Makalah tentang Drama

Ikhsanudin | 21:19 |
PELAKU


Seniman: Pemain, Pemeran, Sutradara
Semua orang pada hakekatnya sudah melakukan kegiatan akting tanpa disadari setiap hari. Sejak dari mulai bangun dan keluar dari rumah, setiap orang mematut diri, mengubah iramanya, karena menghadapi orang lain. Ia sudah memilih perannya yang ia kehendaki.

Ada mandor yang begitu berada dilingkungan pekerjaan, menjadi seram dan galak. Karena ia ingin nampak berwibawa dan ditakuti. Padahal kalau sedang sendirian dirumah, ia banyak tersenyum dan tertawa.
Ada seorang perempuan yang begitu ketemu tetangganya langsung menjadi sangat baik. Padahal sehari-hari ia kejam kepada anak-anaknya dan sama sekali tidak bersahabat pada suaminya.
Tetapi bila kedua orang itu diminta naik kepanggung dan memainkan peran yang biasa dilakukannya, belum tentu mereka mampu. Bahkan menirukan kelakuan mereka sendiripun tidak akan bisa.
Ini menunjukkan bahwa wilayah panggung memang lain dengan wilayah kehidupan sehari-hari. Ada rahasia yang harus dipahami sebelum seseorang bisa fasih melakukan apa yang biasa dilakukannya dengan gampang didalam kehidupan. Tidak semua orang langsung bisa melakukan hal yang sama dikedua dunia itu. Untuk itu diperlukan latihan.
Apbila seseorang sudah terlatih dan fasih memindahkan apa yang biasa dilakukannya sehari-hari kepanggung, barulah ia akan mampu untuk menghidupkan peran sebagai seorang pemain. Sebagai pemain, ia tidak hanya dituntut mampu memainkan dirinya. Bahkan yang bertentangan dengan dirinya. Tokoh yang sebelumnya, sama sekali tidak terbayang didalam pikirannya.
Misalnya seorang yang sehat dan waras,harus memainkan tokoh orang gila.Seorang yang lembut dan penuh kasih sayang, harus memainkan peran seorang pembunuh yang brutal.
Untuk memainkan sebuah tokoh,seorang pemain melakukan beberapa upaya.Pertama ia membaca naskah dengan teliti. Membuat analisis,kemudian mencatat kesimpulan-kesimpulan. Lalu mencocokkannya dengan apa yang dikehendaki oleh sutradara.
Untuk lebih sempurna, dia dapat memplajari penulis naskah itu,agar mengetahaui apa yang dimaksudkannya. Ia juga dapat bertanya kepada siapa saja yang dapat memberinya gambaran yang lebih jelas.
Kemudian pemain itu melakukan observasi di dalam kenyataan. Barang kali ada orang yang mirip seperti tokoh yang harus dimainkannya itu. Setelah ia mendapat modelnya, ia mencoba untuk menirunya, sebelum kemudian ia menciptakan sendiri tokoh itu sesuai dengan kemampuan tubuhnya sendiri.
Seorang pemain yang baik tidak hanya bisa meniru,tetapi mampu mengekspresikan karakter yang harus dimainkannya dengan modal yang dimilikinya sendiri.jadi apa yang dimiliki oleh seorang pemain,akan menjadi modal utama untuk membuat ia tampil berbeda dari orang lain. Penampilan yang khas, orisinal dan otentik.
Untuk semua itu yang diperlukan adalah latihan dan pengendapan-pengendapan. Disamping juga melihat banyak perbandingan, sehingga dapat memilih cara yang terbaik. Mungkin cara yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, tanpa menyalahi konsep dan garis yang sudah diberikan oleh sutradara.
Sutradara adalah orang yang memberikan pengarahan, bagaimana naskah akan dimainkan serta apa yang hendak dicapai oleh pementasan itu. Seorang sutradara tidak selalu bisa main, pemain-pemain teater hebat memang seringkali pada akhirnya menjadi seorang sutradara. Tetapi seorang sutradara yang hebat bisa saja pada dasarnya adalah seorang pemain yang gagal, atau memang sama sekali tidak bisa main.
Pemain dan sutradara adalah fungsi yang berbeda meskipun ada persinggungannya. Seorang sutradara tidak bertugas untuk bagaimana mengepresikan sebuah karakter, tetapi bagaimana mengepresikanseluruh karakter (baca: naskah). Ia seperti seorang jendral di Medan peperangan yang memilih strategi dan memimpin pasukannya untuk merebut kemenangan.
Seorang sutradara mula-mula mendalami naskah yang hendak digarapnya dengan segala macam cara. Ia harus memplajari dan menguasai naskah yang hendak digarapnya. Setelah itu ia memerlukan sebuah ide, bagaimana ia akan menggarap. Dari sana, ia akan menghasilkan konsep. Dengan konsep itulah ia kemudian mencari pemain.
Sutradara-sutradara di Indonesia tidak terlalu bebas dalam mencari pemain, karena kelompok teater di Indonesia basisnya adalah grup. Sebuah grup drama terpaksa harus mempergunakan anggota-anggotanya sendiri untuk memainkan naskah. Itulah sebabnya sering kali sebuah naskah dipilih untuk dipentaskan karena itu cocok dengan pemain yang ada. Meminjam pemain dari klompok lain masih dirasa sebagai semacam kelemahan.
Karena dasarnya klompok, pemilihan pemain pun sering kali dipaksakan. Tetapi seorang sutradara yang baik pasti dapat menutupi pemaksaan itu sedemikian rupa sehingga, semuanya dapat diatasi. Di dalam penyutradaraan sudah berkembang pendapat bahwa semua karakter dapat dimainkan oleh siapapum, tergantung bagaimana penggarapan sutradaranya.
Inti dari penggarapan seorang sutradara yang kemudian dipakai membentuk konsef adalah penafsiran. Dalam penafsiran itulah seorang sutradara menunjukkan kualitas dan kehebatannya. Ia dapat memberikan sudut pandang yang berbeda, sehingga sebuah naskah yang di tangan sutradara lain buruk dapat menjadi indah ketikaia tangani.
Seorang sutradara tidak hanya seorang mandor, tetapi ia juga mencipta. Hanya saja beberapa jauh ia boleh mencipta, dibatasi oleh naskah yang dipentaskannya. Namun seorang sutradara yang baik tidak akan pernah dibatasi oleh naskah manapun. Kuncinya adalah ketika ia sudah benar-benar menguasai naskah itu, ia menjadi sangat bebas. Apa pun yang ia lakukan, tetapi saja akan klop dengan naskah karena semua telah dikuasainya.
Peran seorang sutradara sangat besar. Ia bukan saja mengarahkan laku, tetapi juga mengarahkan tim pemain sebagai sebuah klompok. Seorang sutradara memberikan warna pada pertunjukan. Kendati memang ada juga seorang sutradara yang hanya memposisikan dirinya hanya sebagai mandor.Apalagi kalau berhadapan dengan pemain-pemain hebat. Disitu sudut penciptaannya terbatas pada bagaimana menjaga agar semua pemain-pemain hebat itu bias padu sebagai sebuah tim sehingga tajam dalam menggiring pesan dari naskah.
Seorang sutradara tidak selamanya menghadapi pemain yang sudah siap. Banyak sutradara akhirnya sambil menyutradarai juga melatih pemainnya cara berjalan dan cara berbicara. Dan kalau waktunya memang tidak memungkinkan, dia bisa mencetak saja pemainnya.
Di Indonesia kebanyakan yang ada adalah teater sutradara. Sutradara yang memberi warnaseluruh pementasan. Ini terjadi karena meskipun banyak sekali orang mau main drama,tetapi masih sedikit yang benar-benar layak disebut pemain. Masih sedikit pemain drama di Indonesia yang menguasai ilmu bermain, sehingga peran sutradara sangat diperlukan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Sutradara akhirnya merangkap tugas sebagai pelatih ekting.
Baik teater sutradara maupun teater pemain, keduanya tetap berbuntut pada apakah pementasannya bagus atau tidak. Untuk itu faktor pengemasan sangat penting. Segi pengemasan atau pertukaran inilah yang rata-rata yang masih lemah dalam kehidupan teater di Indonesia untuk mengatasi semua itu, yang diperlukan adalah pendidikan.
Teater adalah ilmu, untuk menguasainya diperlukan pembelajaran untuk dapat mempelajarinya sungguh-sungguh harus ada keyakinan bahwa itu berguna. Untuk dapat membuktikan kegunaannya diperlukan kehadiran penyelenggara pertujukan. Jadi semuanya saling terkait. Sebenarnya dari manapun mulai perbaikannya, bisa.
Pemain/Aktor
Apa yang harus dilakukan oleh seseorang untuk dapat menjadi aktor yang baik. Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan apa yang harus dilakukan oleh seorang pemain bola sebelum dia menjadi seorang pemain bola yang baik.
Pemain teater adalah orang yang mempergunakan tubuh dan perasaannya untuk mengepresikan karakter orang lain. Untuk berhasil melakukan semua itu, pertama-tama ia harus mengenal tubuh dan rasa yang dimilikinya. Baru sesudah mengenal, ia akan mampu menguasai dan mempergunakannya secara maksimal untuk mengekpresikan tokoh yang harus dihidupkannya.
Jadi yang pertama dilakukan oleh seorang pemain adalah mengenal, memahami tubuhnya sendiri. Apa kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Melihat kondisi dari rasa yang dimilikinya dan kemudian mengolahnya. Ia dapat membalikkan kelemahan-kelemahan menjadi kekuatan, karena kelemahannya itulah yang membedakan ia dari orang lain. Masalahnya, bagaimana memandang kelemahan itu bukan kelemahan tetapi memposisikannya sebagai kelebihan. Untuk itu ada pelatihan-pelatihan mengenal diri sendiri.
Latihan menari, latihan bela diri, senam bahkan semua olahraga, pada hakekatnya mengantarkan seseorang untuk mengenal tubuhnya. Dengan latihan-latihan jasmani itu seseorang memahami tangan dan kaki, wajah dan lekuk-lekuk tubuhnya sendiri. Tubuh yang dikenali itu menjadi akrab dan juga berkembang karena diberikan pelatihan.
Latihan pernafasan yang berasal dari ilmu bela diri mana pun dapat dimanfaatkan. Latihan vokal dari seni suara. Latihan ketahanan raga dalam senam. Kemudian olah rasa dengan mendengarkan musik, melihat pameran lukisan, melihat pertunjukan. Semuannya akan saling mengisi dan menyebabkan seseorang seimbang antara jasmani dan rohani. Dalam keseimbangan itu akan muncul harmoni. Buntutnya adalah percaya pada dirinya sendiri.
Semua latihan-latihan yang mengarah kepada pelatihan jasmani dan pelatihan rasa bisa dilakukan, sebagai jembatan untuk sampai pada penguasaan dan kepercayaan diri. Seperti berjalan misalnya. Sehari-hari kita sudah berjalan, jadi kita tidak merasa perlu untuk mempelajarinya lagi. Dalam proses pembelajaran menjadi pemain, proses belajar berjalan, bahkan proses bernafas pun kita ulangi.
Di dalam latihan-latihan itulah seorang calon pemain akan bertemu batas kemampuannya. Rahasia kelemahannya. Kemudian upaya mengatasinya. Berkat melihat kelemahan pada cara berjalan seseorang akan tahu bagaimana berjalan yang lebih baik dan efisien sesuai dengan tubuhnya sendiri. Sebagai hasilnya, ia akan berhenti meniru orang lain dan menjadi dirinya sendiri.
Memahami diri sendiri, menguasai diri dan kemudian percaya kepada diri, lalu melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan sendiri, akan membuat seorang pemain keluar dari klise. Klise adalah peniruan-peniruan yang dilakukan dengan sengaja atau bawah sadar, yang akan menyebabkan seseorang tidak lebih dari tiruannya sendiri.
Yang lebih ditakuti oleh seorang pemain adalah klise pada dirinya sendiri. Ia akan mengulang-ulang apa yang sudah berhasil dilakukannya, sehingga ia tidak mampu memainkan peran yang lain. Di situ ia terjebak. Dengan berlatih dan berusaha kembali melihat diri sendiri sejujurnya, klise pada diri sendiri itu pun dapat dihindari.
Jadi berlatih tidak hanya baik buat seorang yang ingin menjadi pemain, tetapi bagi yang sudah menjadi pemain. Agar ia kembali segar dan tumbuh mencari bentuk-bentuk pengungkapan yang baru. Bila itu terus dilakukan, penampilan pemain tersebut akan tetap terjaga. Daya pukaunya pun terpelihara. Jadi “taksu” karisma juga memerlukan “perawatan”.
Banyak cara berlatih untuk menjadi pemain. Tetapi tak semua cara itu cocok dengan kondisi semua pemain. Yang baik adalah menemukan cara berlaih yang sesuai dengan kondisi calon pemain, lalu mengikutinya dengan tekun.
Seorang olahragawan makin lama makin menurun kemampuan fisiknya, sehingga ketuaan akan menyebabkan reputasinya semakin anlog. Tetapi seorang pemain, semakin tua, semakin berpengalaman. Semakin tinggi jam terbangnya, ia akan semakin matang dan karismatik.
Ada satu hal yang diucapkan oleh Stanilavsky, pakar aking modern yang dapay menjelaskan banyak hal. Tidak ada peran-peran kecil di dalam teater. Yang ada adalah aktor-aktor kecil menghadapi peran-peran besar. Artinya, semua peranan di dalam teater sebenarnya adalah peran besar, tergantung dari siapa dan bagaimana memerankannya.
Bakat dan Kemauan
Bagi seorang yang ingin menjadi pemain teataer/film/tv ada satu persaratan mutlak yang harus di penuhi, yakni kemauan. Tanpa ada kemauan, seorang yang memilki bakat besar, akan kalahn dengan mereka yang semula dianggap tidak berbakat. Dan dengan kemauan, seorang yang semula dinyatakan tidak berbakat, bisa berbalik menjadi seorang pemain ulung, yang mampu mengalahkan bakat-bakat besar, yang tidak ditunjang dengan kemauan.
Karena itu mitos bahwa segala sesuatu yang dimulai dari bakat, sudah harus berhenti dikunyah. Kemauan itu sendiri sudah sejak lama dinilai sebagaio bakat. Dengan kemauan, seorang dapat menjadikan dirinya seorang yang berbakat. Tetapi dengan satu peringatan sebaliknya bakat yang berasal dari kemauan tersebut, tidak akan bisa dikembangkan kalau tidak terus-terusan dibakar dengan kemauan.
Jadi didalam pengertian tersimpul berbagai tindakan yang berkesinambungan. Ada bakat sendiri. Ada tindakan berupa inisiatif, upaya, usaha, pencarian, pemburuan, latihan, pembelajaran diri, pengembangan yang tidak henti-hentinya. Dan ada juga ambisi yang secara psikologis mengkondisikan upaya itu dilaksanakan secara maksimal. Artinya ambisi pun tidak diartikan negatif tetapi dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Dengan kata lain, menjadi seorang pemain tidak cukup lagi hanya diserahkan sebagai proses alami. Dulu memang bisa begitu. Setidak-tidaknya cukup aman dengan cara begitu. Menjadi pemain adalah menunggu kesempatan ditemukan oleh pencari bakat. Sekarang, menjadi seorang pemain, harus memerlukan tindakan aktif dari personal bersangkutan. Itu pun belum menjamin akan membuat seseorang benar-benar menjadi pemain. Karena dunia pertunjukan erat hubungannya dengan bisnis. Sehingga kualitas, peluang, dan nasib baik ikut menentukan. Tetapi itu pun tidak hanya bisa ditunggu, tetap saja harus direbut.
Karenanya mau tidak mau, seorang pemain tidak bisa lagihanya memikirkan seni bermain, tetapi seni merebut. Kalau ia tidak memiliki bakat untuk itu, ia bisa memperbantukan atau menyerahkan dirinya kepada pengatur ahli yang kita sebut manajer atau agen. Tetapi kita tahu sendiri, manajemen dan keagenan artis adalah lembaga yang belum benar-benar berkembang dalam kehidupan seni pertunjukkan di Indonesia.

Jangan Lupa berikan komentar Anda tentang blog ini, ataupun tentang posting ini.
Posted by: ikhsanudin ikhsanudin Updated at : 21:19

1 comment:

  1. terima kasih...mohon i tuk mendownload yah
    by deni
    www.revolusisikap.co.cc

    ReplyDelete

Salah satu kepuasan kami adalah jika anda berkunjung ke ikhsanudin.com dengan meninggalkan komentar walaupun cuma satu kata. Tapi jangan:
1. Berpromosi
2. Komentar spam
3. Opo meneh yo...?