauri,

Al-Auza’i, Thabari, Daud Adz-Dzahiri dan masih banyak lainnya.

Para mujtahid di abad-abad pertama beraneka ragam. Pemahaman

mereka dalam mengambil kesimpulan hukum bermacam-macam. Hanya

saja mereka sepakat dalam hal sumber pokok hukum-hukum syari'at Islam,

yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Al-Qur'an adalah pokok sedangkan sunnah

adalah syarah dan penjelasnya. Pada masa-masa selanjutnya, muncullah

berbagai macam sumber hukum lainnya. Seperti, Al-Istihsab, Al-Istishlah,

Saddu Adz-Dzara’i, Ri'ayah Al-Urf, syari'at-syari'at umat sebelum kita serta

sumber lainnya yang masih diperselisihkan oleh para ahli fiqih. Ada yang

setuju, ada pula yang menentangnya.

Yang terpenting fiqih telah berkembang. Banyak permasalahan fiqih

yang terjadi telah disusun dalam bentuk berbagai buku. Berbagai kaedah

fiqih telah diletakkan. Berbagai metode pengambilan hukum –dengan

bantuan ilmu ushul (fiqih)- telah banyak disusun. Tidak ada umat lain

yang dapat menandingi umat ini.

Fiqih Islam senantiasa menjadi dasar putusan pengadilan (qadha'a) dan

fatwa dalam masyarakat Islam. Hal ini terus berlangsung hingga penjajah

menduduki negri-negri Islam. Penjajah menghapus syari'at Islam dari

kodifikasi UU dan pengadilan. Hanya sebagian kecil yang masih disisakan

yaitu hukum yang berkaitan dengan Al-Ahwal Asy-Syaksiyyah (perdata).

Tidaklah benar bila ada orang yang mengatakan, "Islam telah diabaikan

setelah masa Khulafaur Rasyidin. Tidak diragukan lagi selama lebih kurang

12 abad, UU dan UUD kaum muslimin bersumber dari syari'at Islam.

Meskipun di sana sini masih terdapat pemahaman dan penerapan Islam

yang buruk.

Tertutupnya Pintu Ijtihad

Adapun mengenai tertutupnya pintu ijtihad kami berpendapat sebagai

berikut:

Banyak orang menganggap daulah Utsmaniyyah sebagai penyebab

terjadinya berbagai kesalahan dan kekeliruan di berbagai bidang. Padahal

faktanya, dominasi taklid, fanatik madzhab dan lemahnya semangat

berijtihad telah ada sebelum kemunculan daulah Utsmaniyyah. Kemudian

perkara-perkara ini tersebar ke seluruh pelosok dunia Islam dengan cara

yang berbeda-beda. Meskipun setiap masa tertentu, dunia Islam nyaris

tidak mempunyai mujtahid hingga pada saat ketika Imam As-Suyuthi

(wafat 911 H) mengumumkan dirinya sebagai seorang mujtahid yang

mencapai tingkatan mujtahid mutlak. Dia berharap dirinya menjadi

Page 40

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 40

seorang pembaharu di abad 9 H, sebagaimana dipahami dalam

pembahasan hadits mengenai pembaharuan. Beliau menulis buku yang

berjudul Ar-Raddu 'alaa Man Akhlada ilaal Ardhi wa jahula anna Al-Ijtihad

fi kulli 'ashrin fardhun.

Pada abad 12 H, kami menemukan seorang pembaharu (mujadid) besar

yang bernama Ahmad bin Abdurrahim yang lebih dikenal dengan nama

Syah Waliyyullah Ad-Dahlawi (wafat 1176 H), dia adalah pengarang buku

Hujatullah Al-Balighah) dan buku-buku pokok lainnya. Di dalam abad 13

H, di Yaman muncul seorang mujtahid muthlak yang bernama Muhammad

bin Ali Asy-Syaukani (wafat 1250 H). Ijtihadnya dalam masalah furu' dan

ushul nampak jelas di dalam bukunya Nailul Authar, As-Sail Al-Jirar, Ad-

Dirari Al-Mudhiah, Irsyad Al-Fuhul ilaa tahqiq Al-Haqqi min ilmil Ushul

serta syarah Ad-Dirari Al-Mudhiah yang berjudul Ad-Durur Al-Bahiyyah.

Menurut kami, "Daulah Utsmaniyyah memperhatikan masalah jihad

melebihi perhatiannya kepada Ijtihad. Padahal kepemimpinan Islam

membutuhkan kedua hal ini secara bersamaan. Ijtihad dibutuhkan untuk

mengetahui hal yang baik dari dienul haq. Sedangkan jihad dibutuhkan

untuk melindungi Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Islam harus memiliki Kitab

petunjuk dan besi penolong." Beliau menyebutkan firman Allah Swt

ô‰s)s9

$uΖù=y™ö‘r&

$oΨn=ß™â‘

ÏM≈uΖÉit7ø9$$Î/

$uΖø9t“Ρr&uρ

ÞΟßγyètΒ

|=≈tGÅ3ø9$#

šχ#u”Ïϑø9$#uρ

tΠθà)u‹Ï9

â¨$¨Ψ9$#

ÅÝó¡É)ø9$$Î/

(

$uΖø9t“Ρr&uρ

y‰ƒÏ‰ptø:$#

ϵŠÏù

Ó¨ù't/

Ó‰ƒÏ‰x©

ßìÏ≈oΨtΒuρ

Ĩ$¨Ζ=Ï9

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan

membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama

mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat

melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya

terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia."

(Al-Hadid (57):25)

Perhatian daulah Utsmaniyyah terhadap besi (baca: militer) melebihi

perhatiannya terhadap pemikiran. Hingga daulah Utsmaniyyah dikejutkan

oleh kebangkitan barat modern.

Sebagian orang berpendapat bahwa gerakan ijtihad di zaman modern

ini, dimulai dari Jamaluddin Al-Afghani. Hanya saja murid-murid beliau -

secara bertahap- kembali membatasi diri dengan nash semata. Hingga

akhirnya, mereka menjadi orang-orang yang taklid, terlebih khusus

Muhammad Rasyid Ridha. Apakah usaha seperti ini dapat diletakkan dalam

kaca mata gerakan ijtihad?

Pendapat di atas menunjukkan bahwa orang yang mengatakan hal

ini tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang ijtihad, cakupan dan

syarat-syaratnya. Andaikan orang ini memiliki ilmu yang cukup, niscaya

dia akan mengetahui perjalanan ijtihad adalah perjalanan mendaki dan

Page 41

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 41

tidak akan menyampaikan pendapat seperti yang pernah diklaimnya.

Perjalanan ijtihad dimulai dari permasalahan secara umum dan garis besar.

Kemudian masuk dalam hal-hal yang khusus. Dimulai dengan tidak tentu

arah, kemudian merencanakan dan berjalan secara teratur. Syaikh

Muhammad Abduh adalah sosok yang memiliki pengetahuan syari'at yang

lebih terstruktur dibandingkan dengan gurunya Al-Afghani, karena dia

memiliki pengetahuan yang diperolehnya dari Al-Azhar secara mendalam.

Muhammad Rasyid Ridha juga merupakan sosok yang memiliki

pengetahuan syari'at yang lebih terstruktur dibandingkan dengan gurunya

Muhammad Abduh, karena dia memiliki kemampuan dan keluasaan

pemahaman terhadap buku-buku hadits dan atsar. Di samping itu, beliau

menghasilkan pengajar yang memiliki pemahaman salaf. Pengajar ini

dipelopori oleh Imam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim.

Muhammad Rasyid Ridha melakukan penyerangan yang kuat terhadap

kejumudan dan taklid melalui majalahnya Al-Manar. Beliau juga menulis

berbagai artikel reformasi (ishlah), fatwa ilmiah yang bersifat

pembaharuan, selama 1/3 abad lebih. Ijtihad dan fatwa-fatwa syaikh

Rasyid tersebar di seluruh dunia Islam. Ijtihad Rasyid lebih banyak diterima

ketimbang ijtihad gurunya (Afghan dan Abduh). Adapun ijtihad

Jamaluddin, hampir tidak pernah kita ketahui. Kepribadian Jamaluddin

adalah kepribadian pemimpin, pembangkit pemikiran, penggugah akal dan

penggerak perasaan, cita-cita dan keinginan. Jamaluddin bukanlah seorang

yang faqih yang konsekwen pada masalah ushul maupun qaidah.

Rasyid Ridha mengkritik sebagian pemikiran mengenai takwil Al-

Qur'an yang dilakukan oleh gurunya, Muhammad Abduh. Seperti

pendapatnya tentang kisah Adam, burung Ababil dan lain sebagainya.

Rasyid Ridha memaklumi bahwa peradaban barat begitu amat

menyilaukan. Oleh karenanya peradaban barat berusaha melenyapkan akal

sehat, berusaha menundukkan nash agar sesuai dengan pemahaman yang

baru. Orang-orang yang silau pada peradaban barat akan berusaha untuk

menyamakan ajaran Islam dengan budaya barat, walau dengan susah

payah.

Demi nilai-nilai keadilan, barangsiapa yang ingin meluruskan

seseorang, meluruskan pemikiran dan aktifitasnya, maka hendaknya kita

meletakkan orang tersebut pada masanya secara khusus. Masa dan lokasi

tempatnya dulu berada tidak sama dengan masa dan lokasi kita sekarang.

Sebagian hal yang pada saat ini jelas bagi kita, tidaklah demikian di

masanya. Semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang adil atas

dirinya. Dia memberikan semua faktor yang merupakan haknya. Selain itu,

dia juga siap bersaksi di hadapan Allah.

Hukum melakukan ijtihad syar’i adalah fardhu kifayah di suatu saat,

namun dalam kesempatan lain, hukumnya menjadi fardhu 'ain. Ijtihad

memiliki arah, bidang dan syarat-syaratnya. Apakah mungkin cakupan

ijtihad dilakukan, sehingga berbagai perkara tidak saling campur aduk?

Atau agar sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan ijtihad tidak terjadi?

Page 42

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 42

Ijtihad adalah pengerahan kemampuan secara maksimal. Atau dengan

ungkapan lain pengerahan kemampuan secara maksimal untuk

memperoleh kesimpulan hukum syara' yang digali dari dalil-dalilnya

dengan jalan memperhatikan dan mengaktifkan berpikir. Hukum

melakukan ijtihad adalah fardhu kifayah bagi umat Islam secara

keseluruhan. Jika tidak terpenuhi jumlah yang cukup untuk memenuhi

kebutuhan, maka seluruh umat ini berdosa. Hukum ijtihad dapat berubah

menjadi fardhu 'ain atas orang yang memiliki kecukupan ilmu dan

kemampuan untuk berijtihad. Jika di tengah-tengah kaum muslimin, tidak

terdapat seorang pun mujtahid, padahal dia mampu untuk menjadi

mujtahid, maka orang itu berdosa.

Ruang Lingkup Ijtihad Ada Dua

Ruang lingkup yang pertama adalah perkara yang tidak dibahas di

dalam nash. Allah memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkannya.

Hal ini merupakan rahmat bagi kita, sehingga para mujtahid dapat mengisi

kekosongan ini dengan mewujudkan maksud Allah. Untuk mewujudkan

maksud itu, mereka menempuh metode ijtihad yang telah digariskan.

Seperti menggunakan metode qiyas, maslahah mursalah, istihsan, istishab

al-hal dan lain sebagainya. Sebagian permasalahan dibahas dalam banyak

nash, bahkan terkadang dibahas secara rinci. Seperti perkara yang

berkaitan dengan ibadah dan keluarga. Karena kedua perkara ini tidak

berubah mengikuti perubahan dan perkembangan zaman serta tempat.

Selain itu, kedua perkara di atas amat membutuhkan nash-nash yang tetap,

sehingga menutup kemungkinan timbulnya pertentangan. Di samping itu

adapula perkara yang dibahas hanya oleh beberapa nash saja, bahkan

terkadang dibahas secara umum dan global. Sehingga kaum muslimin

dibiarkan melakukan ijtihad untuk kepentingan mereka sendiri dalam

tuntunan secara ushul (pokok) yang kuliyyah (menyeluruh) sesuai dengan

tempat masyarakat, keadaan di masanya dan mereka tidak menemukan

nash secara rinci. Sebagaimana dalam perkara syura', sistem pemerintahan,

UU dan sebagainya.

Ruang lingkup yang kedua yang mencakup nash-nash yang dzanni –

baik dzanni tsubut (sumber nashnya) maupun dzanni dilalah (pengertian

nashnya). Sebagian besar hadits dapat masuk kategori dzanni tsubut.

Sebagian besar nash Al-Qur'an dan sunnah dapat masuk kategori dzanni

dilalah. Keberadaan nash seperti ini tidak menghalangi seorang mujtahid

untuk melakukan ijtihad, sebagaimana yang diduga sebagian orang.

Bahkan dengan 9/10 nash atau lebih, seorang mujtahid dapat melakukan

ijtihad dan menghasilkan berbagai sudut pandang. Bahkan Al-Qur'an dapat

dipahami dalam pemahaman yang berbeda-beda, ketika mengambil

kesimpulan suatu hukum. Jika anda mengambil suatu ayat, misalnya ayat

tentang bersuci yang terdapat di dalam surat Al-Maidah, kemudian engkau

membaca pengambilan kesimpulan hukum dari ayat itu (istinbath), maka

engkau akan melihat buktinya.

Di samping dua ruang lingkup di atas yang memberi peluang kepada

para mujtahid untuk melakukan ijtihad, terdapat juga sebuah ruang

Page 43

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 43

lingkup yang tertutup bagi para mujtahid untuk melakukan ijtihad.

Melakukan ijtihad di ruang lingkup ini tidak dibenarkan dan tidak

dibutuhkan. Ruang lingkup yang dimaksud adalah ruang lingkup qath'i

dalam syari'ah –baik qath'i tsubut maupun qath'i dilalah-. Seperti

kewajiban Fardhu yang asli seperti: shalat, zakat, puasa; selain itu hukum

haram yang pasti seperti: zina, meminum khamar, riba dan hukum-hukum

qath’i yang pokok; hadits-hadits tentang waris yang telah ditetapkan oleh

ayat Al-Qur'an yang jelas; hukum-hukum hudud dan qishash, masa iddah

bagi wanita yang telah ditalak suaminya atau ditinggal mati suaminya dan

hukum-hukum lainnya yang terdapat di dalam nash-nash qath'i –baik

qath'i tsubut maupun dilalah-.

Dalam ruang lingkup seperti di atas, seorang mujtahid tidak

diperkenankan untuk melakukan ijtihad. Dalam ruang lingkup seperti ini,

seorang pembahas/peneliti tidak boleh melontarkan pertanyaan sebagai

berikut:

Apakah boleh meminum atau memproduksi minuman keras demi

kepentingan pariwisata?

Apakah kita boleh tidak menunaikan puasa Ramadhan dengan maksud

untuk meningkatkan produksi?

Apakah kita boleh tidak menunaikan ibadah haji, karena ibadah haji

adalah ibadah yang amat berat?

Apakah kita menunda untuk membayar zakat hanya karena untuk

mencukupi pembayaran pajak?

Apakah boleh kita tidak melaksanakan hudud dan qishash karena

merasa kasihan pada pelaku kejahatan? Seolah-olah kita lebih pemurah

dari Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya.

ö≅è%

öΝçFΡr&u™

ãΝn=ôãr&

ÏΘr&

ª!$#

3

"Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?" (Al-Baqarah

(2):140)

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan

Kita berijtihad pada perkara-perkara yang dilarang untuk berijtihad.

Kita memaksakan untuk berijtihad pada saat yang tidak semestinya

berijtihad. Tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad.

Inilah diantara penyebab mengapa sebagian ulama terdahulu

menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Dengan maksud menutup

jalan bagi orang-orang yang tidak memahami ijtihad, sehingga mereka

terkadang mencampur adukkan antara perkara yang boleh berijtihad dan

perkara yang dilarang untuk dibahas dengan ijtihad. Padahal pintu ijtihad

senantiasa terbuka. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk

menutupnya, sejak Rasulullah Saw mengizinkan umatnya untuk melakukan

Page 44

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 44

ijtihad. Tidak boleh seorang maupun sekelompok ulama ketika menghadapi

suatu realita baru, mengatakan, "Kita tidak berhak melakukan ijtihad

terhadap perkara baru ini. Karena para pendahulu tidak pernah

mengatakan sedikit pun tentangnya."

Syari'at Islam pasti membahas berbagai perbuatan manusia –kapan saja

dan dimana saja-. Sehingga setiap kejadian dan realita kehidupan

mempunyai status hukumnya. Tidak seorang pun yang berbeda pendapat

mengenai hal ini.

Syarat-syarat tertentu harus dipenuhi bagi orang yang ingin berijtihad.

Apa saja syaratnya? Apakah syarat-syarat itu berlaku bagi para mujtahid

secara umum atau ada perbedaan bagi mujtahid mutlak atau mujtahid juz'i

(hanya perkara-perkara tertentu)?

Di dalam Islam tidak ada orang-orang tertentu yang tidak mau

mengajarkan ijtihad atau mewariskan kemampuan berijtihad. Islam tidak

sama dengan kependetaan. Namun, dalam Islam terdapat orang yang

memiliki kemampuan khusus. Orang ini memiliki kemampuan dan

pengetahuan yang cukup untuk melakukan ijtihad. Dia lah orang yang

melakukan ijtihad ketika menghadapi perkara baru. Kemudian dia

mengeluarkan pendapatnya mengenai perkara baru itu, setelah semaksimal

mungkin melakukan ijtihad. Hasil dari ijtihadnya itu dapat benar, dapat

pula salah.

Syarat-syarat menjadi mujtahid adalah sudah diketahui dan dirinci di

dalam buku-buku ushul fiqh. Diantaranya: pengetahuan terhadap bahasa

Arab, Al-Qur'an, Sunnah, mengetahui mana saja perkara yang disepakati

secara meyakinkan. Seorang mujtahid juga harus memiliki pengetahuan

tentang ilmu ushul fiqih, qiyas dan istinbath. Dia pun harus mengetahui

maksud-maksud syari'at serta kaidahnya secara menyeluruh. Yang terakhir

ini merupakan syarat yang amat diperhatikan oleh Imam Syatibi. Beliau

menjadikan syarat ini menjadi salah satu sebab seseorang boleh melakukan

ijtihad. Di samping persyaratan di atas ini, seseorang yang ingin melakukan

ijtihad harus memiliki kemampuan istinbath (mengambil kesimpulan

tentang suatu hukum). Kemampuan ini berkembang karena kerap

mempelajari dan memahami masalah fiqih. Kemampuan istinbath ini

muncul, karena memiliki pengetahuan tentang perbedaan pendapat para

ahli fiqih dan cara berpikir mereka. Oleh karena itu, para ahli fiqih

berkata, "Barangsiapa yang tidak mengetahui perbedaan pendapat para ahli

fiqih, maka dia tidak pernah mencium wanginya fiqih."

Syarat lain yang menjadi perhatian Imam Ahmad, serta disebutkan oleh

Ibnul Qayyim di dalam bukunya yang berjudul 'Alam Al-Mauqi'in adalah

pengetahuan tentang masyarakat. Pengetahuan mengenai hal ini

merupakan pengetahuan yang penting. Hendaknya seorang mujtahid –

yang memberikan fatwa kepada masyarakat- tidak hidup di atas menara

gading atau tempat pertapaan yang terpisah dari masyarakat. Misalnya

mujtahid ini mengeluarkan hukum-hukum yang jauh dari realita.

Mujtahid ini menerapkan hukum-hukum zaman yang telah punah atas

zaman lain dan diterapkan atas masyarakat yang lain pula. Mujtahid ini

Page 45

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 45

tidak memperhatikan kaidah, "Fatwa berubah dengan perubahan zaman,

tempat, keadaan dan budaya sebagaimana yang disebutkan para peneliti."

Seorang mujtahid dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang cukup

tentang kondisi masyarakatnya. Dia perlu memiliki pengetahuan mengenai

hal umum budaya di masanya. Sehingga dia tidak hidup di suatu lembah

sedang masyarakatnya hidup di lembah yang lain. Sehingga ketika dia

ditanya tentang sesuatu, terkadang dia tidak mengetahui latar belakang

topik yang ditanyakan. Dia juga tidak mengetahui apa penyebab

munculnya topik itu. Dia juga tidak mengetahui dasar filsafat, kejiwaan

dan sosialnya. Karena itu, dia menjadi bingung tidak dapat memberikan

pendapat, komentar atau penilaian terhadap pertanyaan.

Seorang mujtahid yang sebenarnya adalah mujtahid yang

memperhatikan nash dan dalil-dalil dengan cara pandang khusus.

Kemudian dia memperhatikan realita dan zaman dengan cara pandang

yang lain sehingga terdapat kesesuaian antara kewajiban dan realita. Dia

dapat memberikan status hukum yang berada dihadapannya, status hukum

yang sesuai dengan tempat, zaman dan keadaan yang ada.

Ibnu Qayyim berkata bahwa gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

pernah melewati serombongan pasukan Tartar yang sedang mabuk berat.

Sebagian sahabat beliau amat marah pada mereka. Sementara itu Ibnu

Taimiyyah hanya mengatakan, "Tinggalkanlah hal-hal yang memabukkan!

Allah telah mengharamkan minuman keras. Karena minuman keras dapat

menghalangi kalian mengingat Allah dan shalat. Bahkan minuman keras

dapat menjadi pemicu untuk menumpahkan darah!"

Sikap Ibnu Taimiyyah ini sesuai dengan kaidah yang telah diakui. Dia

hanya melakukan hal itu, karena takut muncul kemungkaran yang lebih

besar. Oleh karenanya, beliau memilih bahaya yang terringan diantara dua

bahaya yang ada atau memilih keburukan yang paling ringan diantara dua

keburukan yang ada.

Selain itu terdapat syarat lain untuk mujtahid. Syarat yang ditentukan

oleh Islam dan bersifat akhlak. Seorang mujtahid hendaknya adil. Dia takut

pada Allah, terutama ketika dia mengeluarkan sebuah kesimpulan hukum.

Ketika mengeluarkan fatwa, dia harus sadar bahwa posisinya pada saat itu

tidak ada bedanya dengan Rasulullah. Sehingga dia tidak boleh

memperturutkan hawa nafsunya, tidak boleh memperjual belikan agama

demi memperoleh dunia.

Jika Allah mensyaratkan adanya keadilan ketika bersaksi dalam perkara

muamalah sesama manusia, tentu demikian pulanya bagi orang yang

bersaksi terhadap dienullah. Karena seorang mujtahid pada hakekatnya

adalah menjelaskan bahwa Allah menghalalkan ini, mengharamkan itu,

mewajibkan atau memberikan keringanan pada masalah tertentu.

Syarat-syarat mengenai pengetahuan yang telah disebutkan di atas,

wajib ada pada diri seorang mujtahid mutlak. Mujtahid mutlak adalah dia

yang berijtihad pada seluruh bab fiqih dan berbagai permasalahannya.

Sedangkan mujtahid juz'i hanya dituntut mengetahui hal-hal yang

Page 46

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 46

berkaitan dengan permasalahannya saja (permasalahan yang sedang

dihadapinya). Tentu di samping itu, dia memiliki kemampuan keilmuan

ijtihad secara umum. Mengingat ijtihad terbagi-bagi. Itulah pendapat kuat

yang dianut oleh mayoritas ahli fiqih.

Seorang ahli ekonomi dapat melakukan ijtihad dalam masalah ekonomi.

Tapi dengan syarat, dia mengetahui nash-nash yang berkaitan dengan

ekonomi. Dia juga mengetahui berbagai hasil ijtihad yang berhubungan

dengan ekonomi. Dia juga harus memiliki pengetahuan tentang pokok-

pokok pengambilan kesimpulan hukum, kaedah ta'arudh dan tarjih

(kaedah kontradiktif dan pemilihan pendapat yang terkuat) serta berbagai

pengetahuan lainnya.

Beberapa tahun belakangan ini, telah sering berlangsung diskusi

seputar ijtihad. Namun ternyata hal ini menyebabkan munculnya beberapa

ijtihad yang menyimpang. Selama keadaannya seperti ini, maka perlu

diletakkan adanya aturan dan ketentuan. Aturan dan ketentuan ini

berfungsi mengawasi umat dalam berijtihad sehingga kaum muslimin

dapat mengetahui pengarahan dan rambu-rambunya. Apa aturan dan

ketentuannya menurut anda?

Ketentuan dan aturan yang harus tetap diperhatikan dalam melakukan

ijtihad, dapat saya simpulkan dalam beberapa point berikut ini:

1. Menjauhi ruang lingkup yang qath'i. Sehingga bidang ijtihad

adalah selama dalil hukumnya dzanni, maka kita tidak boleh

terpengaruh oleh orang-orang yang suka mempermainkan nash.

Mereka ini adalah orang yang ingin merubah nash yang qath’i

menjadi dzanni, dari yang muhkam menjadi mutasyabih. Orang-

orang seperti ini tidak bisa dijadikan sandaran.

2. Kita tidak boleh merubah nash yang qath’i menjadi dzanni. Kita

juga tidak boleh merubah nash yang dzanni menjadi nash yang

qath'i. Kita menyangka perkara itu ijma' (telah sepakat dan tetap)

padahal mengandung perbedaan pendapat. Kita tidak boleh

menyatakan ijma' dihadapan seorang mujtahid. Peristiwa seperti ini

pernah terjadi ketika orang-orang menilai ijtihad Ibnu Taimiyyah

terhadap permasalahan yang sedang dipahaminya merupakan

permasalahan yang berstatus ijma' (sehingga tidak perlu lagi

melakukan ijtihad pada permasalahan tersebut). Padahal Imam

Ahmad mengatakan, "Barangsiapa mengklaim suatu perkara

sebagai perkara yang ijma', maka dia telah berdusta. Barangkali

ada orang yang berbeda pendapat tentang perkara tersebut, namun

dia tidak mengetahuinya."

3. Takutlah seperti yang saya (penulis) rasakan. Yaitu takut

munculnya sikap mengalah dihadapan peradaban penjajah.

Takutlah pada sikap menerima realita yang terjadi di masyarakat

kita saat ini. Yaitu realita yang bukan diciptakan oleh Islam dan

bukan pula oleh kaum muslimin. Realita itu merupakan rekayasa

penjajah yang berkuasa. Penjajah menciptakan, menyebarkan dan

Page 47

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 47

menancapkan realita ini secara paksa dan penuh dengan makar.

Sehingga kebatilan tegak di tengah kelalaian kaum muslimin

sebagai pengemban risalah yang haq.

4. Oleh karenanya kita harus menolak ijtihad jenis ini –jika memang

ingin dikatakan ijtihad-. Karena ijtihad ini merupakan pesanan

penguasa untuk memperoleh legalitas dan justifikasi realita yang

ada. Ijtihad seperti ini pada hakekatnya bukanlah ijtihad, karena

dia mengikuti kesimpulan dan pemahaman orang lain. Seperti

ijtihad orang-orang yang berusaha melarang thalaq dan ber-

poligami atau ijtihad orang-orang yang berusaha memerangi

kepemilikan pribadi dan yang berusaha melegalkan faedah riba

dan lain sebagainya.

Seorang mujtahid harus menanggalkan rasa takut dengan segala

jenisnya. Terutama ketakutan terhadap para penguasa yang selalu

membutuhkan fatwa-fatwa instant yang melegalkan segala perbuatannya.

Seorang mujtahid juga harus melepaskan rasa takut pada para penguasa

yang jumud dan senantiasa mengikuti para ulama yang mengadakan

penyerangan terhadap semua jenis ijtihad yang baru. Para ulama seperti

inilah yang menjadi aktor intelektual dibalik penangkapan Ibnu Taimiyyah

dan berbagai ujian lainnya yang menimpa beliau. Ujian terhadap Ibnu

Taimiyyah ini berasal dari mereka dan bukan berasal dari para penguasa.

Seorang mujtahid juga harus menghilangkan rasa takut dari para penguasa

yang bodoh. Karena para penguasa seperti ini dapat saja disetir oleh orang-

orang tertentu untuk menentang pendapat seorang mujtahid.

Kita harus lapang dada terhadap ijtihad, sekalipun bertentangan

dengan pendapat yang kita anut selama ini. Kita harus mengantisipasi

kesalahan yang dilakukan seorang mujtahid. Kita tidak dibenarkan

menutup diri dari pendapat mujtahid yang lain. Karena seorang mujtahid

juga manusia dan tidak maksum. Terkadang pendapat yang kita perkirakan

salah, benar dimatanya. Barangkali suatu pendapat yang ditolak oleh suatu

masyarakat di suatu hari, dapat berubah menjadi pendapat yang diterima

dan diterima dengan lapang dada. Dalam Islam tidak ada kekuasaan ke-

Pausan yang berpendirian, "Pendapat ini benar, maka perlakukan dengan

benar. Sehingga pendapat yang benar ini harus tetap ada. Sedangkan

pendapat itu salah, maka lenyapkan pendapat itu dari muka bumi.

Sehingga pendapat seperti ini tidak layak ada.39"

Banyak sekali permasalahan saat ini yang bermunculan. Sehingga kaum

muslimin membutuhkan fiqih baru yang mampu memberikan solusi bagi

permasalahan mereka. Apakah permasalahan-permasalahan ini

merupakan permasalahan yang mendesak dan penting? Bagaimana

perkara-perkara itu dipandang dalam bingkai aktifitas ijtihad?

Dengan melihat perubahan berbagai perkara kehidupan yang amat

berbeda dengan yang pernah ada di masa lalu, serta perkembangan

39 Lihat: Pasal (Ma'alim wa dhawabith li ijtihad mu'ashir qawiim) yang merupakan bagian dari

buku kami yang berjudul "Al-Ijtihad fisy Syari'atil Islamiyyah) cet. Darul Qalam di Kuwait

Page 48

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 48

pemikiran, tingkah laku dan interaksi masyarakat yang amat pesat, maka di

masa sekarang ini kita amat membutuhkan adanya ijtihad. Terlebih lagi

setelah revolusi biologi, tekhnologi yang dapat disaksikan di dunia. Dampak

dari ini semua, muncullah berbagai permasalahan yang baru. Seperti: Bayi

tabung, menanam janin, bank janin yang beku, mengetahui jenis kelamin

bayi yang masih berada dalam kandungan, transplantasi anggota tubuh,

transfusi darah, hubungan international, sistem keuangan dan ekonomi

yang sebelumnya tidak pernah diketahui sama sekali atau hanya diketahui

segelintir orang dalam bentuknya yang amat sederhana.

Semua ini dan yang semisal dengannya menuntut adanya ijtihad baru.

Ijtihad ini biasa dikenal dengan sebutan ijtihad membangun (Al-Ijtihad Al-

Insya'iyyah). Dengan ijtihad ini, seorang mujtahid dapat mengeluarkan

hukum baru, jika tidak ada ahli fiqih sebelumnya yang membahas perkara

baru yang muncul atau tidak ada seorang pun yang membahasnya. Seperti

zakat gedung, pabrik, saham, gaji, anggapan emas saja sebagai ukuran

mata uang, mewajibkan zakat tanah sewaan bagi pemilik dan penyewa,

penyewa tanah membayar zakat pertanian dan buah-buahan yang diambil

dari uang ganti sewa. Karena hal itu dianggap seperti hutang. Seorang

pemilik tanah menzakatkan biaya sewa.

Selain itu terdapat ijtihad lain yang saya beri nama ‘ijtihad Pilihan'.

Ijtihad ini adalah memilih pendapat terkuat yang digali dari khazanah fiqih

kita yang agung40. Menurut kami, hal ini termasuk lebih mendekatkan

terwujudnya perpaduan syari'at dan kepentingan manusia serta lebih sesuai

dengan tuntutan zaman. Terkadang 'ijtihad pilihan' masuk dalam

pembahasan madzhab fiqih yang empat. Misalnya, menilai pendapat

madzhab Abu Hanifah tentang kewajiban zakat atas segala hasil bumi,

lebih kuat dibandingkan dengan pendapat lainnya. Menilai pendapat

madzhab Imam Syafi'i tentang pemberian kepada orang fakir disesuaikan

dengan usianya, merupakan pendapat yang lebih kuat dibandingkan

dengan yang lain. Menilai pendapat madzhab Malik mengenai penetapan

memberikan zakat yang diberikan kepada muallaf merupakan pendapat

yang kuat dibandingkan dengan pendapat yang lain.

Terkadang 'ijtihad pilihan' di luar pembahasan madzhab fiqih yang

empat. Para imam yang empat bukanlah ahli fiqih satu-satunya dalam

Islam. Selain mereka masih ada lagi para ahli fiqih yang semasa dengan

mereka. Terkadang pendapat mereka lebih unggul daripada pendapat para

imam yang empat. Para imam yang empat ini juga memiliki guru dan guru

mereka juga berguru kepada orang lain yang tidak lain adalah para ahli

fiqih dari kalangan tabi'in dan sahabat Rasulullah Saw. Para tabi'in dan

sahabat tentu lebih utama dari para imam yang empat.

Tidak ada halangan untuk mengadopsi madzhab/pendapat salah

seorang sahabat, jika menurut kita pendapat sahabat itu kuat dan sesuai

dengan syari'at. Seperti mengadopsi madzhab Umar r.a. mengenai perlunya

40 Lihat buku kami yang berjudul, "Syari'atul Islam" – Kaifa Nakhtaru min turatsina al-fiqhiy hal.

110 cet. Al-Kutub Al-Islami, Beirut

Page 49

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 49

mempersulit nikah dengan wanita Ahli Kitab, karena dikhawatirkan

mereka mendominasi wanita muslimin dan keturunannya atau

dikhawatirkan memenuhi syarat menjaga kehormatan seperti yang

dijelaskan dalam firman Allah berikut ini,

àM≈oΨ|ÁósçRùQ$#uρ

z⎯ÏΒ

t⎦⎪Ï%©!$#

(#θè?ρé&

|=≈tGÅ3ø9$#

"Wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang

yang diberi Al Kitab." (Al-Maidah (5):5)

Yaitu menjaga kehormatan mereka.

Kita boleh mengadopsi pendapat madzhab 'Atha' mengenai kewajiban

memberikan kompensasi kepada wanita yang dithalaq. Kita boleh

mengadopsi pendapat sebagian ulama salaf mengenai tidak jatuhnya talak,

ketika diucapkan dalam keadaan marah. Mereka berpendapat seperti ini

berdasarkan sabda Rasulullah yang artinya, "Tidak ada talak, ketika suami

membanting pintu (marah)."

Kita juga boleh mengadopsi pendapat sebagian ulama salaf tentang

dapat dikategorikan jatuh talak tiga, walau hanya diucapkan sekali saja

atau dalam satu majlis.

Kita juga boleh mengadopsi fatwa Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan

ulama lainnya tentang tidak jatuh talak, jika istri sedang haidh atau ketika

sedang memanggul sesuatu atau menolak sesuatu. Sehingga keadaan

seperti ini diperlakukan dengan perlakuan terhadap orang yang

bersumpah. Di dalam sumpah terdapat kafarah sumpah.

Kita juga boleh mengadopsi pendapat madzhab sebagian ulama salaf

mengenai wajib memberikan wasiat bagi orang yang tidak mempunyai

karib kerabat yang berhak menerima warisan. Berdasarkan ketentuan ini

pemerintahan Mesir dan yang lainnya mencantumkan dalam UU 'Wasiat

Yang Wajib'. Wajib berwasiat untuk para cucu, jika bapak dan ibu wafat

(kakek dan nenek si cucu), ketika kedua orang tua (para cucu) masih

hidup. Sehingga bagian cucu seperti bagian kedua orang tuanya dengan

syarat tidak lebih dari 1/3 bagian waris dan melalui jalur wasiat, bukan

pewarisan.

Syaikh Abdullah bin Zaid Ali Mahmud, Jaksa Agung Pengadilan

Syar'iyyah dan Urusan Agama, negara Qathar menilai kuat pendapat 'Atha

dan Thawus –dari kalangan tabi'in- mengenai kebolehan melempar jumrah

sebelum musim haji habis, sebagai usaha mempermudah jama'ah haji dan

menghilangkan kesulitan dalam menjalankan ibadah haji. Sebagaimana

diketahui orang yang akan melempar jumrah akan berdesak-desakkan

dengan jamaah haji lainnya, terkadang dapat membawa kepada kematian,

karena terinjak-injak oleh jamaah haji lainnya.

Ijtihad yang kita butuhkan sekarang adalah ‘ijtihad bersama/kolektif'

yang dilakukan oleh sekelompok ahli fiqih dunia yang menghimpun

berbagai kemampuan keilmuan yang tinggi. Setelah mempelajari dan

Page 50

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 50

mendalami, hukum-hukum dapat dikeluarkan tanpa rasa takut dan tanpa

ada tekanan dari penguasa atau masyarakat awam.

Selain itu, saya menegaskan bahwa kita tetap membutuhkan upaya

ijtihad secara perorangan yang dapat menerangi jalan dihadapan ijtihad

bersama/kolektif dengan cara mempelajari permasalahan dengan teliti.

Terkadang, sebagian da'i Islam mengklaim bahwa diri mereka adalah

pendukung kejumudan dan menentang berbagai upaya pembaharuan.

Apakah keadaan ini berkaitan dengan fakta yang ada atau keadaan ini

merupakan rekayasa tersembunyi dari orang-orang tertentu?

Apakah kita berhak membahas para da'i ini terkait dengan perkara

pembaharuan?

Sehubungan dengan perkara pembaharuan, manusia dibagi menjadi 3

macam,

Pertama, mereka yang anti pembaharuan. Mereka ingin melestarikan

segala bentuk yang lama. Mereka kerap mendengung-dengungkan slogan

seperti, "Generasi pertama tidak pernah meninggalkan apapun juga pada

generasi terakhir atau tidak mungkin ada sesuatu yang lebih baru dari yang

telah lalu."

Dengan kejumudannya, mereka menantang segala bentuk

pembaharuan. Baik pembaharuan dalam bidang ilmu pengetahuan,

pemikiran, adab, kehidupan, lalu apa urusanmu dengan pembaharuan

agama?! Pembaharuan dalam agama dianggap sebagai perbuatan bid'ah.

Dalam bidang keagamaan, saya menemukan dua jenis kelompok yang

memiliki sikap untuk 'membekukan Islam'. Pembicaraan tentang mereka,

sebagiannya telah saya tulis di dalam majalah Al-Ummah, ketika

membicarakan tentang abad ke 15 H. Yang pertama adalah kelompok yang

taklid pada madzhab atau tepatnya fanatik pada suatu madzhab. Mereka

adalah orang-orang yang menolak segala bentuk pelanggaran atau yang

dianggap mengganggu madzhab mereka. Mereka juga tidak mengakui

adanya hak seseorang atau kelompok untuk berijtihad di masa sekarang ini,

kecuali dalam koridor yang telah ditetapkan madzhab mereka saja. Bahkan

dalam batas-batas ulama madzhab yang diberi kebebasan oleh para

generasi terakhir. Ketika kelompok ini memberi fatwa, maka tidak boleh

ada seorang pun yang melanggar pendapat pemberi fatwa termasuk

pendapat lain yang merupakan bagian madzhab itu.

Kelompok yang kedua adalah kelompok yang saya beri nama dengan

istilah 'Ad-Dzahiriah Al-Judud'. Kelompok ini merupakan kelompok yang

hanya memperhatikan nash-nash secara harfiah atau dzahirnya saja.

Mereka tidak ingin memperhatikan nash hingga sisi maksud syari'at

(maqasid). Mereka tidak memahami sisi parsial (juz'i) dari nash secara

umum (kulliyaat). Tidak mengherankan jika engkau menyaksikan mereka

melancarkan beberapa peperangan yang sengit hanya demi permasalahan

yang sepele dalam agama. Mereka adalah orang-orang ikhlas menjalankan

ajaran Islam. Namun mereka seperti seorang ibu yang menyebabkan

Page 51

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 51

kematian anaknya. Si ibu mengurung dan menjaga anaknya agar tidak

terpengaruh oleh lingkungan luar. Dia takut anaknya terkena sengatan

sinar matahari dan tiupan angin.

Kedua, mereka yang amat berlebihan dalam hal pembaharuan. Mereka

ingin melenyapkan segala hal yang berbau masa lampau. Padahal masa

lampau itu merupakan dasar identitas sebuah masyarakat, alasan

keberadaan masyarakat itu dan rahasia kelanggengan masyarakat tersebut.

Seolah-olah mereka ingin menghapus 'hari kemarin', ingin menghilangkan

'fi'il madhi' dari bahasa Arab dan ingin menghapus 'sejarah' dari tatanan

ilmu manusia.

Tajdid (pembaharuan) mereka pada hakekatnya adalah menciptakan

hal yang aneh. Kemunculan yang aneh menurut mereka adalah sesuatu

yang baru. Mereka mengklaim bahwa mereka telah mengambil hal-hal

yang baik dan buruk, hal-hal yang manis dan yang pahit. Ar-Raf'i -semoga

Allah memberi rahmat kepadanya- telah mengejek mereka dengan

ucapannya, "Mereka ingin memperbaharui agama Islam, bahasa, matahari

dan bulan."

Penyair Islam Muhammad Iqbal berkata menanggapi sikap kelompok di

atas, "Ka'bah tidak dapat diperbarui dengan mencabut batu yang ada di

sana dari keempat sudutnya."

Amir Syakib Arsalan di dalam bukunya 'Limadza Ta'akhkhara Al-

Muslimun?' berkata, "Agama ini lenyap karena kejumudan dan keingkaran.

Di satu sisi manusia menjauhi agama Islam karena kejumudannya. Di sisi

lain mereka sesat karena keingkarannya.

Jenis yang ketiga adalah jenis pertengahan, antara jenis pertama dan

jenis kedua. Mereka mengambil hikmah darimana saja asalnya. Mereka

menerima pembaharuan, bahkan menyeru kepada pembaharuan dengan

tetap berada di bawah naungan keorisinalan Islam. Mereka membedakan

mana yang boleh diambil dan mana yang tidak. Mereka membedakan

antara yang sesuai dan yang tidak sesuai.

Inilah sikap para da'i yang sesungguhnya. Slogan mereka adalah

memadukan antara yang lama dan baru. Membuka diri pada dunia tanpa

instan. Tetap dalam tujuan, dinamis dalam sarana untuk mencapai tujuan.

Teguh dalam perkara prinsip, namun tidak demikian dalam perkara furu'

(cabang).

Antara ijtihad dan pembaharuan seperti pemahaman kontemporer yang

berhubungan. Jika Islam menganggap ijtihad sebagai sebuah cara untuk

memahami hukum-hukum yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan Sunnah,

apakah Islam juga menerima pembaharuan sebagaimana Islam menerima

ijtihad?

Atau pembaharuan termasuk jenis yang bertentangan dengan tabi'at

Islam yang datang mengatur kehidupan dengan berbagai dasarnya, nilai,

pemahaman serta hukum-hukumnya atau ijtihad dan pembaharuan

mempunyai tempat tersendiri dalam Islam?

Page 52

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 52

Saya terkejut dengan ungkapan seorang ilmuwan terhormat yang tidak

menyetujui adanya hubungan antara pembaharuan dengan Islam, ketika

diwawancarai salah seorang wartawan. Dia menganggap bahwa Islam

adalah sesuatu yang fix, tidak perlu diperbaharui dan tidak akan

berkembang. Saya khawatir dia memberikan pemahaman pada masyarakat

lewat ungkapan kata 'Pembaharuan agama'. Karena dia menggartikan

ungkapan kata ini dengan arti merubah agama dengan menghapusnya atau

memberikan tambahan. Untuk itulah, dia menutup semua jenis

pembaharuan dalam agama dengan mengingkari secara mutlak adanya

pembaharuan.

Padahal yang sebenarnya adalah hadits nabi Saw telah menjelaskan

perkara ini. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Hakim,

Baihaqi dan yang lainnya dengan sanad yang shahih. Hadits itu artinya,

"Setiap di penghujung seratus tahun sekali, Allah mengirim seseorang yang

menjadi seorang pembaharu dalam agamanya (Islam).41" Setelah sabda

Rasulullah ini, tidak ada lagi ucapan beliau. Setelah hukum yang

disampaikan beliau dalam hadits ini, tidak ada keterangan hukum yang

lain.

Banyak ulama yang ikhlas mengingkari segala sesuatu yang permanen,

dengan alasan karena masyarakat menyalah gunakannya. Ini berarti para

ulama tersebut mengatasi kesalahan dengan kesalahan yang lain. Padahal

metode yang benar adalah menetapkan yang permanen dengan disertai

penanaman penafsiran yang benar serta menjelaskan semua pemahaman

dan penafsiran serta penerapan yang tidak benar.

Pembaharuan agama adalah sesuatu yang permanen, fix menurut nash.

Namun pembaharuan tidak sama dengan ijtihad. Ijtihad merupakan salah

satu cabang dari pembaharuan. Ijtihad merupakan salah satu bentuk dari

pembaharuan. Sehingga ijtihad adalah pembaharuan dari sisi pemikiran

dan ilmu. Sedangkan pembaharuan mencakup sisi pemikiran, ruhani dan

sisi praktis. Kesemua sisi ini merupakan sisi yang terangkum dalam Islam.

Karena Islam adalah ilmu, keimanan dan amal.

Saat ini, umat Islam amat membutuhkan orang yang mampu untuk

memperbarui dan menyegarkan kembali keimanan mereka. Membutuhkan

orang yang mampu untuk memperbarui berbagai karunia yang dimiliki

mereka. Membutuhkan orang yang memperbarui rambu-rambu

kepribadian mereka, orang yang bergerak untuk membangun generasi

muslim yang tampil dihadapan dunia seperti yang dilakukan oleh generasi

para sahabat Rasulullah sebelumnya. Generasi seperti ini kami namakan

dengan 'Generasi Penolong Islam yang diharapkan'. Pembaharuan ini

dimulai dari sekelompok orang yang memenuhi dan melaksanakan janji

yang pernah mereka ikrarkan di hadapan Allah. Diantara mereka ada yang

telah memperoleh balasannya dan ada pula yang masih terus berjuang

sambil berharap datangnya balasan dari Allah. Misalnya, Hasan Al-Banna,

Abdul Hamid bin Badis, Abul 'Ala Al-Maududi dan generasi penerus

41 Shahih, lihat buku "Shahih Al-Jami' Ash-Shagir" no. hadits 1874 cet. kedua

Page 53

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 53

mereka yang meneruskan perjuangan, menyempurnakan perjalanan

hingga Allah menyempurnakan sinar-Nya.

Di dalam hadits,

"Setiap di penghujung seratus tahun sekali, Allah mengirim

seseorang yang menjadi seorang pembaharu dalam agamanya

(Islam)."

Perkara terpenting di dalam hadits ini adalah arti dari kata 'man'

(seseorang). Apakah kaum muslimin harus senantiasa melakukan

pengamatan -di setiap awal dan akhir abad hijriah- terhadap seseorang

pembaharu yang senantiasa memikirkan kaum muslimin? Dalam naungan

pemahaman Islam terhadap peran jama'ah dalam kehidupan individu

nampak bahwa pemahaman hadits ini memberikan kaum muslimin tugas-

tugas dalam bingkai pembaharuan perkara agama Islam.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya, oleh

Hakim di dalam Al-Mustadrak, oleh Baihaqi di dalam Ma'rifah As-Sunan

wal Aatsar, oleh Thabrani di dalam Al-Ausath. Hadits ini memberikan

harapan yang kuat bagi umat Islam. Berita tentang akan datangnya seorang

pembaharu mengusir segala bentuk keputusasaan. Hadits ini

membangkitkan semangat dan harapan dalam diri umat bahwa Allah tidak

meninggalkannya menjadi santapan musuh-musuhnya. Allah tidak

membiarkan umatnya tercekik oleh asap, tidak membiarkannya dicabik-

cabik oleh cakar. Allah menyiapkan -antara awal dan akhir setiap abad

hijriah- seseorang yang mampu menyatukan umat ini dari pecah belahnya.

Seseorang yang mampu menghidupkan umat dari matinya,

membangkitkan umat dari tidur panjangnya. Inilah sebagian arti dari

pembaharuan. Orang ini memperbaharui umat ini dengan Islam dan

memperbaharui agama ini dengan umatnya.

Sebagian besar pensyarah hadits ini (sebagaimana telah dijelaskan

sebelumnya) bahwa yang dimaksud dengan 'man yujadid Ad-Dien' adalah

seseorang. Seseorang yang telah dianugerahi Allah dengan berbagai

karunia ilmu, akhlak dan amal salih. Semua ini dapat menggugah para

pemuda Islam, mengembalikan semangat, dinamis dan kekuatan mereka.

Semua ini dicapai lewat jalan ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan jihad

besar. Inilah yang menjadikan para pensyarah hadits memberikan batasan

bahwa para pembaharu muncul di penghujung tiap abad hijriah. Mereka

sepakat pada suatu waktu, namun berbeda pendapat di waktu yang lain.

Mereka sepakat pada sosok Umar bin Abdul Aziz sebagai sosok pembaharu

yang muncul di abad pertama hijriah. Mereka juga sepakat bahwa Imam

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i sebagai pembaharu di abad kedua hijriah.

Mereka juga sepakat bahwa pembaharu di abad kelima hijriah adalah Abu

Hamid Al-Ghazali dan pembaharu di abad keenam hijriah adalah Ibnu

Daqiq Al-'Aid. Namun mereka berbeda pendapat mengenai pembaharu-

pembaharu lainnya dengan perbedaan yang amat tajam.

Saya berpendapat bahwa kata 'man' yang terdapat di dalam hadits ini,

sebagaimana pemahaman bahasa Arab memberikan pengertian umum

Page 54

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 54

yang menunjukkan kepada semua orang. Kata ini bisa memberikan

pengertian untuk satu orang atau sekelompok orang. Sehingga pengertian

orang yang memperbaharui agama di setiap penghujung abad tidak selalu

tampil dalam sosok individu tertentu, tetapi bisa jadi sekelompok orang.

Diantara mereka terkadang ada yang menjadi ulama, ada yang menjadi

penguasa, ada yang menjadi panglima dan ada pula yang menjadi

pendidik. Terkadang mereka berada di dalam satu negara, namun mereka

bisa juga terdapat di beberapa negara. Terkadang dia bergerak seorang diri

di bidangnya, namun terkadang mereka bekerja sama, saling tolong

menolong sehingga menyerupai sebuah kelompok yang bergerak. Sebagian

mereka terkadang melakukan pembaharuan di bidang dakwah dan

pendidikan. Namun sebagian lain melakukan pembaharuan di bidang fiqih.

Sekelompok orang bergerak di bidang pendidikan, yang lainnya bergerak di

bidang perbaikan sosial, kelompok yang lain bergerak di bidang ekonomi,

sementara itu kelompok yang lain bergerak di bidang politik. Banyaknya

bidang yang dilakukan, beraneka ragamnya kegiatan yang dilakukan

bukan sesuatu yang menjadi masalah. Dengan catatan, perbedaan yang

bermacam-macam dan bukan perbedaan yang saling bertentangan dan

bermusuhan. Perbedaan ini saling menyempurnakan, saling mengisi dan

saling tolong menolong, saling menguatkan dan bukan saling menghalangi

satu sama lain. Jika kaum muslimin saling menghalangi dan bermusuhan

itu berarti akan menyebabkan kelemahan bagi mereka dan memperkuat

kekuatan musuh.

Jika mengkaitkan pembaharuan hanya pada satu orang saja, hal ini

menyebabkan masyarakat hidup hanya mengharapkan kedatangannya.

Inilah rahasia mengapa sekelompok orang hanya mengharapkan

kedatangan imam Mahdi. Menurut saya, pembaharuan hendaknya

dikaitkan dengan sebuah kelompok, yayasan atau gerakan. Sehingga setiap

muslim ingin menjadi bagian dari kelompok itu dalam kedudukannya

sebagai pembaharu. Setiap muslim akan menyumbang semua kemampuan

dan kekuatannya. Sehingga pertanyaannya bukan kapan pembaharu agama

itu akan muncul? Tapi, apa yang telah saya lakukan untuk memperbaharui

agama?

Di dalam dunia Islam, ikatan antara pembaharuan dan para

pembaharu memiliki arahan yang bermacam-macam. Berbagai klaim dari

kaum sekularis dan atheis bermunculan. Semuanya itu ditujukan untuk

menjadikan kaum muslimin lepas dari hakikat agamanya. Apakah ini

sebuah pembaharuan? Apakah mereka (para sekularis dan atheis) termasuk

para pembaharu?

Para musuh Islam mengganti penggunaan kata pembaharu (mujadid)

dengan kata pemecah belah (mubadid). Karena mereka tidak mengkaitkan

para pembaharu dengan pembaharuan yang sesungguhnya. Sehingga yang

dimaksud dengan pembaharuan adalah sesuatu yang berarti kembali

kepada sesuatu seperti ketika pertama kali baru muncul. Memperbaiki

segala yang perlu diperbaiki, dengan tetap menjaga keorisinalannya dan

kekhasannya. Inilah seperti yang kami katakan sebelumnya. Jika ingin

merenovasi istana atau bangunan kuno, maka kita tidak diizinkan untuk

Page 55

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 55

merubah ciri-ciri khas dan bentuk aslinya. Namun kita harus senantiasa

berusaha untuk mengembalikan seperti ketika pertama kali dibangun.

Adapun jika membongkar dan merubuhkan bangunan itu dan mendirikan

bangunan baru dengan gaya arsitek modern, maka ini bukanlah

pembaharuan.

Para musuh Islam tak ada bedanya dengan seseorang ingin

merubuhkan sebuah masjid Jami' yang merupakan sebuah bangunan kuno,

kemudian dia membangun sebuah gereja dengan gaya arsitek modern dan

di gereja itu di tulis pula kata Jami' (sebutan yang biasanya melekat pada

kata masjid).

Yang menyematkan nama para musuh Islam sebagai para pembaharu

adalah penjajah, murid-muridnya serta kaki tangannya yang berasal dari

para orientalis dan para misionaris. Padahal nama mereka sebenarnya

adalah Ubaid Al-Fikri Al-Gharbi alias budak pemikiran barat. Sehingga

mereka tidak pantas diberi status sebagai murid-murid pemikiran barat.

Sebab yang namanya murid, berdiskusi dengan gurunya, terkadang

menentangnya, dalam kesempatan lain terkadang membantahnya. Adapun

sikap mereka terhadap pemikiran barat tidaklah demikian, sikap mereka

adalah tunduk patuh dengan penuh pengabdian. Bukankah sikap ini

merupakan sikap seorang hamba atau seorang budak? Sehingga semua

yang diyakini barat dianggapnya sebagai suatu yang hak. Semua yang

diucapkan barat adalah benar dan semua yang dilakukannya dianggap

indah! Sama saja apakah mereka berasal dari aliran kiri atau kanan,

keduanya sama-sama budak. Sumber mereka adalah satu. Mereka tidak

ubahnya seperti ranting dari pohon yang dilaknat Al-Qur'an, Taurat dan

Injil. Yaitu pohon buruk yang mencabut ruh dari tubuh manusia,

menghilangkan keimanan dari kehidupan ini serta mencabut hidayah Allah

dari masyarakat. Kedok mereka yang mengaku sebagai para pembaharu

telah dibongkar oleh Alm. Prof Dr. Muhammad Al-Bahi di dalam bukunya

yang berjudul Al-Fikri Al-Islami Al-Hadits wa shillatuhu bil isti'mar Al-

Gharbi42.

Mujadid (pembaharu) sejati adalah orang yang memperbaharui agama

Islam, dengan agama dan untuk agama. Adapun orang yang ingin

memperbaharui agama Islam dari luar, yaitu dengan pemahaman import

dan pemikiran dalam negri, dia sebenarnya melakukan pembaharuan

untuk kepentingan barat atau timur. Orang seperti ini amat jauh dari

pembaharuan yang sebenarnya.

3. Islam Dan Kemajuan

Bukanlah merupakan perkara yang aneh, jika kehidupan manusia di

atas bumi ini selalu berubah dan berkembang dari satu keadaan ke keadaan

42 Untuk menambah pengetahuan tentang topik ini baca pula pasal yang berjudul "Ashalah laa

Raj'iyyah, wa tahdits laa taghriib" dalam buku kami yang berjudul "Bayyinaat Al-Hallu Al-Islami wa

Syubhaat Al-Ilmaniyiin wal Mutagharribiin" diterbitkan oleh Muassasah Ar-Risalah, Beirut

Page 56

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 56

lainnya. Sebagian orang mengalami kemajuan di beberapa bidang, itu

berarti mereka telah mengalami perkembangan.

Bidang yang paling banyak mengalami perkembangan adalah segala

sesuatu yang biasa digunakan oleh manusia. Makanan, pakaian,

kendaraan, rumah, senjata, berbagai peralatan dan sebagainya.

Berikut ini kami akan memberikan contoh yang amat jelas.

Dulu, manusia berjalan kaki untuk mencapai tujuannya. Kemudian dia

berhasil menjinakkan beberapa hewan tunggangan. Seperti, unta, kuda dan

keledai. Hewan-hewan ini digunakan sebagai kendaraan manusia dan

membawa segala perbekalan yang dibutuhkannya. Kemudian manusia

membuat kapal layar yaitu kapal yang digerakkan oleh angin dan berlayar

di lautan. Selanjutnya manusia membuat gerobak yang ditarik dengan

hewan tunggangan. Ini terus berlangsung hingga ribuan tahun. Kemudian

muncullah kendaraan lain yang bernama kereta yang digerakkan oleh

mesin uap atau mesin penggerak lainnya. Setelah itu terciptalah pesawat

terbang, sehingga dunia seperti sebuah desa kecil. Yang terakhir pesawat

dan kendaraan ruang angkasa yang dapat mengantarkan manusia ke

bulan.

Allah Swt mengisyaratkan sarana-sarana yang digunakan manusia

dalam ayat berikut ini,

Ÿ≅ø‹sƒø:$#uρ

tΑ$tóÎ7ø9$#uρ

uÏϑysø9$#uρ

$yδθç6Ÿ2÷tIÏ9

ZπuΖƒÎ—uρ

4

ß,è=øƒs†uρ

$tΒ

Ÿω

tβθßϑn=÷ès?

∩∇∪

"Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu

menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah

menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya." (An-Nahl

(16):8)

Selain perkembangan yang bersifat fisik seperti di atas, terdapat pula

perkembangan dalam bidang pemikiran, adat, kebiasaan dan akhlak.

Perkembangan dalam bidang ini terkadang patut dipuji, namun terkadang

tidak. Karena perkembangan bidang ini tidak selamanya untuk

kemaslahatan manusia. Terkadang dapat meningkatkan derajat manusia,

hingga nyaris mendekati derajat malaikat. Namun terkadang menurunkan

derajat manusia menjadi rendah, bahkan lebih rendah dari derajat

binatang.

Lalu pertanyaannya adalah, "Bagaimana sikap Islam terhadap

perkembangan? Apakah Islam menerimanya atau menolak serta

memeranginya?

Sikap Manusia Terhadap Perkembangan/Kemajuan

Sikap Islam terhadap perkara ini amatlah agung. Oleh karenanya sudah

selayaknya kami menjelaskan terlebih dahulu sikap manusia terhadap

perkembangan:

Page 57

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 57

1. Sikap Penolakan Manusia Secara Mutlak

Yaitu penolakkan secara mutlak terhadap segala perubahan dan

pembaharuan. Penolakkan terhadap segala aspek kehidupan, baik sisi

keilmuan, perbuatan maupun dalam bentuk makna. Mereka melestarikan

tradisi kuno dan memerangi segala bentuk yang baru tidak peduli sumber

dan apapun bentuknya.

Itulah yang terjadi pada gereja barat pada abad pertengahan masehi.

Gereja barat pada saat itu mengadopsi berbagai pemikiran dan teori, seperti

geografi, astronomi, kedokteran dan lain sebagainya. Selain itu, pihak

gereja menambah sisi spritual dalam pemikiran dan teori tersebut, sehingga

dianggap sebagai bagian dari agama Nasrani. Seperti pemikiran dan tradisi

yang mereka anut selalu diwarnai dengan warna agama. Tidak boleh

seorang pun yang menentang pemikiran dan tradisi itu. Menurut mereka,

pembahasan atau penelitian secara bebas hingga penentangan pemikiran

harus dihentikan. Maka celakalah orang yang mengadakan pembaharuan!

Ustadz Imam Muhammad Abduh menyebutkan dalam bukunya yang

berjudul "Al-Islam wan Nashraniyyah ma'al ilmi wal madaniyyah"

mengenai sikap gereja dan para tokoh yang menimbulkan keanehan dan

kebingungan.

Dirumanis berkata, "Lengkungan pelangi bukanlah busur panah yang

berada di tangan Allah untuk menghukum hamba-Nya. Namun pelangi

adalah refleksi cahaya matahari pada titik-titik air." Karena pendapatnya

ini, Dirumanis dibawa ke Roma, dipenjara hingga meninggal dunia. Mayat

dan semua hasil karyanya dilemparkan ke dalam api!

Balaj berpendapat tentang kematian. Dia berpendapat bahwa kematian

telah ada sebelum Adam diciptakan. Dia berkata, "Hewan-hewan telah

mengalami kematian sebelum nabi Adam melakukan kesalahan karena

memakan buah khuldi." Pendapat ini menimbulkan keributan. Polemik dan

perselisihan ini berakhir dengan keluarnya keputusan kaisar agar

menghukum mati setiap orang yang memiliki keyakinan ini.

Pendapat bahwa bumi itu bulat telah menimbulkan keguncangan yang

amat sangat pada diri ilmuwan Nasrani. Padahal kaum muslimin telah

mengetahui hal ini sejak awal pemerintahan khilafah dinasti Abbasiyyah.

Pendapat dan pemahaman ini tidak menggoyahkan keyakinan ilmuwan

Nasrani. Bahkan keterangan ini tercantum dalam buku-buku tafsir dan

tauhid.

Sebagian orang Amerika berhasil menemukan cara untuk membius

wanita ketika melahirkan, sehingga wanita tidak merasa sakit saat

melahirkan. Penemuan ini menimbulkan kemarahan para pendeta. Karena

mereka beranggapan bahwa merekalah yang berhak membebaskan wanita

dari kutukan dan hukuman abadi yang dicatat di dalam Taurat bagian kitab

penciptaan (perjanjian lama) dan bagian Injil yang ketiga. Di dalamnya

terdapat keterangan, "Allah berfirman kepada wanita, "Perbanyaklah beban

kehamilanmu. Karena rasa sakit dapat mempermudah kelahiran anak."

Page 58

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 58

Di kota Konstantinopel, kaum muslimin telah menemukan metode

kedokteran dengan cara penyuntikan di bawah kulit. Kemudian seorang

wanita yang bernama Marie Monaco membawa metode ini sampai di Eropa

pada tahun 1721 M. Para pendeta bangkit dan menentang penggunaan alat

suntik itu. Peristiwa seperti ini kembali terulang ketika penyuntikan

diperlukan untuk pengobatan penyakit cacar. Para pendeta menentang

penggunaan alat suntik untuk pengobatan.

Biro penyelidik dibentuk di Eropa untuk menentang berbagai ilmu dan

pemikiran bebas. Biro ini dibentuk, karena takut pada kemunculan

pemikiran yang dibawa oleh murid-murid Ibnu Rusyd –baik murid secara

langsung atau tidak langsung-. Khususnya biro penyelidik di Perancis dan

Italia selatan. Orang yang mengusulkan untuk mendirikan biro ini adalah

pendeta Turkamanda.

Biro aneh ini benar-benar melakukan tugasnya. Dalam 18 tahun,

semenjak tahun 1481 M hingga 1499 M telah menjatuhkan hukuman atas

10.220 orang agar dibakar hidup-hidup. Mereka benar-benar dibakar.

Sebanyak 61.860 orang dihukum gantung setelah sebelumnya difitnah

terlebih dahulu. Sebanyak 97.023 dijatuhi hukuman dengan bentuk

hukuman yang bermacam-macam. Mahkamah ini juga membakar semua

Taurat yang berbahasa Ibrani.

Itulah sikap gereja, namun arus perkembangan dan kemajuan lebih

kuat. Sehingga percikan api berpindah dari timur Muslim menuju ke barat

Nasrani. Kobaran api semakin meluas dan meninggi hingga akhirnya

menjadi kobaran api yang besar, sehingga tidak dapat dihalangi oleh apa

pun juga. Sekelompok orang dalam jumlah yang banyak bangkit

menyerang gereja. Gereja yang bodoh melawan ilmu, khurafat melawan

pemikiran. Gereja bersama para raja dan orang-orang pandai melawan

rakyat. Rakyat berteriak, "Gantunglah raja terakhir dengan usus pendeta

terakhir."

2. Sikap Ketundukan Mutlak Terhadap Perkembangan/ Kemajuan Zaman

Sikap kedua ini bertolak belakang dengan sikap yang terdahulu. Sikap

kedua adalah ketundukan secara mutlak kepada perkembangan/ kemajuan

zaman. Sikap mereka terhadap segala perubahan dan hal yang baru adalah

taklid buta. Mereka tidak lagi membedakan antara yang boleh dengan yang

tidak boleh, antara yang pantas dan yang tidak pantas. Sikap ini

dipengaruhi oleh pemikiran barat yang berpendapat bahwa semua hal

yang mutakhir lebih baik dari yang terdahulu. Lebih dari itu mereka tidak

pernah merasa puas pada kemajuan (tekhnologi, misalnya). Namun mereka

kebablasan. Mereka menyeru untuk mengembangkan segala sesuatu,

merubah semua nilai, merubah berbagai kebaikan, tradisi dan perundang-

undangan. Menurut mereka kehidupan ini harus dibalik hingga 180

derajat.

Di dalam masyarakat kita masih terdapat dua kelompok yang bersikap

seperti di atas, Pertama, kelompok yang merupakan pengikut barat.

Peradaban barat telah membuat kelompok ini merasa terkagum-kagum.

Page 59

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 59

Oleh karenanya, mereka membenarkan segala hal yang berasal dari

peradaban barat. Mereka berantusias sekali terhadap segala yang terdapat

di dalam peradaban barat, bahkan mereka mempropagandakan peradaban

ini atas nama perkembangan, pembaharuan dan kemajuan zaman. Padahal

peradaban barat kosong dari nilai-nilai kemanusiaan, rusak, atheis dan

permisifisme (serba boleh). Saat ini, orang-orang barat sendiri mulai

mengkaji ulang sikap mereka, mengkritik peradaban mereka dan merubah

pemahaman mereka terhadap berbagai perkara.

Mereka inilah yang diolok-olok oleh sastrawan Arab dan Islam yang

bernama Mushtafa Shadiq Ar-Rafi'i. Beliau berkata, "Mereka ingin

memperbaharui agama, bahasa, matahari dan bulan!!"

Kelompok yang kedua adalah para penganut paham Marxis. Mereka

berpendapat bahwa perkembangan adalah sesuatu yang pasti. Mereka

menyeru bahwa perkembangan/kemajuan zaman lebih utama dari

keadaan sebelumnya.

Mereka selalu membicarakan sisi kehidupan manusia yang

berkembang. Namun mereka lalai membicarakan sisi kehidupan manusia

yang tetap/tidak dapat berubah.

Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan manusia banyak menghadapi

perubahan dan perkembangan. Namun perubahan yang terjadi hanya

terkait pada segala hal yang berada di sekeliling manusia dan lebih banyak

dari perubahan dan perkembangan manusia itu sendiri. Adapun zat

manusia tidak pernah berubah, itu-itu saja.

Nabi Adam digoda syetan secara bertahap melalui gharizatul baqa'

(naluri cinta) pada kekekalan, hingga akhirnya beliau memakan buah

khuldi. Anak cucu Adam juga tidak berbeda dengan nabi Adam sendiri,

naluri terkadang mendorongnya untuk melakukan perbuatan maksiat.

Anak nabi Adam yang dengki pada saudaranya, tega membunuhnya

dengan batu. Kemudian dia bingung mengubur mayat saudaranya hingga

seekor burung gagak memberi contoh cara mengubur sebuah mayat.

Sampai saat ini, manusia masih memiliki perasaan dengki dan mungkin

melakukan pembunuhan lantaran perasaan dengki itu. Begitulah manusia

pada dasarnya tidak pernah berubah, walaupun alat atau sarana untuk

membunuh telah mengalami perkembangan dan beraneka ragam jenis dan

bentuknya. Selain itu dengan tekhnologi muktahir, manusia sudah mampu

mencairkan mayat seseorang dengan zat asam atau zat kimia yang telah

diuraikan hingga tidak sedikitpun meninggalkan bekas!!

Kendali akhlaklah yang menjadikan nabi Adam menyesal, bertaubat

dan memohon ampun kepada Allah, setelah beliau melakukan perbuatan

dosa. Dia berdoa,

Ÿω$s%

$uΖ−/u‘

!$oΨ÷Ηs>sß

$uΖ|¡àΡr&

βÎ)uρ

óΟ©9

öÏøós?

$uΖs9

$oΨôϑymös?uρ

¨⎦sðθä3uΖs9

z⎯ÏΒ

z⎯ƒÎÅ£≈y‚ø9$#

Page 60

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 60

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika

Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,

niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-'Araf

(7):23)

Kendali ini juga nampak pada anak nabi Adam yang baik ketika

berkata kepada saudaranya,

.⎦È⌡s9

|MÜ|¡o0

¥’n<Î)

x8y‰tƒ

©Í_n=çFø)tGÏ9

!$tΒ

O$tΡr&

7ÝÅ™$t6Î/

y“ωtƒ

y7ø‹s9Î)

y7n=çFø%L{

(

þ’ÎoΤÎ)

Ú’%s{r&

©!$#

¡>u‘

t⎦⎫Ïϑn=≈yèø9$#

∩⊄∇∪

"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk

membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku

kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada

Allah, Tuhan seru sekalian alam." (Al-Maidah (5):28)

Kendali ini juga nampak pada diri anak nabi Adam yang telah

melakukan pembunuhan. Dia menyesal telah melakukan pembunuhan.

Kendali ini sen antiasa ada di dalam fitrah manusia, walaupun manusia

telah berhasil menginjakkan kakinya di bulan.

Dorongan fitrah yang terdapat di dalam diri manusia tidak pernah

berubah, walaupun cara pemuasannya mengalami perubahan. Dulu

manusia memakan makanan yang mentah sebagaimana yang dilakukan

oleh hewan dan burung-burung. Kemudian manusia mengetahui cara

memasak makanan di atas api yang bahan bakarnya adalah kayu bakar

atau batu bara. Bersama berjalannya waktu, cara memasak yang dilakukan

manusia terus mengalami perubahan. Yang tadinya menggunakan kayu

bakar, kini memasak dengan kompor minyak tanah, gas dan kompor listrik.

Namun tetap saja manusia makan dan minum. Tetap saja manusia

merasakan lapar dan kenyang, merasakan haus dan puas. Perut akan

merasa tegang, bila sedang lapar dan haus. Namun jika perut sudah

kenyang, maka kita akan merasakan lega dan tenang.

Nilai-nilai agamis dan akhlak dasar berasal dari perasaan

membutuhkan kepada Allah, memohon perlindungan kepada Allah ketika

sedang mengalami kesulitan dan menyesali perbuatan dosa. (Nilai-nilai ini

biasa disebut dengan gharizah tadayyun/naluri keagamaan). Manusia

mencintai kejujuran, sifat amanah, keutamaan dan membenci sifat hina,

berbohong dan khianat. Semua nilai dan sifat ini senantiasa ada di dalam

kehidupan manusia. Walaupun pada sebagian manusia, sifat ini tertutup.

Perkembangan yang ada di dunia ini adalah perkembangan yang

melingkupi dan berada di sekitar manusia dan bukan dalam diri manusia.

Perkembangan terjadi pada segala sesuatu yang digunakan atau yang dapat

membantu manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan bukan terjadi

dalam diri manusia.

Page 61

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 61

Memang benar, pengetahuan manusia terhadap alam ini dan segala

yang ada di dalamnya telah mengalami perubahan dan kemajuan. Namun

hakikat manusia tidak mengalami perubahan.

3. Sikap Seimbang Merupakan Sikap Islam

Sikap ketiga ini merupakan sikap seimbang. Sikap yang dapat

membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang pantas dan tidak

pantas. Sikap ini merupakan sikap yang adil. Tidak anti terhadap

perkembangan dan kemajuan zaman, namun juga tidak berlebihan dalam

hal tersebut. Sikap ketiga ini adalah menghadapi perkembangan dengan

penuh hikmah, bahkan dengan benar. Tidak itu saja, sikap ini mendorong

seorang muslim untuk memperoleh kemajuan/perkembangan yang

bermanfaat, menciptakan kemajuan/perkembangan serta menikmatinya.

Itulah sikap Islam yang benar, sikap yang memadukan antara sesuatu

yang tidak dapat berubah dan sesuatu yang dinamis/elastis, termasuk

dalam perkara hukum dan ajarannya.

Tetap dan istiqamah dalam tujuan, namun elastis dalam penggunaan

sarana dan peralatan.

Tetap dan istiqamah dalam perkara yang ushul (pokok) dan kulliyaat

(meyeluruh), namun elastis dalam perkara yang furu' (cabang) dan juz'i

(parsial).

Tetap dan istiqamah dalam perkara akhlak dan akidah, namun elastis

dalam perkara dunia dan materi.

Perkara-perkara yang tetap ini dapat ditemukan dalam nash-nash yang

muhkamah, nash-nash yang qath'i dari segi sumbernya serta

pengertiannya. Sedangkan perkara yang dinamis/elastis dapat ditemukan

dalam nash-nash yang dzanni (tidak pasti) dari segi sumber serta

pengertiannya. Selain itu perkara yang dinamis/elastis juga terdapat dalam

ruang yang nash-nashnya –baik Al-Qur'an dan Sunnah- membiarkan para

mujtahid melakukan ijtihad, sebagai sebuah rahmat dan kemudahan bagi

kita.

Perkara yang tetap ini terdapat dalam perkara akidah yang pokok,

hukum-hukum fardhu yang dasar, berbagai keutamaan pokok, hukum-

hukum haram yang pokok, perkara syari'at yang menyeluruh serta

perkara-perkara lainnya. Yaitu perkara-perkara yang tidak pernah

menimbulkan perbedaan pendapat di zaman, lingkungan dan keadaan apa

pun juga. Sedangkan perkara yang elastis ini terdapat dalam hukum-

hukum furu', juz’i yang meluas lantaran banyak sudut pandang dan ijtihad

terhadap hukum-hukum tersebut. Allah tidak memberikan batasan yang

pasti tentang pengertian hukum-hukum itu. Barangsiapa yang berijtihad

dan hasil ijtihadnya benar, maka dia memperoleh dua pahala. Barangsiapa

yang berijtihad, namun hasil ijtihadnya salah, maka dia hanya memperoleh

1 pahala saja. Inilah pengertian yang diucapkan oleh para ahli fiqih kita,

"Fatwa tentang hukum-hukum ini dapat berubah karena perubahan

tempat, zaman, adat istiadat dan keadaan."

Page 62

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 62

Selain itu, kita juga menemukan perkara yang elastis, dinamis pada

perkara-perkara dunia. Yaitu perkara-perkara yang berkaitan dengan

tekhnik, keahlian dan iptek. Singkat kata, perkara yang berkaitan dengan

sarana serta hal-hal tekhnis. Inilah yang dimaksud dengan sabda

Rasulullah Saw yang artinya,

"Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.43"

Perkara tekhnik, keahlian dan iptek merupakan perkara yang harus

dikuasai oleh kaum muslimin. Bahkan kaum muslimin harus unggul dalam

perkara ini. Tidak masalah bagi kaum muslimin untuk mengambil

keahlian, tekhnologi tertentu dari non muslim atau dari siapa saja, jika

kaum muslimin tidak memiliki tekhnologi itu.

Di saat-saat pertama Rasulullah berada di Madinah, beliau berkhutbah

dengan bersandarkan pada sebuah pelepah kurma. Namun ketika jumlah

kaum muslimin bertambah banyak dan kekuasaan beliau semakin stabil,

Rasulullah memanggil tukang kayu berkebangsaan Romawi. Tukang kayu

ini membuat sebuah mimbar 3 tingkat untuk Rasulullah. Setelah mimbar

itu selesai, beliau berkhutbah di atasnya dan beliau tidak mengatakan,

"Mimbar ini buatan orang Romawi, oleh karenanya saya tidak

menggunakannya." Sekali lagi, beliau tidak mengatakan seperti itu.

Dalam perang Ahzab, Salman Al-Farisi r.a. mengusulkan untuk

menggali parit sepanjang kota Madinah, sehingga parit itu dapat

melindungi kota Madinah dari serangan kaum musyrikin. Rasulullah

kagum pada pendapat Salman dan beliau melaksanakan. Beliau tidak

mengatakan, "Ini merupakan salah satu tekhnis berperang bangsa Majusi,

oleh karenanya kami tidak akan mengikutinya." Sekali lagi, Rasulullah tidak

mengatakan seperti ini.

Demikian pula masa para sahabat setelah Rasulullah wafat. Mereka

membuat berbagai sistem dan tindakan yang sebelumnya tidak pernah ada

di masa Rasulullah. Mereka membentuk dewan-dewan, menghimpun Al-

Qur'an dalam beberapa mushaf, kemudian mushaf-mushaf itu dibagikan ke

berbagai daerah. Selain itu, mereka menunjuk orang-orang tertentu untuk

tugas khusus dalam bidang pengadilan. Mereka juga memasukkan sistem

surat menyurat, pendek kata segala yang bermanfaat dan baik diambil,

dipelajari dan digunakan. Sunnah, inisiatif para Khulafaur Rasyidin

dianggap sebagai bagian dari agama dan dipegang dengan erat?!

Allah menjamin agama Islam sebagai agama terakhir untuk seluruh

manusia. Setelah sebelumnya mengalami masa sulit dan berhak menjadi

sebuah risalah umum untuk seluruh manusia serta menjadi risalah yang

kekal hingga akhir zaman, maka tidaklah aneh jika Allah memberikan

keluasaan, kemudahan, elatisitas yang siap menghadapi perkembangan dan

kemajuan zaman. Allah menjadikan agama menjadi siap dan layak untuk

setiap lingkungan, setiap umat dan setiap generasi. Bukan itu saja, Allah –di

dalam ajaran-Nya- menggariskan beberapa nilai, pemikiran, pemikiran-

43 HR Muslim, Shahih Al-Jami' no. hadits 1482, cet. ketiga, cet. Al-Maktab Al-Islami

Page 63

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 63

pemikiran pokok, akhlak dan hukum-hukum yang mendorong

terwujudnya pertumbuhan, gerak untuk mencapai posisi yang tertinggi.

Islam memadukan antara agama dan dunia, ilmu dan keimanan, menjadi

orang kota yang berakhlak.

Islam tidak menolak semua bentuk kemajuan, jika di dalamnya terdapat

ilmu, hikmah, kebenaran dan kebaikan. Namun, Islam menolak segala

bentuk kemajuan, jika di dalamnya terdapat kecendrungan kerusakan,

penyimpangan dan kehinaan. Semua perkara dikembalikan kepada Al-

Qur'an yang diturunkan Allah dengan kebenaran dan standar ukuran.

Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya kebingungan dan sia-sia. Akan

tetapi Allah memberikan umat manusia ukuran/standar yang dapat

dijadikan sebagai barometer segala sesuatu dalam kehidupan mereka.

Islam menolak sikap jumud dan menyeru kepada sikap bergerak dan

dinamis. Bergerak perlahan dan terus menerus. Islam menghendaki gerak

yang memiliki tujuan dan cerdas. Bukan gerak tanpa arah dan merusak.

Islam menghendaki adanya gerak seperti bergeraknya sungai pada

jalurnya. Bukan geraknya aliran darah yang tidak memiliki jalur dan

batasan-batasan. Sungai dan aliran adalah dua hal yang mengalir dan

bergerak. Namun sungai menyebar untuk kehidupan, menumbuhkan

tanaman dan keberkahan bagi tempat yang dilaluinya. Sedangkan aliran

biasanya identik dengan aliran darah dan kerusakan.

Islam menginginkan manusia aktif dan berbuat, namun dengan syarat

geraknya harus memiliki tujuan yang sesuai dengan nilai kemanusiaan nan

mulia. Dia bergerak seputar daerah yang aman, tidak mencelakakan diri

dan tidak pula mencelakakan orang lain. Hal ini sebagaimana yang

diucapkan oleh Asy-Syahid Sayyid Quthb, "Gerak itu di dalam bingkai yang

tetap dan disekitar poros yang tetap."

Islam menerima kemajuan dan perkembangan yang cerdas dan baik.

Kemajuan yang diatur oleh nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keutamaan.

Kemajuan yang diatur oleh keseimbangan keadilan. Karena keadilan itulah

Allah menurunkan kitab-Nya dan rasul-Nya. Adapun kemajuan yang

bergerak tanpa arah seperti adanya kestatisan dan kebodohan, merupakan

dua hal yang ditolak oleh Islam.

Kapan Masyarakat Islam Menghadapi Bahaya

Masyarakat Islam menghadapi hal genting dan berbahaya, disebabkan

salah satu dari dua perkara berikut ini,

Pertama, Bersikap jumud pada perkara yang dapat berubah,

berkembang dan bergerak. Sehingga kehidupan ini mandul seperti air yang

tergenang tidak bergerak dan menjadi tempat bersarangnya bakteri dan

mikroba.

Kenyataan ini terjadi di saat kemunduran dan jauh dari petunjuk Islam

yang benar. Kita dapat melihat dalam masalah fikih misalnya, kaum

muslimin tidak lagi mampu berijtihad. Karena pintu ijtihad telah ditutup

katanya. Kreatifitas dalam ilmu pengetahuan mengalami kemandekan,

Page 64

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 64

demikian pula dalam hal adab. Kreatifitas dalam bidang perindustrian

mengalami stagnan, demikian pula keahlian dalam berperang dan bidang-

bidang lainnya. Kehidupan dipenuhi dengan kejumudan dan taklid di

segala bidang. Orang-orang terdahulu tidak meninggalkan apa pun untuk

generasi selanjutnya. Tidak ada kemampuan yang melebihi generasi

sebelumnya! Jika keadaannya seperti ini, masyarakat lain yang tertidur

akan mulai bangkit dan berkembang, terus berkembang dan maju. Tidak

lama kemudian para tentara penjajah mulai bergerak. Sementara itu kaum

muslimin masih asyik dan hanyut dalam kelalaian.

Kedua, Menginginkan perubahan, perkembangan pada hal-hal yang

seharusnya tetap, fix dan statis. Di zaman sekarang, kita sudah sering

melihat dan mendengar sekelompok putra putri muslim ingin melenyapkan

identitas Islam dari umat ini. Ingin menghilangkan kemuliaan umat ini dari

seluruh khazanah Islam, dengan mengatas namakan perkembangan dan

kemajuan zaman. Mereka ingin menyebarkan paham atheis dalam perkara

akidah, ingin membuat merasa asing terhadap syari'ah dan menjauhkan

dari berbagai keutamaan. Semua itu dipropagandakan dengan mengatas

namakan perkembangan.

Mereka ingin melenyapkan agama ini dan dalam yang waktu

bersamaan mereka mengadopsi berbagai keyakinan, pemikiran, nilai,

keseimbangan, sistem, tradisi dan akhlak yang berasal dari timur dan barat.

Allah menurunkan agama ini agar manusia tidak tergelincir di dalam

menjalankan kehidupan. Oleh karena itu, Allah mewajibkan agar agama

ini menjadi standar tetap yang dijadikan rujukan ketika berbeda pendapat

dan menyimpang dari jalannya. Adapun jika agama ini harus tunduk dan

mengikuti perubahan kehidupan, agama akan lurus jika kehidupan lurus

dan akan bengkok jika kehidupan bengkok. Maka hal itu akan

menghilangkan peran agama dalam kehidupan manusia. Yang benar

adalah agama mengarahkan dan menilai kehidupan dan bukan kehidupan

mengarahkan dan menilai agama. Agama yang menundukkan kehidupan

berdasarkan tuntunan dan petunjuknya dan bukan kehidupan

menundukkan agama ini mengikuti kenyataan dan kerendahannya.

Dari sini, kami bertanya kepada mereka yang menuntut agar Islam

berkembang, "Mengapa kalian tidak menuntut agar perkembangan ini

tunduk mengikuti Islam?!!"

Islam adalah pengatur, sedangkan perkembangan hidup berposisi

sebagai sesuatu yang diatur.

Mereka yang Mendewa-Dewakan Kemajuan Zaman Tidak Memiliki

Sikap Tertentu

Mereka yang mendewa-dewakan kemajuan zaman tidak memiliki sikap

tertentu. Mereka tidak menginginkan kemunduran. Jika mereka menerima

Islam, mereka menginginkan Islam yang berasal dari tangan dan pikiran

sendiri.

Page 65

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 65

Mereka berpendapat, "Kami tidak menerima pendapat para imam, ahli

fiqih, pensyarah hadits dan para penafsir Al-Qur'an. Karena pendapat

mereka adalah pendapat manusia yang tidak ada bedanya dengan kami.

Kami hanya menerima wahyu Allah semata."

Andaikan saja saya menerima pendapat mereka, niscaya mereka akan

berkata, "Kami mengambil sebagian wahyu dan tidak mengambil sebagian

lainnya. Kami mengambil Al-Qur'an dan tidak mengambil Sunnah. Karena

di dalam sunnah terdapat hadits yang lemah, palsu (maudhu'), ditolak

(mardud). Kami hanya mengambil hadits mutawatir dan tidak mengambil

hadits ahad."

Dengan beraninya mereka berkata, "Al-Qur'an mengatasi berbagai

keadaan yang ada di jazirah Arab dan berbagai masyarakat Badui secara

terbatas, oleh karenanya kami juga boleh mengambil sebagian Al-Qur'an

yang sesuai dengan kondisi kami dan meninggalkan bagian Al-Qur'an yang

lain karena tidak sesuai dengan kondisi kami!"

$yϑ¯ΡÎ)

tΠ§ym

ãΝà6ø‹n=tæ

sπtGøŠyϑø9$#

tΠ¤$!$#uρ

zΝóss9uρ

ÍƒÌ“ΨÏ‚ø9$#

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,

daging babi." (Al-Baqarah (2):173)

Babi adalah binatang yang najis. Mereka berkata, "Al-Qur'an

mengatakan demikian tentang babi karena makanannya pada saat itu

adalah kotor. Sedangkan babi sekarang tidaklah demikian!!"

Jika Al-Qur'an membicarakan tentang warisan,

"Bagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak

perempuan." (An-Nisaa' (4):11)

Mereka akan berkata, "Ketentuan terjadi ketika para wanita belum

menjadi wanita karir, belum bekerja. Adapun saat ini, wanita memiliki

kepribadian sendiri, memiliki pendapatan sendiri. Oleh karena itu wanita

harus memperoleh bagian waris seperti bagian yang diperoleh oleh kaum

pria. Tidak boleh kita membeda-bedakan bagian kedua jenis kelamin ini!!"

Jika Allah berfirman,

$yϑ¯ΡÎ)

ãôϑsƒø:$#

çÅ£øŠyϑø9$#uρ

Ü>$|ÁΡF{$#uρ

ãΝ≈s9ø—F{$#uρ

Ó§ô_Í‘

ô⎯ÏiΒ

È≅yϑtã

Ç⎯≈sÜø‹¤±9$#

çνθç7Ï⊥tGô_$$sù

"Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk)

berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji

termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah." (Al-Maidah (5):90)

Page 66

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 66

Niscaya mereka akan berkata, "Al-Qur'an mengharamkan hal di atas,

karena diturunkan di daerah tropis. Seandainya Al-Qur'an diturunkan di

daerah dingin, niscaya ketentuannya akan berbeda."

Ucapan di atas menunjukkan bahwa mereka mengatakan Allah tidak

mengetahui pada keadaan-keadaan hamba-Nya. Dia hanya mengetahui

sesuatu yang nampak saja. Mereka beranggapan bahwa Allah tidak

mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari dan masa yang akan datang.

Ucapan mereka ini merupakan ucapan orang-orang yang sombong.

Solusi yang sebenarnya adalah, "Hendaknya kita memahami dengan

baik, perkara kehidupan apa saja yang harus mengalami perkembangan.

Jika telah memahaminya dengan baik, maka kita dapat mengerahkan segala

daya upaya untuk mengadakan perkembangan dan perbaikan dengan akal

pikiran orang-orang bijaksana yang berani. Dalam hal ini, Islam

mendorong kita untuk menggunakan kekuatan pemikiran dan usaha

sendiri. Islam mendorong kita agar menggunakan ijtihad dan jihad yang

telah disyari'atkan kepada kita. Hendaknya kita memanfaatkan

ilmu/hikmah yang berhasil kita peroleh, darimana pun asal ilmu itu. Kita

hendaknya juga memahami perkara yang tetap dijaga sebagaimana

mestinya. Seperti nilai-nilai, akidah, pemahaman, akhlak adab dan syari'at.

Dengan sikap bijaksana ini, kita dapat menghadapi dan mengarahkan

perkembangan. Kita dapat hidup di zaman modern dan tetap berpegang

teguh pada putusan Allah, sehingga kita dapat memperoleh dua

keuntungan. Memperoleh keuntungan dunia dan tidak merugikan agama.

Memperoleh keridhaan Allah dan kekaguman terhadap akal manusia.

4. Kedudukan Manusia Dalam Islam

Buku berjudul Hadharah Al-Islam, merupakan karya seorang orientalis

yang bernama An-Nimsawi juz 1 Fun Jarwi Nibawum. Buku ini

diterjemahkan oleh ustadz Abdul Aziz Taufik Juwaid yang dicetak oleh Al-

Alfu Kitab. Buku terjemahan ini mendapat penghargaan “Komite Budaya

Umum” di kementrian Pendidikan dan Pengajaran.

Di dalam buku ini banyak terdapat kekeliruan mengenai Islam, baik

dari sisi akidah, syari’at, peradaban dan sejarahnya. Banyak sekali orientalis

yang tidak beriman kepada Islam sebagai sebuah ajaran (dien), tidak

beriman kepada Al-Qur’an sebagai sebuah wahyu dan tidak beriman

kepada Muhammad sebagai seorang rasul, oleh karenanya Islam dan

khasanahnya ditafsirkan menurut keyakinan mereka.

Ustadz Abdul Aziz yang menterjemahkan buku ini, memberikan

komentar atas sebagian dari kekeliruan tersebut. Namun dia,

Pertama, tidak memahami permasalahan

Kedua, tidak memberikan komentar pada tempatnya

Ketiga, komentar dan pemikiran yang dikomentarinya tidak terdapat di

dalam satu buku. Karena dia memberikan komentar itu dalam buku yang

Page 67

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 67

terpisah (sehingga pembaca tidak dapat melihat, memeriksa serta

memahami pemikiran penulis secara langsung –baik dilihat dari buku asli

maupun buku terjemahannya).

Sekarang posisi saya bukan sebagai pengkritik buku ini secara

keseluruhan. Saya hanya ingin memberikan komentar terhadap pemikiran

penulis yang tidak dikomentari oleh Abdul Aziz Taufik (penerjemah buku

tersebut).

Penulis itu berkata di dalam pasal 'Al-Insan Al-Kamil' hal. 283, "Sejak

awal, Islam hanya sedikit mengenal manusia. Al-Qur'an cendrung merasa

cukup menjelaskan tentang manusia dari sisi asal muasalnya yang

menghinakan. Al-Qur'an menggambarkan seseorang dan pembentukannya

secara rinci, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat berikut ini,

ô‰s)s9uρ

$oΨø)n=yz

z⎯≈|¡ΣM}$#

⎯ÏΒ

7's#≈n=ß™

⎯ÏiΒ

&⎦⎫ÏÛ

∩⊇⊄∪

§ΝèO

çµ≈oΨù=yèy_

ZπxôÜçΡ

’Îû

9‘#ts%

&⎦⎫Å3¨Β

∩⊇⊂∪

¢ΟèO

$uΖø)n=yz

sπxôÜ‘Ζ9$#

Zπs)n=tæ

$uΖø)n=y‚sù

sπs)n=yèø9$#

ZπtóôÒãΒ

$uΖø)n=y‚sù

sπtóôÒßϑø9$#

$Vϑ≈sàÏã

$tΡöθ|¡s3sù

zΟ≈sàÏèø9$#

$Vϑøtm:

¢ΟèO

çµ≈tΡù't±Σr&

$) ù=yz

tyz#u™

4

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu

saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air

mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian

air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu

Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami

jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus

dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang

(berbentuk) lain." (Al-Mu'minin (23):12-14)

Pada mulanya manusia tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.

Dia bukan sosok yang terbuat dari materi yang hina saja. Tetapi manusia

itu lemah, tidak dapat merasa ketika muncul dalam kehidupan ini. Dia

tidak dapat menjaga dirinya sendiri dari ancaman bahaya -baik dalam

bentuk penyakit atau rasa sakit-, kecuali yang dikehendaki Allah. Manusia

sendiri yang menanggung rasa lapar, haus, baik dikehendakinya atau tidak

dikehendakinya. Manusia ingin mengetahui, namun dia tidak mengetahui

dirinya sendiri. Dia ingin mengingat, namun lupa. Dia pasti mengatur

berbagai rencana, namun dia tidak akan mencapai ketenangan hidup."

Imam Al-Ghazali memperhatikan ucapan orientalis ini dan beliau

memberi komentar, "Tidak ada yang dapat melarangnya, kecuali kematian.

Kematian yang datang menemuinya. Kematian yang mengantarkannya

pada bau busuk."

Jika memperhatikan sumber-sumber Islam secara sekilas saja, niscaya

dapat membantah klaim penulis di atas. Yaitu ungkapannya yang berbunyi

‘islam hanya sedikit mengenal manusia'. Padahal Islam menyanggah

kesimpulan penulis yang lemah itu.

Page 68

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 68

Dalam point ini, penulis mensandarkan pendapatnya pada kata-kata

yang diucapkan oleh imam Al-Ghazali dalam buku Ihya', bab Al-Kibar.

Kata-kata yang diucapkan Al-Ghazali ini dan yang semisalnya, tidak layak

dijadikan sandaran sebuah pernyataan prinsip penting yang berkaitan

dengan kedudukan manusia dalam Islam. Padahal Al-Ghazali

mengucapkan kata-kata itu untuk menjelaskan bagaimana caranya untuk

mengatasi sikap sombong dan ditujukan pada orang-orang sombong.

Imam Ghazali ingin memperingatkan orang yang sombong dengan

hari-harinya di masa lalu. Di mana dirinya masih dalam bentuk janin di

dalam kandungan ibunya. Bahkan pada saat itu dia adalah sesuatu yang

belum dapat dikenali dan dikatakan. Semua ini diucapkan imam Ghazali,

agar orang yang sombong itu mengetahui bahwa dia tidak dapat berdiri

sendiri. Dia membutuhkan tuhannya, Allah.

ö≅yδ

4’tAr&

’n?tã

Ç⎯≈|¡ΣM}$#

×⎦⎫Ïm

z⎯ÏiΒ

Ì÷δ¤$!$#

öΝs9

⎯ä3tƒ

$\↔ø‹x©

#·‘θä.õ‹¨Β

∩⊇∪

$¯ΡÎ)

$oΨø)n=yz

z⎯≈|¡ΣM}$#

⎯ÏΒ

>πxôÜœΡ

8l$t±øΒr&

ϵ‹Î=tGö6¯Ρ

çµ≈oΨù=yèyfsù

$Jè‹Ïϑy™

#·ÅÁt/

∩⊄∪

$¯ΡÎ)

çµ≈uΖ÷ƒy‰yδ

Ÿ≅‹Î6¡¡9$#

$¨ΒÎ)

#[Ï.$x©

$¨ΒÎ)uρ

#·‘θàx.

∩⊂∪

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang

dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani

yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah

dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang

bersyukur dan ada pula yang kafir." (Al-Insan (76):1-3)

Setelah menyebutkan ayat di atas,44 Imam Ghazali berkata, "Artinya,

Allah menghidupkan manusia, setelah sebelumnya dalam keadaan tidak

bernyawa/mati. Yang pertama dari sari pati tanah. Setelah itu berubah

menjadi setetes air mani. Dari tidak dapat mendengar, Allah memberikan

pendengaran kepada manusia. Dari tidak mampu melihat, Allah

memberikan manusia penglihatan. Allah memberikan manusia kekuatan,

setelah sebelumnya dalam keadaan lemah. Manusia jadi memiliki ilmu,

setelah sebelumnya dalam keadaan bodoh. Allah memberi manusia ilmu.

Dia menciptakan berbagai macam anggota tubuh manusia yang

mengagumkan. Allah juga memberikan kekayaan pada manusia, setelah

sebelumnya dalam keadaan miskin. Manusia sebelumnya merasakan lapar,

kemudian Allah mengenyangkannya. Allah memberikan manusia pakaian,

setelah sebelumnya dalam keadaan telanjang. Allah memberikan petunjuk

kepada manusia, setelah sebelumnya dalam keadaan sesat. Lihatlah!

Bagaimana Allah mengatur dan membentuknya, bagaimana Allah

44 Hal. 309, pasal Al-Kibar ma'a Al-Muhlikaat, cet. Musthafa Al-Babi Al-Halbi tahun 1346

Page 69

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 69

memudahkan jalan, bagaimana Allah menghilangkan kedzaliman manusia

dan bagaimana Allah memperlihatkan kebodohan manusia.

óΟs9uρr&

ttƒ

ß⎯≈|¡ΡM}$#

$¯Ρr&

çµ≈oΨø)n=yz

⎯ÏΒ

7πxõÜœΡ

#sŒÎ*sù

uθèδ

ÒΟ‹ÅÁyz

×⎦⎫Î7•Β

∩∠∠∪

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami

menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi

penantang yang nyata!" (Yaasin (36):77)

ô⎯ÏΒuρ

ÿ⎯ϵÏG≈tƒ#u™

÷βr&

Νä3s)n=s{

⎯ÏiΒ

5>#tè?

¢ΟèO

!#sŒÎ)

ΟçFΡr&

Öt±o0

šχρçųtFΖs?

∩⊄⊃∪

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan

kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang

berkembang biak." (Ar-Ruum (30):20)

Lihatlah berbagai nikmat Allah atas manusia. Bagaimana Allah

mengangkat manusia (yang masih berbentuk) sesuatu yang penuh

kehinaan, kerendahan dan kekotoran menjadi makhluk yang memiliki

derajat yang tinggi, mulia dan menjadi manusia sempurna, padahal

sebelumnya tidak pernah ada di dunia. Allah menjadikan manusia hidup

yang sebelumnya mati, menjadikan manusia dapat berbicara yang

sebelumnya tidak dapat berbicara, menjadikan manusia dapat melihat yang

sebelumnya tidak dapat melihat, menjadikan manusia kuat yang

sebelumnya lemah, menjadikan manusia pandai yang sebelumnya bodoh,

menjadikan manusia memperoleh petunjuk yang sebelumnya berada dalam

kesesatan, menjadikan manusia mampu yang sebelumnya lemah,

menjadikan manusia kaya yang sebelumnya miskin. Dulu, manusia secara

zat bukanlah apa-apa, yaitu sesuatu yang lebih hina dari sesuatu yang tidak

ada, kemudian Allah menjadikannya sebegai sesuatu yang hidup, menjadi

makhluk yang sempurna.

Inilah yang diucapkan imam Al-Ghazali tentang manusia. Beliau

mengingatkan manusia akan asal usulnya, sehingga dengan demikian sifat

sombong akan hilang dari dirinya. Orang-orang yang menyombongkan

diri akan kembali sadar. Imam Al-Ghazali tidak pernah menulis seperti

yang diungkapkan penulis orientalis di atas.

Andaikan penulis orientalis itu adil, tentu dia juga membahas ucapaan

imam Al-Ghazali di bagian-bagian lainnya. Seperti kedudukan manusia di

alam, nilai manusia dan kekhasan ruhaninya yang tinggi di sisi Allah.

Cukuplah ucapan imam Al-Ghazali di dalam pasal 'Mahabbah' dari buku

Ihyanya. Imam Al-Ghazali berkata, setelah menyebutkan bahwa salah satu

sebab cinta adalah kesesuaian dan kesamaan. Karena sesuatu menarik

sesuatu yang mirip dengannya. Suatu bentuk akan cendrung pada bentuk

yang mirip dengannya, beliau berkata, "Kesesuaian dan persamaan ini pula

harus ada antara kecintaan Allah dengan batin manusia. Bukan kesesuaian

dan kemiripan dalam segi bentuk atau penampilan. Namun kesesuaian ini

Page 70

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 70

kembali pada batin manusia. Sebagian makna di atas dapat disebutkan,

sedangkan sebagian yang lain tidak boleh ditulis."

Hal yang boleh disebutkan dalam buku-buku adalah kedekatan seorang

hamba pada tuhan-Nya dari segi sifat yang diperintahkan untuk diteladani

dan dijadikan sebagai bagian dari akhlak. Oleh karenanya, berakhlaklah

dengan akhlak-akhlak Allah. Berusahalah mengikuti sifat-sifat terpuji

Allah, seperti, mengetahui, berbuat baik, lemah lembut, pemurah dalam

berbuat baik dan memberikan rahmat terhadap makhluk yang lain. Selain

itu menasehati orang lain, memberi petunjuk kepada jalan yang benar,

mencegah mereka dari jalan kebatilan serta sifat-sifat Allah lainnya. Jika

berakhlak dengan sifat-sifat Allah ini, maka hal itu dapat mendekatkan diri

kepada Allah. Bukan dalam arti tuntutan mendekati tempat namun

mendekati diri dengan sifat-sifat Allah.

Adapun hal yang tidak boleh ditulis oleh manusia dalam buku-buku,

sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah berikut ini,

štΡθè=t↔ó¡o„uρ

Ç⎯tã

Çyρ”9$#

(

È≅è%

ßyρ”9$#

ô⎯ÏΒ

ÌøΒr&

’În1u‘

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu

termasuk urusan Tuhan-ku." (Al-Isra' (17):85)

Allah Swt menjelaskan hal itu sebagai berikut,

"Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan

kepadanya roh (ciptaan) Ku." (Shaad (38):72)

Oleh karena itu, Allah memerintahkan para malaikat-Nya untuk sujud

kepada nabi Adam as. Firman Allah berikut ini mengisyaratkan hal itu,

ß$¯ΡÎ)

y7≈oΨù=yèy_

Zπx‹Î=yz

’Îû

ÇÚö‘F{$#

"Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka

bumi." (Shaad (38):26)

Rasulullah Saw bersabda, "Allah menciptakan Adam dalam bentuk-

Nya." Sehingga orang-orang yang berpikir pendek berpendapat yang ada

hanyalah gambaran fisik saja, yang dapat ditangkap oleh indra manusia.

Mereka menyamakan Allah dan menvisualkan-Nya dengan bentuk yang

diperkirakan oleh orang-orang jahiliyyah yang sombong.

Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah terhadap Musa as,

"Aku sakit mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?" Nabi Musa bertanya,

"Ya Allah! Bagaimana itu bisa terjadi?!" Allah berfirman, "Seorang hamba-

Ku si Fulan sedang sakit, namun engkau tidak menjenguknya. Seandainya

engkau menjenguknya, maka engkau akan menemukan-Ku di sisinya.45"

45 Lihat "Shahih Al-Jami' Ash-Shagir" 1916

Page 71

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 71

Kesesuaian ini hanya akan nampak dengan ketekunan melaksanakan

amal-amal sunnah, dengan syarat pelaksanaan kewajiban dapat ditunaikan

sebagaimana mestinya. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam hadits

qudsi, "Seorang hamba senantiasa mendekatkan diri dengan amalan

sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku

adalah pendengarannya, Aku adalah penglihatannya………dan

seterusnya."

Ayat yang digunakan penulis orientalis di atas, yaitu ayat yang

menjelaskan tentang fase-fase penciptaan manusia. Mulai dari setetes air

mani, gumpalan darah, segumpal daging dan seterusnya. Ayat ini tidak

diarahkan untuk menjelaskan kepada manusia dengan asal usul tubuh

manusia yang hina (sebagaimana dituduhkan penulis orientalis itu). Ayat

itu hanya mengarahkan sebagaimana ayat-ayat sejenis yang membantah

kaum yang mengingkari hari akhirat, kebangkitan setelah kematian. Ayat

di atas dan ayat-ayat sejenisnya mencoba membantah keyakinan suatu

kaum yang tidak percaya bahwa manusia akan dihidupkan kembali setelah

rusak dimakan tanah. Di saat munculnya keyakinan seperti ini, ayat-ayat

datang untuk memalingkan sudut pandang mereka yang berkeyakinan

menyimpang. Ayat-ayat itu menjelaskan bahwa manusia akan dibangkitkan

dalam keadaan utuh, seperti ketika masih hidup di dunia. Ayat-ayat ini

mencoba memperingatkan akal yang sesat mengenai kekuasaan Allah.

Allah telah menciptakan manusia dari keadaan lemah. Kemudian manusia

menjadi kuat, karena kekuasaan-Nya. Ada baiknya kami bacakan firman

Allah berikut ini, “Manusia bertanya, ‘Apakah setelah mati, saya akan

dibangkitkan dalam keadaan hidup?'"

Ÿωuρr&

ãà2õ‹tƒ

ß⎯≈|¡ΡM}$#

$¯Ρr&

çµ≈oΨø)n=yz

⎯ÏΒ

ã≅ö6s%

óΟs9uρ

à7tƒ

$\↔ø‹x©

∩∉∠∪

"Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami

telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?"

(Maryam (19):67)

óΟs9uρr&

ttƒ

ß⎯≈|¡ΡM}$#

$¯Ρr&

çµ≈oΨø)n=yz

⎯ÏΒ

7πxõÜœΡ

#sŒÎ*sù

uθèδ

ÒΟ‹ÅÁyz

×⎦⎫Î7•Β

∩∠∠∪

z>uŸÑuρ

$oΨs9

WξsWtΒ

z©Å¤tΡuρ

…çµs)ù=yz

(

tΑ$s%

⎯tΒ

Ä©÷∏ãƒ

zΝ≈sàÏèø9$#

}‘Éδuρ

ÒΟŠÏΒu‘

∩∠∇∪

ö≅è%

$pκÍ‹ósãƒ

ü“Ï%©!$#

!$yδr't±Σr&

tΑ¨ρr&

;ο§tΒ

(

uθèδuρ

Èe≅ä3Î/

@,ù=yz

íΟŠÎ=tæ

∩∠®∪

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami

menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi

penantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami;

dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat

menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"

Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya

Page 72

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 72

kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala

makhluk." (Yaasin (36): 77-79)

Apakah ayat yang proporsional ini dipahami sebagai ayat yang

menghina manusia? Sementara itu Islam hanya mengakui bagian kecil dari

manusia?

Al-Qur’an memberi perhatian yang cukup dengan membicarakan

mengenai manusia di puluhan ayat dan puluhan surat. Cukup kiranya,

saya tunjukkan wahyu pertama -lima ayat- yang diterima Rasulullah

sebagai contoh. Di dalam wahyu pertama itu, Allah tidak lupa untuk

menyebut mengenai manusia, hubungan manusia dengan Tuhan-nya;

yaitu hubungan penciptaan, keberadaan, pengajaran dan pemberian

hidayah. Kata Rabb saja, mengandung arti mengajarkan, mengatur,

mengawasi dan meningkat derajat manusia dalam tingkatan-tingkatan

kesempurnaan.

ù&tø%$#

ÉΟó™$$Î/

y7În/u‘

“Ï%©!$#

t,n=y{

∩⊇∪

t,n=y{

z⎯≈|¡ΣM}$#

ô⎯ÏΒ

@,n=tã

∩⊄∪

ù&tø%$#

y7š/u‘uρ

ãΠtø.F{$#

∩⊂∪

“Ï%©!$#

zΟ¯=tæ

ÉΟn=s)ø9$$Î/

∩⊆∪

zΟ¯=tæ

z⎯≈|¡ΣM}$#

$tΒ

óΟs9

÷Λs>÷ètƒ

∩∈∪

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia

telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan

Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia)

dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa

yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq (96):1-5)

Al-Qur'an di dalam ayat-ayatnya banyak menjelaskan tentang

hubungan manusia dengan Allah, hubungan yang dekat dengan yang

Maha Dekat. Penjelasan Al-Qur'an ini menghancurkan semua mitos dan

perantara yang diajarkan berbagai macam agama. Allah berfirman,

ô‰s)s9uρ

$uΖø)n=yz

z⎯≈|¡ΣM}$#

ÞΟn=÷ètΡuρ

$tΒ

â¨Èθó™uθè?

⎯ϵÎ/

…çµÝ¡øtΡ

(

ß⎯øtwΥuρ

Ü>tø%r&

ϵø‹s9Î)

ô⎯ÏΒ

È≅ö7ym

ωƒÍ‘uθø9$#

∩⊇∉∪

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan

mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat

kepadanya dari pada urat lehernya." (Qaf (50):16)

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,

maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat." (Al-Baqarah

(2):186)

"Maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah." (Al-

Baqarah (2):115)

"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (Al-Hadid

(57):4)

Page 73

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 73

Al-Qur'an menjelaskan mengenai kedudukan manusia di sisi dunia ruh

yang tinggi. Kedudukan itu merupakan kedudukan yang mendekati

kedudukan malaikat. Jiwa manusia ingin menggapai kedudukan malaikat,

namun tidak mampu. Kedudukan manusia adalah kedudukan wakil Allah

(Khalifah Allah) di muka bumi.

øŒÎ)uρ

tΑ$s%

š•/u‘

Ïπs3Íׯ≈n=yϑù=Ï9

’ÎoΤÎ)

×≅Ïã%y`

’Îû

ÇÚö‘F{$#

Zπx‹Î=yz

(

(#þθä9$s%

ã≅yèøgrBr&

$pκÏù

⎯tΒ

߉šøãƒ

$pκÏù

à7Ïó¡o„uρ

u™!$tΒÏe$!$#

ß⎯øtwΥuρ

ßxÎm7|¡çΡ

x8ωôϑpt¿2

â¨Ïd‰s)çΡuρ

y7s9

(

tΑ$s%

þ’ÎoΤÎ)

ãΝn=ôãr&

$tΒ

Ÿω

tβθßϑn=÷ès?

∩⊂⊃∪

"Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di

bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan

menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan

memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman,

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al-

Baqarah (2):30)

Kedudukan manusia adalah kedudukan hamba yang memperoleh

pengetahuan dari Allah, setelah Dia mengajarkan nabi Adam seluruh

nama-nama. Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud

kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadapnya.

øŒÎ)

tΑ$s%

y7•/u‘

Ïπs3Íׯ≈n=yϑù=Ï9

’ÎoΤÎ)

7,Î=≈yz

#Z|³o0

⎯ÏiΒ

&⎦⎫ÏÛ

∩∠⊇∪

#sŒÎ*sù

…çµçG÷ƒ§θy™

àM÷‚xtΡuρ

ϵŠÏù

⎯ÏΒ

©Çrρ•‘

(#θãès)sù

…çµs9

t⎦⎪ωÉf≈y™

∩∠⊄∪

y‰yf|¡sù

èπs3Íׯ≈n=yϑø9$#

öΝßγ=à2

tβθãèuΗødr&

∩∠⊂∪

HωÎ)

}§ŠÎ=ö/Î)

uy9õ3tFó™$#

tβ%x.uρ

z⎯ÏΒ

t⎦⎪ÍÏ≈s3ø9$#

∩∠⊆∪

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:

"Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka

apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya

roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan

bersujud kepadanya". Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya.

kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk

orang-orang yang kafir." (Shaad (38):71-74)

Sedangkan hukuman bagi iblis yang menolak untuk mentaati perintah

Allah agar menghormati dan bersujud pada manusia adalah mendapat

laknat dan diusir selamanya dari surga.

tΑ$s%

ólã÷z$$sù

$pκ÷]ÏΒ

y7¯ΡÎ*sù

×Λ⎧Å_u‘

∩∠∠∪

¨βÎ)uρ

y7ø‹n=tã

û©ÉLuΖ÷ès9

4’n<Î)

ÏΘöθtƒ

È⎦⎪Ïd‰9$#

∩∠∇∪

Page 74

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 74

Allah berfirman, "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya

kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap

atasmu sampai hari pembalasan." (Shaad (38):77-78)

Al-Qur'an menjelaskan bahwa kedudukan manusia di muka bumi yang

luas ini adalah sebagai tuan. Dia yang mengatur segalanya. Allah telah

menundukkan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia.

ª!$#

“Ï%©!$#

t,n=y{

ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$#

uÚö‘F{$#uρ

tΑt“Ρr&uρ

š∅ÏΒ

Ï™!$yϑ¡¡9$#

[™!$tΒ

ylt÷zr'sù

⎯ϵÎ/

z⎯ÏΒ

ÏN≡tyϑV 9$#

$]%ø—Í‘

öΝä3©9

(

t¤‚y™uρ

ãΝä3s9

šù=àø9$#

y“ÌôftGÏ9

’Îû

Ìóst7ø9$#

⎯ÍνÌøΒr'Î/

(

t¤‚y™uρ

ãΝä3s9

t≈yγ÷ΡF{$#

∩⊂⊄∪

t¤‚y™uρ

ãΝä3s9

}§ôϑ¤±9$#

tyϑs)ø9$#uρ

È⎦÷⎫t7Í←!#yŠ

(

t¤‚y™uρ

ãΝä3s9

Ÿ≅ø‹©9$#

u‘$pκ] 9$#uρ

∩⊂⊂∪

Νä39s?#u™uρ

⎯ÏiΒ

Èe≅à2

$tΒ

çνθßϑçGø9r'y™

4

βÎ)uρ

(#ρ‘‰ãès?

|Myϑ÷èÏΡ

«!$#

Ÿω

!$yδθÝÁøtéB

3

χÎ)

z⎯≈|¡ΣM}$#

×Πθè=sàs9

Ö‘$¤Ÿ2

∩⊂⊆∪

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan

air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan

itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah

menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan

dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu

sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari

dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah

menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan

kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan

kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat

kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim

dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)." (Ibrahim (14):32-34)

Apa yang menempatkan manusia memperoleh kedudukan terhormat

ini di muka bumi. Padahal banyak makhluk lain yang memiliki fisik yang

besar? Karena manusia memiliki kesiapan untuk mengemban amanah

besar ini dan tanggung jawab. Pembebanan tanggung jawab ini

digambarkan oleh Al-Qur'an dengan gambaran yang indah sekali.

$¯ΡÎ)

$oΨôÊttã

sπtΡ$tΒF{$#

’n?tã

ÏN≡uθ≈uΚ¡¡9$#

ÇÚö‘F{$#uρ

ÉΑ$t6Éfø9$#uρ

š⎥÷⎫t/r'sù

βr&

$pκs]ù=Ïϑøts†

z⎯ø)xô©r&uρ

$pκ÷]ÏΒ

$yγn=uΗxquρ

ß⎯≈|¡ΡM}$#

(

…絯ΡÎ)

tβ%x.

$YΒθè=sß

Zωθßγy_

∩∠⊄∪

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit,

bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul

amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan

Page 75

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 75

dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat

zalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab (33):72)

"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri." (Qiyamah

(75):14)

Ç⎯¨Β

3“y‰tF÷δ$#

$yϑ¯ΡÎ*sù

“ωtGöκu‰

⎯ϵšøuΖÏ9

(

⎯tΒuρ

≅ |Ê

$yϑ¯ΡÎ*sù

‘≅ÅÒtƒ

$pκön=tæ

4

Ÿωuρ

â‘Ì“s?

×οu‘Η#uρ

u‘ø—Íρ

3“t÷zé&

3

$tΒuρ

$¨Ζä.

t⎦⎫Î/Éj‹yèãΒ

4©®Lym

y]yèö6tΡ

Zωθß™u‘

∩⊇∈∪

"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka

sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri;

dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi

(kerugian) dirinya sendiri." (Al-Isra' (17):15)

Penjelasan di atas merupakan sebagaian yang disebutkan Al-Qur'an

mengenai kedudukan manusia. Dua seruan langsung dari Allah Swt –

berikut ini- terhadap manusia, merupakan bentuk penghormatan terhadap

manusia.

$pκš‰r'¯≈tƒ

ß⎯≈|¡ΡM}$#

$tΒ

x8¡xî

y7În/tÎ/

ÉΟƒÌx6ø9$#

∩∉∪

“Ï%©!$#

y7s)n=yz

y71§θ|¡sù

y7s9y‰yèsù

∩∠∪

þ’Îû

Äd“r&

;οu‘θß¹

$¨Β

u™!$x©

št7©.u‘

∩∇∪

"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat

durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah

menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan

menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja

yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu." (Al-Infithar (82):6-

8)

$y㕃r'¯≈tƒ

ß⎯≈|¡ΡM}$#

y7¨ΡÎ)

îyÏŠ%x.

4’n<Î)

y7În/u‘

%[nô‰x.

ϵŠÉ)≈n=ßϑsù

∩∉∪

"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-

sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya."

(Al-Insyiqaq (84):6)

Page 76

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 76

Pembicaraan Tentang Pemikiran

dan Arus Baru

1. Harus Ada Standar yang Dijadikan Tempat Merujuk

Suatu ketika saya berbicara dengan salah seorang teman mengenai

pentingnya kembali pada Islam. Baik dari sisi akidah, syari'at, nilai-nilai,

akhlak, budaya maupun peradaban, agar kita dapat hidup bahagia di dunia

dan akhirat.

Teman saya berkata, "Sahabatku, sebenarnya kami dalam keadaan

bingung. Bingung menghadapi berbagai seruan dan ideologi yang

bermacam-macam. Yang satu mengajak ke kanan, sementara itu yang lain

mengajak ke kiri. Di sini mengajak ke timur, sementara itu di sana

mengajak ke barat. Engkau mengajak kembali pada Islam. Sementara itu

yang lain menyeru paham nasionalis, sedangkan yang lain menyeru paham

sosialis."

Teman saya melanjutkan penjelasannya, "Diantara para da'i Islam

terdapat yang kaku dan terdapat pula yang penuh toleran. Di tengah-

tengah propagandis paham nasionalis terdapat mereka yang lapang dada,

namun ada pula yang sebaliknya. Demikian pula dengan para propagandis

paham sosialis, ada yang berlebihan, namun ada pula yang proporsional."

Seolah tidak memiliki rem dalam bicara, teman saya melanjutkan

ucapannya, "Setiap mereka mempromosikan barang dagangannya dengan

cara yang sebaik-baiknya. Mereka tidak ingin terlihat ada cacat sedikitpun.

Sedangkan para pembaca merasa heran ketika membaca buku-buku,

disertasi dan berbagai makalah. Para pendengar juga merasa heran ketika

mendengar seminar, pembicaraan dan diskusi. Oleh karenanya tolong

jelaskan pada saya, "Apa yang harus masyarakat lakukan terhadap ideologi

dan pemikiran-pemikiran itu? Apa yang harus masyarakat lakukan

terhadap arus kanan dan kiri?"

Saya mencoba menanggapinya, "Apa yang akan dilakukan masyarakat,

jika mereka berbeda pendapat tentang panjang suatu kain, berbeda

pendapat mengenai berat kembang gula atau berapa banyak ukuran

gandum yang akan dibeli, misalnya?"

Teman saya menjawab, "Mereka akan merujuk pada ukuran,

timbangan yang telah disepakati. Seperti meter untuk ukuran jarak dan

panjang. Kilogram dan kati untuk ukuran berat. Liter untuk ukuran isi dan

seterusnya. Jika semuanya telah diukur menurut ukurannya masing-

masing, maka perbedaan pendapat mengenai panjang, berat serta isi akan

usai."





Page 77

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 77

Saya melanjutkan penjelasan, "Inilah yang harus kita lakukan terhadap

perkara-perkara immateri, maknawi. Kita harus mempunyai ukuran atau

standar yang dijadikan rujukan bagi pemikiran, pendapat dan nilai-nilai

yang diperdebatkan. Sehingga semua perkara dan kata-kata kita menjadi

sama."

"Namun masalahnya, siapa yang membuat ukuran dan standar ini?

Standar yang berfungsi menimbang ucapan dan pendapat. Standar yang

mengukur ucapan dan keyakinan. Sehingga dengan demikian akan

diketahui mana yang benar dan salah, mana yang merupakan penuntun

dan mana pula yang dapat menyesatkan. Siapa yang memiliki kemampuan

untuk membuat ukuran ini? Siapa yang akan menyetujuinya, jika dia

berhasil membuat ukuran atau sebuah standar?" teman saya bertanya.

Saya menjawab, "Kita sebagai muslim sudah memiliki ukuran dan

standar itu. Ukuran itu ada di tangan kita. Ukuran/standar itu bukan

merupakan karya manusia. Karena manusia amat lemah untuk membuat

ukuran itu. Ukuran menurut Islam adalah ukuran yang turun dari langit

menuju bumi, ukuran yang berasal dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman,

!9#

4

ë=≈tGÏ.

ôMyϑÅ3ômé&

…çµçG≈tƒ#u™

§ΝèO

ôMn=Å_Áèù

⎯ÏΒ

÷βà$©!

AΟŠÅ3ym

AÎ7yz

∩⊇∪

"Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun

dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari

sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu." (Hud (11):1)

Rasulullah bersabda,

"Saya tinggalkan kalian (dua perkara). Selama kalian berpegang

teguh padanya, maka kalian tidak akan tersesat. Yaitu Kitabullah dan

Sunnahku."

Bahkan ini merupakan salah satu tugas para rasul yang mendasar, yaitu

membuat standar atau ukuran untuk manusia. Sehingga dengan demikian

jika terjadi perbedaan pendapat dan penyimpangan, semuanya dapat

merujuk kepada standar dan ukuran tersebut. Di dalam Al-Qur'an terdapat

keterangan sebagai berikut,

tβ%x.

â¨$¨Ζ9$#

Zπ¨Βé&

Zοy‰Ïn≡uρ

y]yèt7sù

ª!$#

z⎯↵ÍhŠÎ;¨Ψ9$#

š⎥⎪ÌÏe±u;ãΒ

t⎦⎪Í‘É‹ΨãΒuρ

tΑt“Ρr&uρ

ãΝßγyètΒ

|=≈tGÅ3ø9$#

Èd,ysø9$$Î/

zΝä3ósuŠÏ9

t⎦÷⎫t/

Ĩ$¨Ζ9$#

$yϑŠÏù

(#θàn=tF÷z$#

ϵŠÏù

4

$tΒuρ

y#n=tG÷z$#

ϵŠÏù

ωÎ)

t⎦⎪Ï%©!$#

çνθè?ρé&

.⎯ÏΒ

ω÷èt/

$tΒ

ÞΟßγø?u™!%y`

àM≈oΨÉit6ø9$#

$JŠøót/

óΟßγoΨ÷t/

(

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan),

maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan

pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab

Page 78

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 78

dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang

perkara yang mereka perselisihkan." (Al-Baqarah (2):213)

ô‰s)s9

$uΖù=y™ö‘r&

$oΨn=ß™â‘

ÏM≈uΖÉit7ø9$$Î/

$uΖø9t“Ρr&uρ

ÞΟßγyètΒ

|=≈tGÅ3ø9$#

šχ#u”Ïϑø9$#uρ

tΠθà)u‹Ï9

â¨$¨Ψ9$#

ÅÝó¡É)ø9$$Î/

(

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan

membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama

mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat

melaksanakan keadilan." (Hadid (57):25)

Namun anehnya, kita tidak merujuk pada ukuran/standar yang berasal

dari langit itu, tidak merujuk pada Islam. Padahal Allah telah memuliakan

kita dengan Islam. Dia meridhai Islam menjadi agama kita. Kita cendrung

mencampakkan Islam ke belakang punggung kita. Kita mencoba mencari

fatwa dan hukum selain dari Islam. "Barangsiapa yang mencari petunjuk

selain dari petunjuk Allah, maka Allah akan menyesatkannya."

Dengan sedikit heran, teman saya bertanya, "Apakah semua pemikiran

dan pendapat kita harus merujuk pada Islam dan Al-Qur'an."

Saya menjawab, "Memang benar. Agama Islammu menuntut untuk

kembali pada Allah dan rasul-Nya. Inilah makna syahadat Laa ilaaha illa

Allah, Muhammad Rasulullah. Jika engkau ridha Allah menjadi tuhanmu,

Muhammad sebagai rasul dan Al-Qur'an sebagai imammu, maka engkau

harus selalu merujuk pada Allah, rasul dan kitab-Nya. Setiap engkau

menghadapi suatu masalah, engkau berbeda pendapat dengan sekelompok

masyarakat, maka engkau harus merujuk pada Allah dan rasul-Nya dan

tidak dibenarkan kepada yang lain.

$tΒuρ

tβ%x.

9⎯ÏΒ÷σßϑÏ9

Ÿωuρ

>πuΖÏΒ÷σãΒ

#sŒÎ)

©|Ós%

ª!$#

ÿ…ã&è!θß™u‘uρ

#·øΒr&

βr&

tβθä3tƒ

ãΝßγs9

äοuzσø:$#

ô⎯ÏΒ

öΝÏδÌøΒr&

3

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi

perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah

menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang

lain) tentang urusan mereka." (Al-Ahzab (33):36)

Ÿξsù

y7În/u‘uρ

Ÿω

šχθãΨÏΒ÷σãƒ

4©®Lym

x8θßϑÅj3ysãƒ

$yϑŠÏù

tyfx©

óΟßγoΨ÷t/

§ΝèO

Ÿω

(#ρ߉Ågs†

þ’Îû

öΝÎηÅ¡àΡr&

%[`tym

$£ϑÏiΒ

|MøŠŸÒs%

(#θßϑÏk=|¡ç„uρ

$VϑŠÎ=ó¡n@

∩∉∈∪

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman

hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka

Page 79

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 79

perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati

mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima

dengan sepenuhnya." (An-Nisaa' (4):65)

Teman saya kembali bertanya, "Apakah pengertian merujuk kepada

Allah, berlaku untuk semua perkara kehidupan kita. Termasuk urusan

sosial, politik dan ekonomi?

Tidak menjadi masalah jika kita merujuk kepada Allah dalam perkara

agama, seperti akidah, ibadah dan akhlak. Adapun perkara kehidupan yang

senantiasa berubah dan berkembang, mengapa tidak merujuk pada akal

manusia atau mencari dari pengalaman orang lain?"

Saya menjawab, "Pengklasifikasian perkara yang merujuk kepada Allah

menjadi dua bagian, yaitu yang berkaitan dengan perkara agama dan non

agama merupakan pengklasifikasian yang menyesatkan dan tidak

berdasarkan dasar yang benar. Apakah engkau menginginkan kita mentaati

Allah, ketika Dia berfirman, "Dirikanlah shalat." (Muzammil (73):20),

karena shalat termasuk urusan agama. Adapun jika Allah berfirman,

"tunaikanlah zakat." (Muzammil (73):20), kita akan mengatakan, "Maaf

Allah, perintah ini termasuk perkara keuangan dan dunia, oleh karenanya

biarkanlah kami mengaturnya sendiri tanpa petunjuk dan wahyu-Mu."

"Jika Allah berfirman, "bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang

Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan

mohonlah ampun kepada-Nya." (Fushilat (41):6), maka kita akan

menjawab, "Kami mendengar dan mentaati. Namun jika Allah berfirman,

"sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,

mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan

syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat

keberuntungan." (Al-Maidah (5):90), maka kita akan mengatakan, 'Kami

mendengar, namun kami melanggarnya. Mengharamkan minuman keras

akan membahayakan kegiatan pariwisata, menghalangi kebebasan

individu, oleh karenanya biarkanlah kami bebas mengkonsumsinya."

Jika Allah berfirman, "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi

pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.

(Al-Baqarah (2):281), maka kita akan mengatakan ini adalah nasihat yang

baik. Namun jika Allah berfirman, "bertakwalah kepada Allah dan

tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang

beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),

maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu." (Al-

Baqarah (2):278-279), maka kita akan mengatakan, 'Adapun ini tidak! Di

zaman sekarang, kita membutuhkan riba. Roda perekonomian hanya dapat

berputar dengan bunga riba."

Jika Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas

kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu

agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah (2):183), maka kita akan menjawab,

'Kami mendengar dan taat.'" Adapun jika kita membaca sebuah ayat yang

terdapat di dalam surat yang sama dan dalam bentuk ungkapan yang sama,

Page 80

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 80

seperti ayat berikut ini, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas

kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh." (Al-

Baqarah (2):178), maka kita akan menjawab, 'Kami tidak mendengar dan

tidak mentaatinya.'" Karena perkara sanksi hukum merupakan hak kami

dan bukan merupakan hak Engkau, ya Allah, oleh karenanya biarkanlah

kami yang memutuskannya. Kami lebih mengetahui dari-Mu, mengenai

kemaslahatan kami!!'

"Tidak wahai saudaraku! Semua yang diturunkan Allah adalah agama

yang harus diikuti, dijaga dan diterapkan. Mengabaikan sebagian yang

diturunkan Allah, berbahaya secara keseluruhan. Keadaan ini seperti

sebuah resep seorang dokter ahli kepada pasiennya. Resep ini merupakan

kumpulan obat yang saling melengkapi. Sehingga jika salah satu obat

dihapus dari resep, maka obat-obat yang lain akan berbahaya, lebih banyak

bahayanya daripada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah memperingatkan

orang yang meninggalkan sebagian yang diturunkan Allah, seperti kitab

suci dan hikmah. Allah memperingatkan orang yang terpedaya oleh Ahli

Kitab, orang-orang kafir dan musyrikin. Allah berfirman,

Èβr&uρ

Νä3ôm$#

ΝæηuΖ÷t/

!$yϑÎ/

tΑt“Ρr&

ª!$#

Ÿωuρ

ôìÎ7®Ks?

öΝèδu™!#uθ÷δr&

öΝèδö‘x‹÷n$#uρ

βr&

š‚θãΖÏFøtƒ

.⎯tã

ÇÙ÷èt/

!$tΒ

tΑt“Ρr&

ª!$#

y7ø‹s9Î)

(

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka

menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti

hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka,

supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang

telah diturunkan Allah kepadamu." (Al-Maidah (5):49)

Allah juga memperingatkan fitnah yang timbul karena mengimani

sebagian hukum-hukum yang diturunkan Allah. Allah mencela kaum

munafik yang murtad, setelah petunjuk Allah jelas bagi mereka. Allah

menjelaskan tentang murka dan laknatnya,

šÏ9≡sŒ

óΟßγ¯Ρr'Î/

(#θä9$s%

š⎥⎪Ï%©#Ï9

(#θèδÌx.

$tΒ

š^“ tΡ

ª!$#

öΝà6ãè‹ÏÜãΖy™

’Îû

ÇÙ÷èt/

ÌøΒF{$#

(

ª!$#uρ

ÞΟn=÷ètƒ

óΟèδu‘#uó Î)

∩⊄∉∪

"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang

munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa

yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): "Kami akan mematuhi

kamu dalam beberapa urusan", sedang Allah mengetahui rahasia

mereka." (Muhammad (47):26)

Teman saya berkata, "Ucapanmu benar. Namun tidak semua orang

beragama Islam. Sebab jika muslim, maka dia harus merujuk pada segala

yang diturunkan Allah. Adapun jika dia non muslim, bagaimana??"

Page 81

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 81

Saya menjawab, "Adapun mengenai non muslim, ada pembicaraan

khusus tentang mereka. Namun saat ini, saya berbicara bersama orang-

orang yang meridhai Islam sebagai agamanya dan masih mengaku sebagai

seorang muslim. Saya berbicara bersama orang-orang yang membaca dan

mendengar firman Allah,

"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya

(terserah) kepada Allah." (Asy-Syura (42):10)

βÎ*sù

÷Λä⎢ôãt“≈uΖs?

’Îû

&™ó©x«

çνρ–Šãsù

’n<Î)

«!$#

ÉΑθß™§9$#uρ

βÎ)

÷Λä⎢Ψä.

tβθãΖÏΒ÷σè?

«!$$Î/

ÏΘöθu‹ø9$#uρ

ÌÅzFψ$#

4

"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka

kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya),

jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian."

(An-Nisaa' (4):59)

Saya berbicara bersama mereka yang membaca ayat-ayat berikut ini,

⎯tΒuρ

óΟ©9

Οä3øts†

!$yϑÎ/

tΑt“Ρr&

ª!$#

y7Íׯ≈s9'ρé'sù

ãΝèδ

tβρãÏ≈s3ø9$#

∩⊆⊆∪

"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan

Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Maidah

(5):44)

⎯tΒuρ

óΟ©9

Νà6øts†

!$yϑÎ/

tΑt“Ρr&

ª!$#

y7Íׯ≈s9'ρé'sù

ãΝèδ

tβθßϑÎ=≈©à9$#

∩⊆∈∪

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang

diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim."

(Al-Maidah (5):45)

⎯tΒuρ

óΟ©9

Νà6øts†

!$yϑÎ/

tΑt“Ρr&

ª!$#

y7Íׯ≈s9'ρé'sù

ãΝèδ

šχθà)Å¡≈xø9$#

∩⊆∠∪

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang

diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik."

(Al-Maidah (5):47)

"Perlu engkau ketahui, wahai temanku bahwa 3 ayat di atas bukan saja

berkaitan dengan para penguasa dan hakim saja. Ayat-ayat ini mencakup

semua orang yang memutuskan pemikiran dan tingkah lakunya

berdasarkan madzhab yang bukan Islam atau berdasarkan kitab suci selain

Al-Qur'an atau memutuskan berdasarkan arahan yang bukan berasal dari

Rasulullah."

Jika sudah demikian, maka kriteria orang di atas adalah salah satu dari

3 kriteria yang dijelaskan di atas atau kesemuanya, kafir, dzalim dan fasik.

Page 82

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 82

Aliran, Kepercayaan Atau Agama yang Baru?

Teman saya berkata, "Kami ridha Islam sebagai ukuran dan standar

pemikiran dan nilai-nilai kami, ridha Al-Qur'an sebagai hukum untuk

semua urusan kami. Lalu bagaimana pendapat Islam mengenai aliran-

aliran dan seruan ideologi modern yang para propagandisnya bermunculan

di saat ini. Seruan ideologi modern ini membawa suara pembaharuan,

pembebasan, kebangkitan, kemajuan dan revolusi? Apakah Islam dapat

menerima ideologi-ideologi seperti ini? Apakah antara Islam dan ideologi-

ideologi itu ada ikatan hidup berdampingan secara damai? Atau Islam

menolak, mengikari ideologi-ideologi itu dan tidak ingin hidup

berdampingan dengannya? Apakah boleh kaum muslimin -baik secara

kelompok maupun perorangan- menganut salah satu aliran itu,

mengadopsi ajarannya dan menjadikan dirinya sebagai propagandisnya?

Terlebih khusus apa yang dikenal sekarang dengan nama 'Revolusi sosialis'."

Saya menjawab, "Saya telah bertanya tentang perkara penting yang

harus diketahui oleh setiap muslim. Setiap muslim harus dapat menentukan

sikapnya. Wajib atas setiap intelektual muslim menjelaskan hukum Allah

dan rasul-Nya, dengan penjelasan yang tidak mutar-mutar atau penjelasan

yang mencari muka.

Sekarang, saya tidak akan membahas mengenai aliran-aliran,

pemikiran, teori-teori, kaidah-kaidahnya yang benar atau salah. Diskusi

mengenai aliran dan pemikirannya satu persatu memerlukan waktu

khusus. Namun saya akan mendiskusikan inti pemikiran dari semua aliran-

aliran itu."

Aliran dan ideologi-ideologi ini pada hakekatnya adalah agama-agama

baru. Yaitu agama-agama yang mengingkari inti dari agama itu sendiri,

namun tetap mengambil bentuknya. Aliran dan ideologi-ideologi ini

menghina hal-hal ghaib yang dijelaskan oleh agama. Ideologi-ideologi ini

juga mengolok-olok jalan pikiran orang-orang yang beragama. Namun

dalam waktu yang bersamaan mengadopsi kekhasan yang terdapat di

dalam agama!

Apa saja yang termasuk kekhasan agama?

Adanya revolusi pemikiran, nilai-nilai jahiliah lama dan melepaskan

diri dari ini semua.

Kekhasan agama lainnya adalah keimanan terhadap semua pemikiran

dan tidak ada tempat untuk mendiskusikan kebenaran pemikiran itu.

Mengimani seluruh nilai-nilai dan tidak dibenarkan meragukan

keadilannya. Ikhlas menjalankan pemikiran-pemikiran itu. Loyal dan

mengagungkan serta tidak dibenarkan munafik. Pengorbanan dan tidak

dibenarkan memiliki perasaan enggan. Memiliki pendirian yang kokoh dan

tidak dibenarkan memiliki keraguan.

Kekhasan di atas merupakan kekhasan penting dalam agama. Kekhasan

inilah yang diinginkan berbagai macam agama atas para pemeluknya.

Page 83

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 83

Kekhasaan ini pula yang diinginkan ideologi sekularisme revolusioner atas

para pendukungnya.

Semua ideologi menganggap agama sebagai suatu hal yang jahiliyyah,

sehingga harus dilenyapkan –baik dalam bentuk pemikiran dan nilai-nilai-.

Perkara-perkara fanatik yang harus dilanggar dan diukur dengan

timbangan pemikiran yang baru. Agama tidak akan sejalan dengan

pemikiran itu, sebelum agama mengikuti ideologi-ideologi tersebut dan

berusaha mencapai maksud-maksud ideologi. Agama tidak akan dapat

dilenyapkan dengan penghapus saja.

Ideologi-ideologi tidak ingin mengambil satu bagian kehidupan dan

masyarakat saja, untuk memperbaiki dan mengembangkannya. Ideologi

memiliki karakteristik universal, mutlak dan menyeluruh, persis seperti

karakteristik agama. Oleh karena itu, ideologi ingin mengadakan

perubahan secara mendasar dan revolusioner serta menghancurkan yang

lama. Membenahi berbagai pemahaman, membuat nilai-nilai baru untuk

masyarakat, membuat akhlak, pemahaman dan sistem baru.

Salah seorang pelajar dan pendukung ideologi-ideologi ini berkata

dengan lantang, "Demikianlah ideologi-ideologi revolusioner mendapatkan

dirinya sendiri berguncang. Jika ideologi itu menginginkan terwujudnya

gerakan revolusioner yang saling melengkapi, maka ideologi akan

melakukan perubahan masyarakat sampai ke akar-akarnya. Sehingga

anggota masyarakat dengan suka rela menghancurkan dasar-dasar dan

tradisi mereka. Ideologi juga akan mengkritik –secara prinsip dan

mendasar- berbagai tingkatan sosial. Ideologi juga akan membantu setiap

gerakan atau sikap yang mendukung tercapainya tujuan. Ideologi akan

mendukung semua bentuk perubahan yang membawa ke arah lepasnya

akar tradisi, sistem dan nilai-nilai tradisi. Ketika ideologi sampai pada

puncak kekuasaan dan kendali kekuasaan telah diterima, maka idelogi

akan menggunakan seluruh sarana politik, seluruh sarana teknologi dan

ilmu pengetahuan yang tersedia. Semuanya dilakukan untuk

menghancurkan tingkatan sistem dan hubungan sosial dengan perusakan

secara umum. Karena seseorang dapat berubah memiliki paham ideologi

baru, sehingga menjadi seorang revolusioner, jika dia menghancurkan

ikatannya dengan berbagai nilai, sistem yang pernah dianutnya. Dari buku

"Al-Idiyulujiyyah Al-Inkilabiyyah" karya Dr. Nadim Al-Baithar.

Sebagian peneliti memberi nama ideologi-ideologi ini dengan nama

'Agama-agama sekularis', 'agama-agama atheis' dan 'sekularisme yang

agamis'. Diantaranya ada yang dicetuskan oleh Julian Hakesli di dalam

bukunya yang berjudul 'Diin bi ghairi wahyin'.

Para propagandis aliran-aliran dengan lantang meneriakkan berbagai

pemikirannya dengan istilah akidah/keyakinan. Oleh karenanya mereka

menyebutkan dengan istilah akidah/keyakinan sosialis, akidah/keyakinan

komunis, akidah/keyakinan Nazi, akidah/keyakinan Ba'tsiyyah dan

akidah/keyakinan nasionalisme. Ungkapan akidah/keyakinan biasanya

melekat pada pemahaman sebuah agama. Sehingga bisa saja kita

Page 84

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 84

mengatakan, "Agama sosialis, agama ba'tsi, agama nasionalisme dan lain

sebagainya."

Diantara para penulis terdapat penulis yang berusaha menafsirkan

akidah-akidah ini dengan tafsiran yang disukai mayoritas bangsa-bangsa

agamis. Sosialisme misalnya, menurut orang ini hanyalah sebuah

aliran/madzhab ekonomi yang terkait dengan filsafat manusia. Filsafat ini

mengharuskan adanya campur tangan negara dalam mengatur hubungan

sosial dan ekonomi dalam bentuk tertentu. Namun para penulis sosialisme

dengan terus terang tidak menyetujui adanya penyelarasan. Mereka

menggambarkan sosialisme adalah akidah yang universal yang semua

urusan manusia dan kehidupan tersusun rapi secara alami dan praktis.

Dr. Munif Ar-Razaz yang dicalonkan sebagai sekretaris partai Ba’ats Al-

Isytirakiy Al-‘Arabi untuk periode beberapa tahun, di dalam bukunya

Dirasaat Fil Isytirakiyyah yang terbit tahun 1960, dia berkata, “Pemahaman

bahwa sosialis merupakan sistem ekonomi semata adalah pemahaman yang

keliru. Ideologi Sosialis memang memberikan berbagai solusi

perekonomian untuk permasalahan yang banyak. Namun seluruh solusi itu

hanyalah salah satu sisi dari ideologi Sosialis. Pemahaman bahwa sosialis

hanya satu sisi ini saja merupakan pemahaman yang keliru. Pemahaman

ini hanya berasal dari orang-orang bodoh saja. Mereka yang memiliki

pemahaman ini tidak mengetahui berbagai dasar yang melandasi

pemahaman sosialis. Mereka tidak mempelajari cita-cita ideologi sosialis

yang amat jauh ke depan.

Sosialis adalah aturan hidup dan bukan aturan mengenai ekonomi saja.

Sosialis mencakup sistem perekonomian, politik, pendidikan dan

pengajaran, sosial, kesehatan, akhlak, adab, ilmu dan sejarah. Pendek kata

mencakup semua aspek kehidupan dari yang besar hingga yang kecil.

Hendaknya para pembaca memiliki pemahaman yang menyeluruh

mengenai sosialis, sebagaimana yang saya sebutkan."

Penulis menegaskan bahwa keuniversalan ini tidak hanya terdapat pada

ideologi/paham sosialis saja, namun juga terdapat pada aliran pemahaman

sosial kemasyarakatan lainnya.

Penulis membenarkan bahwa keuniversalan aliran pemahaman sosial

kemasyarakatan, luas cakupannya yang mencapai ke seluruh bidang dan

kemampuannya menciptakan solusi untuk mengatasi seluruh

permasalahan karena:

Pandangan universal ini merupakan satu aliran yang tidak mengenal

pengklasifikasian yang merupakan kreasi akal kita. Pengklasifikasian ini

dibuat akal kita untuk memudahkan memahami hakikat kehidupan.

Kemudian akal kita lupa bahwa dirinya lah yang melakukan

pengklasifikasian ini. Akal kita menyangka kehidupan ini telah

diklasifikasikan sedemikian rupa sejak awal. Padahal kehidupan ini tidak

mengenal sesuatu yang namanya ekonomi dan terpisah dengan sesuatu

yang lain yang namanya sosial, politik. Kehidupan ini adalah sesuatu yang

saling melengkapi dan saling berkait. Namun akal kita yang lemah

Page 85

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 85

cendrung melakukan analisa dan pengkajian. Akal tidak akan mampu

melakukan analisa dan pengkajian, jika kehidupan dianggap seperti

sesuatu yang ada dengan sendirinya. Sehingga akal memaksakan diri untuk

membagi kehidupan ini dalam beberapa sisi, warna, dan jenis hubungan.

Sehingga sebagian ada yang dinamakan dengan ekonomi, sebagian yang

dinamakan politik, sosial, akhlak, agama, sejarah, adab, ilmu hingga akhir

rangkaian dan bila kesemuanya digabungkan maka itulah yang dinamakan

kehidupan. Sebagaimana sungai, dia merupakan sesuatu yang terpadu

menyatu dan senantiasa demikian. Demikian pula masyarakat –baik besar

maupun kecil-, umat atau keluarga, pemerintah atau partai politik.

Sehingga kedudukan masyarakat manapun dihadapan kebebasan politik

akan menentukan sikapnya terhadap ekonomi, terhadap sistem-sistem

ekonomi. Selain itu, masyarakat akan menentukan sikapnya terhadap

kebebasan politik, penjajahan, akhlak, pengajaran, adab, sejarah hingga

rangkaian terakhir kehidupan yang tidak pernah berakhir.

Penulis menyimpulkan demikian dan menegaskan keuniversalan

ideologi sosialisme ini dengan ucapannya,

"Dengan gambaran di atas, maka kata sosialisme tidak terbatas pada

perubahan keadaan ekonomi tertentu saja. Kata sosialisme adalah

ungkapan tentang suatu jenis kehidupan secara sempurna dengan seluruh

aspeknya. Sosialisme dengan pengertian ini berarti bukan keadaan ekonomi

tertentu. Sosialisme juga bukan berarti usaha untuk membentuk keadaan

ekonomi tertentu saja. Sosialisme adalah sebuah pemahaman yang

mencakup seluruh aspek kehidupan. Ketika saya mengatakan bahwa saya

adalah seorang sosialis, itu berarti saya menentukan sikap bukan dari sisi

hubungan ekonomi saja, namun saya menentukan sikap pada seluruh

aspek kehidupan.

Buku Ad-Dakwah Al-Isytirakiyyah juga menjelaskan metode seperti di

atas. Di Mesir pada masa pemerintahan Jamal Abdul Nasser, mereka

memproklamirkan bahwa Sosialisme merupakan akidah universal yang

mengatur kehidupan secara menyeluruh. Pemikirannya, tingkah laku dan

filsafatnya mengacu pada Dialektika Materialisme (Al-Wujud dan At-

Tarikh).

Kamaluddin diangkat menjadi Pimpinan Propagandis dan Pemikiran di

dalam Persatuan Sosialis Arab. Kata-katanya pada saat itu dianggap seperti

Fatwa Resmi karena kapasitas tanggung jawabnya.

Kamaluddin di dalam tulisannya yang dimuat dalam harian Al-Akhbar

tanggal 18/3/1962 berkata, "Ideologi Sosialisme bukan suatu sistem

tertentu. Sosialisme bukan hanya sistem ekonomi, sistem sosial atau sistem

politik saja. Sosialisme dalam pandangan saya adalah ungkapan tentang

sebuah filsafat yang menghimpun aspek-aspek kehidupan secara

menyeluruh. Merupakan suatu kekeliruan, jika kita mengambil Sosialisme

dengan anggapan bahwa dia adalah sistem ekonomi atau sistem politik atau

sistem sosial. Berpadunya semua sistem ini yang menyempurnakan bagian

lain dari sosialisme, menegakkan ide sosialisme atau menegakkan sistem

sosialisme."

Page 86

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 86

Dr. Jamal Sa'id di dalam bukunya yang berjudul Al-Isytirakiyyah Al-

Arabiyyah wa Makaanuha fin Nudzum Al-Isytirakiyyah menegaskan

bahwa Sosialisme –yaitu sosialisme Arab- menjadi berbeda karena gerakan

ekonominya saja. Namun sosialisme dibedakan sebagai sebuah sistem dan

pandangan hidup yang bertujuan menciptakan masyarakat baru. Sosialisme

bukan saja mengalihkan kepemilikan sarana produksi perorangan menjadi

kepemilikan negara atau masyarakat. Sosialisme bukan saja penguasaan

ekonomi rakyat dan pengarahannya untuk kepentingan bersama.

Sosialisme bukannya reformasi dalam tataran sosial dan ekonomi saja,

namun sosialisme juga merambah hingga ke tataran solusi secara teoritis

dan praktis terhadap berbagai permasalahan perorangan maupun

masyarakat secara umum. Sosialisme bermaksud membangun sebuah

masyarakat yang seluruh kebutuhannya terpenuhi, masyarakat yang

berkecukupan dan adil, masyarakat yang bekerja, memiliki kesamaan

dalam kesempatan serta masyarakat yang berproduksi dan melayani."

Sebagian penulis Arab memberikan pengertian tentang sisi yang

menjadikan "Sosialisme sebuah pandangan hidup" "Tekhnik kehidupan"

atau "Filsafah yang menghimpun seluruh aspek kehidupan", mereka

berkata, "Sosialisme membahas kehidupan manusia secara menyeluruh.

Karena sosialisme adalah filsafat yang sempurna dihadapan problem alam

dan problem semua yang ada di dunia."

Ada yang mengatakan bahwa Sosialisme Arab merupakan teori revolusi

yang sempurna. Sosialisme juga tidak membatasi hubungan manusia

dengan masyarakat saja. Namun sosialisme juga membahas kehidupan

manusia secara sempurna. Sosialisme adalah filsafat sempurna dalam

menghadapi problem alam dan semua yang ada di dunia. Manusia hidup

tidak hanya dengan roti saja. Tidak cukup hanya dengan solusi problem

kehidupan manusia dengan manusia lainnya. Namun manusia harus juga

mempelajari dan mencari solusi problem eksistensi dirinya di dunia dan

mengetahui akhir perjalanannya. Teori Sosialisme tidak saja memberikan

solusi mengenai kebutuhan pokok atau solusi problem kebebasan, namun

memberikan solusi terhadap permasalahan eksistensi secara umum.46"

Teman saya berkata, "Namun, bukankah kita sendiri mendengar segala

yang mereka teriakkan. Mereka menghormati agama, paling tidak mereka

tidak memusuhi agama. Bagaimana kita memahami ini sedangkan mereka

menganut/memeluk pemikiran atau akidah yang mencakup kehidupan

secara menyeluruh, sebagaimana keuniversalan agama?"

Saya menjawab, "Memang benar, sebagian penganut akidah dan

ideologi-ideologi ini tidak menentang dan tidak menolak keberadaan

agama. Namun agama apa yang tidak mereka tolak dan tentang? Yaitu

agama yang bukan merupakan wahyu Allah untuk mengatur hamba-

hamba-Nya. Dihadapan agama ini, mereka akan mengatakan, "Kami

mendengar dan kami mentaati." Mereka tidak selalu mengatakan seperti

46 Keterangan ini dikutip ustadz Muhammad 'Ashfur dari harian dan majalah-majalah yang terbit

di Mesir

Page 87

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 87

itu. Karena agama menurut mereka adalah 'Peninggalan aspek ruhani dari

masa lalu' atau 'Tradisi-tradisi' atau ‘idealisme tertinggi' umat serta

ungkapan-ungkapan lainnya yang tidak sedikitpun mengandung

kebenaran. Agama yang mereka akui adalah agama yang cendrung kepada

mereka. Agama menurut mereka adalah agama yang berjalan di atas

kendaraan mereka, agama yang propagandisnya memuji mereka, agama

yang melayani akidah dan pemikiran mereka. Ini semua menunjukkan

kemunafikan mereka. Permusuhan mereka terhadap agama akan terlihat,

ketika agama bertentangan dengan salah satu prinsip dan solusi mereka.

Mereka menginjak-injak agama, menyatakan perang terhadap agama dan

para propagandisnya. Terkadang mereka menyerang dengan cara

memfitnah, mencela dan menyesatkan. Terkadang mereka menyerang

dengan mengadakan pembunuhan, penyiksaan dan pengusiran. Mereka

menginginkan agama menjadi jinak berfungsi sebagai pelayan yang patuh.

Sehingga agama bukan sesuatu yang yang dipatuhi. Mereka menjauhi

agama yang hak, sejauh antara langit dan bumi.

Pemikiran mereka tentang eksistensi manusia di bumi bukan pemikiran

yang berasal dari agama. Pandangan mereka tentang kehidupan bukan

pandangan yang diambil dari agama. Sisi kemanusiaan mereka bukan sisi

kemanusiaan yang agamis. Idealisme tertinggi mereka bukan idealisme

yang berasal dari agama. Tuhan yang disembah mereka pada hakekatnya

adalah materi. Surga mereka adalah kemewahan dan kenyamanan hidup di

dunia. Akhlak mereka adalah memanfaatkan segala hal yang bermanfaat.

Sesuatu yang berharga dalam agama adalah takwa kepada Allah, takut

pada-Nya, bertawakkal, khusyu', kembali pada-Nya, merendahkan diri

dihadapan-Nya, mengharapkan surga dan takut pada siksa-Nya. Semua hal

ini, dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang tidak pernah

mendapatkan tempat.

Ideologi-ideologi ini tidak mungkin meridhai mereka yang telah

dianugerahi sifat-sifat orang bertakwa,

š⎥⎪Ï%©!$#

tβθä9θà)tƒ

!$oΨ−/u‘

!$oΨ¯ΡÎ)

$¨ΨtΒ#u™

öÏøî$$sù

$uΖs9

$oΨt/θçΡèŒ

$uΖÏ%uρ

z>#x‹tã

Í‘$¨Ζ9$#

∩⊇∉∪

t⎦⎪ÎÉ9≈¢Á9$#

š⎥⎫Ï%ω≈¢Á9$#uρ

š⎥⎫ÏFÏΖ≈s)ø9$#uρ

š⎥⎫É)ÏΨßϑø9$#uρ

š⎥⎪ÌÏøótGó¡ßϑø9$#uρ

Í‘$ysó™F{$$Î/

∩⊇∠∪

"(Yaitu) orang-orang yang berdo`a, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya

kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan

peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar,

yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan

Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran

(3):16-17)

Page 88

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 88

z⎯ƒÏ%©!$#uρ

šχθçG‹Î6tƒ

óΟÎγÎn/tÏ9

#Y‰¤fß™

$Vϑ≈uŠÏ%uρ

∩∉⊆∪

š⎥⎪Ï%©!$#uρ

tβθä9θà)tƒ

$uΖ−/u‘

ô∃ÎñÀ$#

$¨Ψtã

z>#x‹tã

tΛ©⎝yγy_

(

χÎ)

$yγt/#x‹tã

tβ%x.

$·Β#txî

∩∉∈∪

$yγ¯ΡÎ)

ôNu™!$y™

#vs)tGó¡ãΒ

$YΒ$s)ãΒuρ

∩∉∉∪

"Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri

untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan

kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu

adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya Jahannam itu

seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." (Al-Furqan

(25):64-66)

Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang engkau dengar atau baca

mengenai keimanan mereka atau tidak adanya permusuhan mereka

terhadap agama, karena mereka mengatakan demikian untuk mengambil

hati orang-orang yang agamis sambil menunggu datangnya kesempatan

untuk mencekik agama hingga mati.

Ini adalah sikap ideologi revolusioner terhadap agama. Saya akan

memberikan contoh mengenai peristiwa yang terjadi di Jerman dan Italia,

antara Nazi, Fasis dan agama Nasrani. Sehingga diharapkan anda dapat

mengetahui apa yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi di

negri kita antara Islam dan seruan revolusi baru.

Nazi dan Fasis ingin menjadikan agama sebagai pelayan yang

melaksanakan perintah ideologi revolusioner. Nazi dan Fasis mengemban

ideologi "tuntutan" baru. Tuntutan ini mengarahkan dan menjadikan segala

sesuatu memiliki sikap yang tidak mementingkan. Hal ini jelas seperti yang

terdapat di dalam buku-buku dua gerakan ini, khususnya gerakan Nazi.

Pada tahun 1933, terjadi perjanjian antara pihak gereja dan

pemerintahan Nazi, setelah sebelumnya terjalin ikatan seperti ini. Karena

negara itu –atau negara manapun- memiliki dua keyakinan secara mutlak.

Oleh karena itu, tidaklah mudah untuk mengadakan perjanjian damai yang

dapat mencegah munculnya peperangan Fasis diantara dua sisi, meskipun

berbagai usaha telah dikerahkan kedua pihak.

Generasi Jerman tumbuh –sebagai hasil propaganda Nazi- dengan

memiliki keyakinan untuk memprioritaskan bangsa. Negara adalah sesuatu

yang paling penting, sesuatu yang paling besar nilainya dibandingkan

dengan agama manapun. Loyalitas kepada bangsa dan negara merupakan

sesuatu yang terpenting dan diatas segala bentuk loyalitas terhadap agama

(perhatikan!).

Hitler amat memperhatikan perlawanan dan penentangannya terhadap

agama secara terbuka (perhatikan dengan baik!). Namun dia memberikan

kebebasan kepada para pemikir partai politik untuk mengungkapkan

perlawanan dan penentangan mereka.

Page 89

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 89

Rossenberg, Filusuf Nazi menggambarkan sebuah ilustrasi yang jelas

mengenai sikap sistem baru terhadap agama. Seperti ucapannya, "Ketika

sosialisme nasionalis meletakkan baju kepartaiannya, maka dia akan

menjadi salah satu balatentara Hitler. Sehingga agamanya akan melepaskan

keimanannya, karena kepemimpinannya.

Knotz menulis, “Agama Nasrani merupakan sisa kebinasaan disebabkan

budaya terbuka yang sudah dimaklumi masyarakat.”

Permusuhan Nazi dan Fasis terhadap agama, pada mulanya masih tidak

jelas. Karena Nazi dan Fasis memerangi komunis yang menganut paham

atheis. Peristiwa ini telah menipu banyak orang, menjadikan sejumlah

besar pimpinan gereja Katolik dan Protestan mendukung Nazi dan Fasis.

Karena mereka melihat Nazi dan Fasis memiliki pandangan baru mengenai

agama. Namun permasalahan sebenarnya berlawanan sama sekali. Di

permukaan, Nazi dan Fasis mengikuti garis politik yang amat jauh berbeda

dengan gerakan komunis yang atheis. Bagi para pengamat Nazi dan Fasis

menerima eksistensi agama dan gereja hanya sebagai alat untuk melayani

tujuan mendasar dari mereka berdua. Oleh karena itu, kami berpendapat

pertikaian yang terjadi antara Nazi dan Fasis melawan agama, muncul

ketika agama berusaha berpegang teguh dengan segala sesuatu yang

bertentangan dengan paham baru (paham milik Nazi dan Fasis)

Beberapa ketentuan strategi politik mengharuskan gerakan-gerakan

revolusi, Fasis dan Nazi, demikian pula komunis berusaha mencari titik

persamaan dengan berbagai agama terdahulu. Tekhnik ini tidak akan

bertahan lama, karena kaidah dasarnya bertentangan dengan agama.

Keuniversalan revolusi pasti berseberangan dengan agama. Karena agama

menganggap dirinya sebagai ajaran universal yang sejati. Sehingga tidak

mungkin menemukan titik persamaan kedua belah pihak. Upaya mencari

titik persamaan, pada hakekatnya untuk mewujudkan gencatan senjata

sementara yang muncul pada perang penghabisan, perang yang hanya

akan selesai dengan kemenangan salah satu pihak. Jadi, ideologi

revolusioner mewakili jenis agama yang baru, agama yang bersaing dengan

agama-agama terdahulu. Bersaing untuk menguasai jiwa manusia.

Keberlangsungan hidup ideologi bergantung pada kemenangan akhir

melawan berbagai agama47.

Jika keadaannya seperti ini, apakah mungkin agama dihormati dan

dapat hidup berdampingan dengan berbagai aliran dan ideologi secara

damai? Bagaimana bisa, berbagai aliran dan ideologi tidak mau hidup

berdampingan dengan agama? Mereka hanya dapat toleran terhadap

agama, jika agama menjadi pelayan, pengikut atau untuk kepentingan

mereka.

Jika ilustrasi di atas membingungkan anda, saya coba melontarkan

sebuah pertanyaan berikut, “Apakah seorang muslim atau masyarakat

47

Dari buku Al-Iydulujiyyah Al-Inqilabiyyah karya Dr. Nadim Al-Baithar dari hal 742-746

dengan sedikit perubahan

Page 90

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 90

muslim boleh memeluk/menganut agama baru, seperti sosialisme atau

nasionalis sekularisme?”

Tidak diragukan lagi, jawabannya jelas dan sudah kita ketahui sama-

sama.

$¨Β

Ÿ≅yèy_

ª!$#

9≅ã_tÏ9

⎯ÏiΒ

É⎥÷⎫t7ù=s%

’Îû

⎯ϵÏùöθy_

"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati

dalam rongganya." (Al-Ahzab (33):4)

⎯tΒuρ

ÆtGö;tƒ

uöxî

ÄΝ≈n=ó™M}$#

$YΨƒÏŠ

⎯n=sù

Ÿ≅t6ø)ãƒ

çµ÷ΨÏΒ

uθèδuρ

’Îû

ÍοtÅzFψ$#

z⎯ÏΒ

z⎯ƒÌÅ¡≈y‚ø9$#

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali

tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat

termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran (3): 85)

Umat Ini Tidak Akan Musnah

Al-Ummah adalah kata tertentu (ma'rifah) dengan Al (sehingga

menjadi kata Al-Ummah). Ulama bahasa Arab menjelaskan bahwa kata Al-

Ummah adalah kata yang sudah dikenal dibenak manusia, sudah

tergambar di dalam pikiran manusia dan sudah terpahat di dalam hati.

Umat yang hanya dikenal oleh seorang muslim adalah umat Islam.

Seorang muslim hanya bergabung dengan umat ini. Seorang muslim akan

menjadi kuat, mulia dengan umat ini. Seorang muslim berjuang demi

kemulian umat ini. Sekali lagi, umat Islam.

Umat Islam adalah umat yang satu, umat yang beriman dengan Rabb

yang esa, Dia-lah Allah. Umat yang beriman dengan kitab suci yang satu,

yaitu Al-Qur'an. Umat yang beriman kepada rasul yang satu, Muhammad

Saw. Umat ini sehari semalam menghadap 1 kiblat sebanyak 5 kali, yaitu

Ka'bah, Baitullah Al-Haram.

Umat Islam tersebar di berbagai bangsa, kabilah yang terdapat di

pelosok dan daerah-daerah di dunia. Namun tetap saja, umat Islam adalah

umat yang satu, umat yang dipersatukan oleh akidah dan diikat oleh

syari'at Islam. Umat ini bersatu dalam perasaan, nilai-nilai dan adab Islam.

Dalam perjalanan sejarah, umat ini telah hidup bersama menikmati

kemenangan dan kekalahan. Umat ini telah merasakan susah bersama

dalam penderitaan dan dalam menggapai cita-cita.

Oleh karena itu, kita tidak boleh mengatakan umat-umat Islam. Yang

benar adalah negri-negri Islam yang tergabung dalam umat yang satu.

Allah Swt menyeru umat ini dengan firman-Nya,

¨βÎ)uρ

ÿ⎯ÍνÉ‹≈yδ

óΟä3çF¨Βé&

Zπ¨Βé&

Zοy‰Ïn≡uρ

O$tΡr&uρ

öΝà6š/u‘

Èβθà)? $$sù

∩∈⊄∪

Page 91

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 91

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua,

agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah

kepada-Ku." (Al-Mukminun (23):52)

Umat Islam adalah umat yang satu dalam tujuan dan sudut pandang.

Umat Islam adalah umat yang satu dalam pemikiran dan pemahaman.

Umat Islam adalah umat yang satu dalam perasaan dan penginderaan.

Rasulullah Saw pernah menggambarkan kesatuan umat ini. Beliau

memperumpamakan umat ini seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian

tubuh itu merasa sakit, seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan

sakit, dengan tidak dapat tidur hingga larut malam dan suhu tubuh

menjadi panas.

Umat ini mempunyai beberapa keistimewaan dan kekhasan sendiri.

Diantara kekhasannya/karakteristik adalah umat ini merupakan umat yang

bertuhan.

Umat ini tidak muncul secara tiba-tiba. Umat ini muncul di satu daerah

dan berkaitan dengan unsur tertentu. Seperti umat dan bangsa-bangsa

lainnya, umat ini tidak muncul karena keinginan seseorang, bukan karena

keinginan sebuah partai, bukan keinginan sebuah kelas masyarakat, bukan

keinginan majlis syura dan bukan pula keinginan seorang calon kepala

pemerintahan. Umat ini muncul karena kehendak Allah, agar dapat

melaksanakan risalah Islam dalam kehidupan yang nyata. Sebagaimana

digambarkan dalam firman Allah berikut ini,

y7Ï9≡x‹x.uρ

öΝä3≈oΨù=yèy_

Zπ¨Βé&

$VÜy™uρ

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam),

umat yang adil." (Al-Baqarah (2):143)

Oleh karena itu, Allah-lah yang membentuknya, mempersiapkannya

untuk berperan di tengah-tengah umat manusia.

Karakteristik Satu-Satunya

Salah satu karakteristiknya adalah sebagaimana diungkapkan ayat Al-

Qur'an dengan kata Al-Wasthiyyah (moderat/pertengahan). Umat Islam

adalah umat pertengahan dalam segala hal. Pertengahan dalam hal akidah,

ibadah, nilai-nilai serta akhlak. Pertengahan dalam hal berbuat, tingkah

laku, perundang-undangan, politik, ekonomi, hubungan dalam negri dan

luar negri. Memperhatikan materi, namun tetap memperhatikan aspek ruh.

Memperhatikan ruh dengan tetap memperhatikan aspek materi. Seseorang

tidak berbuat sewenang-wenang terhadap masyarakat dan sebaliknya

masyarakat tidak berbuat sewenang-wenang terhadap seseorang. Setiap

pihak menunaikan hak pihak lain. Menuntut pihak lain untuk

melaksanakan kewajiban dengan tidak menganiaya dan merugikannya,

sebagaimana firman Allah berikut ini,

Page 92

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 92

"Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan

tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu

mengurangi neraca itu." (Ar-Rahman (55):8-9)

Umat Islam adalah umat pemilik risalah universal. Umat ini bukan

umat satu daerah atau satu bangsa. Allah menempatkan umat ini sebagai

guru dan petunjuk untuk seluruh manusia. Inilah makna dari firman Allah,

y7Ï9≡x‹x.uρ

öΝä3≈oΨù=yèy_

Zπ¨Βé&

$VÜy™uρ

(#θçΡθà6tGÏj9

u™!#y‰pκà−

’n?tã

Ĩ$¨Ψ9$#

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam),

umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan)

manusia." (Al-Baqarah (2):143)

öΝçGΖä.

uöyz

>π¨Βé&

ôMy_Ì÷zé&

Ĩ$¨Ψ=Ï9

tβρâß∆ù's?

Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/

šχöθyγ÷Ψs?uρ

Ç⎯tã

Ìx6Ζßϑø9$#

tβθãΖÏΒ÷σè?uρ

«!$$Î/

3

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,

menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar,

dan beriman kepada Allah." (Ali Imran (3):110)

Umat ini tidak tumbuh dengan sendirinya, seperti tumbuh-tumbuhan.

Umat ini dikeluarkan oleh Allah Swt. Umat ini dikeluarkan bukan untuk

kepentingan diri sendiri dan bukan berjalan di aturannya sendiri serta

bukan untuk kepentingan materi saja. Allah mengeluarkan umat Islam

untuk seluruh umat manusia, baik manusia berkulit putih maupun hitam,

orang Arab maupun orang non Arab, orang kaya maupun orang miskin.

Oleh karena itu, umat Islam adalah umat yang diutus untuk seluruh alam,

seluruh dunia. Demikian pula dengan kitab sucinya, kitab suci Al-Qur'an

diturunkan Allah untuk seluruh umat manusia. Nabinya juga diutus oleh

Allah untuk seluruh umat manusia. Umat ini diutus sebagai pembawa

rahmat dan kemudahan, bukan pembawa kekerasan dan kesulitan.

Rasulullah Saw menyeru umat ini dengan sabdanya,

"Kalian diutus untuk mempermudah dan bukan diutus untuk

mempersulit."

Para sahabat Rasulullah memahami arti dari sabda beliau di atas.

Mereka paham benar bahwa mereka diutus untuk memberi petunjuk

kepada seluruh umat di muka bumi. Misalnya, Rubai' bin 'Amir r.a. ketika

bertemu dengan Rustum -seorang panglima Persia-, beliau menjelaskan

mengenai batasan tugas umat Islam dengan bahasa yang lugas dan efektif.

Rubai' bin Amir r.a. berkata, "Allah mengutus kami untuk mengeluarkan

manusia dari penyembahan terhadap manusia menuju penyembahan

terhadap Allah semata, dari dunia yang sempit menuju keluasannya dan

dari kedzaliman agama menuju keadilan Islam."

Page 93

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 93

Karakteristik lainnya adalah umat Islam merupakan umat yang kekal,

karena kekalan risalah dan kitab sucinya. Umat ini akan senantiasa ada

sebagaimana malam dan siang. Umat ini akan tetap ada, selama Al-Qur'an

di dunia ini masih dibaca. Jika Al-Qur'an telah dijaga oleh Allah, maka

umat Al-Qur'an ini akan kekal, sebagaimana kekalnya Al-Qur'an.

Allah meminta rasul-Nya yang mulia agar tidak memusnahkan

umatnya seperti yang terjadi pada umat-umat sebelumnya. Baik hukuman

dari Allah secara langsung maupun berasal dari gejala alam. Seperti angin

topan, gempa bumi, angin badai dan sebagainya.

Allah meminta rasul-Nya agar tidak menyerahkan umat ini kepada

musuhnya. Sebab musuh-musuhnya ini dapat melenyapkan umat ini

hingga sampai ke akarnya. Kalau tidak, umat ini akan saling menjatuhkan.

Allah meminta rasul-Nya agar menjaga umat ini agar tidak dihantam

oleh kerusakan fisik atau kerusakan secara mental, seperti kesesatan.

Rasulullah bersabda,

"Allah tidak akan menyatukan umatku dalam kesesatan."

Rahasia ini semua adalah karena umat ini merupakan umat terakhir,

nabinya merupakan penutup para nabi, kitab sucinya merupakan kitab suci

terakhir. Sehingga setelah Muhammad tidak ada rasul lagi, setelah Al-

Qur'an tidak ada kitab suci lagi, setelah Islam tidak ada lagi syari'at dan

setelah umat Islam ini tidak umat lain.

Jika umat -sebelum Islam datang- sepakat terhadap kesesatan, maka hal

itu tidak berbahaya bagi umat manusia. Karena umat tersebut berada di

tempat tertentu saja dan dalam waktu yang terbatas pula. Berbeda dengan

umat Islam. Umat Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia dari barat

ke timur. Umat Islam merupakan umat yang kekal hingga hari kiamat. Jika

seluruh umat ini sesat, maka seluruh manusia juga akan menjadi sesat,

tanpa ada harapan sedikitpun. Karena tidak ada lagi umat Islam atau umat

setelahnya yang membawa petunjuk Allah.

Dari sini jelaslah, bahwa hal ini sudah merupakan bagian dari

kehendak Allah. Di tengah-tengah umat Islam senantiasa akan ada sebuah

kelompok yang selalu berada dalam kebenaran hingga akhir hayat.

Kelompok ini seperti kapal penyelamat atau tentara pembebasan. Kelompok

inilah yang menjaga adanya keseimbangan. Mengenai kelompok ini, Allah

berfirman,

ô⎯£ϑÏΒuρ

!$oΨø)n=yz

×π¨Βé&

tβρ߉öκu‰

Èd,ysø9$$Î/

⎯ϵÎ/uρ

šχθä9ω÷ètƒ

∩⊇∇⊇∪

"Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang

memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula)

mereka menjalankan keadilan." (Al-'Araf (7):181)

Rasulullah Saw bersabda,

Page 94

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 94

"Diantara umatku, senantiasa ada suatu kelompok yang berjuang

dalam kebenaran. Orang-orang yang menentang mereka tidak ada

yang dapat membahayakan mereka hingga keputusan Allah datang,

namun mereka tetap dalam kebenaran."

Kelompok ini laksana mercu suar bagi pelaut, petunjuk bagi orang yang

bingung, pendukung orang-orang lemah. Mereka berdebat karena Allah,

mengajak untuk menyembah Allah berdasarkan penjelasan yang nyata.

Mereka menyampaikan risalah Allah, mereka hanya takut pada Allah.

Mereka adalah Al-Ghuraba (orang-orang asing). Artinya, mereka tetap

melakukan kebaikan di saat masyarakat melakukan kerusakan. Mereka

tetap mengadakan perbaikan, di saat masyarakat melakukan perusakan.

Mereka adalah Al-Firqah An-Najiyyah (kelompok yang selamat) di tengah

orang-orang yang rusak. Mereka melakukan sebagaimana yang Rasulullah

dan para sahabatnya lakukan. Ini merupakan rahmat Allah terhadap umat

manusia secara umum. Di tengah umat manusia senantiasa terdapat suatu

kelompok yang melakukan tugas di atas, mereka merupakan kelompok

pilihan yang mewakili Allah. Kelompok ini mengajarkan orang-orang yang

bodoh, memberi petunjuk mereka yang sesat, mengingatkan mereka yang

lupa. Karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang beriman.

βÎ*sù

öàõ3tƒ

$pκÍ5

Ï™Iωàσ¯≈yδ

ô‰s)sù

$uΖù=©.uρ

$pκÍ5

$YΒöθs%

(#θÝ¡øŠ©9

$pκÍ5

š⎥⎪ÌÏ≈s3Î/

∩∇®∪

"Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam

itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum

yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya." (Al-'An'am (6):89)

Salah satu bukti kekekalan umat ini adalah berbagai bencana tidak

memusnahkan umat ini. Bahkan umat ini bangkit dengan semangat

bertahan dan menantang. Jika anda melihat umat ini ditimpa musibah dan

bencana, niscaya akan terlihat bahwa mereka lebih kuat dari bencana yang

dihadapinya, sehingga banyak orang menyaksikan hal yang sulit untuk

dipercaya. Mereka menyangka umat ini telah binasa dalam jumlah yang

amat banyak, namun tiba-tiba dalam jangka waktu yang tidak lama,

bangkit mengalah berbagai faktor kelemahan yang selama ini melingkupi

mereka. Mereka bangkit dengan semangat kekuatan yang tersimpan di

dalam tubuh umat ini. Orang-orang yang mengawasi umat ini –baik dari

kejauhan maupun dari dekat-, mereka melihat adanya kemenangan setelah

kehancuran, adanya persatuan setelah perpecahan dan adanya kehidpan

dang gerakan setelah membeku menyerupai orang yang mati.

1. Kami melihat kenyataan ini sebagaimana keterangan di dalam buku

Fajrul Islam. Yaitu ketika kaum muslimin memerangi orang-orang

yang murtad dan mereka yang menolak membayar zakat.

2. Ketika kaum muslimin mengadakan perlawanan terhadap bangsa

Tartar yang kejam. Bangsa ini berasal dari Timur seperti ya'juj dan

maj'uj atau angin topan. Perlawanan ini dilancarkan, ketika daulah

Islam sedang terpecah belah.

Page 95

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 95

3. Perlawanan kaum muslimin di dalam peperangan melawan tentang

Salib yang datang dari benua Eropa memasuki daerah timur Islam.

Tentara Salib datang dengan membawa salib dan trinitas, mereka

melakukan pembunuhan, pembakaran, perusakkan dan

penghancuran. Semua orang yang mempelajari sejarah ini akan

mengetahui kejadiannya dengan rinci.

Namun kekuatan sejati yang tersembunyi dalam umat Islam muncul di

berbagai peristiwa sejarah yang sengit. Sehingga hal ini memadamkan

mimpi orang-orang Nasrani di Hittin. Kaum Muslimin menaklukkan Baitul

Maqdis setelah sebelumnya selama lebih dari 90 tahun dikuasai Nasrani.

Kaum muslimin menawan Louis IX, raja Perancis di dalam Dar Ibnu

Luqman yang terletak di Mansurah. Selain itu, kaum muslimin mengusir

bangsa Tartar yang dikalahkan di 'Ain Jalut. Padahal sebelumnya banyak

orang menganggap bangsa Tartar adalah kekuatan yang tidak terkalahkan,

sampai-sampai tersebar suatu pendapat, "Jika ada yang mengatakan bahwa

bangsa Tartar telah kalah, maka janganlah engkau percaya!"

Di zaman modern sekarang ini, kita sama-sama dapat melihat

bagaimana perlawanan jihad kaum muslimin yang amat heroik melawan

pasukan penjajah di seluruh negri Islam. Jihad penguasa Abdul Qadir Al-

Jazairi melawan bangsa Perancis. Penguasa Abdul Karim Al-Khitabi

melawan Spanyol. Pahlawan Umar Mukhtar melawan Italia. Syaikh

‘izzuddin Al-Qassam melawan Inggris dan Yahudi. Revolusi AlJazair

melawan penjajah Perancis. Berbagai perlawanan Palestina melawan

Zionis. Al-Qanah melawan Inggris.

Page 96

DemiKebangkitan Islam_________________________________________________________________________ 96

Raksasa yang Berguncang

Saat ini, kita menyaksikan raksasa Islam sedang bergerak setelah tidur

panjangnya. Itu terlihat pada jihad yang penuh heroik di Afghanistan,

Eriteria, Filipina, Palestina. Kebangkitan muncul di Mesir dan Turki. Para

pemuda berpendidikan dengan penuh kesadaran mulai mengarahkan

pandangannya pada Islam, baik di barat maupun di timur. Mereka

berusaha menebus kegagalan masa lalu dan menantang berbagai fitnah

masa kini, dengan serta merta berpegang pada keimanan orang-orang yang

beriman.

Semua indikasi ini, dimanapun keberadaannya menunjukkan dengan

jelas ke-eksisan umat ini, kekuatan dan keorisinalannya. Meskipun

terkadang masih nampak kelemahan dan hal-hal yang menggelikan dari

umat ini.

Para orientalis asing serta orang-orang yang mempelajari tabiat umat

kita, keunikkan agama kita serta mempelajari berbagai kekuatan yang

tersimpan dalam diri negri-negri muslim adalah mereka yang memahami

hakekat kekuatan sejati yang kita miliki. Merekalah orang-orang yang

mengadakan perhitungan sebanyak 1000 kali ketika menghadapi umat

Islam. Mereka gemetar, takut pada kebangkitan umat Islam suatu saat

kelak. Prof. Gibb di dalam bukunya yang berjudul Wujhatul Islam berkata,

"Berbagai gerakan Islam biasanya berkembang dengan cepat dan

membingungkan. Mereka menyeru dan mengajak kepada sesuatu yang

amat mengagumkan. Mereka bermunculan secara tiba-tiba, sebelum para

pengamat menyadari tanda-tandanya. Gerakan-gerakan Islam hanya dapat

bergerak dengan adanya para pemimpin. Hanya akan bergerak dengan

muncul para Shalahuddin generasi milenium."

Petualang Jerman Paul Smith menulis sebuah buku khusus mengenai

topik ini. Buku tersebut berjudul Al-Islam quwwatul Ghad yang terbit pada

tahun 1936. Di dalam buku ini, Paul berkata, "Penopang kekuatan di negri-

negri Islam terbatas pada tiga faktor:

1. Terdapat pada kekuatan Islam (sebagai sebuah dien), pada

keyakinannya, teladan dan persaudaraannya yang terjalin di

berbagai bangsa dan negara yang berbeda warna kulit dan budaya.

2. Berlimpahnya kekayaan alam di negri-negri Islam yang

membentang dari samudra Atlanitk dengan Maroko di bagian barat

hingga samudra Hindia dengan Indonesia di bagian timur. Berbagai

macam sumber alam ini untuk kesatuan kekuatan ekonomi.

Sehingga kaum muslimin tidak membutuhkan lagi secara mutlak

kepada Eropa.





Page 97

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 97

3. Faktor terakhir adalah kesuburan keturunan yang terdapat pada

kaum muslimin. Hal inilah yang menjadikan kekuatan mereka

menjadi kekuatan yang terus bertambah48.

Kemudian Paul berkata, "Jika ketiga faktor ini bersatu, maka seluruh

kaum muslimin akan saling bersaudara di atas kesatuan akidah dan tauhid

Allah. Kekayaan alam mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan seluruh

kaum muslimin yang jumlahnya terus bertambah. Akan