Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Datuk Tumenggung Merah Mato
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
Datuk tumenggung merah mato merupakan 4 saudara yaitu - Datuk temenggung merah mato - Datuk temenggung rajo api - Datuk lengkui - Datu...

Datuk tumenggung merah mato merupakan 4 saudara yaitu
- Datuk temenggung merah mato
- Datuk temenggung rajo api
- Datuk lengkui
- Datuk paduko berhalo


4 saudara ini berkumpul guna merencanakan untuk membuat negeri, mereka berunding dan putus mufakat menyatakan bahwa ke 4 datuk pergi menuju
- Datuk temenggung merah mato pergi ke bukit 12, disana ada takar 12 (kendi 12).
- Datuk temenggung rajo api pergi ke pagaruyung, padang
- Datuk lengkui pergi ke kayu itam
- Datuk paduko berhalo menetap di pulau berhalo
Datuk tumenggung merah mato berasal dari bukit 30 hulu batanghari, istrinya bernama puti susu tunggal Di bukit 12 datuk tumenggung merah mato turun ranah (tanah) kayu kedarat ketempat disungai kalikit yang bermuara ke sungai ulunya sungai. Sekian lama datuk merah mato menikah dengan puti susu tunggal ahkirnya mereka dikaruniai buah hati bernama putri selaro pinang masak, setelah dewasa putrid selaro pinang masak dibuatkan mahligai musiban 1(rumah bertingang 1), pembuatan mahligai menggunakan kayu bulian yang diambil dari sungi tabir rance tiang.
Sebelum ke 4 datuk ini berpisah, mereka membuat perjanjian ” Bilamana anak mereka telah besar dan negeri telah terbangun maka adik-adik datuk tumenggung merah mato harus mencarinya di hulu anak sungai” . Datuk temenggung rajo api teringat akan janji pada dulurnya (saudaranya). Datuk rajo api menyuruh anaknya ke kayu itam menemui datuk lengkui. Sesampainy di sana anak datuk lengkui juga disuruh ikut dan ke 7 anak muda itu pergi bersama dengan membawa syarat 1 kapal dan timbangan air sebagai cara untuk mereka sampai ke tempat datuk tumenggung merah mato.Mereka mulai berlayar dan mulai menimbang air disetiap hulu sungai mana yang berat itu yang mereka ikuti, hulu sungai yang pertama mereka temui antara sungai batanghari dengan tembesi yang berat air tembesi, kemudian bertemu dengan sungai tembesi dan batang merangin air yang mereka timbang sama berat, air hitam terlewatkan. Kerena sama berat maka mereka kembali kehilir tidak jauh dari situ mereka bertemu dengan air hitam, dan ditimbang air hitam dengan tembesi berat yang air hitam maka mereka mulai menyusuri sungai air hitam dan bertemu dengan batang kepuh (berduri) .
Mereka mengmbil batang kepuh dan dipotong tiga, ketiga potongan batang itu dijatuhkan kedalam sungai air hitam. Batang kepuh yang mereka jatuhkan pertama berubah menjadi buaya kumbang yang menjadi penjaga air hitam. Batang kepuh kedua yang jatuh berubah menjadi tilan putih menjadi penjaga pusat air dingin tembesi, batang yang ketiga yang mereka jatuhkan merubah menjadi labi-labi putih penjaga sungai batanghari. Selama perjalanan itu mereka menghabiskan 7 pedang guna merambat jalan yang semak.
Sesampainya dimuara terusan mereka menemukan ampas belangai (keramas) lalu meraka kumpulkan, dilanjutkan perjalan mereka melihat rambut yang tebelit ditonggak dalam sungai, rambut itu mereka ukur dikilang 7 kilang, diseto 7 seto, di didepo 7 depo. Ini merupakan petuah dari putrid selaro pinang masak. Maka diteruskan perjalanan oleh 7 anak muda itu mereka bertemu dengan jamban dan ternyata putri selaro pinang masak baru habis keramas dan yang memegang rambut itu anak rang kayo hitam.
Sesampai dijamban itu barulah 7 anak muda itu tau kalau datuk temenggung merah mato mempunayi anak gadis, maka 7 anak muda itu berunding untuk menculik putri selaro pinang masak. Tapi sayang ikwal licik tersebut telah diketahui olah datuk temenggung merah mato maka datuk temenggung merah mato dan istrinya turun kehalaman dan tangga mahligai itu ditolaknya ke tanah. Maka datanglah ke 7 anak muda tersebut untuk menemui datuk temenggung merah mato. Datuk temenggung merah mato mengajak mereka kerumah dan disuruh mendirikan tangga yang jatuh tadi tapi mereka tidak sanggup. Setelah lama bercakap-cakap dengan putri selaro pinang masak ke 7 anak muda itu meminta putri unutk mengulurkan tangga dan purti mengulurkan sehelai rambutnya untuk dijadikan tangga. Setelah lama dilihat oleh datuk merah mato dan istrinya maka mereka naik kerumah datuk merah mato mengangkat tangga dengan tanggan kirinya saja dan mengajak ke 7 anak muda itu untuk naik kerumah sampai 3 kali.
Ke 7 anak muada itupun naik kerumah datuk memah mato mengulurkan sirih, isinya sirihnya dari pecah kuali, pinangnya besi kelili, kapurnya racun, dan tembakaunya adum dan anak muda itu tidak sanggup memakannya barulah timbul rasa takut pada diri mereka sehingga mengurungkan niatnya untuk menculik putri selaro pinang masak. Barulah ke 7 anak muda tersebut menyampaikan keinginannya untuk melamar purti selaro pinang masak, datuk temenggung merah mato memberikan syarat kepadake 7 anak muda itu yang isinya “siapa diantara kamu yang dapat mengumpulkan kepala tungau sigantang ulang aling, seruas buluh talang, selengan baju, selesung besuk maka akan dijadikan menantunya” maka pulanglah ke 7 anak muda tersebut guna mencari syarat yang disampaikan oleh datuk temenggung merah mato. “sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui, sekali menyatang 2 3 tanjung terlampaui” .
Ke 6 anak muda tersebut mencari syarat yang diberi oleh datuk merah mato sedangkan rang kayo itam tak henti-hentinya melanun hingga kurus kering badan karena risau. Nanum timbul pemikiran dari rang kayo itam untuk mengganti syarat itu dangan yang lain yaitu dengan memberikan emas senampan, barulah datang lagi rang kayo itam menemui datuk merah mato untuk menyerahkan emas senampan dan datuk merah mato mengatakan tidak ditolak dan tidak juga diterima karena akan memutuskan menerima atau tidak adalah waris dan tengganai.
Setelah menikah datuk merah mato meminta putri selaro pinang masak dan rang kayo itam unutk membuka negri, dan datuk merah mato memberikan bekal kapal,1 pasang angsa jantan dan betina dan peralatan lengkap. Pesan datuk merah mato “ bilamana angsa itu 7 hari 7 malam tidak balek ke air maka buatlah negri” dan dilepaskan lah angsa tersebut namun baru 3 hari sudah pulang ke air lagi, perjalanan diteruskan ke hilir batanghari dilepaskannya lagi angsa tersebut setelah 7 hari 7 malam angsa itu tidak balek lagi ke air maka naik lah suami istri tersebut kedarat dan mulai menebang semak-semak dikapak kekanan tekapak bedil gedang, dikapak kekiri tekapak gong besar dan disitulah mereka membuka negri dan terus berkembang.


About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top