Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA SEBAGAI PESERTA DIDIK
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
A. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak sebagai Peserta Didik Pertumbuhan diartikan sebagai suatu proses perubahan secara fisik yang menunjuk...
A. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak sebagai Peserta Didik
Pertumbuhan diartikan sebagai suatu proses perubahan secara fisik yang menunjuk kepada kuantitas. Sedangkan perkembangan diartikan sebagai suatu proses perubahan secara psikis yang menunjuk kepada kualitas. Contoh dari pertumbuhan sebagai suatu proses perubahan fisik dari segi kuantitas, misalnya seorang bayi yang sewaktu pertama kali lahir memiliki berat badan 2,5 kilogram, sebulan kemudian berat badan bayi tersebut bertambah menjadi 3 kilogram. Perubahan berat badan dari 2,5 menjadi 3 kilogram merupakan suatu proses pertumbuhan. Sedangkan contoh dari pengertian perkembangan sebagai proses perubahan secara psikis ialah misalnya




anak yang berumur sekitar dua tahun telah dapat berbicara lancar dengan ibu, bapak, saudaranya, dan anggota seisi rumah tentang: "saya sudah makan, saya mau pipis, saya mau ikut belanja, dan lainnya" lalu berkembang pesat menjadi mahir dalam berbahasa dan berkomunikasi dengan orang dalam berbagai hal pada usia tujuh tahun.
Masalah pertumbuhan dan perkembangan anak dikaji dalam psikologi perkembangan harus diketahui dan dipahami oleh para calon guru dan para guru di sekolah. Batasan tentang anak dalam kajian ini ialah usia anak sekolah di Taman Kanak-kanak dan usia anak sekolah jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Masa pertumbuhan anak usia TK dan anak usia SD perlu diketahui dan dipahami oleh para calon guru dan para guru di TK dan di SD, karena dengan mengetahui tentang seluk-beluk pertumbuhan fisik yang dialami oleh anak TK dan murid SD, yang diajar, para guru dapat menyesuaikan proses pembelajarannya di kelas dan aktivitas manajemen kelas di kelas sesuai dengan pertumbuhan peserta didik di TK di SD.
Sebagai contoh anak TK dan murid SD yang menunjukkan pertumbuhan fisik yang kecil sebaiknya ditempatkan di bangku paling depan agar anak tersebut tidak terlindungi pandangannya kearah guru atau ke papan tulis oleh anak TK dan murid SD yang pertumbuhan fisiknya besar dan tinggi. Sedangkan contoh dari segi perkembangan psikis (jiwa) yang perlu mendapat perhatian para guru di kelas ialah perkembangan dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Jika guru menemukan anak TK dan murid SD yang menunjukkan perkembangan kognitif atau aspek intelektual yang cepat, maka guru tersebut perlu memberikan kegiatan pengayaan atau perlakuan khusus kepada anak TK atau murid SD tersebut agar anak/murid tersebut dapat aktualisasi potensi kognitifnya secara maksimal dan optimal, sehingga dikemudian hari dapat menjadi guru bagi teman sebayanya. Jika guru menemukan anak TK dan murid SD yang menunjukkan perkembangan afeksi atau aspek sikap dan perilaku yang baik, maka guru tersebut perlu memberikan penguatan atau reinforcement khusus kepada anak TK atau murid SD tersebut agar anak/murid tersebut dapat mengembangkan afektifnya secara optimal, sehingga dikemudian hari dapat menjadi teladan atau panutan bagi teman sebayanya. Dan Jika guru, menemukan anak TK dan murid SD yang menunjukkan perkembangan konasi atau aspek psikomotorik yang baik, maka guru tersebut perlu memberikan penguatan dalam bentuk latihan psikomotorik untuk kebutuhan perkembangan selanjutnya dan untuk kebutuhan kompetisi, agar dikemudian hari peserta didik tersebut dapat menjadi teladan atau panutan bagi teman sebayanya.

B. Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja sebagai Peserta Didik
Seperti halnya pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai peserta didik, pada remaja sebagai salah satu tahap pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui manusia, juga makna pertumbuhan dan perkembangan menunjuk kepada proses perubahan secara fisik dan psikis (jiwa) yang dialami oleh remaja yang bersekolah pada jenjang pendidikan dasar (SLTP/SMP), jenjang pendidikan menengah (SLTA/SMA), dan jenjang pendidikan tinggi (khususnya mahasiswa baru).
Masalah pertumbuhan dan perkembangan remaja sebagai peserta didik juga perlu menjadi perhatian bagi para calon dan para guru di SMP, SMA, dan di Perguruan Tinggi (PT), karena dengan bekal pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja, para guru di SMP, di SMA, dan PT dapat menyesuaikan proses pembelajarannya atau perkuliahannya sesuai dengan kebutuhan belajar remaja. Kebutuhan belajar remaja sebagai peserta didik akan difokuskan kepada pembahasan tentang kebutuhan belajar remaja secara psikologis yang membutuhkan proses pembelajaran atau pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis mereka sebagai remaja.
Secara psikologis diketahui bahwa masa remaja adalah masa yang penuh gejolak dan goncangan jiwa bagi remaja. Gejolak dan goncangan jiwa terjadi karena remaja sedang dalam pencarian identitas diri dan menjalani masa eksplorasi yang menyebabkan para remaja ingin mencoba terhadap segala hal yang diketahui melalui proses membaca dan mengalami dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat. Gejolak dan goncangan jiwa juga terjadi karena remaja sedang mengalami masa pubertas yang menyebabkan, dorongan seksual remaja sangat sensitif dan menuntut untuk disalurkan (dorongan kebutuhan id) yang bersifat instinktif.
Mengingat masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan goncangan, maka para calon guru dan para guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang remaja dan permasalahannya dan masalah psikologi remaja. Dengan bekal pengetahuan dan pemahaman tentang remaja dan psikologi remaja, para guru di sekolah harus memahami tentang kondisi psikologis remaja dan menghadapi sikap dan perilaku remaja sebagai peserta didik secara edukatif dan persuasif. Selain itu, para guru di jenjang pendidikan SMP dan sederajat, SMA dan sederajat, dan dosen perguruan tinggi (khususnya dosen yang mengajar mahasiswa baru) dapat mengadaptasikan proses pembelajarannya sesuai dengan karakteristik psikologis remaja dan kebutuhan belajar remaja.
Para calon guru dan para guru dan dosen di lembaga pendidikan, juga perlu memiliki wawasan pengetahuan dan pemahaman tentang: tugas-tugas perkembangan remaja, perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada diri remaja, perkembangan kognitif, perkembangan emosional, perkembangan sosial, dan perkembangan moral remaja (Philip, 1987). Pengetahuan dan pemahaman tersebut diharuskan sebagai dasar dalam menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar remaja. Dengan para guru di lembaga pendidikan perlu menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan kebutuhan psikologis remaja. Oleh karena itu, para guru harus dapat menerapkan strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran di kelas yang sesuai dengan perkembangan psikologis, sosial, dan moral remaja.
Sebagai contoh untuk mewujudkan rasa ingin tahu besar pada diri remaja dan untuk membantu mengembangkan minat dan motivasi remaja untuk bereksplorasi, maka metode dan strategi pembelajaran yang tepat digunakan ialah metode dan strategi pembelajaran yang penyelidikan (inquiry dan discovery learning), studi lapangan atau observasi lapangan, dan lainnya dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses. Melalui penerapan strategi metode, dan pendekatan pembelajaran tersebut, diharapkan remaja dapat menyalurkan energinya ke kegiatan belajar yang positif melalui kegiatan belajar dan kegiatan eksplorasi yang positif.
Selain itu, pihak-pihak yang terkait lainnya, seperti pihak wali kelas, guru pembimbing atau konselor sekolah, psikolog, sosiolog, orangtua, kepala sekolah, dan masyarakat perlu juga ikut serta dalam proses pendidikan remaja di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui kerjasama berbagai pihak tersebut, pihak guru dapat memberikan proses pendidikan yang optimal sesuai dengan karakteristik psikologis remaja dan sesuai kebutuhan belajar siswa dalam membantu remaja mencapai aktualisasi diri ke arah yang inovatif dan produktif demi untuk perkembangan mental, sosial, sikap, perilaku, dan moral remaja seoptimal mungkin.
Proses pendidikan yang diberikan oleh para guru kepada remaja sebagai genarasi muda haruslah berkualitas. Salah satu ciri dari pendidikan yang berkualitas ialah pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang konstruktif, kreatif, inovatif, dan produktif yang misioner dan visioner.
Harus diakui bahwa di tangan remajalah sebagai generasi muda nasib masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia ditentukan. Oleh karena itu, pendidikan yang berkualitas mutlak diberikan kepada remaja khususnya dan anak Indonesia pada umumnya.

About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top