Ikhsanudin Ikhsanudin Author
Title: Aliran-aliran Aqidah
Author: Ikhsanudin
Rating 5 of 5 Des:
KATA PENGANTAR Alhamdulillah , puji dan syukur pemakah haturkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk dan hidayahnya kepada ...
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah , puji dan syukur pemakah haturkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk dan hidayahnya kepada pemakalah sehingga pemakalah dapat menyelesaiikan penulisan makalah yang berjudul “Aliran-aliran Aqidah”.


Pemakalah menyadari bahwa makalah ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari pihak-pihak lain, baik langsung maupun tidak langsung.maka dari itu, pemakalah mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Pemakalah juga menyadari berbagai kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan yang ada, sehingga tetap terbuka kemungkinan terjadinya kekeliruan dan kekurangan disana sini dalam penulisan dna penyajian materi makalah. Oleh karena itu,dengan tangan terbuka seraya terlebih dahulu menyampaikan terima kasih, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca.
Akhirnya, kepada Allah jualah pemakalah menyerahkan diri serta memohon taufik dan hidayahnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.



Pemakalah

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
1. ALIRAN KAUM MU’TAZILAH
1. Sebab-sebab dinamakan kamu Mu’tazilah
2. Pokok-pokok Pendirian Mu’tazilah

2. ALIRAN-ALIRAN KAUM AHLI SUNNAH DAN JAMA’AH
1. Ajaran-Jaran Al-asy’ariyah
2. Ajaran Maturidiah
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Dengan adanya aliran Aqidah yang timbul dalam Islam maka banyak pula persoalan-persoalan yang timbul seperti dalam bidang politik dan bukan dalam teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi agar hal ini menjadi jelas.perlukah kita terlebih dahulu kembali sejenak kedalam ssejarah.

2. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sekilas gambaran mengenai sejarah aliran-aliran aqidah dalam iSlam, dan sebagai pedoman bagi kita agar kita terhindar dari pengaruh akidah-akidah yang menyesatkan.


BAB II
PEMBAHASAN

1. ALIRAN KAUM MU’TAZILAH
Perkataan Mu’tazilah berasal dari kata “I’tizal” yang artinya “memisahkan diri”. Jari kaum mu’tazilah adalah kaum yang menyisihkan atau memisahkan diri.
Aliran Mu’tazilah lahir kurang lebih + 120 H.pada abad permulaan kedua hijriah di kota Basyrah dan mampu bertahan sampai sekarang, karena paham ini mampu menyusup ke dalam masyarakat Islam di Barat dan di Timur bahkan sampai ke Indonesia.
1. Sebab-sebab dinamakan kamu Mu’tazilah
a. Ada orang yang mengatakan bahwa sebab mereka dinamakan tazirah karena mereka mengasingkan diri dari masyarakat sebab pada asalnya adalah penganut syi’ah yang patah hati akibat menyerahkan khalifah Hasin bin Ali bin Abi Thalib kepada Khalifah Mu’asyiyah dari bani umayyah.
b. Ada juga yang menyatakan bahawa ini adalah kamu yang suka memakai pakaian jelek-jelek dan kasar-kasar yang hidupnya minta-minta dan bertempat tinggal jauh dari keramaian orang.

2. Pokok-pokok Pendirian Mu’tazilah
Setiap orang yang memeluk aliran mu’tazilah diharuskan untuk memegang kepada lima ajaran :
a. Tauhid (Ke-Esaan)
Tauhid ini maksudnya meng-Esakan Tuhan dari segala sifat dan Af’alnya yang hal iitu menjadi pegangan bagi Aqidah Islam
b. Al-Adlu (Keadilan
Manusia adalah merdeka dalam segala perbuatannya dan bebas bertindak, oleh karena itu kebebasan itulah manusia harus mempertanggungjawabkan atas segala perbuatannya, kalau perbuatan itu baik di beritahukan
c. Wal-wal Wa’id (Janji dan Acaman)
Prinsip janji dan ancaman yang dipegang oleh kaum mu’tazilah adalah untuk membuktikan keadilan Tuhan sehingga manusia dapat merasakan balasan Tuhan atas segala perbuatannya. Disinilah peranan janji dan ancaman bagi manusia agar tidak terlalu menjalankan kehidupannya.
d. Al-Manzilah Bainal Manziladaini (tempat diantara dua)
Sebagai diuraikan terdahulu bahwa dimaksud dengan tempat antara dua tempat yang dikemukakan oleh kaum mu’tazilah yaitu tempat bagi orang fisik, yaitu orang-orang mu’tazilah yang melakukan dosa besar tetapi tidak musyrik, maka mereka dinamai fasik dan nanti akan ditempatkan disuatu tempat yang berada diantara surga dan neraka.
Orang-orang fasik ini tidak akan keluar dari neraka yang agal dingin pula masuk kesurga yang penuh kenikmatan.
e. Amar Ma’rup Nahi Munkar (Menyuruh krbaikan dan melarang kejelekan)
Dasar ini pada kenyataannya hanya sekedar berhubungan dengan amalan lahir dan dengan dasar ini pula membuat heboh dunia Islam selama 300 tahun, pada abad permulaan Islam, sebab menurut mereka “ Orang yang menyalahi pendirian mereka dianggap sesat dan harus dibenarkan serta diluruskan”, kewajiban ini harus dilaksanakan oleh setiap muslimin untuk menegakkan agama serta memberi petunjuk kepada orang yang sesat.
Dalam melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar mereka berpegang kepada Al-Hadits.

2. ALIRAN-ALIRAN KAUM AHLI SUNNAH DAN JAMA’AH
Ahli sunnah dan jama’ah ini kelihatannya timbul sebagaireaksi terhadap paham-paham glongan mu’tazilah yang telah dijelaskan sebelumnya dan terhadap sikap mereka dalam menyiarkan ajaran-ajaran itu. Mulai dari wasil usaha-usaha telah dijalankan untuk menyebarkan ajaran-ajaran itu, disamping usaha-usaha yang dijalanlan dalam menendang serangan musuh-musuh Islam.menurut Ibn Al-Murtada, wasil mengirim murid-muridnya dikhurasan, Armenia, Yaman Marokko dan lain-lain. Kelihatannya murid-murid itu berhasil dalam usaha-usaha mereka,karena menurut Yagut, dithaharah, suatu tempat didekat Tilimsan di Marokko terdapat kurang lebih 30 ribu pengikut wasil.
1. Ajaran-Jaran Al-asy’ariyah
Ajaran-ajaran Al-Asy’ariyah sendiri diketahui dari buku-buku yang ditulisnya,terutama dari kitab al-Luma’ fi al-Rad’ala Ahl al-Ziagh wa al-Bida’ dan al-Ibanah’an usul al Dianah disamping buku-buku yang ditulis oleh para pengikutnya. Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah tentu ia berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kata al-Asy’ariyah Tuhan mengetahui dengan zatnya, karena dengan demikian zatnya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan *’ilm) tetapi yang mengetahui (A’lim).
Perbuatan-perbuatan manusia, bagi Al-Asy’ari, bukanlah diwujudkan oleh manusia sendiri, sebagai pendapat Mu’tazilah, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Perbuatan kufr adalah buruk, tetapi orang kafir ingin supaya perbuatan kufr itu sebenarnya bersifat baik.apa yang dikehendaki orang kafir ini tak dapat diwujudkannya.
Al-Asy/ari seterusnya menentang paham keadilan Tuhan yang dibawa kaum Mu’tazilah. Menurut pendapatnya Tuhan berkuasa mutlak dan tak ada suatu pun wajib baginya.
Bagi al-Asy’ari orang yang berdosa besa, tetap mukmin karena imannya masih ada,tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq.
2. Ajaran Maturidiah
Al-Maturidi sependapat dengan golongan mu’tazilah bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya dengan demikian ia mempunyai paham qadriah dan bukan paham jabariah atau asy’ari.
Al-Maturidi berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. Al-Maturidi juga tidak sepaham dengan mu’tazilah tentang masalah Al-Qur’an yang menimbulkan heboh itu sebagaimana al-Asy’ari ia mengatakan bahwa kalem atau sabda Tuhan tidak diciptakan tetapi bersifat qadim.
Mengenai soal dosa besar al-Maturidi sepaham dengan al-Asy’ari bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan Tuhan kelak di akhirat. Ia pun menolak paham posisi menengah kaum mu’tazilah.
Tetapi dalam sial al-Wa’d wa al-Walid al-Maturidi sepaham dengan Mu’tazilah. Janji-janji dan ancaman-ancaman Tuhan, tak boleh tidak mesti terjadi kelak ia tidak sependapat dengan al-Asy’ari bahwa ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani menurut pendapatnya tangan, wajah dan sebagainya mesti diberi arti menjadi atau kiasan.
Aliran maturidiah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, adalah teologi yang banyak dianut oleh umat Islam yang memakai mazhab Hanafi.



BAB III
PENUTUP


1. Kesimpulan
Pada hakikatnya semua aliran tersebut tidaklah keluar dari Islam, tetapi tetap dalam Islam. Dengan demikian tiap orang Islam bebas memilih salah satu dari aliran-aliran teologi tersebut, yaitu aliran mana yang sesuai dengan jiwa dan pendapatnya.hal ini tidak ubahnya pula dengan kebebvasan tiap orang Islam memilih mazhab fiqh mana yang sesuai dengan jiwa dan kecenderungannya. Disinilah kelihatan hikmah ucapan. Nabi Muhammad SAW: “Perbedaan paham kalangan umatku membawa rahmat memang rahmat besarlah kalau kaum terpelajar menjumpai dalam Islam aliran-aliran yang sesuai dengan jiwa dan pembawaannya dan kalau pula kaum awam memperoleh dalamnya aliran-aliran yang dapat mengisi kebutuhan rohaninya.

2. Saran
Kami sangat menyadari akan segala kekurangan yang terdapat dalam penulisan makalah ini.oleh karena itu,kami sangat mengharapkan saran serta kritikan dari para pembaca yang sifatnya membangun guna lebih menyempurnakan makalah ini. Selain itu kami juga banyak mnengharapkan bimbingan dan pengajaran yang lebih mendalam dari dosen mata kuliah ilmu kalam tentang “ALIRAN-ALIRAN AQIDAH” dan pengetahuan yang terkandang didalamnya.


DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun. 2002. Teologi Islam. Jakarta Universitas Indonesia Press
H. Zainuddin, Drs. 1996. Ilmu Tauhid Lengkap. Jakarta; Rineka Cipta

About Author

Advertisement

Post a Comment

Yang sudah mampir wajib tinggalkan komentar

 
Top