Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Tasauf Irfani dan Tokoh-Tokohnya
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini, kajian tentang tasauf semakin banyak di minati orang sebagai buktinya misalnya, semakin banyaknya...
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dewasa ini, kajian tentang tasauf semakin banyak di minati orang sebagai buktinya misalnya, semakin banyaknya buku yang membahas tasauf di sejumlah perpustakaan, ini dapat menjadi salah satu alasan bahwa betapa tingginya keterkaitan mereka terhadap tasauf. Hanya saja keterkaitan mereka tidak dapat di klaim sebagai sebuah penerimaan bulat-bulat terhadap tasauf.

B. Rumusan Masalah
1. Sebutkan ajaran tasauf yang dijelaskan tokoh sufi Rabi’ah Al-Adawiah?
2. Jelaskan biografi singkat oleh tokoh sufi Dzu An-Nun Al-Mishri (180-246)?

C. Tujuan Pembahasan
Dalam perkembangan mistisisme dalam islam, Rabi’ah al-adawiah tercatat sebagai peletak dasar tasauf berdasarkan cinta kepada Allah. Rabi’ah dulu yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah.
Biografi singkat tokoh Dzu An-Nur Al-Mishri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang tinggal disekitar pertengahan abad ke tiga Hijriah. Nama lengkapnya Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim. Ia dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi mesir. Pada tahun 180 H/ 796 M, dan meninggal pada tahun 246 H/856 M.

BAB II
PEMBAHASAN


A. Hakikat ‘Irfan
Secara etimologi, kata ‘irfan merupakan kata jadian (mashdar) dari kata ‘arafa’ (mengenal atau pengenalan). Adapun secara terminologis ‘irfan di identikan dengan ma’rifat sufistik. Orang yang ‘irfan atau makrifat kepada Allah adalah yang benar-benar mengenal Allah melalui dzauq dan kasyuf (ketersingkapan). Ahli ‘irfan adalah orang yang berminat kepada Allah. Arif adalah seseorang yang memperoleh penampakan tuhan sehingga pada dirinya tampak kondisi-kondisi hati tertentu (ahwal).
‘Irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek praktisnya adalah bagian yang menjelaskan hubungan dan pertanggung jawaban manusia terhadap dirinya, dunia, dan tuhan. Bagian ini menyerupai etika.praktis juga dapat di sebut sayr wa suluk (perjalanan rohani).
‘Irfan teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (ontologi) , mendiskusikan manusia, tuhan serta alam semesta.
Bagian ini menyerupai teosafi (filsafah ilahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud.
‘Irfan mendasarkan diri dari ketersibakan mistik yang kemudian di terjemahkan kedalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.

B. Tokoh-Tokoh Tasauf ‘Irfani
1. Rabi’ah Al-adawiah ( 95-185 H )
a. Biografi Singkat
Nama lengkap rabi’ah adalah Rabi’ah binti Ismail Al-adawiah Al-bashriah Al-qaishiah ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M. atau 99 H/717 M, di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185H/801M. ia dilahirkan sebagai putri ke empar dari keluarga yang sangat miskin. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Saat terjadinya bencana perang di Basyrah ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qois Banu Adwah. Pada keluarga pula inilah ia bekerja keras, tetapi akhirnya dibebaskan lantaran tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia dengan beribadah.

b. Ajaran Tasauf: Mahabah (Cinta)
Rabi’ah Al-Adawiah tercatat sebagai peletak dasar tasauf berdasarkan cinta kepada Allah. Sementara generasi sebelumnya merintis aliran Asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut dan pengharapan kepada Allah.
Rabi’ah pula yang pertama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah.
Untuk memperjelas pengertian Al-Hubb yang diajukan Rabi’ah yaitu Hubb Al-Hawa dan Hubb Anta Ahl Lahu, perlu di kutip tafsiran beberapa tokoh berikut: Abu Talib Al-Makiy dan Qut Al-Qulub bahwa makna Hubb Al-Hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan kepada Allah. Adapun Al-Hubb Anta Ahl Lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi di dorong zat yang dicinta.
Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada zat yang dicintai.

2. Dzu An-Nun At-Mishri (180-246H)
a. Biografi Singkat
Dzu An-Nun Al-Mishri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang tinggal di sekitar pertangahan abad ke tiga hijrah. Nama Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim. Ia di lahirkan di Ikhmim, dataran tinggi Mesir, pada tahun 180H/796M dan meninggal pada tahun 246H/856 M.
Asal mula Al-Mishri tidak banyak di ketahui, tetapi riwayatnya sebagai seorang sufi banyak diutarakan. Al Mishri dalam perjalanan hidupnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia pernah menjelajahi berbagai daerah di Mesir, mengunjungi Bait Al-Magdis, Maqdad, Mekah, Hijas, Syiria. Hal ini menyebabkan ia memperoleh pengalaman yang banyak dan mendalam.

b. Ajaran-Ajaran Tasauf
1) Makrifat
Al-Mishri adalah pelopor faham makrifat. Makrifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiah (penyaksian hati), sebab makrifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak azali.
Pandangan-pandangan Al-Mishri tentang Ma’rifat pada mulanya sulit diterima kalangan teolog sehingga ia dianggap sebagai seorang Zindiq.
a) Sesungguhnya makrifat yang hakiki bukanlah ilmu tentang keesaan tuhan dan bukanlah ilmu nazar milik para hakim, tetapi makrifat terhadap keesaan tuhan yang khusus dimiliki para wali. Sebab mereka adalah orang yang menyaksikan Allah dengan hatinya.
b) Makrifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari hatimu dengan cahaya makrfat seperti matahari tak dapat dilihat, kecuali dengan cahaya.

Kedua pandangan Al-Mishri diatas menjelaskan bahwa makrifat kepada Allah tidak dapat di tempuh melalui pendekatan akal dan pembuktian tetapi dengan jalan makrifat batin, yakni Tuhan menyinari hati manusia dan menjaganya dari ketercemasan.
Adapun tanda-tanda seorang ‘arif, menurut Al-Mishri adalah sebagai berikut:
a) Cahaya makrifat tidak memadamkan cahaya kewaraannya
b) Ia tidak berkeyakinan bahwa ilmu batin merusak hukum lahir
c) Banyaknya nikmat tuhan tidak mendorongnya menghancurkan tirai-tirai larangan Tuhan

2) Maqamat dan Ahwal
Pandangan Al-Mishri tentang maqamat di kemukakan pada beberapa hal saja, yaitu At-Taubat, Ash-Shab, At-Tawakal, dan Ar-Ridho.
Lebih lanjut, Al-Mishri membagi tobat menjadi 3 tingkatan yaitu:
a) Orang yang bertobat dari dosa dan keburukannya
b) Orang yang bertobat dari kelalaian dan kealfaan mengingat Tuhan
c) Orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatannya

3. Abu Yazid Al-Bustami (874 – 947 M)
a. Biografi Singkat
Nama lengkap adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al-Bustami, lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 874 dan wafat tahun 947 M. Nama kecilnya adlaah Taifur, perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang Sufi membutuhkan waktu puluhan tahun. Sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi seorang fakih dari mazhab hanafi.


b. Ajaran Tasauf
1) Fana’ dan Baqa’
Ajaran tasauf terpenting Abu Yazid adalah Fana’ dan Baqa’. Dari segi bahasa, Fana’ berasal dari bahasa Faniya yang berarti Musnah atau lenyap. Dalam istilah tasauf menurut Abu Bakar Al-Kalabiadzi Fana’ adalah: hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, sehingga ia kehilangan segalanya perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar.
Adapun Baqa’ berasal dari kata Baqiyah dari segi bahasa adalah tetap. Sedangkan menurut istilah berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah.

2) Ittihad
Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami oleh seorang sufi setelah melalui tahap Fana’ dan Baqa’.
Dalam tahapan Ittihad seorang sufi bersatu dengan Allah, antara yang mencintai dan yang di cintai menyatu baik substansi maupun perbuatannya. Dalam paparan Harun Nasution, ittihad adalah satu tingkatan dimana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, satu tingkatan dimana yang mencintai dan dicintai telah menjadi satu. Sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata.

4. Abu Manshur Al-Hallaj (855-922 M)
a. Biografi Singkat
Nama lengkap Al-Hallaj adalah Abu Al-Mughist Al-Husain bin Mansur bin Muhammad Al-Bardhawi lahir di baida, sebuah kota kecil diwilayah Persia. Pada tahun 244H/855M ia tumbuh dewasa di kota Wasith, dekat Baqhdad pada usia 16 tahun ia belajar pada seorang sufi terkenal saat itu, yaitu Sahl bin ‘Abdullah At-Tusturi di Basrah dan berguru pada ‘Amr Al-Makki yang juga seorang sufi, dan pad atahun 878 M, ia masuk ke kota Bagdad dan belajar kepada Al-Junaid. Setelah itu, ia pergi mengembara dari satu neeri kenegeri lain menambah pengetahuan dan pengalaman dalam ilmu tasauf.
Dalam semua perjalanan dan pengembaraannya keberbagai pengawasan Islam seperti Khurasan, Ahwaz, India, Turkistan dan Makkah. Al-Hallaj telah banyak memperoleh pengikut, ia kemudian kembali kebaghdad pada tahun (296 H/909 M) di Baqhdad pengikutnya semakin bertambah banyak karena kecamannya terhadap kebobrokan-kebobrokan pemerintah yang berkuasa pada waktu itu.
Al-Haliaj selalu mendorong sahabatnya melakukan perbaikan dalam pemerintahan dan selalu melontarkan kritik terhadap penyelewenangan-penyelewengan yang terjadi.

b. Ajaran Tasauf : Hulul dan Wahdat asy-Syuhud
Diantara ajaran tasawuf al-hallaj yang paling terkenal adalah Al-Hulul dan Wahdat asy syuhlia yang kemudian melahirkan paham wihdat al-wujud (kesatuan wujud) kata al-hulul, berdasarkan pengertian bahasa, berarti menempati suatu tempat. Adapun menurut istilah al-hulul ini berarti paham yang mengatakan bahwa tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Al-Halaj berpendapat bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada sifat-sifat ketuhanan, ia manakwilkan.

Masih kurang lengkap..??? Silahkan download Tasawuf Irfani dan Tokoh-Tokohnya

Jangan Lupa berikan komentar Anda tentang blog ini, ataupun tentang posting ini.

About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top