Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: TUGAS TAHFIS JUS ’AMMA SURAT AL - LAHAB
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
PENDAHULUAN Surat ini adalah turun sesudah surat Al-Fath dan surat ini menceritakan tentang keluarga Abu Lahab, yang kikir dan jahat. A...
PENDAHULUAN

Surat ini adalah turun sesudah surat Al-Fath dan surat ini menceritakan tentang keluarga Abu Lahab, yang kikir dan jahat. Abu Lahab juga tidak bersyukur kepada nikmat Allah yang telah Allah kasihkan kepada keluarga Abu Lahab sangat tidak permanfaat bagi keluarga Abu Lahab.


Abu Lahab dan istrinya juga sangat jahat kepada Nabi Muhammad sewaktu Nabi Muhammad ingin pergi berdakwah kepada umatnya. Istri Abu Lahab menghalangkan Nabi SAW. Dia meletakkan duri dimana jalan Nabi SAW yang bisa dilewat.
Diantara surat Al-Lahab dan AL-Fath, ini sangat berhubungan erat kaitannya sebagai satu Surah, sehingga dapat riwayat darinya.



SURAT AL-LAHAB (NYALA)

Bismillahirrahmanirrahim

1. Tabbat yadaa abii la-habiw wataab
2. Maa agnaa anhumaaluhuuu wamaa kasab
3. Sayash laa naran dzata lahab
4. Waamra atu hamalata hatab
5. Fii jiddi habbli mimassad


Artinya :
1. Celakakanlah kedua belah tangan Abu Lahab dan celakakanlah dia.
2. Harta bendanya dan apa yang ia usamhakan tidak berguna bagi dirinya.
3. Ia akan masuk api yang menyala-nyala.
4. (demikian juga) istrinya pembawa kayu bakar.
5. Yang dilaharnya ada tali dari sabut.


ASBABUN NUZUL
SURAT AL-LAHAB


Imam Bukhari dan lain-lainnya telah mengetengahkan sebuah Hadist melalui Ibnu Abbas r.a yang telah menceritakan, bahwa pada suatu hari Nabi SAW naik keatas bukit Shafa, lalu beliau berseru: “Hai orang-orang berkumpullah. Nabi SAW melanjutkan pembicaraannya”. Bagaimana pendapat kalian, jika aku beritakan kepada kalian bahwasannya musuh datang menyerang kalian diwaktu pagi ini atau akan menyerang kalian diwaktu sore nanti, apakah kalian akan mempercayaiku? Mereka menjawab: “Tentu saja kami kami percaya kepadamu”. Nabi SAW melanjutkan pembicaraannya: “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dihadapan azab yang keras”.
Lalu Abu Lahab menjawab: “Celakalah kamu ini, apakah untuk inikah kamu mengumpulkan kami”. Maka Allah menurunkan Firman-Nya:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (Q.S, 111 Al-Lahab, 1 hingga akhir surat).
Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah Hadist melalu jalur Israil yang ia terima dari Ishaq, Ishaq menerimanya dari seorang laki-laki dari kalangan Hamdan yang dikenal dengan nama Yazid Ibnu Zaid. Disebutkan, bahwa istri Abu Lahab pernah melemparkan duri ditengah jalan yang biasa dilewati oleh Nabi SAW, lalu turunlah ayat-ayat ini, mulai dari firman-Nya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab ...... (Q.S, 111 Al-Lahab 1 sampai dengan firman-Nya):
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. (Q.S, 111 Al-Lahab, 4)
Imam Ibnul Mundzir telah mengetengahkan pula Hadist yang serupa hanya Hadist yang diketengahkannya itu melalui Ikrimah.



TAFSIRNYA
Abu Lahab adalah paman dari Nabi SAW sendiri, saudara dari ayah beliau. Nama kecilnya Abdul ‘Uzza. Sebagai kita ketahui, ‘Uzza adalah nama sebuah jendela berhala yang dipuja orang Quraisy. Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib. Nama iterinya ialah Arwa saudara perempuan dari Abu Sofyan Sakhar bin Harb, Khalah dari Mu’awiyah. Dia dipanggilkan Abu Lahab, yang dapat diartikan kedalam bahasa kita dengan “Pak Menyala”; karena itu bagus, terang bersinar dan tampan. Gelar panggilan itu sudah lebih dikenal orang buat dirinya.
Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum Islam, hubungan Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik dengan pamannya ini sebagai dengan pamannya yang lain-lain juga tersebut di dalam riwayat bahwa seketika Nabi Muhammad SAW lahir kedunia, Abu Lahab menyatakan sukacitanya, karena kelahiran Muhammad SAW dipandangnya akan ganti adiknya yang meninggal di waktu muda, ayah Muhammad, yaitu Abdullah. Sampai Abu Lahab mengirimkan seorang jariahnya yang muda, bernama Tsuaibah untuk menyusunkan Nabi sebelum datang Halimatus-Sa’diyah dari desa Bani Sa’ad.
Dan setelah anak-anak pada dewasa, salah seorang puteri Rasulullah SAW kawin dengan anak laki-laki Abu Lahab.
Tetapi setelah Rasulullah SAW menyatakan da’wahnya menjadi utusan Allah, mulailah Abu Lahab menyatakan tantangannya amat keras, sehingga melebihi dari yang lain-lain. Bahkan melebihi sikap dari Abu Jahal sendiri.
Seketika datang ayat yang tersebut dalam Surat 26, Asy-Syu’ara’ ayat 214:
   
“Dan beri peringatanlah kepada kaum kerabatmu yang terdekat”,
Keluarlah Nabi SAW dari rumahnya menuju bukit Shafa. Dis berdiri dan muali menyeru “Ya Shabahah! (berkumpullah pagi-pagi). Orang-orang yang mendengar tanya bertanya, siapa yang menyeru ini, ada yang menjawab: “Muhammad rupanya”. Lalu orang pun berkumpul.
Maka mulailah beliau mengeluarkan ucapannya: “Hai Bani Fulan, Hai Bani Fulan , Hai Bani Fulan, Hai Bani Abdi Manaf, Hai Bani Abdul Muthalib!” Semua Bani yang dipanggilnya itu pun datanglah berkumpul. Lalu beliau berkata: “Kalau aku katakan kepada kaum semua bahwa musuh dengan kuda peperangannya telah keluar dari balik bukit ini, adakah diantara kamu yang percaya?”.
Semua menjawab: “Kami belum pernah mengalami engaku berdusta”. Maka beliau teruskanlah perkataannya: “Sekarang aku beri peringatan kepadamu semuanya, bahwasannya dihadapan saya ini azab Tuhan yang besar sedang mengancam kamu”.
Tiba-tiba sadang orang lain terdiam mempertimbangkan perkataannya yang terakhir itu bersoraklah Abu Lahab: “apa hanya untuk mengatakan itu engkau kumpulkan kami kemari?” Tubbanlaka! “Anak celaka”.
Tidak berapa saat kemudian turunlah Surat ini, sebagai sambutan keinginan Abu Lahab agar Nabi Muhammad SAW anaknya itu dapat kebinasaan.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab”. (pangkal ayat 1). Diambil kata ungkapan kedua tang didalam bahasa Arab, yang berarti bahwa kedua tangannya yang bekerja dan berusaha binasa. Orang berusaha dengan kedua tangan maka kedua tangan itu akan binasa. Artinya usahanya akan gagal: “Wattab!” dan “Binasalah dia” (ujung ayat 1). Bukan saja usaha kedua belah tangannya yang akan gagal, bahkan dirinya sendiri, rohani dan jasmaninya pun akan binasa. Apa yang direncanakannya di dalam mengahalangi da’wah Nabi SAW tidaklah ada yang akan berhasil. Malahan gagal!.
Menurut riwayat tambahan dari Al-Humaidi: “Setelah istri Abu Lahab mendengar ayat Al-Qur’an yang turun menyebut nama Masjid. Beliau SAW di waktu memang ada dalam Masjid di dekat Ka’bah dan disisinya duduk Abu Bakar r.a. Dan ditangan perempuan itu ada sebuah batu sebesar segenggaman tanganya. Maka berhentilah dia dihadapan Nabi yang sedang duduk bersama Abu Bakar itu. Tetapi yang kelihatan olehnya hanya Abu Bakar saja. Nabi SAW sendiri yang duduk di situ tidak kelihatan olehnya. Lalu dia berkata kepada Abu Bakar: “ Hai Abu Bakar”, telah sampai kepada saya beritanya, bahwa kawanmu itu mengejekkan saya. Demi Allah! Kalau saya bertemu dia, akan saya tampar mulutnya dengan batu ini”.
Sesudah berkata begitu diapun pergi dengan marahnya.
Maka berkatalah begitu kepada Nabi SAW. “Apakah tidak engaku lihat bahwa dia melihat engkau” Nabi Menjawab “Dia ada menghadapkan matanya kepadaku, tetapi dia tidak melihatku. Allah menutupkan penglihatannya atasku”.
“Tidaklah memberi faedah kepadanya hartanya dan tidak apa yang diusahakannya.” (ayat 2)
Dia akan berusaha menghabiskan harta bendanya buat menghalangi perjalanan anak saudaranya, hartanyalah yang akan licin tandas, namun hartanya itu tidaklah akan menolongnya. Perbuatannya itu adalah percuma belaka. Segala usahanya akan gagal.
Menurut riwayat dari Rabi’ah bin ‘Ubbad ad-Daily yang dirawikan oleh Al-Imam Ahmad: “Aku pernah melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliyah itu berseru-seru di pasar Dzil Majaz” Hai sekalian manusia! Katakanlah “La Ilaha Illallah”, (tidak ada Tuhan Melainkan Allah), niscaya kamu sekalian akan beroleh kemenangan.
Orang banyak berkumpul mendengarkan dia berseru-seru. Tetapi dibelakangnya datang pula seorang laki-laki, mukanya cakap pantas. Dia berkata pula dengan kerasnya: Jangan kalian dengarkan dia. Dia telah khianat kepada agama nenek-moyangnya, dia adalah seorang pendusta. Kemana Nabi SAW pergi, kesana pula diturunkannya. Orang itu ialah pamannya sendiri, Abu Lahab.
Menurut riwayat dari Abdurrahman bin Kisan, kalau ada utusan dari kabilah-kabilah Arab menemui Rasulullah SAW di Makkah hendak minta keterangan tentang Islam, mereka pun ditemui oleh Abu Lahab. Kalau orang itu bertanya kepadanya tentang anak saudaranya itu, sebab dia tentu lebih tahu, dibusukkannyalah Nabi SAW dan dikatakannya: Kadzazab, Sahir”. (Penipu, tukang sihir).
Namun segala usahanya membusuk-busukkan Nabi itu gagal juga!
“Akan masuklah dia kedalam api yang bernyala-nyala”. (ayat 3). Dia tidak akan terlepas dari siksaan dan azab Allah. Dia akan masuk api neraka. Dia kemudiannya mati sengsara karena terlalu sakit hati mendengar kekalahan kaum Quraisy dalam peperangan Badar. Dia sendiri tidak turut dalam peperangan itu. Dia hanya memberi belanja orang lain buat menggantikannya. Dengan gelisah dia menunggu-nuggu berita hasil perang Badar. Dia sudah yakin Quraisy pasti menang dan kawan-kawannya akan pulang dari peperangan itu dengan gembira. Tetapi yang terjadi ialah sebaliknya. Utusan-utusan yang kembali ke Makkah lebih dahulu mengatakan mereka kalah. Tujuh puluh yang mati dan tujuh puluh pula yang tertawan. Sangatlah sakit hatinya mendengar berita itu, dia pun mati. Kekesalan kecewa terbayang diwajah jenazahnya.
Anak-anaknya ada yang masuk Islam seketika dia hidup dan sesudah ia mati. Tetapi seorang diantara anaknya itu bernama ‘Utaibah adalah menantu Nabi, kawin dengan Ruqaiyah. Karena disuruh oleh ayahnya menceraikan istrinya, maka puteri Nabi itu diceraikannya. Nabi mengawinkan anaknya itu kemudian dengan Usman bin Affan. Nabi mengatakan bahwa bekas menantunya itu akan binasa dimakan anjing hutan. Maka dalam perjalanan membawa perniagaan ayahnya ke negeri Syam, disebuah tempat bermalam di jalan dia diterkam singa hingga mati.
“Dan istrinya”. (pangkal ayat 4). Dan istrinya akan disiksa Tuhan seperti dia juga. Tidak juga akan memberi faedah baginya hartanya dan tidak juga akan memberi faedah baginya segala usahanya: “Pembawa kayu bakar”. *ujung ayat 4).
Sebagai dikatakan tadi nama istrinya ini Arwa, gelar panggilan kehormatannya sepadan dengan gelar kehormatan suaminya. Dia bergelar Ummul Jamil; Ibu dari kecantikan! Dia saudara perempuan dari Abu Sofyan. Sebab itu dia adalah ‘ammah (saudara perempuan ayah) dari Mu’awiyah dan dari Ummul Mu’minin Ummu Habibah. Tetapi meskipun suaminya di waktu dulu seorang yang tampan dan ganteng dan dia ibu dari kecantikan, karena sikapnya yang buruk terhadap agama Allah kehinaan yang menimpa diri mereka berdua. Si istri menjadi pembawa kayu api, kayu bakar, menyebarkan api fitnah ke sana sini buat membusuk-busukkan utusan Allah.
“Yang di lehernya ada tali dari sabut”. (ayat 5)
Ayat ini mengandung dua maksud. Membawa tali dari sabut: artinya karena bakhilnya, dicarinya kayu api sendiri ke hutan, dililitkannya kepada lehernya dengan tali daripada sabut pelepah korma, sehingga berkesan kalau dia bawanya berjalan.
Tafsir yang kedua ialah membawa kayu api kemana-mena atau membawa kayu bakar. Membakar perasaan kebencian terhadap Rasulullah mengada-adakan yang tidak ada. Tali dari sabut pengikat kayu fitnah, artinya bisa menjerat lehernya.
Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa Tuhan menurunkan Surat tentang Abu Lahab dan istrinya ini akan menjadi pengajaran dan i’tibar bagi manusia yang mencoba berusaha hendak menghalangi dan menantang apa yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, karena memperturutkan hawa nafsu, mempertahankan kepercayaan yang salah, tradisi yang alpuk dan adat – istiadat yang karut marut. Mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, karena kekayaan ada. Disangkanya sebab dia kaya, maksudnya itu akan berhasil. Apatah lagi dia merasa bahwa gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan, karean berpengaruh. Kemudian ternyata bahwa rencananya itu digagalkan Tuhan dan harta bendanya yang telah dipergunakan berhabis-habis untuk maksudnya yang jahat itu menjadi punah dengan tidak memberikan hasil apa-apa. Malahan dirinyalah yang celaka, demikianlah Ibnu Katsir.
Dan kita menampak di sini bahwa meskipun ada pertalian keluarga di antara Rasulullah SAW dengan dia namun sikapnya menolak kebenaran Ilahi, tidaklah akan menolong menyelamatkan dia hubungan darahnya itu.

TUGAS TAHFIS JUS ’AMMA SURAT AL - LAHAB

About Author

Advertisement

Post a Comment

  1. Chiropractic adlh metode baru dimana tubuh manusia menyembuhkan penyakit dg sendirinya. Info ini kami sampaikan krn sangat berguna buat kita semua

    ReplyDelete

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top